KL Converge! 2015 (27-29 Agustus 2015)

Hari Kamis lalu saya lagi iseng keliaran di FB ketika saya melihat status FB temen kuliah saya, Kris, yang isinya itu foto dan dia bilang kalo menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia mampir ke booth dia. Saya kaget, lhoh ternyata Kris lagi di KL toh — dan ga di sembarang tempat, tapi di acara pameran KL Converge! 2015 di KL Convention Center! Deket rumah tuh! Hahaha.

Jadi hari Jumat saya berniat mengunjungi acara KL Converge! itu. Ternyata perlu mendaftar, tapi pendaftarannya juga gratis *kapkap anaknya seneng yang gratisan* Hanya perlu mengisi lembar formulir berisikan nama, kota domisili, nomor telepon, dan pekerjaan. Masalahnya, kolom pekerjaan itu WAJIB diisi. Eng ing eng. Gimana dong ya, hahaha. Akhirnya saya isi kolom pekerjaan dengan satu pekerjaan yang dulu saya aktif: Freelance, hahaha. Apakah ini pertanda saya akan kembali aktif menjadi freelancer? Ihihi. Amiiin.

20752185830_0113811763_o

Saya datang di awal acara — pukul 10 pagi — dan suasana masih lumayan sepi. Cukup enak, sebenernya, karena jadi lebih santai untuk berjalan-jalan melihat-lihat booth pameran.

20930486732_c18d83b665_o

Ada beberapa rombongan sekolah yang juga datang, dan menyenangkan rasanya melihat anak-anak sekolah itu juga belajar industri kreatif yang emang lagi berkembang banget pas ini. Malaysia sendiri untuk industri kreatif lagi maju banget untuk sektor animasinya. Karya-karya animasi dalam bentuk TV seri dan film kaya ‘Ipin Upin’ dan ‘Boboiboy’ itu bahkan punya fanbase yang sangat kuat di Indonesia.

Ga jauh dari pintu masuk, saya ngeliat deretan paviliun negara-negara ASEAN, dan ta-daaa! PAVILIUN INDONESIAAAAA!

20947575881_93c1041d6e_o

*lalu samar-samar terdengar suara teriakan suporter olahraga Indonesia*

*”IN-DO-NE-SIA!”*

*dung dung dungdung dung!*

*”IN-DO-NE-SIA!”*

*dung-dung dungdung dung!*

*kap, sudah ya kap. Iya*

Nah, ini adalah duo dari Toge Productions; Kris Antoni dan Andrew Jeremy. Dua-duanya teman kuliah saya (mereka berdua setahun di bawah saya — BINUSIAN 2008) dan mereka berdua adalah salah dua dari para motor Toge Productions. Toge Productions adalah perusahaan game yang berbasis di Karawaci dan membuat banyak game kasual atau sosial. Kris ini salah satu orang yang menginspirasi saya untuk belajar desain lebih jauh, walopun secara otodidak. Waktu kuliah, dia suka menunjukkan karya animasi pendek dia yang dibuat dengan Flash. Hebatnya, karakter yang dia buat itu digambar dengan mouse. Tau sendiri susahnya ngegambar karakter pake mouse itu kaya apa. Jadi waktu saya magang dan sempet diminta ngedesain secara mendadak dan ga ada media apa-apa kecuali laptop dan mouse, saya menyanggupi dan selama ngedesain saya ngebatin, “Kris aja bisa!” Hahaha.

Kris mendirikan Toge Productions tahun 2009. Katanya dia setahun sempet magang di perusahaan game Indonesia juga yang bernama ‘Altermyth’. Kaget saya, hahaha, soalnya saya juga pernah magang di Altermyth untuk proyek ‘Langit Musik’ Telkomsel. Altermyth adalah studio game milik Dien Wong yang juga merupakan dosen kampus kami — yang pernah berantem sama staf keamanan kampus karena parkir mobil di area parkir dosen dan sama staf keamanan dikira mahasiswa. “Ya lagian mr. Dien tampilannya kaya mahasiswa gitu deh… Ya dikira mahasiswa lah,” biasanya kita mahasiswa suka komentar gitu, hahaha. Saya malah kaget pas tau Dien Wong adalah dosen kampus. Pernah dia tanya, “lho, kan kita beberapa kali papasan di kampus, Nin?” “… Ya saya kira mr. Dien itu mahasiswa ga lulus-lulus gitu…” ?

