Berilmu

Beberapa hari lalu, saya membeli sebuah buku yang sudah cukup lama saya incar.

(null)

‘The Code Book’ membahas kriptografi (seni sandi dan kode) dan menariknya, membahas juga mengenai sejarah.

Saya diperkenalkan buku ini melalui salah satu atasan saya saat saya masih bekerja di universitas. Pak Erwin, namanya. Saat ini beliau sedang melanjutkan studi S3 di Australia.

“Kamu kan suka sejarah, kayanya kamu bakal suka buku ini.”

“Kriptografi, pak? Itu materinya Computer Science dan IT bukan?” (Saya agak ragu karena saya lulusan Marketing Management, hahaha)

“Iya. Tapi unsur sejarah di sini juga sangat kental. Dan bahasanya gampang dimengerti.”

Dan memang benar. Membahas penggunaan sandi dan kode dari jaman Mesir Kuno (sekedar intermezzo: orang Sparta jaman dulu menyimpan pesan rahasia di kepala. Jadi mereka menggunduli kepala si pembawa pesan, menuliskan pesan, menunggu sampai rambutnya tumbuh, barulah pesan dibawa dengan resiko minimum akan digeledah di kota musuh) sampai Alan Turing. Dan memang, buku ini memang sangat menarik.

Dalam buku ini, ada satu bagian favorit saya.

(null)

Islam demands justice in all spheres of human activity, and achieving this requires knowledge, or ilm

Ini adalah salah satu isu fundamental — mungkin bukan “salah satu” lagi, tapi isu fundamental dalam Islam dan agama-agama lain, dan tetap relevan sampai sekarang.

Umat manusia wajib berilmu.

Dan jujur saja, kalimat itu merupakan motivasi saya 🙂

Advertisements

Kemandirian Anak

Saya nggak bisa tidur, dan setelah menghabiskan waktu di Path, Candy Crush Soda (berhenti di level 125 *le sigh*), dan Tumblr (sangat senang karena beberapa blog Tumblr yang saya follow sedang spam keluarga kerajaan Jepang), akhirnya saya memutuskan melakukan kegiatan yang orang normal biasanya lakukan: Ngeblog.

Jadi inget Nita yang kalo malem-malem ga bisa tidur biasanya masak atau manggang kue, haha.

Karena ini ngetik lewat tengah malem, pake touchscreen pula (di iPad), jadi mohon maaf kalo ada salah ngetik dan mulai ngelantur.

Sudah tiga minggu Wira sekolah, dan jujur aja, perkembangannya lumayan terlihat. Dari hari pertama yang nangis seharian (“IBU MANA? IBU MANA?”) sampe akhirnya saya tega ninggalin dia sendirian di sekolah di hari kedua sekolah dan minggu kedua dia masih cemberut sambil bilang, “Wira ga mau sekolah!” Dan berujung di minggu ketiga dia udah lari-lari masuk kelas nggak inget peluk cium ibunya lagi, boro-boro ngomong “I love you, ibuuuuu!” Heuh.

Satu hal yang saya belajar dari pengalaman Wira sekolah ini adalah kerelaan saya untuk “melepas” dia. Ini penyakitnya ibu-ibu; ketika bersama anak, rasanya setiap menit membatin, “aduh ini kapan gw bisa me-time sendiri? Kapan gw bisa santai ga pake diganggu anak?!” Tapi sekalinya beneran dapet kesempatan sendiri, ke salon misalnya, kepikiran terus sama anak di rumah sampe buru-buru pulang, hahaha. Hayo ngaku siapa yang seperti itu juga :mrgreen:

Soal “melepas”. Ga secara fisik aja, tapi juga secara mental. Saya adalah ibu yang cerewet dan tukang ngomel. Wira jago ngomong “no!” dan “tidak!” karena ya asalnya siapa lagi kalau bukan saya. Sebelum Wira mulai sekolah, apa-apa saya yang ngurusin. Cuci tangan, cuci kaki, makan kadang disuapin, minum diambilin, sampe sendal dipakein.

Saat Wira sekolah, di hari pertama saya menunggui dia selama seharian (satu lagi bukti saya ibu-ibu susah move on, hahaha) dan saya, jujur aja, kaget.

Anak-anak yang bahkan lebih kecil dari Hobbit sudah bisa mengenakan dan melepas sendal dan sepatu mereka sendiri. Nggak pake ditemani guru, mereka masuk kelas setelah melepas sendal/sepatu, meletakkan alas kaki dan tas di rak, lalu mencuci tangan. SENDIRIAN.

Makan siang semuanya dengan rapi duduk di ruang makan dan makan sendiri dengan tenang. Selesai makan, mereka meletakkan piring kotor dan sisa makanan dengan rapi. SENDIRIAN.

Saya adalah orang dewasa yang menganggap remeh anak-anak. “Emang mereka bisa apa sih? Masih kecil kok!” Dan saat saya melihat itu, saya kaget. Memang, pekerjaan “mudah” seperti makan, melepas alas kaki, dan cuci tangan. Tapi dilakukan oleh anak-anak balita (yang saya panggil dengan penuh kasih sayang sebagai “mini-Hobbit yang mukanya terdiri 95% pipi”) itu adalah hal yang hebat.

Berapa kali kita melihat raja dan ratu cilik, yang apa-apa semuanya harus dilayani, bahkan makan?

Saat saya mengobrol dengan staf sekolah, dia berkata satu hal yang membuat saya berpikir lama selama beberapa hari.

