Wira dan Sekolah

“Over-confidence.”

Saya denger itu bengong.

Tapi kata itu, “over-confidence”, diucapkan oleh TIGA guru kelas Wira dengan yakinnya.

“Wira is… Over-confident. I don’t know if it’s good or, errr, bad. He always say, “it’s okay, miss. I can do it,” and in the end he will ask, “miiiissss! Heeeelp!” kata gurunya Wira dua hari lalu saat saya bertemu mereka di sekolah untuk pertemuan orang tua dan guru dua kali dalam setahun.

😅

Sifat orang tua kali ya? Susah move on, hahaha. Saya keinget jelas ketika Wira hari pertama sekolah. Takut-takut, suka menangis, ga percaya diri, sangat pendiam, minim inisiatif…

Malah setiap pertemuan dengan guru, saya selalu diberitahu, “Wira needs more work on his confidence and initiatives…

Selalu dan selalu, sampe nempel di kepala.

Anak saya butuh lebih pede, butuh belajar inisiatif, anak saya kurang pede, anak saya pemalu, anak saya musti dibilangin…

Sampe barusan tadi.

Kelewat pede, mendekati sotoy (?), kelewat perhatian sama temen-temennya (sampe gurunya komentar kalo seolah-olah Wira ini mau kudeta kelas), suka cerita dan kalo ga direm kebablasan lama banget, dan suka tampil.

Saya setengah ngerasa karena ini faktor “abang” di Wira, dan ternyata itu bener iya ditunjukkan di kelas 😐 Jadi Wira itu suka ngerasa, gimana ya, ngeliat anak-anak lain itu kaya “GUE abang, kalian bukan. Gue tau apa yang terbaik buat kalian” 😓 Jadi kalo Wira denger nasihat dari gurunya, dia bakal ulangin itu nasihat ke temen-temennya (tanpa ditanya, tentu aja.)

Kalo kata Ari, “… Sotoynya nurun dari aku ya?”

Dan buat saya, bossy-nya itu dan kecenderungan kudeta kayanya nurun dari saya.

Alhamdulillah, ALHAMDULILLAH, anaknya nggak ada kecenderungan bullying (😅) Itu saya lega banget.

You continue to surprise me, nak.

Keep it up.

Advertisements

@buibuksocmed Garage Sale for Charity

Garage-Sale-Long-e-Flyer-1

Akhir tahun lalu, teh Nita mendadak ngirim saya pesan di WhatsApp.

“Kap, ikutan gabung ke grup WhatsApp ibu-ibu socmed yuk!”

Nah. Apapula itu grup “Ibu-Ibu Socmed”? 😅

Jadi para anggotanya adalah ibu-ibu yang aktif di social media, terutama Twitter. Saya sebenernya udah nggak ada akun Twitter lagi, tapi mungkin karena awal-awal Twitter (kisaran 2007an) saya cukup aktif, jadi yaaa… Alhamdulillah masih bisa dibilang “aktif” ya, hahaha *eh tapi saya aktif di Path dan Instagram lho!* *kok jadi defensif…*

Dan iya, ini ibu-ibu. Jadi semua anggotanya itu rata-rata sudah punya anak. Tujuan utamanya sih sebagai tempat untuk curhat ibu muda (yang baru punya anak), ngobrol soal kesehatan anak dan keluarga, info mengenai tumbuh kembang anak dan menyusui (jangan salah, ada konsultan laktasi heits luar biasa di grup ini: Falla Adinda *nebeng nama* *ditampar Falla*)… Yang lama-lama merembet ke hal-hal macem berbagi bokep, gosip artis, dan cerita horor sampai notifikasi per hari itu bisa sampai 1000 lebih kalo nggak dibuka seharian. Iya, ya ngobrolnya ya itu. Dari anak, keluarga, sampe toilet bioskop mana yang horor.

Nah, beberapa minggu lalu, ada beberapa dari ibu-ibu yang bercerita kalau banyak barang-barang bayi yang sudah nggak terpakai lagi di rumah mereka. Obrolan bergulir jadi ke Konmari (hahaha) dan ada pula yang bertanya mengenai panti asuhan karena ia ingin mengadakan pesta ulang tahun anaknya di panti asuhan. Teh Nina Nenen mendadak nyeletuk, “eh gimana kalo kita bikin bazaar amal aja?”

Langsung antusias sekali ibu-ibu itu, hahaha. Gerak cepat semua, mendata barang-barang yang ingin dijual dan disumbangkan, lalu menyusun bahan promosi dan menghubungi lokasi untuk jualan amal nantinya.

