‘The Good Dinosaur’ (2015)

Oke, sekarang ini nulis lagi soal film yang baru minggu lalu saya tonton: Disney/Pixar ‘The Good Dinosaur’.

Dibandingkan dengan ‘Inside Out’, promosi ‘The Good Dinosaur’ ini entah gimana rasanya kurang… Ramai. Ini dibandingkan dengan ‘Inside Out’ yang notabene sama-sama dari Disney/Pixar ya. Kabarnya nggak lama lagi Disney juga akan rilis film animasi terbaru mereka, ‘Zootopia’ — dan film ‘Zootopia’ ini juga promosinya nggak terlalu heboh.

Saya curiganya karena mayoritas slot promosi dihabiskan untuk ‘Star Wars VII: The Force Awakens’. Hmmm.

Tapi ini bener lho. Rasanya sekarang itu dimana-mana Star Wars. Toys R’ Us sampe berapa kali rilis mainan baru Star Wars VII. Dimulai dari rilis figurine dari trilogi sebelumnya, sekarang udah mulai bermunculan figurine dan droid untuk Star Wars VII ini. Kosmetik Covergirl aja sampe ada seri khusus Star Wars dan salah satu pengrajin logam dan perak Malaysia, Royal Selangor, juga bikin seri khusus Star Wars — termasuk Han Solo yang dibekukan dalam carbonite (pewter, kalo bikinannnya Royal Selangor) ukuran life-size (yang sayang sekali nggak dijual. Karena kalo iya, itu bakalan saya jadiin pintu apartemen.)

Oke, balik ke film ‘The Good Dinosaur’.

Sebelum menonton, saya sempet ngeliat beberapa komentar temen-temen saya yang sudah menonton (tanggal tayang film di Indonesia lebih cepat tiga hari dari Malaysia) dan rata-rata mereka bilang bahwa filmnya ini… Nggak memenuhi standar Pixar. Nggak cuma mereka, bahkan kritikus film profesional juga berkomentar hal yang sama di Rotten Tomatoes. Jadi dengan berbekal rasa penasaran sekaligus “nggak berani berharap terlalu banyak juga”, saya menonton ‘The Good Dinosaur’ bersama Ari dan Wira hari Sabtu lalu.

Seperti halnya film Pixar, biasanya dimulai dengan film pendek/short. Untuk ‘The Good Dinosaur’, film pendeknya adalah ‘Sanjay’s Super Team’; dan berikut adalah komentar saya.

Sanjay’s Super Team (2015):

Berita mengenai film pendek ini bikin saya heboh; lebih heboh daripada ‘The Good Dinosaur’ itu sendiri malah. Kenapa? Karakter utama, alur cerita, dan sutradaranya adalah orang Amerika-India. POC. People of colors. Dianggap ‘minoritas’ dan ‘kelas dua’ di industri hiburan Hollywood yang notabene dikuasai kulit putih/kaukasian. Lihat film-film beken dari Hollywood, karakter POC biasanya ditampilkan secara stereotipikal: geek/kutu buku/tukang lawak/agak bodoh/mati duluan/pilih pilihanmu. Jarang ada film atau karya yang menampilkan POC sebagai… Mereka. Sebagai individu yang penuh dengan latar belakang budaya yang juga sama kayanya. Bahasa kerennya di industri: Whitewashing.

Sanjay’s Super Team ini diangkat dari “based on — mostly — true story“. Pengalaman pribadi si sutradara, Sanjay Patel, saat dia masih kecil dan menonton film-film superhero sementara ayahnya berdoa.

Reaksi saya selama menonton? MENANGIS HABIS-HABISAN. Ya saya terharu dengan fakta bahwa kebudayaan India yang dianggap “minoritas” di Amerika ditampilkan dengan sebegitu indahnya dan megahnya di layar bioskop oleh studio animasi besar seperti Disney/Pixar, ya saya terharu melihat bagaimana karakter Sanjay kecil di film itu merangkul budayanya yang beragama Hindu dan menjadikan para dewa dan dewi Hindu — Wisnu, Durga, dan Hanuman — itu nggak kalah keren (malah lebih keren!) daripada superhero-superhero modern di media massa.

