#catatanemak. Bias Anak Pertama?

Apa ucapan yang paling sering diucapkan oleh orang tua ke anak-anaknya?

“Ayah ibu sayang kalian semua sama saja kok.”

Ada yang memang begitu, ada yang, hmmmm, tidak. Jauh di dalam hati masing-masing anak, selalu ada yang namanya kecemburuan bahwa, “abang/kakak/adik lebih disayang ayah dan ibu” dan biasanya itu yang membuat kasus klasik siblings jealousy bercokol lama di sebuah keluarga.

Sebenernya hal itu normal terjadi juga. Tapi ya kenapa orang tua tetep aja ngomong “bohong besar” itu — “ayah dan ibu sayang anak-anak semua sama rata kok” — padahal ya udah jadi rahasia publik kalo ucapan itu ga bener?

Akhir-akhir ini saya mulai mempertanyakan hal itu. Saya melihat Wira dan bertanya-tanya apakah rasa sayang saya akan berubah begitu adiknya lahir. Bukan bertambah atau bukan berkurang ya; Berubah. 

Ibu saya berkata bahwa rasa sayang ibu ke anak-anaknya itu bagaikan memasak kue. Bukan satu kue dipotong-potong lalu dibagikan, tapi seolah-olah membuat kue satu lagi dan lagi dan lagi.

Nah, pertanyaannya kan, kalau si kakak dapet kue Black Forest, adeknya dapet kue yang sama atau mungkin malah jadi Red Velvet kan? Hehe.

Yang namanya bias pendapat dan penilaian itu selalu ada; bahkan dari orang tua — ibu, sekalipun. Yang katanya kasihnya sepanjang masa — ke anak. Malah ya biasanya rasa sayang ibu ke anak itu akan sangat kentara kalau berbeda. Penyebabnya? Karena anak adalah individu berbeda yang unik. Dengan kelebihan dan kekurangan mereka, orang tua jadi melihat… Hmmm, apa ya, semacem, “oh dia ini yang akan melanjutkan ambisi saya,” dan dari situ lah muncul “pilih kasih” (favors).

Saya sendiri… Bingung. Untuk kehamilan ini, jelas saya jauuuuh lebih santai dan lebih nyaman. Support group yang solid dan informasi yang sudah saya miliki dari awal kehamilan membuat saya jauh lebih tenang dan siap mental dibandingkan saat hamil Wira.

Tapi bisa dibilang, Wira adalah anak yang istimewa untuk saya. Dengan caranya sendiri, dengan dinamika kami berdua berkomunikasi, Wira mengajarkan saya untuk jujur dan “mentah” dengan emosi saya sendiri. Apalagi saya mengalami transisi emosi dan psikis yang cukup jauh saat Wira lahir. Saya jadi belajar melihat diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan saya melalui Wira; dan saya merasa, kasarnya ya, “wah, si adek nanti Insya Allah tinggal terima enaknya ya, hahaha.

Dan itu… Gimana ya, itu bikin saya bertanya, “apakah nantinya ketika si adik lahir, dia akan menjadi ‘lebih berharga’ di mata saya? Atau mungkin Wira tetaplah fokus utama saya?

Ya, walopun saya tau bahwa pernyataan orang tua soal “sayang sama rata” itu dianggep ‘bohong’, tapi ya siapa sih yang mau membeda-bedakan anak?

Jujur. Wira ini saat ini benar-benar permata hati. Dilimpahi banyak materi dan perhatian luar biasa.

Adiknya? Ah, masih ada baju bayi abangnya. Beli baju bayi untuk adek yang usia 3-6 bulan aja. Semua-semua masih ada punya abangnya.

Saat ini saya hanya bisa berdoa supaya saya diberikan kemampuan bersikap adil ke Wira dan, Insya Allah, adiknya nanti.

Advertisements

#catatanemak: Insya Allah 7 Bulan

Jujur ya, kalo orang nanya ke saya, “wah, udah hamil berapa bulan nih?” Saya suka bingung jawabnya gimana.

Pertama, saya terbiasa dengan hitungan minggu. Usia kehamilan minggu ke-27, minggu ke-29, dan seterusnya.

