(Chibi) Lion Dance

(null)

Quite contrary with many people think, Chinese lion dance (barongsai) is not only performed during new year celebration; but also during special occasions, such as birthdays, new business opening, new business expansions, and many. It is considered as good luck to give the lion some ang-pao (red envelope filled with money) and how do you give ang-pao to the lion? By putting it into the lion’s mouth, of course 😀

Advertisements

More I Love You, Annie Lennox

Anyone who’s seen Lennox’s “No More I Love You’s” video recognizes this devilish, arched-eyebrows routine. In other words, it’s no surprise that she’s an incredible performer. But it is remarkable in comparison to the rest of the Grammys, where so many other performers underachieved by performing ballads with deadening faux-dignity.

From Annie Lennox, the New Grammy Idol

And she’s still my favorite.

Iseng Nulis Malam-Malam

Ini ditulis saat saya sedang menemani Wira tidur di kamarnya sendiri.

Salah satu tantangan menjadi orangtua adalah manajemen waktu. Bukan soal manajemen waktu bekerja, hiburan, dan lain-lain saja. Manajemen waktu untuk siap waktu “diambil” anak, hahaha. Salah satunya soal tidur.

Sejak lahir, Wira sudah tidur bersama kami di satu tempat tidur/co-sleeping. Salah satu enaknya untuk saya adalah kemudahan menyusui dia saat dia masih minum ASI.

Nah, sekarang, dengan berat dan tinggi badan jelas sudah mendekati anak-anak plus gaya tidur yang makin aneh, yang namanya tidur sudah jadi lebih mirip medan perang perebutan lahan (dan selimut. Dan guling. Dan bantal) ketimbang tidur normal selayaknya orang lain.

Jadi sudah sebulan ini Wira kami latih untuk tidur sendiri.

Dan itu bukan hal yang mudah. Sama sekali nggak.

Sama seperti balita dan anak-anak lainnya, alasannya BERJUTA-JUTA.

Mau makan kue.

Mau pegang Lego.

Mau sama teddy bear.

Mau pake selimut.

Mau minum air putih.

Mau minum susu hangat.

Mau minum Milo hangat. Nggak ada? Ya udah, air putih lagi.

Mau cari ayah.

Mau cari ibu.

Tapi yang namanya tidur sendiri ini nggak cuma anaknya yang panik lho. Orangtuanya juga, hahaha. Saya rasanya seperti kembali ke masa Wira baru lahir. Yang “tidur” cuma mata, tapi syaraf dan segala indra perasa terjaga. Begitu bunyi “krek” atau “ngek” dikit, saya langsung buka mata. Bahkan setelah saya yakin anaknya tidur nyenyak pun, saya masih nggak bisa tidur.

Wira juga belum bisa tidur semalaman penuh di kamarnya. Sebelum tidur masih harus ditemani sampai dia benar-benar tidur dan sering jam 3-4 pagi dia terbangun dan sambil merengek dan membawa bantalnya dan boneka beruangnya dia pindah ke kamar saya dan Ari.

Tapi mungkin itu serunya menjadi orangtua kali ya? Hahaha.

Saya sendiri merasa, saat ini saya masih bisa mengendus-endus dan memeluk Wira, bahkan memang diminta, sebelum dia tidur.

Lima tahun lagi?

Mungkin udah malu, hahaha.

Legoland dan Malaka

Awal minggu kemarin, kami di KL mendapatkan hari libur dua hari (Senin dan Selasa) karena ada dua event: Federal Territory Day dan Thaipusam.

Long weekend kemarin jadi kami gunakan untuk berjalan-jalan. Pertama, ke Legoland di Johor.

(null)

(null)

Dibuka pada tahun 2010-2011 (?), Legoland memang masih tergolong theme park yang sangat baru, dan lokasinya juga lumayan jauh dari pusat kota Johor Baharu. Sesuai namanya, Legoland menampilkan diorama bangunan dan kota terkenal yang dibangun menggunakan Lego dan dua toko Lego; The Big Store dan The Brick Store. Ada juga Science Center untuk anak-anak belajar robotik dan Lego.

(null)

(null)

(null)

(null)

(null)

Salah satu lokasi favorit kami adalah Star Wars Miniland 😀 Star Wars adalah salah satu merek yang cukup menjual di Lego, dan ga heran melihat pasukan Imperial dan para pemberontak ikut pameran, hahaha.

Di Star Wars Miniland, pengunjung menonton film animasi pendek mengenai Star Wars Bombad Bounty, parodi oleh Lego mengenai Star Wars IV sampai VI yang diganggu habis-habisan oleh Jar Jar Binks. Videonya juga tersedia di Youtube 😀

Selepas menonton filmnya, pengunjung memasuki ruang pameran yang menampilkan beberapa adegan dalam film Star Wars dari I sampai VI plus keterangan mengenai beberapa karakter dan planet yang dipasang di dinding. Beberapa dapat bergerak dan pengunjung bisa menekan tombol untuk membuat, misalnya, Milennium Falcon lepas landas 😀

(null)

(null)

(null)

(null)

(null)

(null)

(null)

(null)

Untuk yang ingin berkunjung ke Legoland, berikut sedikit informasinya.