Penilaian pribadi: 5/5

The Good Dinosaur (2015):

Nah…

Ini…

Jadi…

Euh. Gimana ya.

Jadi ketika saya selesai menonton, saya mengerti kenapa banyak orang berkata bahwa film ini belum memenuhi standar Disney/Pixar. Karena memang begitu.

Saya tetep ingin memberikan penghargaan penuh kepada Peter Sohn, sutradara dari film ini. Terutamanya karena dia ini nama “baru” di deretan portfolio Disney/Pixar yang penuh dengan nama-nama seperti John Lasseter, Andrew Stanton, Pete Docter, dan Lee Unkrich — semacam The Four Musketeers-nya Disney/Pixar. Memegang kepercayaan untuk membuat full-featured film itu nggak mudah, apalagi dari studio seperti Disney/Pixar, jadi Peter Sohn untuk paling tidak memegang “keajaiban” dari Pixar di film itu sendiri patut dipuji.

Nilai plusnya dulu ya.

Animasinya. YA TUHAN, ANIMASINYA. Beberapa kali saya terkaget-kaget di kursi bioskop saat melihat shot daun diterpa sinar matahari dan tetes air dengan cantiknya dan saya berteriak dalam hati, “ASTAGA, ITU DIGITAL? BUKAN BENERAN?” Luar biasa kualitas animasinya. Begitu detail dan cantik sekali.

Untuk karakter, saya sangat menyukai Spot; si anak manusia yang kelakuannya seperti anjing serigala. Saya jadi berpikir, mungkin kalo memang dinosaurus nggak punah karena meteor, dinosaurus akan sedikit lebih maju peradabannya kali ya, hahaha.

Kalo ditanya apakah saya nangis atau nggak, nah itu saya nangis sesenggukan berkali-kali (agak bingung juga karena ada yang bilang, “gw sih nggak nangis, tapi emang filmnya itu bikin perasaan hangat” — mungkin saya yang emang kelewat cengeng ya, hahaha) Ketika Spot “mengajarkan” ke Arlo, si dinosaurus, cara menghadapi rasa kehilangan orang yang disayang dengan menepuk tanah dan melolong, buat saya itu indah sekaligus mengharukan luar biasa. Ada saat ketika kita memang harus menerima kehilangan, dan menangis itu salah satu caranya untuk membuat kita lebih tabah dan lebih kuat.

Saya juga suka sisi liar dari film ini, seperti Spot yang terang-terangan menarik kepala kumbang raksasa sampe putus — terlepas kemungkinan anak-anak yang menonton bisa terkaget-kaget atau malah trauma, hahah — atau Spot yang mengunyah kumbang. Ada juga satu adegan psychedelic ketika Arlo dan Spot nggak sengaja makan buah busuk yang mengakibatkan mereka berhalusinasi. Untuk saya, ini seperti cara Pixar bercanda dengan dua tipe manusia: Anak-anak dan dewasa. Anak-anak tertawa terbahak-bahak saat adegan halusinasi karena Arlo dan Spot berubah bentuk secara fisik (kepala jadi gede, mata jadi gede, macem-macem) sementara orang dewasa tertawa terbahak-bahak karena mereka tahu betul maksudnya halusinasi/under influence/drugged itu apa.

Nah, kekurangannya film ini adalah alur cerita. Sebenernya alurnya sederhana: Seekor dinosaurus dan seorang anak manusia berpetualang dan menjadi dewasa dalam prosesnya/coming of age. Film-film Pixar juga sebenernya alurnya sederhana; salah satu favorit saya, Wall-E, alurnya itu hanya sebuah robot yang kesepian dan mati-matian menyusul temannya ke stasiun luar angkasa (kalo ga salah Andrew Stanton, sutradaranya Wall-E, bilang bahwa film Wall-E itu, “kisah cinta antara dua robot”.)