Nah, buat yang pengen ikutan beli-beli — siapa tau butuh — bisa lihat-lihat di lokasi garage sale pada tanggal 26 Juni 2016 di Twin House Cipete. Buat yang di luar Jakarta, tetep bisa ikutan dengan cek Instagram @buibuksocmed. Nggak mau belanja tapi mau donasi? Bisa kirimkan uang donasi ke akun Bank Mandiri 006 000 6858 991 a.n. Rahmayanti Akmar.

Berikut adalah copy untuk promosi garage sale ini:

Hi, Garage Sale lovers!

#BuibukSocMed , salah satu sekumpulan ibu muda yang aktif di media sosial terutama Twitter, akan menyelenggarakan acara:

Garage Sale for Charity
Minggu 26 Juni 2016
Pukul 14.00 – 18.00
di Twinhouse Cipete.

Akan ada banyak barang seru! Mulai dari pakaian, tas, sepatu, aksesori hingga perlengkapan bayi dan anak. Harganya start from Rp. 5k! 😍

Ga bisa dateng atau tinggal di luar Jakarta? No worries! Belanja online bisa dilakukan lewat instagram @buibuksocmed. Yuk difollow untuk info lebih lanjut.

Hasil penjualan baik offline maupun online akan disumbangkan ke Panti Asuhan Yayasan Fatahillah Cinere yang keadaannya sangat memprihatinkan.

Jika ingin ikut menyumbang tanpa berbelanja pun bisa! Donasinya dapat disalurkan melalui nomor rekening yang tertera di poster

Semoga ketulusan hati teman-teman mengalirkan sejuta kebaikan dariNya. Aamiin.

With love,
#BuibukSocmed
#GarageSale #GarageSaleForCharity #Charity #Jakarta

Supported by :
• FreshCare @freshcareteens
• PT. BCS (@ladifabites @jnccookies @inacookies)
@twinhouse_cipete
@batagorhanimun
@fresh.puro
@inmotoinapps

Wira dan Puasa Ramadhan

Kemarin abis dari Ampang Park, Ari ketemu temen kantornya (yang juga tetangga kami di apartemen — beda lantai) di minimarket. Si bapak itu bawa anak laki-lakinya, kisaran usia SD lah ya.

Nah, Wira ini kucluk-kucluk jalan sambil minum susu coklat dingin.

Si anak SD ini langsung jalan menjauh dong, sambil memalingkan muka dari Wira (😅) Gw langsung ngeh kalo anak ini puasa Ramadhan, dan pasti dia haus banget. Sedangkan anak gw unyil tengil banget keliaran sambil minum air dingin (😓)

Gw bilang ke Wira, “Wira, stop dulu minumnya, nak. Abang sedang puasa. Atau Wira berdiri di samping ibu supaya nggak minum di depan abang.” Ayah si anak itu ketawa sambil bilang, “takpe (arti: Tidak apa/tidak apa-apa) la. Budak kecil pon, belum faham. Takpe. Tu pun jadi pelajaran buat abang untuk sabar puasa.”

Si anak itu juga senyum-senyum aja.

Nah, Wira ini… Gimana ya, dia sebenernya mau ajak main si anak SD ini. Jadi lah Wira jalan deketin dia… DENGAN MULUT MASIH MINUM ES COKLAT. Kesel banget ga tuh? 😅 Si abang ini ya lari-lari kabur dari Wira lah ya. Lha wong godaan. Wira yang masih belum ngeh juga (ampun dah anak siapa sih ini ucrit satu…) malah ngejar si abang. Absurd banget liat dua anak kejar-kejaran ga puguh kaya gitu.

Di lift, Ari bilang ke Wira kalo Insya Allah tahun depan Wira mulai belajar puasa Ramadhan — dan biar paham rasanya puasa. Pas dibilang, “nggak makan dan minum,” anaknya melotot sambil teriak, “NANTI WIRA LAPEEER!”

YA ITU TUJUANNYA, NAK *gemes*

(Kelewat) Mandiri

Ini kejadian kemarin.

Sebenernya udah bermula dari hari Rabu.

Jadi hari Rabu lalu, teman Ari dan saya — Alderina (a.k.a. Popon) — mampir ke Kuala Lumpur dalam rangka transit perjalanan dia menuju Amerika Serikat (le Poponita memang heits™️) Karena Ari sedang di kantor dan saya nggak bisa nyetir mobil (ihik…) jadi saya berencana menjemput Popon di stasiun LRT Ampang Park sambil berjalan kaki; toh stasiunnya juga nggak begitu jauh (hanya sekilo dari rumah) dan Popon juga bisa melihat-lihat bazaar Ramadhan (semacam pasar jualan makanan berbuka puasa yang biasanya ada saat bulan Ramadhan) yang rutin diadakan di mall Ampang Park.

