Sunny Evening

Udah beberapa hari ini, matahari jamnya lebih lama (lebih lama siang dibanding malam) — mungkin karena memang pengaruh musim panas di belahan bumi utara.

Udara juga lebih sering lembab (bahasa Jawanya, “sumuk”.) Tapi matahari mentereng begini ya kesukaan mayoritas tanaman gw, hahaha.

Itu tanaman kaktus di pojok kiri bawah udah kesempitan potnya, hahaha. Udah musti ganti pot/repotting.

Advertisements

Kekayaan Itu Berbisik

Kapan hari di Twitter kan sempet rame sebuah utas/thread soal old money, alias orang kaya yang… Kaya dari sononya. Beda dengan OKB, Orang Kaya Baru, biasanya “uang lama” ini usahanya udah dimulai puluhan atau ratusan tahun yang lalu, seringnya bermula dari perdagangan atau perbankan, perusahaannya sudah dipegang entah berapa generasi, dan mayoritas anggota keluarga mereka jarang diliput media/privasinya tinggi. Ada yang diliput media, tapi ga semua/sak keluarga.

OKB? Yah, gitu lah, hehehe.

Hehehe.

BTW, gw lagi keliaran di Reddit kan, di thread “what is the most outrageous money you have witnessed in your own eyes?

Gw ketik ulang salah satu komentar, siapa tau yang di Indonesia ada yang ga pake VPN dan Reddit masih diblok.

”In Las Vegas in 2000 at the Bellagio I watched a guy walk up to a high roller blackjack table. He was being followed by a security guard and some guy in a suit carrying what we guesstimated at about $300k in chips. He sat and played blackjack by himself. We watched for about 45 minutes and he had already lost over $150k…never once showed any emotion.

No clue who the guy was, he was dressed like a stereotypical white grandpa in jean shorts, a polo shirt, and white new balance tennis shoes.”

Nah, di bawah komen ini, ada yang komentar, “money talks, but wealth whispers.”

Gw jadi keinget topik uang lama dan uang baru itu, hahaha.

man holding u s dollar banknotes and black leather bi fold wallet
Photo by Artem Bali on Pexels.com

Kalo baru punya uang saja, ya biasanya ada keinginan untuk menunjukkan/pamer kan? Ada… Apa ya, semacam keinginan (normal dan manusiawi) untuk meminta pengakuan dari orang sekitar. Menunjukkan, “nih, saya mampu, saya bisa.”

Tapi setingkat di atas itu, ada kekayaan yang melebihi uang; sumbernya si uang itu. Wealth. Gw ga tau gimana ngomongnya, hahaha. Intinya, kalo uang itu ya cepet abis blas ilangnya. Sementara kekayaan itu… Ada banyak bentuknya. Kalo dari segi material ya bisa dalam bentuk investasi, simpanan, koleksi, aset, dan segala macemnya.

Nah, kekayaan ini lah yang, kalo emang orangnya udah tau, “oh gw emang mampu kok, ga usah lah ditunjukin,” ya ga akan ditunjukin.

Kok gw jadi bingung sendiri gw ngomong apaan sih hadeh.

Gini.

Temen gw pernah komentar, waktu lagi rame uang lama – uang baru itu.

”Coba lah liat akun Instagram penerus grup Salim itu, hahaha. Ga keliatan kalo dia dari old money.”

Dan emang iya.

Gw follow beliau ini di Instagram kan karena komentar temen gw itu; dan emang minim (atau malah ga pernah?) nunjukin barang-barang pribadi dia dengan tempelan merek luar negeri. Tapi kalo ngeliat sehari-hari dia di Instagram dan Instagram Stories, macem ikut konferensi nganu, jadi pembicara di seminar nginu, ketemu sama komunitas itu, keliatan kalo beliau ini jaringannya GEDE BANGET. Mungkin yang ditunjukin itu juga macem 0.005% dari skala bisnisnya dia.

