Why Socrates Hated Democracy

Ini menarik, karena saya jadi kepikiran dengan beberapa keputusan yang mempengaruhi kondisi internasional seperti BREXIT ataupun presiden terpilih Amerika Serikat: Donald Trump.

Advertisements

‘Fairytale Series’?

Saya ini sangat suka dengan hal-hal yang berbau fairytales/dongeng, apalagi yang versi belum diutak-atik Grimm.

Akhir-akhir ini saya lagi seneng-senengnya latian cat air dan banyak objek saya yang berhubungan dengan dongeng.

“What a small girl like you are doing here deep inside the woods?”

“There’s nothing left but her glass slipper, Your Majesty”

Jadi berpikir untuk ngebikin semacem… ‘Fairytale Series’? Hmm, ya tentu aja harapan saya sih ya saya bisa makin jago dan menguasai media cat air ya, hahaha. Amiiin.

RM ‘Selera Nusantara’: Kangen Lontong Sayur di Tanah Seberang

Sewaktu kami sekeluarga bersiap pindah ke Malaysia, saya sempet ngobrol dengan teman saya. Jujur, saya gugup sekali karena pindahan ini adalah pertama kalinya saya tinggal di luar negeri. Ari, yang sebelumnya pernah tinggal di Singapura selama 2 tahun, menenangkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi ya… *hahaha*

Teman saya ini berkata satu hal yang saya ingat terus. “Kewarganegaraan itu cukup di dompet atau di tas aja, Kap. Untuk lidah, ikutin apa yang ada.

Temen saya itu ngomong begitu bukannya tanpa alasan. Dia pernah tinggal di Swedia selama beberapa tahun dan dia bercerita bagaimana dia belajar mengenali rasa dan masakan khas Swedia yang, tentu saja, JAUH BANGET dari kuliner berbumbu khas negara tropis seperti Indonesia.

Kalo gw ngikutin maunya gw sebagai orang Indo, gw keburu modar…

Jadi ya maksudnya dia, cukuplah kebanggaan sebagai orang Indonesia itu tertera di paspor atau KTP di dompet atau tas. Jangan langsung ya sok gengsi nggak mau nyobain makanan negara lain — apalagi kalo kita emang berniat berdiam di negara itu untuk waktu yang lama. Rugi hidup.

Itu lah yang saya pegang sampai sekarang. Apakah rasa masakan Malaysia berbeda? Oh ya tentu saja. Masakan Malaysia bergantung pada rasa bumbu dan nggak terlalu banyak menggunakan gula dan garam. Untuk sambal pun berbeda.

Apakah saya menikmatinya? TENTU SAJAAAA, hahahaha. Favorit saya dalam kuliner Malaysia adalah makanan ala kopitiam. Terutamanya roti bakar/panggang dengan selai kaya dan butter, disambung teh tarik panas atau Milo ais. Sedaaaaap! Untuk seafood, aduh musti lah itu mampir ke kota-kota kecil di sepanjang garis pantai seperti Port Dickson, Kuantan, ataupun Kerteh. Jangan lupa obat anti alergi atau kolesterol, hahaha.

Nah, tapi ya tentu saja lidah Indonesia punya rasa kangen dengan kuliner Indonesia, bukan? Menariknya, makanan ayam penyet khas Indonesia lagi menjamur di KL lho saat ini. Banyaaak restoran ayam penyet di sini. Dari ‘Ayam Penyet Best’ sampai ‘Ayam Penyet Nyet Nyet’. Jangan salah, restoran yang cukup beken di Bandung, ‘Cibiuk’, juga punya empat cabang di Malaysia.

Salah satu masakan Indonesia yang Ari dan saya sama-sama kangen itu… Lontong sayur.

Jadi ketika satu hari Ari melihat foto lontong sayur di grup WhatsApp dia yang beranggotakan orang Indonesia di KL, dia tertarik.

“Di mana itu, oom?”

“Di Selera Nusantara. Area Kampung Bahru.”

Kampung Bahru ini lokasinya deket banget dengan Chow Kit yang notabene disebut sebagai ‘Kampung Indonesia’ karena, iya, banyak orang Indonesia di situ.

Jadi minggu lalu dan barusan ini nih — iya, dua kali, hahaha — kami makan lontong sayur di ‘Selera Nusantara’.


Tempat makannya lebih mirip warung kaki lima dengan menu sederhana: lontong sayur, mie bakso, soto mie, dan gorengan. Rata-rata tempat makan di deretan Kampung Bahru memang bentuknya seperti itu. Jadi ketika ingin berkunjug ke sini, harus sedikit lebih awas matanya untuk mencari tempat makan ini. Lokasinya persis berseberangan dengan Nuri’s Seafood.


Ibu yang berjualan juga orang Indonesia. Beberapa kali saya dengar dia mengobrol dalam bahasa jawa. Tapi kalo ngobrol sama saya, entah kenapa logatnya berubah sedikit melayu, hahaha. Mungkin ibu ini memang sudah lama berdiam di Malaysia sehingga logatnya pun tercampur.