Tapi untuk ‘The Good Dinosaur’ ini… Gimana ya. Alurnya sedikit berantakan seperti Disney/Pixar ‘Brave’. Yang ditanyakan itu: “Jadi ini inti filmnya apa? Keberanian? Keluarga?” Bisa sih dapet dua-duanya (seperti ‘Wall-E’, ada satu pesan lagi di film itu: Lingkungan hidup) tapi nggak ada satu alur jelas yang menceritakan ‘The Good Dinosaur’ ini tentang apa.

Ada juga yang saya sayangkan: Karakter sampingan yang nggak dikembangkan. Ada karakter yang saya cukup suka: Forrest Woodbush (seekor styracosaurus) — agak-agak neurotik dan posesif. Tapi karakter itu hanya “selewat pandang” alias hanya sebentar saja muncul lalu setelah itu hilang. Di sini saya merasa film ini malah condong ke mantra usang Dreamworks (yang saya yakin juga sudah mulai ditinggalkan oleh studio Dreamworks) yaitu karakter lucu-lucuan yang sebenernya nggak terlalu penting. Misalnya, Scrat dari ‘Ice Age’. Apakah Scrat itu berperan penting dalam plot keseluruhan? Nggak sama sekali. Dia hanya karakter lucu — yang SANGAT menjual. Makanya Scrat ada di trilogi ‘Ice Age’. Stunt seperti itu sebenernya kurang efektif dalam ngebangun cerita — dan membangun cerita adalah salah satu poin plus Disney/Pixar. Dreamworks sendiri sudah mulai tancap gas dengan membangun cerita yang makin baik dan kompleks dengan ‘How To Train Your Dragon’. Nah, di sini rasa-rasanya kok Disney/Pixar yang malah keteteran.

Untuk saya, ‘The Good Dinosaur’ ini menghibur. Cocok untuk anak-anak karena beberapa humornya slapstick, tapi jangan berharap terlalu jauh untuk adegan yang menarik-narik perasaan dan tisu seperti 10 menit pertama film ‘Up’ atau 10 menit terakhir ‘Toy Story 3’. Belum ada adegan yang membuat rasanya ingin ikut berteriak memberi semangat seperti adegan segerombolan ikan grouper dan Dory yang berusaha membebaskan diri dari jaring sambil berteriak “JUST. KEEP. SWIMMING! KEEP SWIMMING! KEEP SWIMMING!” di ‘Finding Nemo’. Belum ada adegan yang membuat penonton bernafas lega setelah bermenit-menit menahan nafas ketika akhirnya kapten Axiom, McCrea, memencet tombol manual AUTO sambil berseru, “AUTO! You are relieved of duty…” di ‘Wall-E’.

Tetapi, ‘The Good Dinosaur’ mengajarkan saya pentingnya menerima kehilangan dan menghadapi rasa takut. Semua itu dalam keajaiban animasi yang luar biasa cantik. Tetap sebuah pembelajaran yang sangat indah.

Saya berharap semoga Peter Sohn tetap membuat karya yang cantik dan indah berikutnya.

Penilaian pribadi: 4/5

Advertisements

Memberikan Berlian

Akhir-akhir ini di timeline social media — kalo buat saya, di Facebook. Soalnya saya udah ga nongkrong di Twitter lagi — sedang rame kejadian taman bunga amaryllis di gunung Kidul yang diinjak-injak oleh pengunjung taman.

Jadi kronologisnya begini:

Beberapa minggu lalu, ada foto yang menyebar di lingkungan socmed Indonesia mengenai taman bunga amaryllis di gunung Kidul yang katanya “nggak kalah dengan taman bunga di Eropa”. Selama ini asosiasi gunung Kidul itu gersang atau biasa-biasa aja, sehingga pemandangan taman bunga seperti itu tentu saja menarik minat calon pengunjung.

Dan benar lah, taman bunga itu langsung mendapat sorotan publik. Tentu saja tempat itu langsung didatangi banyak pengunjung, terutama anak-anak remaja/ABG yang ingin mengambil foto selfie ataupun pemandangan bunga yang cantik-cantik itu.

Masalahnya, pengunjung itu nggak hanya sekedar mengunjungi dan berfoto. Mereka juga merusak; entah sadar atau nggak. Deretan bunga-bunga itu ya diinjek-injek dan didudukin gitu aja. Entah kenapa dan entah maksudnya apa. Keadaan taman yang kacau balau begitu tentu saja langsung difoto dan diunggah ke socmed — dan langsung heboh lah publik.

