Ngomel eps. 749573

Me. Most of times when I go to Twitter.

Bahkan ketika orang-orang yang gw follow pun udah difilter, tetep ada lah itu macem retweet atau likes yang keliatan.

Gw tau kalo hal-hal seperti itu — apalagi debat kusir ya — seharusnya ga mempengaruhi gw; tapi ya tetep lah otak langsung reaktif.

Sementara beberapa sobat recehqu sedang jalan-jalan dan nggak apdet Twitter beliyo-beliyo ini hhhhhh. Ya paham sih, demi kemashalatan jiwa.

Kalo Twitter lagi receh, gemes bet. Rasa pengen nyubit pipi sambil komen, “gemes deh qamooooooh uwuwuwuwuw~

Kalo lagi nyebelin, BUBARIN AJA INI NEGARA UDAH BUBARIN AJA SAMPAH SEMUA SAMPAAAAAAAAHHHHHHH.

Tapi ya emang balik ke kitanya. Orang berantem, gontok-gontokan, atau ngotot dengan pendirian mah selalu ada. Gw biasanya suka sekip-sekip. Nyari bahan receh atau thread meme buat dipanen (ayolah anak-anak K-Pop kalian itu selalu dinanti lho koleksinya.) Kalo ya ngomentarin satu atau dua hal, anggep aja khilaf.

//gimana

Gw paham sih maksud “yang waras jangan ngalah mulu”, dan gw bisa dengan mudah dilemparkan ke kotak ‘silent majority’. Gw pribadi ngerasa, milih orang debat itu ya… milih-milih. Kalo macem tukang nyari pembenaran doang kaya “pokokmen kalo kasus pemerkosaan itu cewek yang salah pokokmen” itu ya… Males yak.

Iya, kuota Internet gw unlimited, tapi kewarasan gw rada limited. Gw udah cukup repot ngurusin dua piyik di rumah, ngapain gw repotin diri ngurus orang lain yang ga mau diurusin.

Advertisements

Mint

Tadi jalan-jalan ke Farm in the City, Seri Kembangan; sebelahnya persis itu tempat jual tanaman/nursery dan penyedia jasa pembuatan taman. Duluuu banget, tempat itu cuma menjual bonsai. Sekarang udah lebih banyak tanamannya. Senang~

Tadi lihat-lihat tanaman, memutuskan beli mint dulu. Kapan-kapan beli pohon cabe/cili padi sama rosemary.

Golden pothos/sirih gading dan kaktus jadi punya temen baru, hahaha. Sehat-sehat dan subur terus yaaa.

A Monk’s Guide to a Clean House and Mind

Waktu di Singapura, gw dipinjemin buku sama Budi beserta ucapan, “nih Kap, kamu kan bocahnya Konmari.” (tautan: “Plus dan Minus Konmari” dan “Membuang “Beban”“)

IMG_4401.jpg

Kalo Konmari itu seperti ilmu turunan dari Zen (karena Marie Kondo dulunya pendeta Zen), A Monk’s Guide ini bener-bener ditulis oleh pendeta Zen Buddhist yang masih aktif. Shoukei Matsumoto, menurut biografi sekilas di bukunya, adalah biksu Buddha di kuil Komyoji, Tokyo.

Gw pecinta konsep Konmari — there, I said it.

Tapi gw harus jujur juga, kalo lu dateng atau ngelihat rumah gw, kesan yang ada itu jauh dari kesan Konmari yang, apa ya… Minimalis (?) Sepertinya kalo abis baca buku Konmari itu, rumah bakal minimalis banget kan ya? Atau minimal barang-barang kebutuhan dasar dan memento yang memang kita sayang dan bikin hepi.

Mungkin bisa dibilang, gw ini contoh kasus Konmari yang sudah berkeluarga, hahaha. Ada lah sisi plus minusnya untuk mengaplikasikan sistem Konmari di dalam rumah tangga gw, terutama soal barang-barang, ehem, mainan yang menumpuk; tapi gw pribadi sangat suka dengan konsep Konmari: “Does this sparks joy?

A Monk’s Guide ini satu level di atas Konmari. Bener-bener ngomongin soal basic necessities (kebutuhan dasar) yang memang menurut paham Buddhisme, untuk meninggalkan atau melepaskan diri dari ikatan material duniawi. Barang-barang duniawi yang ada di sekitar lu itu digunakan hanya untuk membantu lu mendapatkan pencerahan dan ketenangan jiwa.

