Cerita Pasca Pindahan

Sebenernya udah dua minggu yang lalu gw pindahan sih ya, tapi bener-bener baru bisa nafas sekarang.

Kesannya mendadak, tapi pindahan ini emang direncanakan selama beberapa bulan — dan gw masih berdomisili di Kuala Lumpur kok, hahaha. Cuma pindah gedung apartemen aja.

Penyebab utamanya itu ini:

Proyek bangunan apartemen juga, dan menurut rencana, bakal setinggi 30 lantai.

Selain berisik, debunya juga ga karuan. Gw masih gapapa, anak-anak yang kenapa-kenapa. Waktu kita mulai rencana pindahan, Rey itu udah batuk pilek dan sinusitis Wira ga berhenti-berhenti.

Ada beberapa faktor juga, yang sebenernya ganggu — ga ganggu sih. Jadi gedung apartemen kita yang sebelum sekarang ini gedung tua banget. Ngobrol sama uncle taksi, katanya usia gedungnya udah lebih 20 taun.

Now, I love old buildings. I think they are charming — buuuuut, exterior and historical wise.

Di unit gw, pipa airnya udah banyak — koreksi, SEMUA — berkarat. Jadi kebayang lah tiap pagi nyalain air di wastafel buat cuci muka bentuk airnya kaya apa yak. Itu baru pagi; bayangin ketika kita balik dari mudik selama seminggu di Indonesia.

Waktu kita mau pindah, pemilik apartemen sempet nanya kira-kira kita bisa rekomendasiin unit itu ke temen/kenalan kita atau ga. Berita baiknya, Ari dan gw berhasil meyakinkan si pemilik kalo sebaiknya dia melakukan perbaikan besar-besaran/major overhaul buat unit dia. Dari pipa, cat tembok, sampe lantai. Mumpung lah ada proyek bangunan di sebelah — yang gw ga yakin kalo bakal ada penyewa dengan kondisi proyek bangunan persis di sebelah gedung. Jadi ya “mumpung kosong”, sekalian aja diperbaiki.

Kami pindah mendekati pusat kota, dan Alhamdulillah akses jauh lebih mudah. Dekat dengan sekolahnya Wira, dekat stasiun LRT, dan dekat dengan supermarket. Plus, beberapa hari dalam seminggu, ada yang jualan duren pake mobil pick-up di depan apartemen *penting*

Aren’t you missing The Twins view, Kap?

Ya dan nggak.

Ya, karena, halo, Twin Towers getoh. Landmark Kuala Lumpur dan Malaysia yang luar biasa beken (sampe masuk film ‘The Entrapment’ walopun entah gimana dibilangnya Twin Towers itu lokasi Bank of Malaysia. Nggg… Nggak. Twin Towers itu kantornya Petronas sak hohah-hohah gitu.)

Nggak, karena salah satu menara udah ketutupan proyek Four Seasons Residences yang tingginya juga mentereng. Selain itu, jendela yang menatap Twin Towers itu langsung ke arah barat yang artinya kalo sore hari itu ketika musim panas, jadinya PANAS BANGET. DAN INI PANASNYA MALAYSIA. YANG PANAS BANGET.

Oke. Soal pindahan.

Jadi kami pake jasa movers — dari pengepakan sampe pindahan. Untuk unpacking and repositioning, itu gw sama Ari yang ngerjain. Sempet ada dramak sama pihak sekuriti apartemen; karena pindahnya hari Sabtu, dibatasi waktu sampe jam 1 siang. Nah, jam 1 siang pas di apartemen lama itu tinggal nurunin tiga kotak lagi, tapi sekuriti udah bilang ga boleh. Negosiasi sama manajemen dan memastikan kalo emang tinggal nurunin barang, akhirnya dibolehin.

Sampe apartemen baru, SAMA JUGA. Batas waktu jam 1 siang; kita sampe apartemen baru? Jam 2. Hyuk.

Alhamdulillah sama pihak apartemen dikasih batas waktu sampe jam 4 sore.

Pas akhir pekan Sabtu-Minggu itu lah, kerja bakti beberes dan merapikan barang di apartemen. Banyak yang nanya ke gw, apakah pindah ke apartemen yang lebih besar; jawaban gw: nggak. Kami malah pindah ke apartemen yang sedikit lebih kecil. Kenapa? Supaya lebih mudah diurus dan dibersihkan. Mengurangi kebiasaan hoarding juga, heuhe. Anak-anak bisa beraktivitas di luar ruangan — di taman ataupun tempat bermain apartemen — jadi ga terlalu masalah untuk ruang gerak.

