[Review Ala-Ala] Rogue One: A Star Wars Story a.k.a DONNIE YEEEEEEEN ASDFASDFASDF

Kalo saya sedang menghadap ke layar kosong untuk menulis entri blog, saya suka ngerasa bingung mau nulis apa. Seringnya, saya berpikir, “yaelah, nulis soal hamil lagi? Anak lagi?

Dan saya suka ngerasa agak sedih setiap hal itu terjadi. Karena iya, soal hamil lagi. Soal anak lagi.

Label saya saat ini, dan saya sadar betul, adalah sebagai seorang ibu.

Ya emang udah otomatis juga sih; saya ini ya seorang ibu. Mau digimanain juga nggak bisa diganti.

Tapi kangen juga rasanya ya menulis hal-hal “nggak penting” atau selewat kegiatan saya sehari-hari yang sebenernya sampah banget, hahaha. Seperti waktu saya masih kuliah. Curhat nggak jelas soal tugas kuliah, temen-temen sekampus, anime yang ditonton, dan segala macemnya. Tapi ya itu kan udah lewat. Saat ini kondisi saya ya seperti ini.

Saat ini saya menulis ini sambil mendengarkan lagu ‘All Time Low’-nya Human Condition. Ceritanya menghidupkan ‘kenangan’ jaman kuliah, hahaha. Ngeblog sambil dengerin lagu.

Omong-omong tontonan, film terakhir yang saya tonton itu ‘Rogue One: A Star Wars Story‘ alias ketika keluarga Skywalker nggak bikin masalah sak galaksi — eh, oke, masih sih. Tapi ya… Gitu lah.

Saya selalu ngerasa, dan saya yakin saya bener, kalo Disney ini sebenernya ya masalah ngeruk uang dari para fans. Setelah meledaknya Star Wars VII: The Force Awakens tahun 2015 lalu, Disney mengumumkan akan ada Star Wars VIII DAN Star Wars IX untuk dua tahun ke depan. Gila dong?

Nah, lalu awal tahun mereka mengumumkan, “oh sori, Star Wars VIII nggak jadi tahun 2016. Kita lagi ngejar jadwal syuting dan produksi nih. LOL.

Tapi kita punya kisah prekuel Star Wars IV lho. Namanya ‘Rogue One’. LOL.

Star Wars VIII? 2017 dunk. LOL.”

CETAAAAAAAAAAAAANNNNNNNNN.

Kebayang tiap taun dipastikan akan ada antrian para fans dengan lightsaber masing-masing yang pendapatan per filmnya udah nutup biaya produksi dan balik modal?

Bahkan film yang sukses seperti ‘Moana’ itu saya yakin “cuma sempalan”. Ibaratnya, basah-basahin dompet dikit lah. Ngasih tau kalo Disney masih punya lini bisnis utama berupa animasi.

BTW, soal Rogue One, banyak yang ngasih opini macem-macem. Antara “ya emang harusnya gitu” dan “OMG KOK GITU SIH?” Nah, saya masuk ke kategori “ya emang harusnya gitu,” plus di bagian akhir film itu saya jerit-jerit liat karakter kesayangan kita semuaaaaah tampil, ahahaha (requiescat in pace, Carrie Fisher. You will always be missed.)

Jadi gimana Rogue One menurut saya?

Bagus, walaupun dibandingkan dengan hebohnya The Force Awakens itu masih jauh lebih heboh The Force Awakens. Di awal film, malah rada keteteran buat saya. Ngantuk banget bray. Keteteran tapi berusaha “ngebut” dengan lompat-lompat setting planet dan itu bikin saya bingung (“eh ini di penjara? Lho terus kok udah di markas Rebels? LHO INI DI MANA SIK?”) Pengenalan karakter yang lumayan banyak dengan lompat-lompat lokasi itu bikin otak ibu hamil ini macet sekejap. Bandingkan dengan The Force Awakens ketika Captain Phasma muncul dan bikin saya kejet-kejet di kursi CAPTAIN PHASMA AKU PADAMUUUUUHHH (eh tapi di The Force Awakens, beliau ini birokrasi banget ga sih? Padahal kapten gitu, tapi lebih banyak ke “EH KOK LOE KAGA PAKE HELM HAH?”)

Yang saya agak sayangkan itu humornya agak “tersendat”. Kaya… Apa ya, restrained humor? Aduh, gimana sih ngomongnya. Iya, karakter K-2SO itu emang nyeletuk celetukan yang lucu-lucu dan sinis, tapi ya gitu. Bandingkan dengan The Force Awakens yang lawak banget.