Kedua, pregnancy brain. Otak saya langsung ga sinkron gimana itu ngebagi 28 minggu jadi itungan bulan. Dibagi empat? Tapi ada bulan yang lima minggu jeh *dibikin ruwet sendiri*

Nah, Insya Allah ini saya sudah kehamilan minggu ke-29 dan kalo dalam itungan bulan itu artinya udah 7 bulan kan ya (?)

Biasanya, kalo usia kandungan udah 7 bulan, ada acara Nujuh Bulanan (Jawa) atau baby shower. Tujuannya itu mendoakan kehamilan yang sehat dan lancar hingga hari lahir. Saya sendiri sering denger opini yang kontradiktif soal trimester akhir ini. Ada yang bilang makin rawan, ada yang bilang “sante wae lah” — jadi apakah makin rawan atau nggak, saya nggak tau, hahaha.

Tapi memang tendangan dan gerakan si bayi makin kerasa — dan kadang udah bisa keliatan pola kegiatan si bayi. Alhamdulillah sejauh ini adek ikut tidur kalo malam hari, jadi saya juga bisa tidur. Paling kebangun jam 3-4 pagi untuk ke toilet.

Gerakan-gerakan si adek di perut juga jelas mempengaruhi pola buang air saya, hahaha. Ini salah satu ciri khas kehamilan yang biasanya jarang disebut-sebut oleh ibu hamil: Sering pipis. Dan sering pipisnya itu kadang bener-bener ga bisa ditolong. Kasarnya, ngedip aja pipis. Jadi kebayang ibu hamil sakit batuk pilek atau bersin? Iya. Bisa sprint menuju toilet ngalah-ngalahin Usain Bolt.

Masuk trimester akhir juga ditandai dengan rasa nyeri di selangkangan. Malah kadang untuk ibu baru bisa bikin kekhawatiran, “HADUH ANAK GW JANGAN-JANGAN MAU LAHIR NIH!” atau “… ini kontraksi ya?”

Apakah kontraksi itu sakit?

Errrr, nggak juga sebenernya.

Tapi pegelBanget.

Kontraksi itu rasanya punggung pegal seperti saat mau menstruasi atau sedang menstruasi, tapi kalikan rasa pegal itu sepuluh kali lipat. Prinsip saya: Kalo udah ada keinginan nyaris tak terbendung untuk gebukin suami, nah itu kontraksi #ehgimana

Jadi dibilang sakit sih bukan sakit ya… Tapi menyebalkan. SEBEEEEL BANGET. Dan itu yang bikin emosi jiwa. Tiba-tiba punggung cenut-cenut ilang timbul tiap lima menit sampe jalan aja susah, apa ga pengen marahin orang-orang sak dunia itu.

Pro tip: Ketika istri sedang kontraksi, sebaiknya suami menghindari pertanyaan atau pernyataan “minta digampar” seperti “sakit ya Sayang?” atau “EH AKU ADA CERITA LUCU!

Jadi kalo baru selangkangan yang sakit, Insya Allah itu bukan kontraksi. Memang janin sedang menekan bagian bawah perut (dan bayi kadang suka jadiin kandung kemih ibunya sebagai bola sepak emang…) atau mungkin si ibu habis beraktivitas cukup melelahkan sehingga otot perut terasa kencang (dan Insya Allah si adek baik-baik aja kok kalo begitu. Kecuali kalo sakitnya bener-bener mengganggu dan lama. Bisa hubungi dokter.) Kalo udah begitu, saya cuma bisa rebahan.

Usia kandungan tujuh bulan ini, kondisi adek Insya Allah sehat-sehat saja. Waktu usia kandungan saya masih minggu ke-23/24, saya menjalani scan USG untuk cek anatomi si adek. Teknisi USG (beliau juga seorang dokter) menyatakan bahwa adek sehat-sehat saja, sampai dia berkata, “I have to tell you this because I saw it during the scan. Your baby has choroid plexus cyst.

“… A– WHAT?

Choroid plexus cyst. It’s pretty normal, though. It happens during week 20-24 pregnancy. It usually goes away after week 24. It’s not harmful to the baby–

“…”

It’s not harmful to the baby. IT’S NOT HARMFUL TO THE BABY.”

Iya, sampe tiga kali diucapin karena dokternya ngeliat muka ibu hamil ini udah paranoid luar biasa.

Dokternya narik nafas lalu ngelanjutin, “please don’t Google it.”