Wealth whispers.

Bukan berarti kita (“kita”???) kaum missqueen ini hanya bisa meratapi ke-missqueen-an kita ya, hahaha. Malah ada ucapan orang tua toh, “jangan ngomong ga punya uang. Ga punya uang beneran, baru tau kamu.” Berucap dan berharap itu ya yang baik-baik. Bisa bilang, “iya lah, gw miskin soalnya belum mampu nyekolahin anak-anak kurang mampu sampe kuliah; tapi Insya Allah gw kaya karena mampu urunan untuk kurban Idul Adha/ikut bakti sosial di gereja/gabung komunitas kemanusiaan.”

two monks walking between trees
Photo by Wouter de Jong on Pexels.com

Gw rasa, itu arti kekayaan sebenernya. Syukur-syukur Alhamdulillah kita semua bisa mempunyai kekayaan materi sehingga bisa membantu orang lain gapake mikir, ya nggak?

//jie kapkap bijak

Thailand Cave Rescue

Udah beberapa hari ini gw ngikutin berita penyelamatan tim sepak bola U-16 Wild Boars Thailand beserta pelatih mereka, coach Ek. Astaganagadragon sekali-sekalinya gw baper soal misi penyelamatan atau pasca-bencana alam itu ya ini dan waktu tsunami Jepang tahun 2011.

Hari apa tuh ya yang anak-anak itu mulai dibantu evakuasi dari dalam gua? Minggu? Nah iya, Minggu. Itu kalo ga salah dimulainya tengah malam kan. Aduh, gw udah lah baper ya kepikiran itu pasti dingin, hujan lebat, basah kuyup, malem-malem pula udah ngantuk, huhuhu. Waktu berlanjut ke penyelamatan hari kedua, itu gw udah spaneng sejak pagi; ga kebayang gimana kondisi empat anak beserta coach Ek yang masih di dalam gua. Gw kepikirannya, selama misi dua hari itu selalu empat anak yang dikeluarkan. Nah ini nyisa lima anak, kira-kira oksigennya cukup ga, energinya masih ada ga, bakal bahaya ga soalnya udah sering hujan lebat. Alhamdulillah, kemarin sore empat anak beserta coach Ek sebagai kloter terakhir udah berhasil diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit.

Gw selalu nangis setiap baca berita atau nonton video yang berkaitan dengan misi penyelamatan Tham Lang itu. Luar biasa banget soalnya; kok ya Thailand itu sak negara bisa tetep tenang dan tabah ngejalaninnya. Belum lagi kisah para sukarelawan dan tim pendukung untuk pasukan penyelamat. Bahkan bantuan yang dianggap “kecil” seperti nyuci baju.

72156B3D-E9E2-4B1F-B3EB-0FADB33B46A6

41DB1969-186F-4C78-82A3-13E0CA54B1D8

Gimana ya, pada welas asih gitu lho. Selfless. Itu sak negara mayoritas orang-orangnya pada jelmaan Buddha semua apa gimana.

EC6AA7CB-0492-4A25-8B27-24481BCAA406
Sumber: @duduang2 di Twitter

Bahkan selepas proses evakuasi pun, tim pompa air memutuskan untuk tetap tinggal di lokasi dan membantu memompa air dari sawah petani yang kebanjiran. Gilak. Pengen sungkem satu-satu ke para anggota tim ini.

576C401B-11A0-4CAF-8CDB-A59ADB058FA9
Sumber: @duduang2 di Twitter

Ada yang nulis di Twitter, “Thailand moves heaven and earth to save their children.” Itu favorit banget asli. Menggerakkan surga dan dunia.

Tentu saja, misi penyelamatan Tham Lang ini mempunyai tempat khusus untuk mengenang almarhum Saman Gunan.

05D756A8-651A-4AAB-BAFD-6683C6CAA461

I promised myself not to cry (anymore!) whenever Mr. Gunan’s name being mentioned, but I guess the resistance is futile.