20940184365_d12f6d3cc4_o

Saya menghabiskan waktu cukup lama di booth Toge Productions sambil mengobrol dengan mereka berdua. Salah satu pertanyaan saya ke Kris adalah, “kira-kira negara ASEAN mana yang menurut lu bakal maju banget dalam industri game dan animasi?”

“Vietnam dan Thailand,” jawab Kris. “Gw pernah ke Thailand dan mereka udah mulai rame itu industri game dan animasinya. Untuk Thailand ini sebenernya menarik. Studio mereka itu walopun indie lumayan gede lho; 200 karyawan. Jadi ternyata pendiri-pendiri studio itu orang-orang Eropa atau Amerika yang udah lama tinggal di Thailand.

Kalo Vietnam, nah ini dulunya gamer atau orang yang berkecimpung di dunia game di Vietnam ini dianggep kaya apa ya… Kaya gembel gitu lah. Tapi waktu Flappy Bird sukses besar, orang Vietnam langsung ngeliat potensinya. Pemerintah udah mulai mendukung juga.”

Saya juga bertanya mengenai industri game dan industri animasi mana yang lebih besar tantangannya; dan Kris berkomentar bahwa dunia animasi itu lebih besar tantangannya.

“Masalahnya,” kata Kris, “mayoritas orang Indonesia berharap terlalu tinggi. Pengennya begitu ada animasi lokal rilis, kualitas udah keren banget. Jadi lah animator kita lebih fokus ke kualitas animasi dan untuk alur cerita keteteran. Ga bisa disalahkan juga karena tim animasi untuk Indonesia ada berapa orang sih? Satu orang bisa ngerjain dari gambar, animasi, rendering, nulis cerita, isi suara, dan sebagainya. Salah satu harus dikorbankan, dan sayangnya yang dikorbankan itu ya juga sama-sama fatal. Jadi emang industri animasi itu tantangannya luar biasa. Semoga sumber daya manusia untuk industri animasi bertambah terus untuk bikin kualitas yang lebih bagus.”

Saya juga sempet nanya-nanya soal fanbase Toge Productions. Kata Kris, udah lumayan banyak sebenernya — dan salah satu game mereka, ‘Infectonators’, juga dikenali banyak gamer internasional. Saya iseng nanya, untuk fanbase apakah ada yang udah bikin semacem fanart Infectonators gitu, hahaha. Kris ngejawab sambil ketawa katanya belum. “Kalo ada yang bikin fanart Infectonators, kita bakal rasanya terhormat banget pasti,” jawab Kris.

Banyak hal yang saya terima ketika mengobrol dengan mereka berdua ini. Nambah ilmu banyak, hahaha.

Selain pameran, ada juga beberapa booth interaktif — seperti VR (virtual reality) dengan simulasi roller coaster. Seru lho!

20930354502_5215f114b8_o

Nah, yang ini rame! Main game Fruit Ninja menggunakan Kinect. Jadi kalo kita main app Fruit Ninja di handphone itu kan motong buah pake gerakan jari — yang ini bener-bener melakukan gerakan memotong buah! Persis kaya kungfu master, hahaha.

20752148008_cf080667a7_o

Selain negara-negara ASEAN, tentu aja ada “tiga raksasa” di dunia digital yang ikut berpartisipasi: Jepang, Korea, dan Cina.