Harga masuk Legoland agak mahal; RM 160. Mungkin kalau ikut tur wisata bisa sedikit lebih murah ya. Anak-anak berumur di bawah 3 tahun gratis tiket masuk. Harga berbeda untuk warga Malaysia dan pengunjung asing.

Legoland adalah theme park yang masih sangat baru, sehingga pepohonan yang ada juga belum terlalu rimbun. Namun pihak taman menyediakan banyak kursi dan tempat berteduh, sehingga tetap nyaman untuk berjalan-jalan. Stroller anak-anak juga disediakan untuk para pengunjung cilik yang kelelahan.

Ingat, ini Malaysia, negara tropis. Yang namanya panas pasti ada. Yang namanya hujan juga ada. Nggak perlu mengeluh. Siapkan saja: sunblock (SPF 50 kalau bisa), handuk kecil, botol air minum, topi, dan apabila datang saat musim hujan, bisa bawa payung lipat — walaupun banyak merchant di dalam taman yang juga menjual payung. Berpakaianlah yang nyaman dan mengenakan sepatu olahraga karena banyak berjalan. Tidak perlu khawatir soal tempat istirahat; Legoland mempunyai banyak tempat beristirahat dan makan. Di Science Center (sebelah Star Wars Miniland) ada kursi pijat otomatis dengan biaya RM 5.

Dan yang terakhir, bersenang-senanglah. Ngapain ke theme park kalo hanya berujung merengut dan cemberut sambil mengeluh “panas” padahal sudah tau ini di Malaysia yang jelas-jelas negara tropis? Kalo mau dingin, ke Greenland saja sana.

Selepas dari Legoland di Johor Baharu, kami mampir ke Malaka. Malaka adalah salah satu kota kesukaan saya karena sejarahnya yang merupakan gabungan antara India, Cina, Portugis, dan Belanda. Kota Malaka bisa dengan rapinya menjalin hubungan antara dunia modern dan kota lama, dan itu sangat keren untuk saya 🙂

Di Malaka, kami berjalan-jalan menyusuri sungai Malaka di malam hari. Ada beberapa pengamen jalanan dan kafe-kafe yang menyediakan makanan dan minuman untuk para pengunjung.

(null)

(null)

Kami juga mengunjungi museum Samudera dan Maritim yang terletak di dekat sungai Malaka. Museum Samudera dan Maritim adalah dua museum yang saling bersebelahan dan dalam bentuk kapal. Isinya menceritakan mengenai perjuangan dan kehidupan orang Malaka di masa lampau beserta beberapa pahlawan dunia maritim. Salah satunya Henry si Hitam (Henry the Black), salah seorang staf dari tanah Asia yang ikut menemani Magellan mengelilingi dunia sehingga disebut sebagai “Magellan dari Asia”.

(null)

(null)

(null)

Masih berjalan-jalan sepanjang sungai Malaka, ada kedai cendol di Stadhuys (dekat jam kota) yang menjual berbagai macam cendol. Dari cendol biasa, cendol durian, sampai ABC (ais batu campur) spesial yang menggunakan es krim 😀 Enak rasanya panas-panas minum cendol yang segar dan dingin. Ari memesan ABC spesial dan saya memesan cendol durian, hahaha.

(null)

(null)

(null)

Kami juga berjalan-jalan di Jonker Street. Saat malam hari, Jonker Street biasanya terlarang untuk kendaraan dan ramai sekali. Saat siang, sedikit lebih sepi tapi ya tetap ramai, hahaha.

(null)

(null)

(null)

(null)

(null)

Kami juga menaiki Malaka River Cruise, yaitu wisata mengarungi sungai Malaka menggunakan kapal penumpang beserta penjelasan mengenai tempat-tempat bersejarah yang berada di tepi sungai Malaka.

Salah satu favorit saya adalag Kampung Morten. Dibangun pada tahun 1920-an oleh JF Morten, Kampung Morten adalah salah satu kampung perintis yang dibangun di atas rawa di Malaka. Di masa lalu, penghuninya rata-rata bekerja sebagai nelayan dan nahkoda kapal tandu yang bertugas memandu kapal-kapal besar milik pedagang yang ingin memasuki Malaka. Kampung Morten masih ada sampai sekarang dan tetap berpenghuni. Cantik sekali kampung itu berhiaskan lampu-lampu untuk menerangi tepi sungai.

(null)

(null)

(null)

(null)

(null)

(null)

(null)

Kalau melihat Malaka, rasanya sedih. Jadi ingat Jakarta.

Jakarta mempunyai potensi yang sama dengan Malaka di Sungai Ciliwung dan area Kota Tua (Fatahillah). Hanya sayang sekali keadaannya masih tidak teratur dan tidak terawat. Semoga saja pemerintah kota dapat memperbaiki Jakarta menjadi kota metropolitan yang maju dan kental dengan nuansa sejarahnya yang cantik dan kaya 🙂