Tapi bukan berarti gaya para biksu Buddha itu macam gaya spartan yang kaku dan saklek-fungsi-doang. Estetika Buddhisme itu muncul lah dalam bentuk Zen; semua indah menuruti apa kata alam. Nggak maksa gitu lho. Kalo dulu suka ngetawain ketika Biksu Tong ngomong “kosong adalah isi, isi adalah kosong,” pas nonton Kera Sakti di Indosiar, pas udah tua gini ya baru paham oh itu maksudnyaaaa, hahaha. Sesuatu yang kayanya “kosong” hah-apaan-ini-gini-doang-tampilannya bisa jadi penuh arti dan bikin jiwa tenang ketimbang huru hara heboh ga ada juntrungnya tapi jiwa kosong.

//ahzeg

//edisi kapkap bijak

Jadi A Monk’s Guide ini bisa dibilang, buat gw, melengkapi metode Konmari. Kalo Konmari itu soal merapikan dan menghilangkan barang-barang yang ga perlu/ga dibutuhkan/malah bikin sedih dari hidup kita (singkatnya, bikin lu ga masuk episode ‘Hoarders’ di channel TLC), A Monk’s Guide ini mengajarkan cara membersihkan dan menjaganya. Jadi ketika rumah udah rapi nih, karena metode Konmari, nah, lihat lah itu rumah rapi sebagai status quo. “Seharusnya rapi terus seperti ini. Ayo, dijaga.” Masuk lah A Monk’s Guide.

A Monk’s Guide ini obsesinya ke membersihkan/cleaning process itu… keterlaluan obsesifnya. Sebenernya nggak heran — seperti kata Budi, “harus diinget kalo penulisnya ini biksu. Mereka punya gaya hidup dan alur hidup yang berbeda dari kita, orang-orang biasa” — karena ya mereka memang memahami bahwa lingkungan yang bersih dan rapi membuat hati bersih dan rapi juga. Hati yang bersih dan rapi terpancar dari lingkungan yang bersih dan rapi.

Sampe Shoukei Matsumoto berkomentar di bukunya, “ketika memasak, jangan lupa untuk menutup laci atau lemari dapur. Membiarkan laci atau lemari dapur terbuka, menggambarkan hati yang kacau dan nggak tenang.” Itu kaya… Eh lah buset lemari doaaaang gitu kan. Ya bukunya emang begitu isinya. Filosofis.

Seperti Konmari, gw tergila-gila dengan konsep A Monk’s Guide ini.

Proses bersih-bersih/cleaning itu meditasi. Cleaning process is a purgatory process; it’s not mere cleaning to have your place looked nice. Cleaning process is a process to create a place to called home for you to have a good rest and have a calm and happy soul.

I have mild anxiety, so naturally I am crazy about this… calm-yo-ass methods.

Gw udah bilang kan kalo A Monk’s Guide ini rada obsesif?

Di bukunya juga ditulis kalo lebih baik menggunakan peralatan tradisional yang mungkin akan sedikit memakan waktu ketimbang barang-barang modern instan. Argumennya adalah, supaya kita bisa menikmati dan menjalani proses ketimbang buru-buru berharap semua cepet selesai.

Satu sisi gw yang “hell yea!“, satu sisi gw yang “ain’t nobody got time for that.” Jadi memang buku ini musti dibaca dengan… apa ya, memahami kondisi lu sebagai pembaca. Lu harus paham kondisi lu sendiri, gimana situasi lingkungan lu, gimana gaya hidup lu, gimana kondisi emosional dan kejiwaan lu, dan gimana kondisi keuangan lu. Dari situ, coba cari hal-hal yang bisa lu lakukan dan yang lu ga bisa lakukan. Mau totalitas ya monggo, mau nggak ya gapapa. Ini toh bukan kompetisi siapa punya rumah paling bersih sak dunia toh.

Buku ini gw baca langsung kelar sewaktu di Singapura, dan gw pengen beli bukunya, hahaha. Insya Allah cari di Kinokuniya ah. Semoga ada di Kinokuniya Malaysia sini.