Hujatan langsung turun macam hujan di bulan November-Desember. Foto-foto ABG-ABG itu dipajang jelas beserta akun socmed mereka (Instagram). Banyak yang mencaci, apalagi yang memaki.

Para ABG itu, nggak mau kalah, balas mencaci maki. “Urusan gue dong! Lu ngurus diri sendiri aja belum bisa, udah ngurusin bunga!” dan segala macemnya. Publik tambah mengamuk. Apa ini, anak-anak masih ingusan dikasih tau yang bener malah pecicilan dan ngelawan! Saru sama orang tua! Hajar balik! Langsung terpampang nama lengkap para ABG tersebut beserta alamat rumah dan alamat sekolah. Foto-foto para ABG itu tanpa malu-malu disebar, dengan muka terlihat jelas.

Sementara itu, saya bingung. Makanya saya nggak mau bereaksi ataupun berkomentar apapun mengenai kebun bunga amaryllis itu di Facebook saya.

Why you should think twice before shaming anyone on social media“, kata WIRED.

When the website Jezebel cataloged a series of racist tweets by high school students about President Obama, it not only published their names but also called their high schools and notified the principals about their tweets. In some cases, Jezebel listed the hobbies and activities of the students, essentially “SEO-shaming” them to potential colleges. Most of the kids have since deleted their Twitter accounts, but search any of their names on Google and you’ll likely find references to their racist tweets within the first few results.

Yes, what these kids wrote was reprehensible. But does a 16-year-old making crude comments to his friends deserve to be pilloried with a doggedness we typically reserve for politicians and public figures — or, at the very least, for adults?

We despise racism and sexism because they bully the less powerful, but at what point do the shamers become the bullies? After all, the hallmark of bullying isn’t just being mean. It also involves a power differential: The bully is the one who’s punching down.

Satu sisi, jujur saya sebal dengan para ABG-ABG itu yang seenaknya merusak kebun bunga milik orang lain — dan mereka bahkan sama sekali nggak meminta maaf ataupun merasa bersalah! Saya ingin sekali rasanya ikut menghujat dan menghina mereka, biar mereka tau kalo apa yang mereka lakukan itu salah. Supaya mereka lain kali mikir pake otak. Supaya mereka lain kali nggak melakukan hal yang sama.

Tapi di sisi lain… Apakah itu langkah yang tepat? Apakah itu artinya saya juga jadi tukang bully? Apalagi dengan menyebar data pribadi para ABG itu. Apakah itu suatu perlawanan yang adil; saya, anonim di balik layar dengan data pribadi yang saya bisa kontrol sepenuhnya, dengan para ABG itu, yang data pribadinya sudah tersebar ke publik tanpa seijin mereka?

Temen saya, Popon, komentar, bahwa dia setuju dengan kritik publik ke para ABG-ABG itu. “Supaya mereka tau kalo mereka salah, Kap. Ya gimana, masih banyak orang Indonesia yang kalo dikasihtau malah ngeyel. Nggak bisa diomongin baik-baik. Masih harus dikerasi.” Tetapi, dia menambahkan, sebaiknya identitas si ABG itu dijaga. “Minimal muka di-blur atau bagian mata dikasih blok hitam lah,” kata Popon lagi. “Dan jangan maki-maki nggak nggenah dan nggak puguh gitu lah…”

Dan “tugas” menjaga data pribadi orang itu, percaya atau ga percaya, jatuh di tangan kita yang notabene orang asing.

Saya pernah baca komik Islami karya mas VBI Djenggoten, bahwa menasehati secara kasar itu ibarat melempar berlian ke kepala orang lain. Iya sih, yang dilempar itu bagus, berlian. Tapi ya ngasihnya dilempar, kena kepala orang pula, kan sakit. Orang ngerasa sakit duluan, dan nggak bisa menghargai berlian yang dilempar.