Kris berkomentar, “iya, kita ini [dari Indonesia] kan game developer gini tampilannya ecek-ecek gini ya. Kalo Korea… Wuih. Game yang ditampilin aja keren banget udah komplit kelar semua tinggal dimainin, hahaha.” Semoga Indonesia bisa semaju Korea ya untuk industri game-nya, amiiiin. Ada juga booth dari Google yang super minimalis. Saya agak kaget karena ngebayanginnya bakal heboh gimanaaa gitu, hahaha. Google lho. Tapi ternyata minimalis banget. Saya rasa fokusnya ini untuk Google Translate mereka dengan tema globetrekker karena makin banyak orang yang senang berwisata ke luar negeri.

20913864836_5c637cf059_o

Untuk bagian Malaysia, mereka bener-bener total menampilkan e-industry mereka. Ga hanya industri hiburan, tapi juga sampe ke e-retail dan e-government.

Nah, salah satu bintang di bagian Malaysia ini adalah Abang Merah. Abang Merah ini maskot untuk iklan layanan masyarakat/PSA ‘Klik Dengan Bijak’. ‘Klik Dengan Bijak’ berfokus pada mengingatkan pengguna Internet pada umumnya untuk verifikasi informasi (menghindari informasi palsu/hoax), berbagi informasi secukupnya, dan aman ber-Internet. Seru lho!

20752266930_a9172f5bc7_o

Ini salah satu iklan Klik Dengan Bijak di Youtube.

Di bagian Malaysia ini juga ada bagian khusus untuk industri animasi (!) Saya hanya ngeliat ‘Ipin dan Upin’ sama ‘Bola Kampung’ (yang lainnya saya belum familiar)

20914079576_90588031ac_o

Sayang banget saya hanya bisa mampir satu hari saja, itupun juga hanya satu jam. Semoga akan ada KL Converge! di tahun-tahun berikutnya dan pesertanya makin beragam juga ?

Advertisements

TV seri ‘Forever’

Salah satu genre kesukaan saya untuk serial TV adalah procedural cop; jadi seperti detektif tapi minim adegan aksi (ya paling kejar-kejaran mobil ya) dan lebih banyak ke proses penyelidikan dan investigasi (ohyatentusaja CSI masuk daftar tontonan teratas saya).

Salah satu yang saya sangat suka adalah ‘Forever’ — yang mengisahkan seorang dokter di kamar mayat (morgue) bernama Henry Morgan yang membantu kepolisian NYPD memecahkan berbagai macam kasus; dan sebagai alur utama, Henry Morgan itu hidup abadi. Umurnya 200 tahun lebih, dan dia sendiri nggak tau kenapa dia bisa imortal.

Lagi semangat-semangatnya menonton, eh saya denger kabar kalo ‘Forever’ tidak dilanjutkan lagi ?

*banting meja*

*belah lemari jadi tujuh belas*

*patahin Monas*

HIH.

Alasannya karena “rating nggak mencukupi” — tapi entah ya, saya jengkel sebenernya. Untuk premis acara cukup bagus kok. Rating di IMDB juga 8/10.

HIH.

Bisa dibilang saya patah hati ? Saya nggak mau bilang “ya paling nggak masih ada serial TV lain…” soalnya kaya gitu itu kan udah ada sumbangsih energi dan materi dari segenap kru dan pemain serial TV itu (DAN ‘FOREVER’ ITU BAGUS. PLIS DEH) Asli saat ini saya berharap ‘Castle’ dan ‘The Mysteries of Laura’ masih akan dilanjutkan (dan kabarnya ‘The Mysteries of Laura’ itu macam bak lolos dari lubang jarum ketika NBC memangkas serial TV-nya besar-besaran bulan Mei lalu).

Salah satu alasan kenapa saya jatuh cinta dengan ‘Forever’ adalah pernak-perniknya dan setting toko antik (Abe’s Antiques) Saya suka barang-barang antik dan gaya-gaya klasik begitu *Kapkap anaknya jiwa tua* (MEJA KAYU TEBAL YANG JADI MEJA MAKAN? OH EM JI. KEREN ABIS) Paling suka shot adegan meja makan di Abe’s Antique dengan set poci teh dan cangkir dari porselen Cina berwarna biru dan putih yang tersohor itu.

