A Monk’s Guide to a Clean House and Mind

Waktu di Singapura, gw dipinjemin buku sama Budi beserta ucapan, “nih Kap, kamu kan bocahnya Konmari.” (tautan: “Plus dan Minus Konmari” dan “Membuang “Beban”“)

IMG_4401.jpg

Kalo Konmari itu seperti ilmu turunan dari Zen (karena Marie Kondo dulunya pendeta Zen), A Monk’s Guide ini bener-bener ditulis oleh pendeta Zen Buddhist yang masih aktif. Shoukei Matsumoto, menurut biografi sekilas di bukunya, adalah biksu Buddha di kuil Komyoji, Tokyo.

Gw pecinta konsep Konmari — there, I said it.

Tapi gw harus jujur juga, kalo lu dateng atau ngelihat rumah gw, kesan yang ada itu jauh dari kesan Konmari yang, apa ya… Minimalis (?) Sepertinya kalo abis baca buku Konmari itu, rumah bakal minimalis banget kan ya? Atau minimal barang-barang kebutuhan dasar dan memento yang memang kita sayang dan bikin hepi.

Mungkin bisa dibilang, gw ini contoh kasus Konmari yang sudah berkeluarga, hahaha. Ada lah sisi plus minusnya untuk mengaplikasikan sistem Konmari di dalam rumah tangga gw, terutama soal barang-barang, ehem, mainan yang menumpuk; tapi gw pribadi sangat suka dengan konsep Konmari: “Does this sparks joy?

A Monk’s Guide ini satu level di atas Konmari. Bener-bener ngomongin soal basic necessities (kebutuhan dasar) yang memang menurut paham Buddhisme, untuk meninggalkan atau melepaskan diri dari ikatan material duniawi. Barang-barang duniawi yang ada di sekitar lu itu digunakan hanya untuk membantu lu mendapatkan pencerahan dan ketenangan jiwa.

Tapi bukan berarti gaya para biksu Buddha itu macam gaya spartan yang kaku dan saklek-fungsi-doang. Estetika Buddhisme itu muncul lah dalam bentuk Zen; semua indah menuruti apa kata alam. Nggak maksa gitu lho. Kalo dulu suka ngetawain ketika Biksu Tong ngomong “kosong adalah isi, isi adalah kosong,” pas nonton Kera Sakti di Indosiar, pas udah tua gini ya baru paham oh itu maksudnyaaaa, hahaha. Sesuatu yang kayanya “kosong” hah-apaan-ini-gini-doang-tampilannya bisa jadi penuh arti dan bikin jiwa tenang ketimbang huru hara heboh ga ada juntrungnya tapi jiwa kosong.

//ahzeg

//edisi kapkap bijak

Jadi A Monk’s Guide ini bisa dibilang, buat gw, melengkapi metode Konmari. Kalo Konmari itu soal merapikan dan menghilangkan barang-barang yang ga perlu/ga dibutuhkan/malah bikin sedih dari hidup kita (singkatnya, bikin lu ga masuk episode ‘Hoarders’ di channel TLC), A Monk’s Guide ini mengajarkan cara membersihkan dan menjaganya. Jadi ketika rumah udah rapi nih, karena metode Konmari, nah, lihat lah itu rumah rapi sebagai status quo. “Seharusnya rapi terus seperti ini. Ayo, dijaga.” Masuk lah A Monk’s Guide.

A Monk’s Guide ini obsesinya ke membersihkan/cleaning process itu… keterlaluan obsesifnya. Sebenernya nggak heran — seperti kata Budi, “harus diinget kalo penulisnya ini biksu. Mereka punya gaya hidup dan alur hidup yang berbeda dari kita, orang-orang biasa” — karena ya mereka memang memahami bahwa lingkungan yang bersih dan rapi membuat hati bersih dan rapi juga. Hati yang bersih dan rapi terpancar dari lingkungan yang bersih dan rapi.

Sampe Shoukei Matsumoto berkomentar di bukunya, “ketika memasak, jangan lupa untuk menutup laci atau lemari dapur. Membiarkan laci atau lemari dapur terbuka, menggambarkan hati yang kacau dan nggak tenang.” Itu kaya… Eh lah buset lemari doaaaang gitu kan. Ya bukunya emang begitu isinya. Filosofis.

Seperti Konmari, gw tergila-gila dengan konsep A Monk’s Guide ini.