61C9C415-156E-4CDD-B744-84525E8BC8B1

Ya Allah. Cirambay atuh laaaaaah. Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Insya Allah anak-anak Wild Boars dan coach Ek menjalani hidup yang hebat, yang semangat, dan bahagia.

Gw suka banget sama karikatur dan ilustrasi untuk menyemangati misi penyelamatan ini. Favorit gw itu gambar-gambar babi hutan (wild boar), hahaha. Selalalu ada babi hutan yang agak gede, menggambarkan coach Ek.

620F2B33-1E65-40D2-9405-89E3651F1FBB

Alhamdulillah, semua anak beserta coach Ek selamat. Gw salut banget asli mereka ini ya, rata-rata ga bisa berenang, musti belajar menyelam dalam waktu 5 jam dan ngelewatin medan gua yang edan sempitnya. Ada yang sempet komentar di Twitter, “katanya di kloter terakhir itu anak-anaknya musti minum obat penenang ya? Buat apaaaa???”

Gw yang emosi jiwa.

EH.

TOLONG YA.

KALO GW YANG KEJEBAK DI SITU, UDAH BUKAN PAKE OBAT PENENANG LAGI.

BIUS GAJAH NOK SAK CHIANG MAI TEMBAKIN KE GW.

Gw lahiran bocah aja musti pake oxytocin; lah ini anak-anak kejebak di gua selama dua minggu lebih maliiiiiiih.

Gw pernah ke Cu Chi Tunnel; jaringan terowongan dan gua bawah tanah yang dibangun oleh penduduk dan tentara Vietnam saat perang melawan Amerika Serikat. Itu gw di dalem terowongannya aja sampe megap-megap dan panik; padahal itu terowongan ibaratnya masih bisa jalan sambil membungkukkan badan atau merangkak. Lah gua Thang Lam? Lu berenang bawah air dengan visibilitas nol persen? Cuma bisa kedengeran suara nafas? SEJAUH EMPAT KILOMETER?

Kalo gw yang musti diselamatin, bakal minta bius total dulu ajalah; daripada gw jejeritan di gua saking paniknya dan bikin susah orang. Jangan-jangan, tiga minggu penyelamatan itu bisa dua setengah minggu abis buat nenangin gw karena gw nangis-nangis histeris di dalam gua.

Itu anak-anak bahkan diajari meditasi oleh coach Ek sehingga mereka bisa tetap tenang dan bertahan hidup. Waktu liat video detik-detik penyelam Inggris menemukan mereka, ya gw nangis.

Lalu ketika media rilis video anak-anak yang sudah berselimutkan selimut darurat; masih bisa memberi salam dan mengenalkan diri sambil tersenyum. NAAAAAK, HATI TANTE TERHARU BANGET, NAAAAAK.

Ya Allah. Semoga anak-anak Wild Boars, coach Ek, beserta segenap sukarelawan, Thai Navy SEAL, dan petugas semua-semuanya mendapatkan kebahagiaan, kehidupan yang baik dan hebat.

May all things kind and beautiful always within your reach.

ขอบคุณมาก

Dan tidak lupa juga, semoga anak-anak di luar sana mendapatkan hak mereka untuk hidup baik dan hidup terhormat.

B6A3DF84-1609-4AFD-9345-5E9186649D4D.jpeg

Makanan dan Pijat

Pernah denger ga, istilah “makanan dingin dan makanan panas”? Bukan suhu makanan saat disajikan, tapi sifat makanan. Makanan yang sifatnya dingin dan makanan yang sifatnya panas.

Jaman gw masih pacaran sama Ari dulu, gw itu ke mana-mana suka pake jaket. Kadang jaket DAN syal di leher. Bayangin, penampilan macam orang liburan ke negara empat musim, padahal sehari-hari di Jakarta. Kalo ga pake jaket, bisa dipastikan gw bakal masuk angin dan demam batuk pilek. Sampe temen-temen gw itu asosiasikan gw dengan jaket dan syal.