“They are well-functioned human being. Yes, they are still small. They are toddlers and small children with their limitations. But they are human being who able to think and act.

To “accept” them as invalid — as in, unable to do anything by themselves — is insulting for them. Just give them some room to grow and explore.

And keep your expectation low. In fact, don’t expect at all. They are human beings with their own characteristics and life. Their goal is not to meet your expectation. Their goal is to be the best human being for their generation.”

Banyak saat ketika saya merasa tahu dan mengenal Wira, tapi ternyata saya belum kenal dan belum tahu. Saya rasa karena saya memang berharap ke dia. Saya mempunyai impian-impian dan bayangan masa depan dia di kepala saya.

Tetapi itu di diri saya. Bukan di diri Wira. Sedangkan, apakah saya peduli akan impian dia pribadi? Mungkin nggak, karena saya ngomel terus sepanjang jalan kenangan.

Sebagai ibu, memang sudah ada di insting untuk senantiasa maju ke depan dengan gagah berani melindungi si anak dari apapun yang terjadi.

Tetapi sebagai ibu, penting juga rasanya membiarkan si anak mengepakkan sayap untuk menjelajah dunia baru. Tendang ke luar sarang, kalau perlu.

Kapkap on Pinterest

Barusan saya membaca artikel di Buzzfeed yang cukup menarik: What Happened When I Lived According To The Pinterest Popular Page. Dan untuk saya, memang banyak benernya, haha.

Pinterest ini seperti… Mood board, kalo kata adik saya. Nggak harus mood board juga, tapi bisa inspiration board dan papan-papan lainnya. Dan baru-baru ini, ada istilah yang namanya ‘Pinterest Stress’ (dan kalo ga salah ada juga yang namanya ‘Mason Jar Syndrome’). Biasanya menjangkiti para pengguna Pinterest yang merasa “kurang kreatif dan kurang cakap dalam kerajinan, rumah, dan masak”. Ini seperti membaca majalah wanita bulanan. Isinya tips dan trik untuk tampil lebih cantik, lebih seksi, lebih keren, dan lebih-lebih lainnya. Ditambah dengan banyaknya iklan di majalah yang menggambarkan status sosial dan merek-merek mahal, cukup untuk sedikit menggoncang rasa percaya diri. Seperti yang dituliskan si penulis, Rachel, di artikel Buzzfeed-nya.

Then I discovered Pinterest’s “most popular” page, which is essentially a collage of white girls with impossibly great hair, superhuman nail art skills, and apparently enough free time to create a tidy basket of “postpartum supplies” for “every bathroom” in the house.

Seolah-olah Disney nggak cukup untuk membuat kita semua para wanita berharap terlalu tinggi untuk mempunyai rambut seperti para Disney princesses.

Seriously. CAN YOU BEAT THAT? CAN YOU?

Seriously. CAN YOU BEAT THAT? CAN YOU?

Untuk saya pribadi, Pinterest cukup berguna untuk hobi menggambar saya. Di Pinterest banyak sekali referensi menggambar karakter, pose, anatomi tubuh (ya, saya masih terobsesi dengan menggambar hidung dan mata), sampai teori warna.

Ini yang baru-baru saja saya temukan dan langsung menjadi favorit saya.

9754253ba6553300cc01bc72b4a6af20

Biasanya kalau lagi santai, saya suka buka-buka lagi tips dan trik yang saya kumpulkan untuk mengingat-ingat dan memperbaiki kemampuan saya, haha. Dan kalau dilihat-lihat, masih banyak kesalahan saya yang sebenernya merupakan kesalahan amatir 😐

Pinterest, untuk saya, seperti bookmark app, namun untuk visual. Biasanya untuk artikel saya menggunakan Pocket karena berbasis teks.

Banyak artikel yang menyatakan bahwa Pinterest ini membuat ketagihan, dan Washington Post menuliskan Pinterest sebagai “digital crack for women“. Apakah saya juga ketagihan?

Bisa ya, bisa nggak.

Yang jelas, Candy Crush Soda Saga masih lebih menyebalkan *stuck di level 120 dan susah bukan main*

Find me on Pinterest here *shameless self-promo. LOL*

Sketch Time — Running

Ini awalnya dari foto teman saya, Farhan, di Instagram.

 

Saya suka sekali dengan kontras antara pohon dan langit, dan karena saya masih payah banget yang namanya gambar latar belakang dan pemandangan, saya berlatih melalui gambar ini. Bisa dilihat di video bahwa saya sempat ragu-ragu ketika mewarnai pohon dan dedaunan (saat itu saya melamun dan nggak konsentrasi. Malah sepertinya saya sedang memikirkan hal yang nggak mengenakkan, makanya keliatan galau, hahaha.) Di video juga terlihat saya seperti menyilangkan dua kuas (?), itu saya lagi mengetuk-ngetukkan kuas untuk membuat efek water drip.

 

Sketch Time — Fanart: Kimbra “Cameo Lover”

Sekali-sekali menggambar fanart, hahaha. Kimbra adalah salah satu artis favorit saya, dan saya sangat suka mukanya yang ekspresif 🙂 Ini dari video klip dia yang juga favorit saya, “Cameo Lover”.

Saya sebenarnya agak sebal dengan kualitas kertasnya, dan entah kenapa rasanya panas di tangan (?) Biasanya kertas cat air itu dingin saat disentuh. Tapi yang ini rasanya kaya megang kardus 😦 Yah, semoga saja hasilnya tetap memuaskan ya.