Dawet Banjarnegara

View this post on Instagram

Penjual #DawetAyu #Banjarnegara asli non-KW pasti menyertakan maskot tokoh #wayang #Semar dan #Gareng di gerobaknya. Konon, dipasangnya tokoh seMAR dan gaRENG itu adalah lambang doa para bakul agar cuaca pada hari itu seperti cuaca saat MARENG. Secara gampangnya, mareng adalah sebuah musim (mangsa) dalam penanggalan agraris Jawa, yang posisinya berada di antara mangsa rendeng (penghujan) dan mangsa ketiga (kemarau). Jadi sudah tidak hujan, tapi belum sampai kemarau. Pada mangsa mareng inilah biasanya para petani memanen hasil kerja kerasnya, pada mangsa ini pulalah biasanya satwa-satwa kawin mawin dan bunting. Pendeknya di mangsa mareng ini seolah semua rejeki dari yang maha kuasa mewujud secara nyata. Ya hasil panen (jadi banyak uang untuk beli dawet ayu), ya hewan kawin, ya ternak bunting, ya sudah ndak hujan terus-terusan, ya belum kemarau-kemarau banget. Pokoknya hore lah.. Jadi mungkin ini semacam doa lancar rejeki agar minuman segar ini laris manis. #ReBoga

A post shared by Iwan Pribadi (@temukonco) on

Belajar sesuatu tentang negeri sendiri hari ini… 😊 

Estafet Demam

Ketika Wira mulai sembuh dari demam, giliran saya yang kena demam hari Selasa. Jadi lah Ari yang sibuk mengurus kami berdua yang sedang terkapar ini.

Saya sendiri benci setengah mati dengan sakit, apalagi demam yang membuat saya bener-bener nggak bisa ngapa-ngapain selain berbaring di tempat tidur. Rumah bisa dipastikan tidak terurus dan pola makan keluarga langsung berantakan. Bahkan untuk memasak nasi menggunakan rice cooker yang ibaratnya “tinggal pencet tombol” pun sukses membuat saya pusing dan terpaksa duduk atau berbaring. Saya sendiri nggak tega Ari masih harus mengurus Wira selepas dia pulang kantor atau pagi-pagi menyiapkan Wira sarapan dan memandikan Wira juga.

Demam saya baru agak mendingan dini hari tadi ketika saya merasa bahwa demam ini akibat radang tenggorokan, sama seperti Wira. Bahkan Wira mendapatkan resep antibiotik dari dokter saat berkunjung ke UGD. Saya teringat bahwa Strepsils itu cukup ampuh untuk mengobati radang tenggorokan karena mempunyai kandungan antiseptik/antibiotik (makanya Strepsils nggak dianjurkan dikonsumsi ibu hamil) jadi lah pukul lima pagi saya sibuk mencari Strepsils — yang untungnya selalu ada di kantung celana kerja Ari.

Saat ini tenggorokan saya sudah agak mendingan dan demam sudah turun (dari kisaran 38-39 derajat Celcius sejak Selasa, hari ini sudah berkisar di 37 derajat Celcius.) Kepala masih pusing, dan pilek mulai datang. Wira juga ternyata mulai batuk pilek juga. Tetapi paling tidak, sudah tidak ada demam lagi.

Semoga saja kondisi kesehatan saya bisa makin baik hari ini dan bisa segera sembuh total.

Untuk teman-teman pembaca blog, sama-sama jaga kesehatan yaa.