Buku ini gw rekomendasikan untuk sesama pecinta metode Konmari dan orang-orang yang mungkin pengen tau metode bersih-bersih yang masuk ke ranah filosofis. Ini macem, hmmmmm, “bersih-bersih secara khusyu” gitu lah, hahaha.

Kos-Kosan dan ‘CSI: Las Vegas’

Di bagian komentar tulisan gw soal me-time, Zi cerita kalo dia pernah ngendon di kamar kosnya selama 4 hari berturut-turut ga keluar kamar.

Gw keinget ketika dulu gw ngekos di samping kampus BINUS Anggrek di Palmerah.

Ada temen kos gw, saking capeknya kegiatan klub dan kuliah, dia ketiduran di kamarnya dari Jumat siang sampe Sabtu pagi.

Seharusnya cerita ini berakhir baik-baik saja, kalau saja saat itu para gerombolan cewek-cewek kos-kosan sedang nggak dijangkiti demam nonton serial ‘CSI: Las Vegas’.

Jadi kebayang dong, obrolan macam apa yang muncul?

Dari, “… eh, kok gw ga liat Sari ya dari kemarin sore? Biasanya dia kan ke warteg beli makan, kok ini nggak ya? Dia pulang Sabtu-Minggu?

Hah? Nggak, kok. Itu sepatunya masih ada– lho, iya, anaknya ke mana dong? Di kamar terus dari kemarin?

Tentu saja, ada celetukan jenius seperti, “… … … mmmmmmmm, dia ga udah jadi mayat kan?

Lima cewek sibuk gedor-gedor pintu kamar kos-kosan sambil teriak-teriak, “SARIIIIII! SARIIIIII! LU GAPAPAAA? LU DI KAMAR? JAWAB WOOOOY! SARIIIIIII!

COBA TELPON HAPE DIA!

INI LAGI GW TELPON! GA DIANGKAT! UDAH GW COBA TIGA KALI!

DOBRAK PINTUNYA! DOBRAK!

Beberapa dari kami yang kebetulan ikut klub beladiri di kampus ya langsung maju… kakinya.

Pintu berhasil didobrak setelah beberapa tendangan. Sekedar catatan, jangan percaya kalo ada yang bilang kos-kosan cewek itu tenang. Kadang terdengar suara pintu didobrak, atau teriakan sambil lari karena ngeliat lintah (itu gw.)

Ketika pintu dibuka, tampak Sari si oknum duduk di tepi tempat tidur sambil bengong. Otaknya sepertinya sedang memproses kenapa itu pintu terbuka paksa dan bukannya muka orang yang nongol tapi telapak kaki manusia.

Bisa dibilang, setelah kejadian itu, ibu kos sampe nggak bisa marahin kami. Satu sisi beliau ya paham namanya juga khawatir sama temen sehingga kekerasan perlu dilakukan, tapi satu sisi heran bener ini cewek-cewek pada kurang makan apa gimana sih.

Lalu, pintu kamar diganti.

Singapura part deux~

Tadi udah sempet ngetik di app WordPress, eh kepencet anak bayi untuk ‘Publish’ padahal belum selesai (malah baru ngetik satu paragraf) hhhhhh.

BTW, haeeee~

Dua minggu ga apdet blog ya, huhuhuhu.

Minggu lalu, jalan-jalan ke Singapura dalam rangka liburan Imlek/Chinese New Year. Ari dulunya tinggal dan bekerja di Singapura selama 2 tahun, dan dia ngomong kalo Singapura pasti kosong pas Imlek. Ya ga yang kosong macem kota hantu ga ada manusianya, tapi ya ga serame biasanya; soalnya orang-orang pada mudik.

Soal Singapura ya… Jadi 2 tahun lalu, gw kan juga ke Singapura untuk pertama kalinya. Mungkin karena gw sedang ga dalam kondisi maksimal, kelelahan, dan “kaget” karena SINGAPURA ITU PANAS LEBIH PANAS DARI KUALA LUMPUR, jadi kesan gw soal Singapura itu macem suam-suam kuku aja.

Nah, kemarin, jauuuh lebih menyenangkan. Sebagian besar karena faktor perjalanannya juga. Jadi waktu pertama kali ke Singapura itu kan naik pesawat ya; nah, itu ternyata capek banget. Lu ribet di bandara, nungguin pesawat segala macem sambil bawa-bawa tas, dari Changi yang naujubilah jauhnya dari mana-mana masih musti nunggu MRT lagi, gotong-gotong tas lagi naik MRT sampe hotel.

