Dawet Banjarnegara

View this post on Instagram

Penjual #DawetAyu #Banjarnegara asli non-KW pasti menyertakan maskot tokoh #wayang #Semar dan #Gareng di gerobaknya. Konon, dipasangnya tokoh seMAR dan gaRENG itu adalah lambang doa para bakul agar cuaca pada hari itu seperti cuaca saat MARENG. Secara gampangnya, mareng adalah sebuah musim (mangsa) dalam penanggalan agraris Jawa, yang posisinya berada di antara mangsa rendeng (penghujan) dan mangsa ketiga (kemarau). Jadi sudah tidak hujan, tapi belum sampai kemarau. Pada mangsa mareng inilah biasanya para petani memanen hasil kerja kerasnya, pada mangsa ini pulalah biasanya satwa-satwa kawin mawin dan bunting. Pendeknya di mangsa mareng ini seolah semua rejeki dari yang maha kuasa mewujud secara nyata. Ya hasil panen (jadi banyak uang untuk beli dawet ayu), ya hewan kawin, ya ternak bunting, ya sudah ndak hujan terus-terusan, ya belum kemarau-kemarau banget. Pokoknya hore lah.. Jadi mungkin ini semacam doa lancar rejeki agar minuman segar ini laris manis. #ReBoga

A post shared by Iwan Pribadi (@temukonco) on

Belajar sesuatu tentang negeri sendiri hari ini… 😊