Pasukan Tumbang

Halooooo, setelah beberapa minggu (?) tidak ada kabarnya — kecuali lewat foto-foto Instagram — akhirnya (“akhirnya?”) saya ngeblog lagi, hahaha.

Dua hari ini saya dan Wira tumbang. Sebenernya diawali oleh saya di hari Senin kemarin; bangun pagi kepala dan perut terasa sakit sekali. Cek suhu badan — ya nggak terlalu tinggi juga sih — 38.5 derajat celcius. Tapi kepala pusingnya itu yang ga nahan, plus kalo demam emang rasanya mata pengennya merem terus dan tidur. Jadi lah yang dapet tugas antar jemput Wira adalah Ari.

Wira pulang sekolah, masih keliatan biasa-biasa aja. Bahkan pagi harinya Ari sempet berpesan ke Wira, “ibu lagi sakit, jadi Wira ga rewel ya…” Sesiangan di rumah, Wira ternyata bener-bener ga mau “gangguin” saya. Dia biarin saya tidur sesiangan, dan ketika dia laper dan haus pun ga mau bangunin saya 😐 Baru ketika saya bangun dan bertanya, “Wira mau makan dan minum?” Dia mengangguk sambil nyaris menangis. APA GA PATAH HATI ITU RASANYAAAAAAAA.

Jam setengah enam sore, Ari pulang kantor. Begitu dia pegang Wira, dia langsung nanya, “Sayang. Ini Wira kok… Panas ya?” Cek di termometer, suhu badan Wira mencapai 39 derajat Celcius. Langsung itu rasanya pusing kepala ditendang pergi sama paniknya saya *hadezig!* Wira lalu menangis keras — dan itu sebenernya jarang banget kejadian. Dia menangis sambil mengeluh, “sakit kepala… Sakit badan…” Langsung kita semua macem rombongan suporter bola melaju ke rumah sakit Gleneagles.

Sampe di rumah sakit, Wira udah agak tenang. Dia masih mau makan snack Pocky dan minum Milo dingin. Sambil nunggu nomor urutan dipanggil, masih bercanda sama Ari dan saya. Melihat dia masih mau makan dan ga muntah, itu sebenernya yang masih bikin saya tenang.

Ketika dicek dokter, dokter meresepkan obat penurun panas dan penghilang rasa sakit. Saya sempet khawatir, jangan sampe deh ini dengue atau typhus; tapi dokter menggeleng sambil berkata, “tak apa. Ni virus saja. It happens because the weather is changing. Hot then rain, hot then rain.”

Kemarin, Wira ijin ga masuk sekolah. Jadi lah kami berdua seharian di rumah — dan itu bosennya bosen banget. Sama-sama sakit, jadi mau ngapa-ngapain juga level energi terbatas banget. Hanya saja, ketika pagi suhu badan dia agak mendingan (37-38 derajat celcius); nah ketika jam 3 sore, ngok, langsung 39.8 derajat celcius. Apa ga putus syaraf saya.

Tadi pagi, demamnya sudah jauh lebih mendingan. Suhu badan sudah konstan di kisaran 36 derajat celcius — “paling tinggi” 36.8 derajat — tapi karena sakit, nafsu makan Wira, walaupun ada, menurun drastis. Makan nasi hanya sesuap, cookies (!) hanya dua gigit, coklat (COKLAT LHO, COKLAT) hanya sepotong kecil. Saya tanya ke dia, makan siang mau apa.

Wira menjawab pelan, “Wira mau mie pake telor, boleh?”

Mie instan emang bukan makanan paling sehat sedunia, tapi itu adalah comfort food nomer satu. Buat saya mah ya udah lah, yang penting anaknya mau makan dulu. Jadi saya buatkan mie instan Maggi rasa kari dengan telur rebus. Alhamdulillah makannya lahap sekali.

IMG_3423

Habis semangkuk, baru dia tidur siang yang sebelumnya minum susu dulu.

Kalo dia lagi sakit begini, saya suka keinget saat Wira masih bayi. Kira-kira umur 10 bulan. Saat itu dia lagi demam tinggi mencapai 40 derajat celcius, dan saya berdua Wira naik taksi menuju rumah sakit — dan Ari sudah menunggu di sana (dia langsung ke rumah sakit dari kantor).

Mungkin itu kali ya, rasanya jadi orangtua? Begitu anak sakit, rasanya melihat dia kembali menjadi bayi.

Buat temen-temen pembaca, cuaca emang lagi ga menentu seperti ini — sebentar terik panas membara, sebentar hujan deras — jadi jangan lupa minum vitamin dan jaga kesehatan ya.

PS. Sebenernya banyak banget yang pengen diceritain — jalan-jalan ke Zoo Negara dan tempat makan enak di area Ampang — tapi takut terlalu panjang jadinya, hahaha. Nanti saya tulis lagi 😀

Advertisements

Kue Ulang Tahun

Insya Allah dalam waktu dekat ini Wira akan merayakan ulangtahunnya yang ke-tiga; Ari dan saya sama-sama setuju untuk mengadakannya di sekolah. Sebelumnya saya pernah melihat beberapa orangtua yang mengadakan perayaan ulangtahun anak mereka di sekolah, dan biasanya mereka membawa kue ulangtahun.