Lalu satu hari, kami lagi nongkrong di kafe bareng temen-temen kami. Salah satunya ini namanya Mandy, yang setau gw, dia ini peranakan Cina-Indonesia. Kalo ga salah mamanya dia yang Peranakan. Gw iseng nyeletuk kan soal, “gw kalo ga pake jaket pasti masuk angin!”

Mandy ngeliat gw dengan muka serius, lalu ngomong, “lu kurang makanan panas berarti Kap.”

”Hah? Makanan panas gimana? Kaya sup anget gitu?”

”Bukan. Bukan makanan yang panas abis dimasak. Makanan yang sifatnya panas.”

Jadi berdasarkan penjelasan Mandy, makanan panas itu makanan yang “dekat dengan tanah”. Kadang ada “makanan netral” yang bisa jadi “makanan panas” saat dimasak dengan cara tertentu. Misalnya, daging yang dimasak dengan dibakar atau dipanggang. Itu sifatnya jadi panas.

slice of loaf bread with dog face
Photo by Buenosia Carol on Pexels.com

Mandy nanya gw, “lu seringnya makan apa, Kap?”

”Hmmm, ayam, ikan, sayur-sayuran, buah…”

”Itu makanan dingin semua. Makanya badan lu kebanyakan unsur air dan angin. Yin semua, hampir ga ada yang-nya.”

Mandy ngeh ketika gw ngeliat dia dengan pandangan hah-serius-lu-yang-bener-aja.

”Itu paham menurut ilmu pengobatan Cina,” katanya. “Emang sih, kalo pake metode medis Barat atau modern ya emang ga ada kaidah atau penjelasan ilmiahnya, hahaha.”

Kata dia lagi, boleh percaya boleh nggak. Mandy ngasih saran ke gw untuk banyakin makanan yang sifatnya “yang”/panas, seperti jahe, umbi-umbian, dan daging sapi atau daging kambing yang dibakar/dipanggang. Denger itu, Ari hepi karena akhirnya dia bisa ngeyakinin gw untuk makan steak, hahaha. Soalnya gw pernah ada pengalaman buruk makan steak jaman kecil; gw makan steak itu dagingnya well-done alias matang betul. Alot dan susah dikunyah lah jadinya. Sekarang ya mintanya steak medium/medium rare, hahaha.

NAH.

Percaya ga percaya, sejak gw rutin makan daging, gw jadi ga pernah masuk angin lagi. Malah stamina dan daya tahan tubuh gw membaik.

Ini bukan berarti gw jadi yang macem ajakan anti vegetarian ya (ya siapa tau ada yang ujug-ujug ngomelin gw gituh, netijen kan siapa yang bisa nebak,) karena makanan bukan daging yang bersifat panas/yang itu juga banyak.

Tapi balik ke soal percaya ga percaya.

Ini sama dengan legenda lokal Indonesia kalo lu mijetin orang, lu yang bakal sendawa/kentut kalo anginnya keluar lewat lu.

adult aged baby care
Photo by imagesthai.com on Pexels.com

Itu kan kaya, “AH YANG BENEEEER…” tapi ya begitulah keadaannya. Kalo yang mijetin ga bersendawa atau ga kentut, anginnya “terperangkap” di badan si pemijat yang berujung si pemijat yang sakit.

Dan saat ini gw lagi percaya dua hal itu — makanan bersifat yin dan yang, dan memijat sambil ikut bersendawa/kentut — karena Rey, heuhe.

Sejak Sabtu lalu, suhu badan Rey agak lebih tinggi dari normal. Kisaran di 37-38 derajat Celcius.

Mamak spaneng.

Baru lah gw nafas lega selepas Wira mulai pulih dari infeksi bakteri, lah ini ada lagi bocah krucil ikutan badannya anget.

