Status Sosial

Beberapa hari lalu, baca status FB (lokasi di sini) seorang ayah yang cerita anaknya pulang sekolah dan bertanya, “kita miskin ya pak?”

Kaget, si ayah nanya ke anaknya kenapa kok bisa bertanya begitu.

“Karena aku nggak punya (stationery) Smiggle. Teman-temanku bilang kalo aku miskin karena nggak mampu beli Smiggle.”

Smiggle itu merek perlengkapan alat tulis dari Australia yang pangsa pasarnya anak-anak hingga remaja. Desain-desainnya memang sangat heboh dan selera bocah-remaja banget. Salah satu tokonya di Suria KLCC itu nggak pernah sepi.

Harganya juga nggak murah-murah amat.

Ternyata ya Smiggle itu emang jadi semacam simbol status di kalangan anak-anak; dan seperti simbol status jaman kita piyik yes, kalo lu ga punya ya bisa dibilang lu kuper, lu ga gaul, atau ya… Miskin.

Kita udah gede, bisa banget bilang “ahelah apaan sih.” Untuk anak-anak, mereka ya belum ada kemampuan dan kebijaksanaan untuk itu. Dunia hancur lebur ketika teman-teman di sekeliling mereka ngelirik mereka dengan sinis sambil berbisik, “ih, miskin. Ih, kuper.” Misalnyapun teman-teman mereka nggak seperti itu, si anak yang nggak punya barang status sosial itu ya hanya bisa melihat dengan iri dan sedih.

Jaman kita, mungkin buku tulis Kiky kali ya? Buku tulis warna-warni dan wangi, pensil mekanik warna-warni, kotak pensil bertingkat dan ada mainannya, penghapus cantik wangi (TAPI GA BISA DIPAKE BUAT NGAPUS), sepatu DocMart, sepatu Air Nike, atau sepatu dengan lampu yang menyala di tumit.

Komentar yang masuk ke status itu rata-rata membesarkan hati si ayah. Anak-anak perlu belajar menjaga hati orang lain. Nggak ada yang salah dengan membeli produk terkenal seperti Smiggle, tapi bukan berarti jadi menghina orang yang nggak punya.

Produk status sosial mah selalu ada; bentuk dan mereknya aja yang berbeda seiring kita tumbuh besar.