Sore, saya bersiap menjemput Popon. Wira sedang terkantuk-kantuk baru bangun tidur.

Saya: “Wira, jemput tante Popon yok!”

Wira: “Hah?” *masih ngantuk*

Saya: “Jemput tante Popon di Ampang Park. Sama ibu. Yuk!”

Wira: “Nggak mau

Saya: “Hah?”

Wira: “Wira nggak mau”

Saya: “Lho tapi ibu harus jemput tante Popon…”

Wira: “Ya ibu aja yang jemput. Wira di rumah. Nanti Wira bisa main iPad sambil nunggu ibu”

Saya: “AMPANG PARK, Wira. AMPANG. PARK. Ibu ke AMPANG PARK” *gemes*

Wira: “Iya Wira tauuuuu. Wira nggak mau ikut. Ibu aja.”

… Dan begitulah. As dangerous as it looks and sounds and feels, I left my 4-year old son alone in our apartment unit while I walked to Ampang Park.

Sekembalinya di rumah, Wira tampak biasa-biasa aja (dia malah keliatan seneng menyambut saya) dan rumah masih utuh.

Nah, kejadian serupa terjadi hari Sabtu kemarin.

Ari dan saya bersiap-siap akan pergi ke bazaar Ramadhan untuk membeli makanan berbuka puasa/ta’jil.

Dan anaknya, dengan santainya bilang, “Wira nggak mau ikut.”

“Ayah dan ibu mau pergi. Wira ikut”

“Wira. Nggak. Mau.”

Saya sering komentar kalau keluarga kami ini Firstborn Club. Ari ya anak sulung di keluarganya, saya ya juga anak sulung di keluarga saya, Wira juga ya Insya Allah anak sulung di keluarga (😅)

Ciri-ciri utama anak sulung? Keras kepala.

Jadi ketebak dong gimana kesetrumnya kami bertiga.

Yang berujung Wira dorong-dorong saya dan Ari sambil mengoceh, “ayah dan ibu aja sana yang pergi. Go, go, go.

Kami didorong sampe ke luar unit apartemen, lalu nutup pintu DAN MENGUNCI PINTU APARTEMEN tepat di muka kami (iya. Anaknya sudah bisa mengoperasikan kunci pintu rumah…)

Dan hari itu adalah hari beli ta’jil paling ga sante buat kami berdua.

Biasanya: “liat-liat dulu yoook, ih itu kayanya enak deeeh… Mikir dulu deh mau beli apa…”

Saat itu: “Kamu mau apa? Kwetiaw? Oke. Aku nasi kukus dan ayam. Beli. Pulang. Buruan.”

Saya sempet bercerita soal kejadian ini ke teman-teman saya di Path; dan teman-teman saya banyak memberikan masukan yang berguna untuk saya. Mbak Nuke dan Ismet menyarankan untuk kami menjelaskan mengenai health and safety issue ke Wira. Apapun yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan itu nggak bisa diganggu gugat; termasuk Wira HARUS ikut orang tuanya ke manapun mengingat umur dia masih terlalu muda untuk ditinggal sendiri.

Mamin Dita ikut memberikan informasi kalau pemerintah Amerika Serikat (dia berdomisili di NYC) memberikan himbauan ke para orang tua mengenai batasan umur minimum anak bisa ditinggal sendiri di rumah (usia 7-8 tahun) dan itu pun tetap ada batasan-batasannya (tidak ditinggal lebih dari 2-3 jam, misalnya.)

Nah, kemarin juga saya ajak Wira mengobrol. Saya bilang ke dia, bahwa apa yang ayahnya dan ibunya lakukan itu salah: meninggalkan dia sendirian di apartemen. Padahal resiko dan bahaya juga ada (kepleset, terluka, gas, listrik, orang asing mengetuk pintu.)

Anaknya menjawab, “… Tapi Wira mau tutup pintu terus ayah ibu pulaaaang…”

Ah.

Jadi itu rupanya.

Sebenernya yang dicari itu sensasi dia menyambut orang tuanya pulang ke rumah.

Ari akhirnya menyarankan untuk mengambil jalan tengah. “Kalo kita pulang jalan-jalan, Wira bisa masuk duluan lalu bukain pintu untuk ayah ibu deh…”

Selanjutnya saya jelaskan mengenai health and safety issue dan dijawab oleh anaknya dengan “iyaaaaaaaa…” panjang sambil ngeloyor ke luar kamar (Ismet berkomentar, “itu bagornya anak Betawi banget. Salahin si Ari aja, itu kelakuan anak Betawi banget, hahahaha” 😂)

Kadang saya suka bingung anak ini umur 4 tahun atau 14 tahun… *heuh*