Porselen Cina itu mengingatkan saya akan almarhum dan almarhumah kakek nenek saya (dari pihak ibu saya). Banyak sekali pajangan dan guci dari porselen berwarna biru putih itu — dan tentu saja, set cangkir teh. Yang paling saya ingat adalah ketika saya masih kecil, saya suka menginap di rumah kakek nenek saya itu setiap akhir minggu. Pagi hari, sarapan roti dengan meisjes coklat (dan nenek saya sama sekali nggak pelit ngasih meisjes yang banyak, jihahahaha~) dengan minum teh Sariwangi menggunakan cangkir itu. Saya suka menuangkan teh yang masih panas di piring teh/lepek supaya teh cepat dingin dan saya paling suka kalau ada gelembung udara yang mengambang di atas teh. Entah kenapa rasanya teh lebih enak, hahaha.

Iseng saya bertanya di Path saya mengenai tempat menjual porselen Cina itu. Teman saya, Aldo, berkata bahwa porselen seperti itu banyak tersedia di Cikapundung. Insya Allah saat mudik ke Indonesia nanti, akan beli beberapa piring dan tea-set di situ, hahaha — sekalian nyari pernak-pernik gaya Peranakan.

Saya sebenernya masih lumayan sedih serial TV ‘Forever’ nggak dilanjutkan lagi ? Banyak props (perlengkapan) di serial TV itu yang bikin nostalgia. Terima kasih , Matt Miller, walaupun hanya untuk satu musim tayang.

Sambel

Sebelum menikah, saya bukan orang yang doyan makanan pedas. Sambel sih ya masih bisa lah dimakan, tapi bukan yang “OMG HARUS ADA SAMBEL” gitu.

Ketika udah menikah — apalagi pas hamil — jadi doyan banget sama sambel. Faktor utamanya itu Ari, hahaha. Dia doyan sambel, dan otomatis saya juga jadi doyan sambel. Waktu hamil juga senengnya makan makanan yang berbumbu dan pedas.

Kemarin, saya beli dua mason jar di supermarket deket rumah. Rencananya mau diisi sambel jadi ga bolak-balik bikin sambel tiap hari.

Sambel favorit saya itu sambel matah — sedangkan Ari lebih suka sambel terasi. Buat saya, sambel matah itu kaya salsa dari cabe, hahaha.

Bikin sambel matah itu gampang. Cuma butuh cabe, tomat, bawang merah, lemon atau jeruk nipis, terasi/belacan, garam, dan minyak goreng sedikit.

Cabe dan bawang diiris lalu dicampur dengan air jeruk nipis. Terasi digoreng lalu dicampur ke cabe dan disiram minyak goreng. Udah deh jadi.


Nah, yang ini udah dicampur.

Sambel matah setoples kecil ini bisa saya habisin dalam waktu 2-3 hari. Enak banget soalnya. Sebenernya saya pengen campur pake kecombrang/bunga jahe, tapi Ari ga suka. Ish.

Buat Ari, saya bikinin sambel dadak — isinya sama, bedanya cabenya direbus dan diblender jadi satu.


Saya juga tetep kasih minyak goreng bekas ngegoreng terasi biar ga kering dan gurih.

Dan tentu aja, buat nemenin sambel kita bikin ayam ungkep goreng doooong.

Saya pernah iseng nyari resep ayam ungkep di Malaysia ini, dan sebenernya isinya sama.

Cuma…

Ga digoreng ?

Padahal kalo digoreng jadi uenak banget lho ?

Untuk resep ayam ungkep, cuma butuh: bawang putih, lengkuas, jahe, kunyit, biji ketumbar, dan garam. Blender sampe halus deh.

Udah halus, campur ke ayam.


Campur sampe rata, lalu bisa didiamkan selama satu jam. Karena kemarin saya waktunya kepepet, saya langsung masak ? Tutup wajan dan letakkan di atas api kecil selama 45-60 menit sampai bumbu menyusut dan diserap ayam. Sebagai tambahan, bisa tambahkan serai dan daun salam.