Iya, ngeluh gw ga berdasar karena heloooow itu MRT di Singapura getoh. Yang AC kenceng bener, adem segala penjuru, bersih, lega, dan rapi bahkan pas rush hour. Coba naik Commuter Line pas jam sibuk apa ga modar itu.

Kemarin pas ke Singapura, kami naik mobil sampe Johor Bahru. Di Johor Bahru menginap semalam, lalu naik kereta api ke Singapura dari JB Sentral. Berapa lama kereta api dari Johor Bahru ke Singapura? Cukup 5 menit sajaaa, hahaha. Beneran, kaya nyebrang got aja gitu. Keluar dari Johor Bahru itu ngeliat proyek bangunan di tepi selat, lalu air bentar, abis itu jreng sampe lah di Singapura. Kereta baru jalan beberapa menit, Wira nanya kan, “jam berapa kita sampe?

Ari liat ke luar jendela. “Nih udah sampe.”

Wira bingung, “… Hah?

Iya, ini udah sampe.”

Iya, tetep bawa tas ransel dan — kali ini — dua bocah piyik. Tapi ga yang capek gila gitu lho. Ga yang sampe antri kelamaan amit-amit kaya di bandara.

IMG_4365.jpg
JB Sentral — stasiun kereta dan terminal bis. Ada juga bis rute Johor Bahru – Singapura di sini.

Kereta yang dipake untuk perjalanan ke Singapura juga rada koboy, hahaha. Ya karena rutenya deket banget kan ya, jadi bukan kereta yang emang buagus buanget macem ERL/KLIA Express (kereta cepat dari bandara KLIA2/KLIA ke KL Sentral) dan duduknya ga usah ngikutin nomer tiket. Duduk aja di mana suka.

IMG_4366.jpg
Keretanya emang kereta tua/ga yang hits bling bling banget
IMG_4368.jpg
Sebelah kiri: Johor Bahru, sebelah kanan: Singapura

Di Singapura, kami tiba di Woodlands Train Checkpoint. Jadi gini, di Malaysia, kami lewat Imigrasi di JB Sentral. Sampe di Singapura, kami diminta isi formulir data diri. Nah, ini musti isi semua orang; mau dewasa maupun anak-anak. Bahkan Rey yang piyik banget pun musti diisiin formulirnya. Lalu di bagian boks Kontak di Singapura, ini emang harus isinya komplit alamatnya. Ga yang cuma nama area aja. Habis isi formulir, baru deh ngantri di Imigrasi Singapura.

Pas balik dari Singapura, nah ini agak beda. Kami lewatin Imigrasi Singapura DAN Imigrasi Malaysia saat masih di Singapura. Jadi di Woodlands Train Checkpoint itu, antri Imigrasi dua kali: Singapura dan Malaysia. Setibanya di Johor Bahru ga perlu antri Imigrasi Malaysia lagi.

Soal liburan, karena ada dua anak piyik yak, dan dasarnya Ari dan gw bukan orang yang punya itinerary saklek musti diikutin pas liburan, jadi kita santai banget jalan-jalannya. Fokus kita sebenernya di Rey; Rey ini kebiasaan kalo pulang liburan, terutama yang melibatkan perjalanan mobil jarak jauh/road trip, PASTI abis itu sakit demam tinggi kaya ga ada obat selama seminggu. Daripada syaraf emak keriting begitu di KL, yes, jadi kita maunya santai aja ga mau ngoyo gila.

Awalnya pengen ke museum Asian Civilization karena terakhir kali kami ke sana, bagian Asia Tenggara sedang direnovasi; tapi akhirnya mutusin ke Science Center aja sekalian makan siang.

Singapura ini negara yang sadar betul bahwa aset mereka adalah perdagangan dan turisme. Jadi lah hampir semua (atau malah semuanya?) fasilitas publik dan museum serta pusat hiburan mereka dibuat semudah mungkin untuk diakses. Macem, “udah lau ga ada alesan lagi untuk ga ajak moyang lau di kursi roda buat jalan-jalan hayuk lah mari sini!”

Di Singapura, kami menginap di apartemen teman kami yang namanya Budi (nama sebenarnya).