Proses bersih-bersih/cleaning itu meditasi. Cleaning process is a purgatory process; it’s not mere cleaning to have your place looked nice. Cleaning process is a process to create a place to called home for you to have a good rest and have a calm and happy soul.

I have mild anxiety, so naturally I am crazy about this… calm-yo-ass methods.

Gw udah bilang kan kalo A Monk’s Guide ini rada obsesif?

Di bukunya juga ditulis kalo lebih baik menggunakan peralatan tradisional yang mungkin akan sedikit memakan waktu ketimbang barang-barang modern instan. Argumennya adalah, supaya kita bisa menikmati dan menjalani proses ketimbang buru-buru berharap semua cepet selesai.

Satu sisi gw yang “hell yea!“, satu sisi gw yang “ain’t nobody got time for that.” Jadi memang buku ini musti dibaca dengan… apa ya, memahami kondisi lu sebagai pembaca. Lu harus paham kondisi lu sendiri, gimana situasi lingkungan lu, gimana gaya hidup lu, gimana kondisi emosional dan kejiwaan lu, dan gimana kondisi keuangan lu. Dari situ, coba cari hal-hal yang bisa lu lakukan dan yang lu ga bisa lakukan. Mau totalitas ya monggo, mau nggak ya gapapa. Ini toh bukan kompetisi siapa punya rumah paling bersih sak dunia toh.

Buku ini gw baca langsung kelar sewaktu di Singapura, dan gw pengen beli bukunya, hahaha. Insya Allah cari di Kinokuniya ah. Semoga ada di Kinokuniya Malaysia sini.

Buku ini gw rekomendasikan untuk sesama pecinta metode Konmari dan orang-orang yang mungkin pengen tau metode bersih-bersih yang masuk ke ranah filosofis. Ini macem, hmmmmm, “bersih-bersih secara khusyu” gitu lah, hahaha.

Advertisements

Kos-Kosan dan ‘CSI: Las Vegas’

Di bagian komentar tulisan gw soal me-time, Zi cerita kalo dia pernah ngendon di kamar kosnya selama 4 hari berturut-turut ga keluar kamar.

Gw keinget ketika dulu gw ngekos di samping kampus BINUS Anggrek di Palmerah.

Ada temen kos gw, saking capeknya kegiatan klub dan kuliah, dia ketiduran di kamarnya dari Jumat siang sampe Sabtu pagi.

Seharusnya cerita ini berakhir baik-baik saja, kalau saja saat itu para gerombolan cewek-cewek kos-kosan sedang nggak dijangkiti demam nonton serial ‘CSI: Las Vegas’.

Jadi kebayang dong, obrolan macam apa yang muncul?

Dari, “… eh, kok gw ga liat Sari ya dari kemarin sore? Biasanya dia kan ke warteg beli makan, kok ini nggak ya? Dia pulang Sabtu-Minggu?

Hah? Nggak, kok. Itu sepatunya masih ada– lho, iya, anaknya ke mana dong? Di kamar terus dari kemarin?

Tentu saja, ada celetukan jenius seperti, “… … … mmmmmmmm, dia ga udah jadi mayat kan?

Lima cewek sibuk gedor-gedor pintu kamar kos-kosan sambil teriak-teriak, “SARIIIIII! SARIIIIII! LU GAPAPAAA? LU DI KAMAR? JAWAB WOOOOY! SARIIIIIII!

COBA TELPON HAPE DIA!

INI LAGI GW TELPON! GA DIANGKAT! UDAH GW COBA TIGA KALI!

DOBRAK PINTUNYA! DOBRAK!

Beberapa dari kami yang kebetulan ikut klub beladiri di kampus ya langsung maju… kakinya.

Pintu berhasil didobrak setelah beberapa tendangan. Sekedar catatan, jangan percaya kalo ada yang bilang kos-kosan cewek itu tenang. Kadang terdengar suara pintu didobrak, atau teriakan sambil lari karena ngeliat lintah (itu gw.)

Ketika pintu dibuka, tampak Sari si oknum duduk di tepi tempat tidur sambil bengong. Otaknya sepertinya sedang memproses kenapa itu pintu terbuka paksa dan bukannya muka orang yang nongol tapi telapak kaki manusia.

Bisa dibilang, setelah kejadian itu, ibu kos sampe nggak bisa marahin kami. Satu sisi beliau ya paham namanya juga khawatir sama temen sehingga kekerasan perlu dilakukan, tapi satu sisi heran bener ini cewek-cewek pada kurang makan apa gimana sih.

Lalu, pintu kamar diganti.