Misogyny in TBBT

This video explains clearly about what’s wrong in TBBT.

Ada satu episode yang gw keinget, and it actually cemented my disdain to the serial, ketika Penny menegur Howard dengan keras karena Howard sering banget nyeletuk celetukan melecehkan secara seksual dan membayang-bayangi Penny (unsolicited advances). Ujungnya? Howard marah. MARAH, men. MARAH. Dia marah lalu ngambek, dan Penny yang akhirnya meminta maaf ke Howard.

Bingung ga sih? Di sini siapa yang borderline sexual offender dan siapa yang korban, dan kenapa si korban — yaitu Penny — yang harus minta maaf ke Howard? Lalu orang pada bingung kenapa korban pelecehan seksual ga mau lapor? Lalu orang pada heran kenapa banyak banget pelaku pelecehan seksual ngerasa “gw ga salah kok LOL”?

Watch this video, and another one on “geek masculinity” (still by Pop Culture Detective).

Advertisements

Tokyo Idols (2017)

Nonton dokumenter ‘Tokyo Idols’ di Netflix.

Gimana ya… Mirip lah sama dokumenter-dokumenter/jurnalisme investigasi soal tren idol dari Jepang ini. Kritik sosial akan para fans idol yang rata-rata oom-oom dengan para idol yang usianya masih belasan tahun, perjuangan para idol untuk tetap relevan di mata fans, dan sebagainya.

Gw lebih penasaran dengan perspektif fans wanita. Kalo fans laki-laki ya mereka emang terobsesi dan sudah komitmen menghabiskan sejumlah besar uang untuk CD, merchandise, handshake event, sampe tiket live shows. Gw penasaran apakah fans wanita sama komitmennya. Sayangnya kaya gini ini jarang/ga pernah dibahas.

Baby Blues (dalam rangka World Mental Health Day 2017)

Terakhir ngeblog tanggal 29 September, ini udah mau November ajeeee, hahaha.

Sebenernya pengen ngeblog beberapa minggu lalu tapi terlalu malas, soalnya udah diwakilkan di Twitter (???) — topiknya soal baby blues dalam rangka World Mental Health Day. Kenapa ngomongin baby blues? Soalnya itu hal yang lumayan deket di gw, dan gw yakin ibu-ibu di luar sana juga pasti ngalamin. Sisterhood in motherhood, ceunah.

Oke. Baby blues. Itu apaan sih?

Kondisi psikologis yang tidak karuan di ibu yang baru melahirkan. Kenapa gw bilang “tidak karuan”, karena baby blues itu BUKAN HANYA membenci anak lho. Jadi super protektif/terobsesi ke anak juga jadi salah satu tanda baby blues. Protektif kaya gimana? Kaya… Ga mau ninggalin sisi anak barang sedetik pun karena terobsesi pikiran-pikiran buruk “aduh nanti anak gw mendadak stop napas gimana aduh nanti anak gw tidur terus dan ga bangun-bangun lagi gimana.” Pokoknya pikiran-pikiran kalut/anxiety itu menggila dan berkali-kali lipat. Bahkan orang lain mau gendong si bayi pun ga diijinkan sama sekali — dan ada kecurigaan bahwa orang lain/orang asing akan menyakiti si bayi. Kaya Smeagol. Versi ibu abis lahiran.

Gw mengalami baby blues dua kali; walopun skalanya jauh berbeda (ketika dengan Rey, gw udah lebih bisa mengatur emosi dan pikiran, jadi ga menjalar ke mana-mana.) Salah satu penyebab baby blues adalah hormon yang ga karuan. Hormon ini mempengaruhi kerja otak, dan ini yang bikin para ibu ngerasa dirinya, “kok gw korslet ya?”

Apakah ada ibu yang nggak mengalami baby blues? Ada kok. Ada ibu yang melahirkan dengan tenang, merawat si bayi baru lahir dengan senang, dan menyayangi si anak seolah ga ada masalah apapun.

Tapi ya kalo sampe bilang, “saya ga baby blues, jadi baby blues itu ga ada di dunia ini!”

Nah, sekarang: apakah baby blues bisa “disembuhkan”? (Gw kasih tanda kutip karena itu bukan penyakit (?) Lebih ke kondisi psikologis)

Bisa. Salah satu cara, dan yang paling utama, untuk mengatasi baby blues adalah mengakui kalo kita mengalami baby blues. Singkatnya, jangan denial. Dengerin badan, dan terutamanya, dengerin pikiran. “Gw ga hepi, gw nangis terus, gw marah ke bayi gw padahal dia ga salah apa-apa, gw ngerasa diri gw jelek banget, gw ga pede, gw ga ceria… Kayanya gw baby blues ya?” Iya. Itu baby blues. Dan TIDAK APA-APA. Kita bisa hadepin bareng-bareng. Lanjut.

Udah ga denial nih, udah mengakui “ya saya mengalami baby blues” terus apa nih?

Cari bantuan orang terdekat.

Nah, ini orang sekitar kita seharusnya cukup sadar diri untuk edukasi diri mereka sendiri. Banyak lho suami-suami yang ga peduli baby blues itu apa. Modelan macam gini nih bikin emosi jiwa.

“Pah, kayanya aku baby blues ini.”

“Ah, apaan sih. Ga ada itu baby blues. Kamu aja yang cemen ga bisa ngurus anak.”

Temen-temen gw yang cowok aja suka kesel ya liat cowok modelan gitu yang ga peduli pasangannya; YA GIMANA PERASAAN KAMI YA PARA ISTRI KALO ADA SUAMI LAMBENYA AMIS GITU.