IMG_4399.jpg

Apartemennya di area Geylang, yang ternyata merupakan bagian red light district (?) di Singapura. Budi cerita kalo tiap dia pesen Uber itu pengemudi Uber-nya yang malah lebih khawatir dari dia. “Don’t go wait for me on the street before I arrived, OK? Just stay in your apartment until I arrived.

Meanwhile my Jakartan-ass thinking, “egilak, red light district aja serapi gini, gimana yang ga red light coba?”

IMG_4404.jpg

Gw seneng banget waktu jalan-jalan ke Singapura kemarin itu gw cukup santai sehingga gw bisa nikmatin Singapura baik sisi yang modern dan sisi yang klasik. Satu hal yang gw ngeh, dibandingkan KL ya, jumlah kondominiun/apartemen mewah di Singapura itu ga banyak. Banyaknya itu apartemen/rumah susut/loft yang emang macem neighborhood environment. Bahkan jumlah sekuriti di apartemen pun ga banyak atau malah ga ada. Di apartemennya Budi yang jelas-jelas dibilang red light district, ga ada itu sekuriti gedung loft dia. Tapiiii, CCTV ada banyak. Jadi emang pantes sih ya dibilang aman.

Gw waktu itu nulis di Path:First hours at Singapore; Ari queuing for lunch, Wira already ran off playing at Science Center, while Rey crawling and trying to catch some birds. GW BINGUNG MUSTI NGAWASIN YANG MANA SEMENTARA GW JUGA MUSTI JAGAIN TAS.” Terus Ismet komentar, “awasin burungnya Kap… Kalo tiga bocah dan tas, semua aman di Singapura.” Hahahaha, iya banget sih. Kalo gw seringnya liat amaran/peringatan “please don’t leave your belongings unattended“, “be mindful of your belongings“, atau malah “manajemen tidak bertanggung jawab atas kehilangan barang-barang pribadi pengunjung” di tempat publik, di Singapura gw seringnya liat peringatan “report to the police immediately if you see unattended bag or suspicious object.” Itu kan nunjukin kalo ibaratnya lu ninggal tas lu ndoprok gitu aja di peron stasiun, ga ada yang mau ambil juga. TAPI DILAPORIN.

Besoknya, kita jalan-jalan ke SEA Aquarium yang lokasinya di Sentosa Island.

SEA Aquarium itu ya, ya Allah ya Tuhan ya Gusti Pangeran, GEDE BANGET. Puas puas dah liatin ikan. Dari ikan hiu sampe ikan lele juga ada. Rey pun nampak hepi di SEA Aquarium, hahaha. Dia sampe nyeletuk, “pishh! Pishhh!” (“Fish! Fish!”/ikan) dan heboh liat ikan. Favorit gw adalah ikan hiu dan ubur-ubur. Ubur-ubur itu macem ketika Tuhan lagi bikin penciptaan dunia dan Beliau ngebatin, “how if I made cute water jelly bag and turn them to nasty?”

Dari SEA Aquarium sebenernya pengen ke Gardens by the Bay sekalian ketemu beberapa temen online di Singapura — yang kita sebenernya belum pernah ketemu di dunia nyata, hahaha. Tapi sepulangnya dari SEA Aquarium, Wira dan Rey udah kecapean. Ari dan gw ga mau ambil resiko anak-anak pada sakit, jadi kita mutusin balik ke apartemennya Budi dan istirahat.

Kami kembali ke KL hari Minggu, dan, errrr… Terjebak macet arus balik Imlek dari Johor Bahru menuju KL, hahaha. Biasanya Johor Bahru – KL itu 3 jam, ini sampe makan waktu 7 jam. Kemungkinan besar karena ada macet gara-gara kecelakaan besar/major accident, dan mobil-mobil yang kena macet itu ada yang rusak karena mesinnya kepanasan. Selain itu ada juga minor accidents. Memang rame banget sih. Kocak liatin komentar di app Waze. Ada yang udah hepi “YEAAAAYYY CLEAAAR!” lalu beberapa kilometer di depan, dia komentar lagi, “traffic jam lagi 🐶”

Seneng sekali dengan pengalaman ke Singapura melalui jalur darat kereta api. Semoga bisa mampir lagi; pengen makan es krim potong dan yong tau foo favorit, hahaha.