Awalnya saya berpikir, “kue ulangtahun bisa beli saja kali ya?” tetapi saya… Salah besar.

Iya, sebenernya bisa beli, hanya saja mungkin sedikit lebih rumit, hahaha.

Jadi saat saya mengutarakan niat saya untuk merayakan ulangtahun Wira di sekolah, pihak sekolah memberikan saya surat informasi untuk perayaan ulangtahun Wira. Jadi nantinya akan diadakan “Culture Walk”, ketika guru dan/atau orangtua menjelaskan negara asal si anak — untuk Wira, Indonesia — ke teman-teman sekelas. Ada juga tiup lilin dan potong kue ulangtahun.

Nah, untuk kue ulangtahun, ada beberapa spesifikasi:

  1. Less sugar. Pernah melihat anak-anak makan permen terlalu banyak? Nah, itu salah satu hal yang sebaiknya DIHINDARI. Jadi tertulis jelas di surat informasi bahwa kue ulangtahun sebaiknya nggak mengandung terlalu banyak gula ataupun permen.
  2. Krim segar untuk hiasan kue sangat dianjurkan. Karena lebih aman untuk anak-anak dibandingkan krim instan kalengan yang mungkin mengandung pengawet dan/atau pemanis.
  3. Tidak mengandung kacang. Untuk menghindari reaksi alergi kacang di antara anak-anak (apabila ada yang mempunyai alergi.)

Masalahnya, kue ulangtahun itu biasanya ya… Errrr… Mengandung gula. Krimnya sendiri PASTI mengandung gula; dan tentu saja fondant.

Bingung lah saya ini sebaiknya gimana, hahaha. Kalau beli, artinya saya bakal rewel luar biasa dengan spesifikasi macam-macam.

Jadi cara paling “mudah” adalah memanggang kue sendiri, hahaha.

Ini resep yang rencananya saya akan gunakan:

Karena saya jarang sekali memanggang kue, saya memutuskan untuk latihan terlebih dahulu. Kemarin malam saya mencoba memanggang kue dengan hiasan krim dan buah peach. Hasilnya? Yaaaaaa, lumayan lah, hahaha.

IMG_3111

Jelas banyak hal yang perlu dibetulkan, tapi saya pribadi cukup senang 🙂 Doakan saya semoga nanti hasilnya memuaskan dan enak ya, hahaha.

Mimpi

Mimpi saat tidur itu bisa dibuat nggak ya?

Maksud saya, bener-bener ngebuat mimpi. Jadi sebelum tidur secara spesifik berpikir “nanti harus mimpi kaya gini” atau ngeliat foto dan/atau video yang berhubungan dengan mimpi itu.

Karena ada satu mimpi yang saya kangen sekali.

Setahun yang lalu, saya bermimpi melihat langit malam penuh bintang galaksi Bimasakti (saya tahu betul itu setahun yang lalu karena tertera di app Timehop saya). Dan saya ingat betul perasaan saya ketika saya bangun: Bahagia. Lega.

Dan saat ini saya butuh sekali mimpi itu. Saya sangat membutuhkannya.

Featured image: One Big Photo

Suara dan Cahaya

Sudah agak lama, beberapa minggu sebelum ini, kami sekeluarga sedang berjalan-jalan di Suria KLCC. Ketika sedang berjalan di lobby mall, ada anak laki-laki, kira-kira berumur 8-10 tahun, mendadak berteriak dengan kencang berkali-kali. Wira otomatis menoleh ke anak laki-laki itu (yang langsung dibawa pergi secara terburu-buru oleh orangtua dan saudaranya) dan bertanya, “kakak berteriak?”

“Iya. Kakak berteriak.”

“Kakak berisik?”

Dan untuk saya, ini saat yang tepat untuk menjelaskan satu hal ke Wira: Autisme.

“Iya, berteriak memang menimbulkan suara berisik. Tapi kakak berteriak karena sekitar dia berisik dan kakak merasa nggak nyaman dan ketakutan.”

“Kakak takut?”

“Iya. Ada beberapa kakak, adik, dan teman-teman Wira yang lebih sensitif terhadap cahaya dan suara. Beberapa dari mereka belum terbiasa dan suara-suara itu membuat mereka takut. Kalo Wira takut, Wira biasanya ngapain?”

“Nangis.”

“Nah itu. Kakak itu berteriak karena takut dan nggak nyaman.”

“Kakak udah nggak apa-apa sekarang?”

“Insya Allah kakak udah nggak apa-apa. Ayah ibunya si kakak dan adeknya si kakak itu hebat. Mereka tau gimana biar kakak ga takut lagi.”

“Kakak juga hebat?”

“Kakak juga hebat.”

Sumber gambar: Wikihow – How to Reduce Sensory Overload: 8 Steps

Links: 5 Autism Simulations to Help You Experience Sensory Overload