Kenapa peran suami/ayah penting? Karena kadang ipar/mertua/orang tua/sepupu/anggota keluarga lain ga/belum paham. Ketika semua tangan menuding si ibu, ya si ayah juga patut berdiri bersama ibu dong. Itu anak lahir karena peran si ayah juga kan? Dikata netes dari Kinderjoy?

Ada ibu-ibu yang saaaangat beruntung. Suaminya ngeh, keluarga besarnya pun paham dan membantu. Kalo seperti itu, Alhamdulillah sekali bukan? Bayangin kalo semua ibu-ibu dapet bantuan dan dukungan dari keluarga sekitar. Bantuan dan dukungan orang sekitar ini sangat membantu si ibu melawan baby blues.

Masih dalam ranah dukungan orang sekitar, si ibu bisa mencari support group. Misalnya, teman-teman atau tetangga yang kebetulan para ibu juga. Itu gw rasain sendiri, sangat menolong. Support group nolong gw banget pasca lahiran Rey; padahal ‘hanya’ group WhatsApp.

Masih ga ketolong? Cari bantuan medis/terlatih seperti psikolog atau psikiater. JANGAN MALU DAN JANGAN TAKUT. Mereka ada untuk membantu kita. Ada lho, argumennya, “nanti juga disembuhin Tuhan! Ngapain ke dokter?”

Coba deh kita berpikir sebentar yes.

Iya, Tuhan menyembuhkan kita.

Siapa tau, Tuhan menyembuhkan kita lewat tangan-tanganNya yang berupa dokter dan tenaga medis kan? Jadi jangan malu, jangan takut, dan kalo ada yang ngata-ngatain… Percayalah, celotehan kopekan kerak karat seng gelombang itu ga ada gunanya. Those who mind don’t matter, those who matter don’t mind.

Dan ibu, istirahatlah.

Nggak apa-apa merasa capek. Nggak apa-apa merasa sedih. Nggak apa-apa merasa marah. Kenali rasa capek itu, kenali rasa sedih itu, kenali rasa marah itu.

Setelahnya, kita semangat lagi. Kita hepi lagi.

Gapapa lho, kalo mau beristirahat. Bayi menangis pas kita mandi? Bener, gapapa. Wajar, namanya juga bayi. Iya, dia nangis. Nyariin mamanya di mana kok ga ada baunya mama di deketku (tips: coba tinggalin pakaian kotor kita deket si bayi, yang banjir keringet dan/atau ASI makin bagus, biar bayi bisa nyium bau kita) tapi… Gini deh. Bayi newborn teh udah bisa apa sih? Buat gw, mereka macem kubis. Digeletakin diem aja di tempat tidur, ga gelindingan. Gapapa lho, ditinggal sebentar sementara si ibu mandi, makan, atau ke toilet sebentar.

Lalu membiarkan orang lain memegang si bayi (ini kalo ada orang sekitar yang membantu ya) sementara ibu istirahat. Ini penting.

Waktu Wira lahir, RS tempat Wira lahir itu punya kebijakan bayi WAJIB room-in dengan si ibu. Jadi sejak bayi owek lahir, langsung satu ruangan sama si ibu. Katanya sih biar ikatannya lebih erat gitu.

Oke, mungkin bisa ya lebih erat.

Di gw?

GW STRES MEN. GW STRES.

Baru lahiran, bekas jaitan masih sakit, ini lagi gw panik liat mini-Hobbit yang baru bisa ehek huwe kentut pipis pupup nyusu doang 24 jam langsung hhhhh.

Waktu Rey lahir, nah, RS ngasih opsi: mau room-in atau bayi di nursery? Bidan ngasih saran, “nursery saja. Ibu bisa istirahat.”

Gw ragu, tapi gw mengiyakan.

Apparently that was the best decision ever.

Rey dibawa ke kamar gw hanya untuk menyusui (setiap 2-3 jam sekali). Sisanya, gw bisa istirahat/tidur, mengutuki wasir gw yang kumat, mainan hape, makan, dan beberes. Gw ga stres dan ga kepikiran. Bahkan ketika dokter bilang kalo bilirubin Rey tinggi dan musti disinar, gw lebih tenang (bandingkan saat Wira musti disinar; gw panik dan nangis, berujung ASI langsung seret.) Gw malah sempet diomelin suster karena gw nyusuin Rey kelamaan soalnya disambi meluk-meluk dan main-main, hahaha.

Ada dua ucapan dari laki-laki dalam hidup gw yang gw inget betul pasca lahiran Rey.

Pertama, bokap gw.

“Anak nangis mah biasa, non. Apalagi bayi baru lahir. Kamu santai aja. Nggak usah merasa bersalah atau stres. Kalo kamunya tenang, anak juga tenang.”

Kedua, suami gw. Ari.

“Piring kotor ga bakal ke mana. Ga usah maksain diri rumah harus bersih kinclong kalo kamu lagi sibuk pegang adek. Prioritas kamu adalah anak-anak dan kesehatanmu dulu. Urusan rumah, bisa dipikir nanti.”

Dan dua ucapan itu gw inget betul untuk ngebantu gw lebih tenang dan lebih sabar.

Jadi untuk para ibu-ibu yang sedang ngerasa cape, ngerasa sedih, ngerasa sendirian… Kalian ga sendirian. Istirahat dulu. Nggak apa-apa. Ketika badan sudah kembali segar, pikiran sudah tenang, ayo beraktifitas kembali. Anak-anak membutuhkan ibu yang bahagia.

Persetan dengan orang-orang yang bilang kalo ibu ga berhak istirahat.

Oh. Dan jangan keseringan liat social media lalu membanding-bandingkan anak dan diri sendiri dengan anak seleb anu atau anak mbak inu. Ga ada faedahnya. Yang berjuang di idup kita ya kita kok, ga usah banding-bandingin dengan orang lain yes?