Selesai beberes, ya masih ada pekerjaan lain. Masang Internet, TV kabel, ganti alamat di tagihan, dan koordinasi sama pihak manajemen apartemen baru.

Paling sedap?

Hari Senin, Ari dinas luar kota.

Horeee.

Ngurusin dua bocah piyik, yang bayi lagi rewel berat maunya nemplok karena separation anxiety.

Hari Selasanya, mati lampu.

Asleeee, itu jam 4 pagi gw kebangun karena mati lampu. Cek kotak sekering, ga ada yang turun. Tanya sekuriti, mereka juga bilang ga ada masalah di listrik gedung. Jadi lah merem sebisa mungkin nunggu matahari terbit.

Sebisa gw untuk tidur ketika si anak bayi malah buka mata, kucek-kucek mata, lalu cengengesan jam setengah 5 pagi.

Muka gw ditabokin Rey.

“Nak, ibu masih ngantuk. Ibu bobo dulu yaaa.”

“Ta! Ta ta ta ta!” *PLAK* nampar muka ibunya.

Gw merem, sementara Rey masih duduk ngeliat ke luar jendela. Pas itu sedang ujan badai, jadi banyak geledek dan kilat. Samar-samar, gw denger dan ngeliat Rey terkagum-kagum menatap kilat pertama kalinya (“woooooooh! Wuuuuuhhhh!”)

Pagi, jam 9, gw ke kantor manajemen. Minta teknisi dateng ke unit gw untuk ngecek kotak sekering. Ga berapa lama, teknisi dateng. Ternyata masalahnya ada di sekering yang longgar dan korslet. Waktu dicek kabelnya, sampe ada bunga api memercik.

“Nasib baik, puan; ini mati tenaga je. Takde kebakaran pun.”

(Beruntung. “Cuma” mati listrik, ga kebakaran.)

Hmmm. Yikes.

Ganti sekering lah ya, Alhamdulillah teknisinya ada stok sekering. Lapor ke agen soal sekering jadi pemilik unit tau kalo ada perubahan di kotak sekering.

Sekarang, kami udah di apartemen baru ini selama 2 minggu. Alhamdulillah nyaman dan Insya Allah anak-anak juga betah.

Advertisements

‘The Scottish Play’

Video

One of my favorite plays.

While many today would say that any misfortune surrounding a production is mere coincidence, actors and other theatre people often consider it bad luck to mention Macbeth by name while inside a theatre, and sometimes refer to it indirectly, for example as “the Scottish play”, or “MacBee”, or when referring to the character and not the play, “Mr. and Mrs. M”, or “The Scottish King”.

This is because Shakespeare (or the play’s revisers) are said to have used the spells of real witches in his text, purportedly angering the witches and causing them to curse the play. Thus, to say the name of the play inside a theatre is believed to doom the production to failure, and perhaps cause physical injury or death to cast members. There are stories of accidents, misfortunes and even deaths taking place during runs of Macbeth. (Wikipedia)

Misogyny in TBBT

This video explains clearly about what’s wrong in TBBT.

Ada satu episode yang gw keinget, and it actually cemented my disdain to the serial, ketika Penny menegur Howard dengan keras karena Howard sering banget nyeletuk celetukan melecehkan secara seksual dan membayang-bayangi Penny (unsolicited advances). Ujungnya? Howard marah. MARAH, men. MARAH. Dia marah lalu ngambek, dan Penny yang akhirnya meminta maaf ke Howard.

Bingung ga sih? Di sini siapa yang borderline sexual offender dan siapa yang korban, dan kenapa si korban — yaitu Penny — yang harus minta maaf ke Howard? Lalu orang pada bingung kenapa korban pelecehan seksual ga mau lapor? Lalu orang pada heran kenapa banyak banget pelaku pelecehan seksual ngerasa “gw ga salah kok LOL”?

Watch this video, and another one on “geek masculinity” (still by Pop Culture Detective).

Tokyo Idols (2017)

Image

Nonton dokumenter ‘Tokyo Idols’ di Netflix.

Gimana ya… Mirip lah sama dokumenter-dokumenter/jurnalisme investigasi soal tren idol dari Jepang ini. Kritik sosial akan para fans idol yang rata-rata oom-oom dengan para idol yang usianya masih belasan tahun, perjuangan para idol untuk tetap relevan di mata fans, dan sebagainya.

Gw lebih penasaran dengan perspektif fans wanita. Kalo fans laki-laki ya mereka emang terobsesi dan sudah komitmen menghabiskan sejumlah besar uang untuk CD, merchandise, handshake event, sampe tiket live shows. Gw penasaran apakah fans wanita sama komitmennya. Sayangnya kaya gini ini jarang/ga pernah dibahas.