Finn: Okay. Stay calm. Stay calm.
Poe Dameron: I am calm.
Finn: I’m talking to myself.

You just knew that with the same franchise, somehow the effort is not as maximum as the previous one(s).

Lalu… Musiknya.

Michael Giacchino adalah musisi hebat, itu saya akui. Hasil karya dia dia banyak film Disney/Pixar udah banyak banget dan selalu ngubek-ngubek perasaan.

Nah. Masalahnya. Ini. Star. Wars.

Saya akan terdengar seperti fan elitis sombong, tapi ada pakemnya dalam mengisi musik Star Wars; dan kebetulan Michael Giacchino agak keteteran megang tugas segede ini dengan fanbase serewel ini, hahaha.

Ada beberapa bagian ‘Imperial March’ yang dipotong dan itu bisa dibilang ngerusak mood film ini. Yang juga saya sayangkan adalah kenapa tiap lokasi nggak pake lagu tema khusus. Soalnya, itu cirinya Star Wars, makanya ada lagu ‘Cantina Band’. Padahal saya suka banget lagu ketika adegan awal di planet Jedha — rada-rada mirip lagu biksu Tibet.

Kelebihan Rogue One adalah, eng ing eng, makin memantapkan betapa pentingnya adegan pembukaan di Star Wars IV. Saya pernah nyeletuk ke Ari waktu adegan awal Star Wars IV, ketika pesawat Princess Leia ditembakin Star Destroyer. “Kaya Karimun lagi di-bully Humvee…”

*Kapkap dimaki-maki sak fanbase in 3, 2, 1…*

Di Rogue One juga ditunjukin kejinya Darth Vader; dan itu sangat saya hargai. Karena gini deh, di Star Wars IV-VI itu Darth Vader “jahat”nya kaya gimana sih? “Imma force choke everywhere, LOL.” Di Star Wars I-III… Pemuda alay lari-lari di padang rumput. Ada bagian yang memang kejam, ketika Anakin Skywalker membantai murid di sekolah Jedi, tapi ya sudah. “Itu saja”.

Di bagian akhir film, woah, bener-bener Darth Vader yang asli nebas lightsaber kanan kiri depan belakang. Force choke dan lightsaber ngayun kanan kiri. Bengisnya bengis banget. Saya yakin tim produser Disney udah yang, “udalah, kita kurang keji apa lagi di The Force Awakens dengan First Order yang eksekusi penduduk desa? Darth Vader dibikin kejem dikit juga ga masalah. Lha wong dia yang mulai kok.”

Lalu makin banyak karakter yang bervariasi. FAVORIT SAYA TENTU SAJAH CHIRRUT IMWE OLEH DONNIE YEN, AHAHAHA. Saya suka karakter Chirrut Imwe karena dia ini bukan Jedi sama sekali, tapi dia yang paling ngotot percaya The Force sampe bikin dzikir The Force-nya. Yang saya suka, ucapan “I’m one with The Force and The Force is with me,” yang awalnya seperti lawakan justru berperan jadi ucapan paling penting — dan paling menguras air mata — di bagian akhir. In many context, for me, he’s the truest Jedi ever. Dinamika hubungan dia dengan Baze Malbus juga kocak.

Chirrut Imwe: “The Force protected me”
Baze Malbus: “I PROTECTED YOU!”

Buat saya, Rogue One: A Star Wars Story ini nilainya 8/10. Sebaiknya ditonton setelah menonton Star Wars IV untuk lebih memahami konteks Star Wars secara keseluruhan.

May The Force be with you on 2017.

Advertisements

Kebahagiaan Dalam Bungkus Burger

Saat saya tumbuh besar, ibu saya selalu berkata bahwa “kebahagiaan itu ketika anak-anakmu menikmati masakanmu” — dan jujur aja, hal itu mau nggak mau dan sedikit banyak terpatri di kepala saya.

Nah, kebetulan saya ini 100% ibu rumah tangga, dan ya… Saya memang memasak untuk Ari dan Wira. Ya habisnya ngapain lagi dong kalo nggak memasak dan mengurus rumah? Hahaha. Walaupun kesannya “domestik banget sih!” atau mungkin, “wah, nggak feminis!” Saya bisa bilang bahwa saya memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan saya tetaplah seorang feminis, hahaha. Menjadi seorang ibu rumah tangga, wanita Jawa, muslim, dan seorang feminis? Kenapa nggak?

Oke, balik ke soal kebahagiaan yang sama dengan memasak untuk keluarga.