Mungkin ya itu yang selama ini kita lakukan. Ngelempar berlian. Kena iya, bikin marah iya, bikin seneng mah nggak.

لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ. — رواه مسلم

Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling mencurangi, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lainnya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara!

Seorang muslim adalah bersaudara, janganlah mendhaliminya, merendahkannya dan janganlah mengejeknya! Takwa ada di sini –beliau menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukup dikatakan jelek seorang muslim, jika ia menghinakan saudaranya muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, harta dan kehormatannya. (HR. Muslim)

Jadi ya… Mungkin memang masih dibutuhkan kritik publik ke beberapa individu yang melakukan kesalahan karena, kasarnya, “kalo nggak digituin, nggak bakal kapok.” Semacam hukuman massal, apalagi Indonesia itu negara yang rakyatnya sangat komunal (apa ya itu… Ikatan lingkungannya erat gitu lah.) Tapi balik ke massa — yaitu diri kita — sendiri yang ngejaga ucapan dan tindakan yang akan kita berikan ke orang yang sebenernya pengen kita nasihati.

Ya prinsipnya seperti itu: Enakan mana, ngelempar berlian sehingga kena kepala orang sampe berdarah atau ngasih berlian dengan baik dan penuh senyum?

Ngebalikin Kuas ke Kinokuniya Suria KLCC

Huaaa, udah lama nggak nulis blog. Nggak, bukan karena lagi sibuk gambar atau gimana. Seminggu ini malah rasanya lagi kurang produktif untuk urusan menggambar, hahaha 😅

Baru-baru ini saya “kenalan” dengan kebiasaan mencatat/planning. Gara-garanya saya suka liat planner yang lucu-lucu dan cantik-cantik gitu di Pinterest, lalu ngobrol dengan Dian. Dian ini anaknya rajin banget, nyatet kegiatan dan agenda di planner (“yagimana Kap, aku weh suka lupa naro hape di mana!”) dan dia ngasih tau saya sistem mencatat agenda dengan metode bullet journal. Jadi ada lah semingguan ini saya lagi “renovasi” isi kepala dan mulai ngebiasain nyatet di agenda. Cukup menolong buat saya, karena saya orangnya chaosPlanner yang biasanya dijual di akhir/awal tahun itu untuk saya sebenernya nggak berguna karena saya ibu rumah tangga. Bukan yang tipe sibuk banget gimana sampe yakin planner bakal keisi, tapi tetep butuh catatan agenda yang jelas. Sistem bullet journal itu fleksibel dan nggak saklek ngikutin tabel tanggal dan bulan di sistem planner biasa.

Selain itu, kebetulan rumah lagi butuh perhatian yang lebih dari biasanya. Kadang ngerasa kalo Murphy’s Law itu benar adanya, dan kadang barang-barang yang rusak di rumah itu bisa janjian rusaknya bareng-bareng 😣 Sepele, tapi cukup melelahkan. Hal-hal rutinitas seperti ini yang sebenernya menyebalkan di saya, karena jadi capek pikiran juga. Sebel.

Omong-omong, saya ada cerita menyenangkan (yuk ah, cerita yang seneng-seneng aja daripada yang sedih-sedih atau sebel-sebel mulu.) Jadi kejadiannya itu ada kali ya, 2-3 minggu lalu, saya beli set cat air Sakura KOI di Kinokuniya. Jadi set cat air KOI ini… Gimana ya. Heits banget gitu lah. Asik banget di kuasnya. Jadi kan kalo kuas cat air biasa gitu ya kuas gitu ya, harus ada wadah air buat ngebasahin cat gitu. Nah, set cat air KOI ini ada kuas khusus yang semacem tabung buat naro air gitu. Nanti airnya merembes melalui kuas, dan kita bisa ngatur banyaknya air yang merembes dengan cara menekan bagian gagang kuas.

Iya, jadi saya seneng sama set cat air itu karena kuasnya aja 😐

Masalahnya, set cat air ini nyarinya setengah mati. Saya udah cari dari lamaaaa, nggak nemu-nemu. Bahkan sejak masih di Indonesia. Pernah nemu satu, eh harganya 250 ribu. Mana belum gajian pula. Selepas gajian, nyari di toko buku, EH UDAH NGGAK ADA. Kan pait.