Sebenernya ga perlu dikasih air, tapi kalo pas ngeblender bumbu dikasih air sedikit biar hasilnya alus, juga gapapa. Intinya mah pas diungkep itu bumbunya keserap semua.

Begitu bumbu terserap semua (wajan ga ada sisa air lagi), bisa disimpan (kalo di rumah sih, paling lama seminggu) atau langsung digoreng. Dimakan pake nasi anget dan sambel, sedaaaap.

Menghindari Bosan

Highlight obrolan di grup Telegram pagi ini: Menghindari rasa bosan.

Karena saya ibu rumah tangga, saya sedikit lebih “mudah” karena cara saya adalah “drop everything and go.” Kalo saya udah mulai jenuh, pagi hari setelah mengantar Wira sekolah saya menuju taman KLCC dan berjalan mengelilingi taman. Kadang saya sambung ke Kinokuniya (yang berujung deg-degan takut dompet jebol kalo aja ada rilis buku atau komik baru) atau supermarket Cold Storage (yang juga berujung deg-degan takut kalap beli tanaman untuk rumah. Murah sih murah, tapi kalo mendadak beli 20 pot ya piye…)

Siang hari, baru jemput Wira dan kembali ke rumah. Siap beraktifitas.

Agak sulit memang untuk teman-teman yang bekerja kantoran atau harus selalu siap siaga. Semoga selalu semangat menghadapi rutinitas sehari-hari.

Berbicara mengenai postpartum depression

I know the reason I waited was actually quite simple: stigma. Women are supposed to love motherhood and embrace it with unbridled enthusiasm. So what, I thought at the time, was wrong with me?

My Postpartum Depression Did Not Make Me A Bad Mom

Saya mengalaminya juga. Belum sampai tahap postpartum depression (saya rasa lebih ke baby blues) tapi saya merasa bahwa hal seperti ini jarang, atau malah tidak pernah, dibicarakan oleh masyarakat.

Seorang ibu HARUS bahagia saat melahirkan anaknya.

Seorang ibu HARUS bahagia saat menyusui anaknya.

Seorang ibu HARUS tampak menyayangi anaknya.

Karena itu yang sering ditampilkan di media, bukan? Foto ibu yang tersenyum penuh mesra ke bayinya di iklan produk bayi atau apalah itu.

Padahal itu juga bukan ibu dan anak betulan. Hanya model iklan.

Iya, ada ibu yang bahagia luar biasa saat melahirkan si bayi.

Tetapi ada juga ibu yang ketakutan. Tidak tahu harus bagaimana.

Dan masyarakat tanpa kenal ampun akan menuding ibu itu bahwa “KAMU BUKAN IBU YANG BAIK. KAMU IBU YANG JAHAT. KAMU BINATANG.”

Benarkah begitu?

Seorang ibu bisa tertekan. Seorang ibu bisa menangis. Seorang ibu bisa merasa buntu dan tidak tahu harus bagaimana. Seorang ibu bisa merasa kesepian saat dia harus mengasuh anaknya sedangkan si suami pergi ke luar rumah dan bekerja — bersosialisasi. Seorang ibu bisa melihat dirinya telanjang di depan cermin — melihat semua bekas parut-parut stretch mark — dan merasa dirinya sangat buruk rupa serta berpikir “kalau saya tidak hamil, ini tidak akan terjadi.” Seorang ibu bisa melihat anaknya dan berpikir andaikan saja si anak tidak ada mungkin hidup dia akan baik-baik saja dan lebih bebas. Seorang ibu bisa melihat ke anaknya dengan penuh amarah dan berteriak, “andaikan kamu tidak ada, aku bisa menggapai cita-citaku!”

Dan itu normal. Sungguh.

Dan setelah mengalami semua itu, tetaplah si ibu memasang wajah dan jiwa yang gagah berani untuk mengasuh anaknya dengan penuh kasih sayang dan percaya bahwa dia bisa menjadi ibu yang lebih baik lagi.

Rasanya saya ingin memeluk jiwa-jiwa hebat itu. Sungguh.