Saya rasa hal itu juga sering menjadi sorotan publik — paling tidak, “kehangatan keluarga” itu yang sering jadi bahan jualan produsen makanan di media. Seorang ibu yang memasak sambil tersenyum dengan make-up sempurna dan rambut tertata rapi lalu menghidangkan hasil masakannya yang berupa ayam panggang utuh plus sayuran dan daging dan intinya mah menu kendurian sekampung yang entah gimana caranya bisa dimasak ibu itu dalam waktu satu hari saja dan dinikmati oleh si ayah beserta (biasanya) dua anaknya (karena KB, yes…)

Saya mengakui, bahwa, iya, menyenangkan kok memakan masakan rumah. Jujur ya, kadang bukan soal rasa. Malah ada temen saya berkomentar, “gue suka kangen masakan rumah saking nggak enaknya, hahaha. Malah rasa nggak enak itu yang bikin gue kangen masakan nyokap gue.” Tapi ya karena rasa masakan itu lah yang lekat di kita dari kita kecil sampai besar. Rasa yang akrab, yang mengingatkan akan rumah.

Soal kebahagiaan.

Hari ini, badan saya nggak karuan kondisinya. Kemarin sakit kepala dan pusing, hari ini mendadak wasir kambuh jam 6 pagi — bener-bener kambuh nggak ada angin nggak ada ujan mendadak sakit aja. Eh ya bagus sebenernya sih (?) soalnya bikin saya kebangun dan shalat Subuh (adzan Subuh di Malaysia itu pukul 05:45 pagi) — badan pegel semua, dan sindrom piriformis saya kumat.

Akhirnya, untuk makan siang, saya memutuskan untuk memesan makanan fast food. Awalnya, saya memesan KFC untuk saya sendiri. Wira bilang kalau “aku makan roti coklat aja deh…” Tapi mengingat anak ini bisa banget kelaparan dalam waktu 15 menit berikutnya, jadi saya tawari, “Wira mau McDonalds Happy Meal?”

Wira bengong. Ngeliat saya nggak percaya.

Happy Meal? Buat Wira?

Lho ya iya. Buat kamu makan siang, jadi ga laper.

Bener buat Wira? Happy Meal?

Iya. Mau yang mana? Ada burger, ada bubur, ada nuggets…

Anak itu meloncat-loncat saking senengnya. “Wira mau burger! Mau burger yang pake keju! Asik! Makasih ibuuuu!” Lalu selama 60 menit menunggu staf McD dateng, dia bolak-balik dari kamar dia ke pintu depan untuk nungguin pesenannya tiba, hahaha. Ketika pesanan kami berdua tiba, kami makan bersama di meja TV sambil rebutan kanal saluran TV (Wira maunya nonton Disney Channel, saya maunya nonton LiTV).

Dari situ saya belajar bahwa… Ya, masakan rumah memang menyenangkan kok. Tapi kalo keadaan nggak memungkinkan ya nggak apa-apa. Nggak usah dipaksa juga. Bahkan dari hal sesimpel makanan fast food, kebahagiaan itu tetap ada.

#catatanemak Last Leg

BTW, heran deh, udah beberapa hari ini saya nerima notifikasi login WordPress dari Amerika di app saya. Ya karena itu bukan saya jadi ya saya cuekin. Orang-orang pada kurang kerjaan amat sih nyoba nerobos akun orang. Hih. Pikirin dah tuh gimana Trump entar jadi presiden Amerika, apa ga bedol desa jadinya.

Jadi… Insya Allah dua minggu lagi ini deadline kehamilan saya tiba, hahaha. Maksudnya, genap 40 minggu gitu. Soal bayi lahir mah, itu ya suka-suka bayinya — tergantung kapan dia mau keluar. Sebenernya, lewat kehamilan minggu ke-36 itu bisa dibilang si bayi bisa lahir kapan aja (kesempatan bertahan hidup si bayi apabila lahir selepas minggu 36 itu sudah 90-95%) dan makin mendekati minggu 40, makin kerasa… capeknya.

Ya capek jiwa ya capek fisik juga sih ya, hahaha. Tapi dibandingkan saat hamil pertama, saya bisa dibilang lebih sabar (?) dengan kehamilan yang sekarang ini. Mungkin karena sudah “pengalaman” sebelumnya, plus emosi saya sudah lebih stabil. 

Sebenernya capek jiwa-nya itu bukan capek yang ga sabar macem “ih nak, buruan lahir napa sih?!” tapi karena bawaan si bayi juga. Jadi Rey ini saya curiga kalo dia ini kombo Marie Kondo + Pinterest disuntik steroid. Entah ini nesting instinct saya yang emang lagi menggila atau emang bawaan bayi; dan saya suka curiga anak ini DENGER batin ibunya.