Lontong sayur yang disajikan… Bagaimana ya, ini campur aduk antara perasaan kangen tanah air, nostalgia, dan “OMG LONTONG SAYUUUURRR! OMG TEH BOTOL DALEM BOTOL BENERAAAAN!” Hahaha. Jadi kalo ditanya enak atau tidak, jawaban anak rantau ini ya “ENAK SEKALI!” Hahaha. Favorit saya? Dan memang selalu menjadi favorit saya, adalah kerupuk yang sedikit terendam dalam kuah lontong sayur. Agak lembek namun masih ada bagian renyah yang terkena gurihnya kuah.

Nah, namanya juga berdagang makanan di Malaysia ya, ada satu menu khusus yang memang nggak bisa ilang walaupun di tempat makan yang menyajikan makanan Indonesia sekalipun: Nasi lemak.


Wira malah selalu memilih makan nasi lemak di sini, hahaha. Dia sangat suka dengan teri gorengnya. Kadang dia menyicipi lontong sayur dari piring saya, tapi dia lebih memilih nasi lemak — walaupun minumnya ya tetap: Teh Botol Sosro, hahaha.

Selain lontong sayur, favorit kami adalah gorengannya. Ari memilih bala-bala/bakwan, saya memilih cempedak goreng.

Bala-bala favorit Ari

Cempedak goreng. Sedap!

Bala-bala dimakan bersama dengan kuah lontong sayur, uiih, sedapnya! Lalu ditutup dengan Teh Botol Sosro dingin dan cempedak goreng masih hangat baru digoreng. Kenyaaaang, hahaha. Nggak kalah deh dengan sarapan gaya barat di deretan kafe di Bangsar.


Jadi buat yang kangen makanan Indonesia, ‘Selera Nusantara’ ini patut lah dicoba.

Selera Nusantara
16-32, Jalan Raja Uda, Kampung Baru, 50300 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur
017-233 3438

Jam buka: Setiap hari 07:00 – 19:00

‘Edgar Allan Poe’s Tales of Death and Dementia’ – illustrated by Gris Grimly

Buat yang suka ngebaca karya klasik — terutama horor klasik — biasanya “kenal” dengan Edgar Allan Poe. Beliau ini adalah pengarang beberapa cerita horor klasik seperti ‘The Masque of Red Death’, ‘The Cask of Amontillado’, dan puisi ‘The Raven’.

Dibilang horor supranatural ya nggak juga. Bukan horor macem ketemu vampir, jaelangkung, atau pocong. Lebih ke… Apa ya, horor yang disebabkan oleh pikiran kita sendiri.

Banyak kritikus yang berspekulasi bahwa Poe sendiri mengalami gangguan mental seperti schizophrenia atau depresi, makanya karya-karyanya dia ya seperti itu; tema utamanya adalah kegilaan.

And it’s pretty horrific, really.


Saya menyukai karya-karya Edgar Allan Poe karena alasan itu: Horor yang kita alami sumbernya dari pikiran kita sendiri. The monster lies within us. Jadi ketika saya melihat novel grafis ini — eh, ini novel grafis bukan ya? Lebih ke novel dengan ilustrasi yang banyak sih. Err, buku bergambar? — saya langsung tertarik.

Dan dari buku ini juga saya tertarik dengan ilustratornya: Gris Grimly.

Mungkin, mungkin ya, kalau Poe masih hidup dan bertemu Gris, dia akan senang sekali, hahaha. Lukisan Gris Grimly itu… Ekspresif. Sangat ekspresif. Malah di beberapa karya, tampak sangat cute. Dia ini ilustrator yang SANGAT cocok untuk cerita-cerita dongeng klasik versi belum disensor Grimm Brothers, hahaha. 


Saya sebenernya pengen foto bagian dalam buku ini lebih banyak, tapi saya nggak nyaman dengan kemungkinan menyebarluaskan hak cipta tanpa ijin. Jadi seadanya ya.

Di buku ini, karya-karya Poe yang diangkat adalah:

  1. The Tell-Tale Heart
  2. The System of Doctor Tart and Professor Fether
  3. The Oblong Box
  4. The Facts in the Case of M. Valdemar

Saya sebenernya agak kecewa karena nggak ada cerita ‘The Cask of Amontillado’ dan ‘The Masque of Red Death’ — ‘The Cask of Amontillado’ sendiri saya baca pertama kali di majalah BOBO (kalo dipikir-pikir, morbid juga ya majalah anak-anak nerbitin cerpen orang ngebunuh dengan cara dikubur idup-idup…)

Nah, tapi bukannya buku ini terus jadi buku yang saya nggak suka ya. Justru cerita yang saya suka banget itu ada dua: ‘The Oblong Box’ dan ‘The System of Dr. Tarr and Professor Fether’. Sedikit bocoran, cerira ‘The System of Dr. Tarr and Professor Fether’ ini saya rasa menginspirasikan film ‘Shutter Island’ yang dibintangi Leonardo DiCaprio.


Ilustrasi Gris yang ekspresif dan tegas ini yang membuat saya menikmati karya Poe lima kali lipat. Apabila selama ini saya hanya bisa membayangkan seperti apa kejadian yang ditulis, ilustrasi Gris membantu saya membentuk visual horor yang saya selama ini nggak bisa bayangkan. Sangat direkomendasikan untuk pecinta karya-karya Edgar Allan Poe maupun pecinta buku bergambar dan novel grafis.


The lunatics have most undoubtedly broken loose” — The System of Dr. Tarr and Professor Fether.