A photo posted by Retno Nindya (@retnonindya) on Nov 28, 2015 at 1:09am PST

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Jadi waktu saya ke Kinokuniya beberapa minggu lalu, saya ngeliat ini ada satu kotak set cat air KOI ya terus aja saya samber lah. Pas dibuka di rumah, lah bagian kuasnya ga ada. Cuma ada bagian batang kuas/tabung airnya.

Sebenernya pas itu saya mau nyerah aja. Nyari kuas yang mirip gitu di Rakuten atau Lazada gitu ya. Tapi saya iseng coba kontak customer service Kinokuniya, pengen tau aja return policy mereka gimana — apalagi saya juga pegang kartu anggota Kinokuniya.

Ga nyangka, pihak Kinokuniya langsung oke-oke aja dan kalem-kalem aja nanggepinnya. Saya cukup datang kembali ke toko sambil membawa produk yang bermasalah dan tanda bukti transaksi/receipt. Kaget saya, karena jarang aja sih nemu yang CS-nya kalem gini. Biasanya kan return policy toko-toko gitu suka geje absurd macem “kami tidak menerima barang rusak apabila bungkus telah dibuka.” YAGIMANA KITA BISA TAU BARANG ITU RUSAK ATAU NGGAK KALO BUNGKUSNYA NGGAK DIBUKAAAAAAAAA? Aturan pengembalian barang atau “garansi” resek kaya gitu itu lho yang bikin naik darah. Macem dasar rampok semua.

Saya kembali ke Kinokuniya besoknya, dan dari pihak CS langsung dibawa ke departemen Peralatan Tulis/Stationery. Di Stationery juga sama sigapnya. Saya tunjukin di kotaknya itu ada keterangan kalo kuasnya itu terdiri dari dua bagian, dan salah satunya hilang. Lalu staf Kinokuniya nanya ke saya, apakah kira-kira saya butuh set cat air itu secepatnya atau nggak. Saya jawab kalo sebenernya sih nggak darurat-darurat amat. Lalu staf Kinokuniya ngomong ke saya kalo mereka bersedia mengganti kuasnya tapi saya harus menunggu sampe akhir bulan. Saya oke-oke aja dengan jawaban mereka lalu saya meninggalkan nomor telepon.

Beberapa hari berikutnya, saya ditelepon pihak Kinokuniya. Stafnya bilang kalo produk pengganti akan datang tanggal 28 November ini; dan tepat tanggal 28 kemarin saya ke Kinokuniya, pihak Kinokuniya nggak hanya mengganti kuasnya aja. Tapi mereka beneran ganti produk yang saya beli dengan produk baru dari supplier ✨ Fotonya ada di atas tu, saya sudah pasang di Instagram saya. Senang sekali rasanya, bener-bener dilayani dengan baik dan ramah bahkan sejak di telepon sampe proses penggantian selesai. Yang saya suka, stafnya itu sangat inisiatif. Jadi aslinya harusnya emang kuasnya aja yang diganti, tapi pas stafnya nelpon si supplier, si supplier lagi di jalan menuju Kinokuniya *krik krik krik…* Lalu dia mengobrol dengan supplier, bilang kalo saya udah ada di toko; gimana kalo saya dikasih aja produk yang baru yang kemarin baru dateng dan nanti produk lama akan dikembalikan ke supplier aja. Pihak supplier juga oke, dan stafnya langsung ambil produk dari lemari pajang. Bener deh, nggak salah saya jadi member Kinokuniya, hahaha. Terima kasih, tim Kinokuniya Suria KLCC!

Seneng sekali rasanya dapet pengalaman menyenangkan seperti itu, walopun asalnya dari “iseng aja pengen tau return policy-nya gimana sik”, hahaha. Saya pribadi jadi ngerasa lebih percaya kalo ada apa-apa (ya semoga juga jangan sampe ada apa-apa lah yaaaa) dengan produk yang saya beli di Kinokuniya, saya bisa mempercayai mereka untuk menjadi solusi. Alhamdulillah.