Satu hari, saya pernah bengong di tempat tidur lalu saya ngebatin, “… wah, seprei belum diganti ya…” Lalu Rey menendang saya segitu ganasnya sampe kepala saya pusing dan baru berhenti ketika saya selesai mengganti seprei.

Jadi bisa ketebak, nyaris setiap malam sebelum tidur saya keliaran keliling rumah untuk beres-beres. Kalau ada yang nggak beres, bayi di perut saya bakal ngamuk. 

Ya itu sih yang bikin dia ngamuk: masalah kerapian rumah dan makanan.

“Ga enaknya” last leg kehamilan ini, rasanya jadi gampang banget waswas (ya lu kapan sih ga parnonya Kap…)

Udah musti ngeliat tanda-tanda kontraksi, bedain kontraksi palsu dan beneran, dan kalo beneran musti liat jedanya berapa lama.

Emangnya pas Wira saya nggak ngerasain kah?

Nah, beda anak, beda pembawaan. Pas Wira, saya itu adanya flek darah. Belum kontraksi yang gimana. Pas saya liat flek darah, langsung capcus ke RS.

Kemarin, Rey bergerak sampe bikin pinggang saya pegel luar biasa. Itu lah kontraksi gitu rasanya. Antara pegel, nyeri, dan sedikit sesak nafas (paru-paru ditendang bayi ya gimana…)

Langsung dong saya liat jam. Nunggu bakal dateng lagi nggak rasa nyeri sama pegel ini.

Sementara itu, bagian panggul kerasa pegeeeel, dan Rey gerak-gerak gelisah mulu.

Aduh kontraksi beneran nih jangan-jangan…” Tangan udah pegang hape, siap ngontak Ari.

Lalu saya mutusin buang air kecil ke toilet.

Lalu saya mendadak lapar.

Lalu “kontraksi” itu berhenti.

Jadi intinya barusan itu Rey nganggep kandung kemih saya itu bola dan dia kesel karena dia laper.

#ngeeeng

Jadi bisa ditebak kenapa saya capeeek banget, hahaha. Saya yang pengen istirahat, tapi Rey nggak mau istirahat sampe rumah rapi (dan dia kenyang.)

Soal mendekati HPL (Hari Perkiraan Lahir), Insya Allah kami di sini sudah siap-siap perlengkapan bayi. Tentu aja beberapa perlengkapan bayi punya Wira kami gunakan lagi, hahaha. 

Doa restunya ya teman-teman di sini. Semoga semua proses dilancarkan dan sehat selalu. Amiin.

Why Blackface is Still Part of Dutch Christmas

Ketika saya share video ini di akun Twitter saya kemarin, teman saya — Jensen — yang kebetulan berdomisili di Papua berkomentar bahwa isu ras Piet Hitam nggak jadi fokus utama di Papua. “Sebab utamanya karena Papua itu memang daerah kulit hitam,” tulis Jensen, “yang dikhawatirkan justru malah kalau Piet Hitam ini traumatis untuk anak-anak karena menakutkan, hahaha.”

Teman saya, Nat, juga berkomentar hal yang sama. “Aku lebih ngeri soalnya Piet Hitam itu kaya bad cop gitu kan. Memukul dan masukin anak-anak nakal ke karung terus melotot-melotot gitu sambil diem aja, hahaha.”

Isu ras ini memang sangat sensitif dan fluid (saya nggak nemu padanan katanya dalam bahasa Indonesia) — apa yang dianggap menyinggung/offensive di negara atau budaya lain, dianggap baik-baik saja atau malah diterima oleh negara atau budaya lainnya lagi. Begitu pula sebaliknya kan.

Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung.

Rahasia Belanjaan

Nemu di Path. Tepatnya, re-Path dari teh Nita Sellya, hahaha.

Waktu saya mulai ngoleksi komik ‘Monster’ sama ‘Urasawa Naoki’, kalo saya abis beli komiknya — yang kadang bisa 2 komik sekaligus — itu langsung saya masukin tas dan saya ga mau pake tas plastik belanjaan. Ari ga pernah komen apa-apa sih, tapi ya… Ngelirik terus menghela nafas terus balik liat hape dia. Sebagai istri insekyur, saya… Insekyur.

Kalo bukan komik, perlengkapan dandan. Atau pena gambar. Pokoknya Ari taunya mendadak pena saya, komik saya, atau lipstik saya beranak aja deh.