Yang tentu saja langsung saya Google begitu pulang #bandel

Ya memang Alhamdulillah nggak berbahaya sih, hahaha. Terakhir USG oleh obgyn saya, kistanya dinyatakan sudah hilang. Horeee, Alhamdulillah.

Mohon doa restunya ya semua. Anak rantau di sini nggak ngadain acara Nujuh Bulanan apalagi baby shower, hahaha. Waktu hamil Wira juga rasanya saya nggak bikin acara Nujuh Bulanan. Saya cuma bisa minta doa restu dari temen-temen semua, mohon doanya semoga kami semua dalam keadaan sehat walafiat dan baik-baik saja. Insya Allah doa yang baik juga kembali ke pengucap doa dan kita semua sehat walafiat dan selalu diberkahi Tuhan. Amiiin.

Sehat-sehat ya adek sayang.

 

Pasca Pindahan Blog

After pulling some sort of all-nighter, so here we are.

Rasanya masih ngantuk banget, hahaha. Terjaga sampai jam setengah tiga pagi untuk memastikan migrasi konten dari blog saya yang sebelumnya ke yang ini berjalan lancar. Ya sebenernya sih saya nggak perlu sekhawatir itu, karena ini toh menggunakan fitur dari WordPress sendiri yang sudah jelas stabil, tapi ya… Begitulah. Saya orangnya mudah panik.

Beberapa entri yang berkaitan dengan kejadian semalam dan masuk dari blog lama ke sini saya hapus; tapi ini juga saya merasa musti menjelaskan ada apa kok saya tiba-tiba pindah ke blog ini.

Berawal dari dua hari lalu, saya mengirimkan e-mail ke pihak Support perusahaan hosting saya, WPKami, untuk meminta dikirimkan invoice pembayaran hosting + domain saya. Tahun lalu, kejadiannya juga begini. Invoice saya tunggu-tunggu kok nggak dateng-dateng, sampe saya minta ke pihak Support juga. Nah, kejadian lagi tahun ini.

Biasanya, tim Support membalas e-mail saya hari itu juga. Bahkan terakhir kami berkomunikasi adalah dua minggu lalu. Nah, ini setelah saya tunggu sampai dua hari kok nggak ada kabar juga.

Heran dan penasaran, saya bertanya-tanya di Twitter. Pihak WPKami ini makin lama responnya makin minim dan bahkan nggak bisa dikontak sama sekali. Temen saya, Adit, waktu mencari perusahaan hosting + domain untuk blog dia juga nggak bisa menghubungi pihak WPKami sama sekali. Radio silence.

Ini aku mau BELI lho, bukannya nagih utang,” kata Adit. “Kok ya nggak bisa dihubungi sama sekali ya.

Saat itu saya udah ngerasa, “lho kok gitu ya, malah e-mail Sales ga bisa dihubungi.” Ya soalnya… Sales. Ini jualan. Tapi orang mau beli kok kaya nggak ditanggepin.

Di situ, saya belum curiga. Saya malah menyarankan Adit untuk menghubungi tim Support (“mereka sih yang keliatan masih ‘idup’ sampe sekarang, Dit…“) dan Adit berujung membeli paket hosting + domain di perusahaan lain.

Kembali ke Twitter semalam.

Saya penasaran, lalu saya cek lah kata kunci “WPKami” di Twitter. Lah, eng ing eng, saya baru tau saat itu juga kalau WPKami sudah berpindah kepemilikan dari satu pihak (yang kebetulan dikenal oleh teman-teman saya di dunia maya) ke pihak lain yang sama sekali nggak diketahui identitasnya. Tengah malam, saya menghubungi mantan pemilik WPKami tersebut, meminta maaf sudah mengganggu, dan bertanya mengenai kontak informasi WPKami saat ini yang bisa dihubungi. Alhamdulillah, mantan pemilik WPKami yang saya hubungi sangat membantu dan bersedia menghubungi salah satu staf.

Saya sempet menarik nafas lega.

Baru setengah (atau seperempat?) tarikan nafas, Aulia Masna menjawab pertanyaan saya di Twitter. “[WPKami] udah mati.”

#ngeeeeeeng

Temen-temen tau kan betapa panikannya saya jadi orang?

Dari skala 1-10, “Mendekati Zen” (yang… Jarang BANGET) sampe “Infus Espresso dan Red Bull Kratingdaeng Lima Liter”, liat pintu kulkas lupa ditutup aja bisa bikin saya panik di level 8.

Nah, semalem saya panik di level… 11.

Pikiran saya saat itu hanya ada dua: Konten dan domain.

Konten harus saya selamatkan, bagaimanapun caranya. Setelah kejadian saya migrasi sebelumnya dan saya kehilangan SEMUA konten, saya nggak mau itu kejadian lagi.

Pertanyaannya: Bagaimana?

WPKami membanggakan layanan “klien tau beres” di mereka. Kami sebagai klien nggak pernah berurusan dengan dashboard CPanel dan segala macemnya. Pokoknya tau-tau udah dikasih username dan password WordPress aja.

Enaknya? Buat yang nggak mau repot, enak banget.

Nggak enaknya? Ketika beneran repot, modar banget.

Saya langsung kepikiran, aduh ini gimana ini ngambil backup data, dan saya keinget fitur Export/Import yang tersedia di WordPress. Saya sebenernya skeptis banget, masa sih fitur “kicik” WordPress gitu bisa ngambil SEMUA data di blog saya? Semua entri DAN foto? Dan komentar dan categories? Makin skeptis lagi ketika, “lho ini kok download data .xml-nya CEPET BANGET? BOONG AH INI BOONG.

*ditendang Hafiz*

Tapi ya mau gimana lagi. Fitur Export/Import itu udah macem menara mercusuar di malam berbadai di tengah laut yang menggelora (nggak, saya nggak lebay KARENA RASANYA EMANG KAYA GITU MALEM-MALEM) dan bodoamat karang tajam kanan kiri. Must… Go… Into… The… Light…

(Eh, harusnya sih nggak ya. Kalo liat menara mercusuar justru harusnya kapal menghindar karena sekitar menara adalah karang tajam…)

Setelah saya simpan file backup dari WordPress, saya bingung. Kali ini soal domain dan hosting baru.

Saya jadi bertanya-tanya: Musti banget nggak sih punya hosting dan domain baru?

Nah, otak ibu rumah tangga saya muter.

Pertama, kondisi saya saat ini adalah ibu rumah tangga. Nggak ada penghasilan sendiri sama sekali. 100% murni dari suami.

Kedua, apakah saya blogger beken juga? Nah itu jelas nggak.

Nah, bayaran tahunan untuk hosting + domain untuk status saya yang ecek-ecek gini dan nggak balik modal itu agak… Memberatkan buat saya. Bukan memberatkan sih ya. Ya itu: Nggak balik modal.

Jadi lah saya memutuskan untuk “nggak. Saya nggak butuh domain saat ini.”

Masalah “sayang domain-nya…“, ya mau gimana lagi sebenernya, hahaha.

Saya memutuskan untuk ‘kembali’ ke wordpress.com dengan paket gratis mereka.

Kenapa WordPress; karena saya percaya bahwa mereka adalah perusahaan yang stabil, komunikasi dengan komunitas terjalin baik, sangat erat dan rutin, dan untuk isu teknis juga sangat terjamin. Paling tidak, minim sekali lah itu yang namanya downtime dan nganu-nganu lainnya. Akses juga mudah sekali.

Jadi saya memindahkan konten dari file .xml yang saya unduh sebelumnya ke blog ini; dan saya sangat puas karena memang iya semua konten saya ada di blog ini termasuk foto-foto semua. Maafkan akoooh yang sudah meragukanmu, WordPress *cipok*

Jadi, err, begitulah (?) Hahaha. Saya malah sempet terpikir, “anjay ini jangan-jangan Kutukan Blog mampir lagi” (buat temen-temen yang suka baca blog saya dari tahun 2004-an jaman dulu di Blogger/Blogspot pasti familiar dengan kutukan satu ini, hahahaha.)

Semoga saja berjalan lancar untuk seterusnya. Amiiin.

02:22 AM. Sedikit “halo” di sini.

Setelah sempat bertanya-tanya apa yang akan saya lakukan dengan blog ini, rupanya ya emang dikasih jalan ya, hahaha.

Setelah heboh dari jam 12 malem, Alhamdulillah proses migrasi konten berhasil. Salut dengan fitur Export/Import WordPress. Super memudahkan. Untuk domain, sudah lah. Saya nggak berminat lagi untuk memiliki domain sendiri — terutamanya karena saya merasa belum perlu.

Bismillah.