Masalahnya, suhu badannya itu nyebelin. Gw benci banget suhu badan 37-38 derajat Celcius. Ga cukup tinggi untuk dibawa ke rumah sakit atau dokter, tapi cukup bikin mamak paranoid kaya gw ini parnoan. KAN KESEL YHA.

Gw sibuk mikir, ini anak kenapa ya mendadak anget gini. Ya minimal suhu badannya ga macem abangnya minggu lalu, yang sampe mendadak njeprut ke 39 derajat Celcius deh. Lalu gw mulai curiga jangan-jangan anak ini kembung dan masuk angin.

Gw inget-inget menu makanan dia selama di preschool, lalu gw baru nyadar kalo ga ada menu daging sapi disajikan (untuk menghormati anak-anak dan staf yang beragama Hindu), dan dari menu yang dikasih tau, emang lebih banyak makanan yang sifatnya yin.

Dari situ, gw mulai bikin catatan untuk lebih banyak masak lauk makan malam dengan bahan makanan yang bersifat yang.

Lalu tadi, selepas mandi, anaknya gw pijetin pake minyak kayu putih. Tentu aja pas gw pijetin punggung dan perutnya, gw ikut sendawa, heuhe.

Gw tau kalo ada dokter baca tulisan gw ini pasti langsung tepok jidat dan ngebatin, “eanjir gw kuliah bertahun-tahun, ini ada mamak-mamak sembarangan bener ambil diagnosa dan tindakan.” Huhuhuhu, maaf ya dok.

Rey dan Preschool

Eh.

Gw udah cerita belum sih kalo Rey udah masuk preschool? Belum ya? HAHAHAHA.

Iya, jadi bocahnya udah masuk sekolah gitu, hahaha.

C98750EE-A1FC-40D4-AB60-B06634BF5015

Jadi keputusan untuk menyekolahkan Rey ini sempet maju mundur iya nggak gimana dong gimana ya dorongdongdong. Soalnya situasinya ini kan beda kaya waktu Wira masuk daycare dulu. Wira masuk daycare di usia yang masih muda banget, 7 bulan, karena gw juga ada tuntutan pekerjaan dan sulitnya nyari mbak saat itu. Jadi ketika pindah ke KL dan usia Wira udah 2 tahun, ya anggep lah otomatis lah ya anaknya emang butuh sekolah.

LAH REY EMANG GA BUTUH SEKOLAH?

Gini. Gw selama di Malaysia ini ya kan visanya yang dependant visa; dan pemegang visa ngintil kaya gitu itu ga boleh kerja, karena emang beda dengan visa kerja. Kalo gw mau kerja, perusahaan gw atau gw musti rela ribet ngurus visa kerja gw, yang artinya butuh sponsor dan tanggungan segala macem. Ya iya lah, ngais uang di negeri orang, musti jelas kan statusnya. Emangnya pas lagi sayang-sayangnya lalu ditinggal.

//GIMANA

Karena gw ga bisa kerja, jadi otomatis gw jadi ibu rumah tangga dong. Itu bikin gw punya waktu yang emang gw dedikasikan untuk mengurus anak dan rumah — dan ya jelas Rey termasuk. Jadi lah buat gw dan suami, Rey itu nggak wajib banget untuk masuk preschool. Malah sempet direncanain masuk preschool usia 2 taun aja.

Tapi itu wacananya kan.

0D78DF83-89D4-459F-A9FB-A78436C526F2

Rey ini badung.

BADUNG BANGET.

BADUNG.

ALLAHUAKBAR BADUNG.

YANG BILANG KE GW, “AH ANAK PEREMPUAN ITU ANTENG KOK KAP. CINCAY LAH. SANS AJA,” MAJU SINI.

Nama dia ada Rey, yang diambil dari karakter Rey di Star Wars; dan ada Sarasvati, Dewi Ilmu Pengetahuan.

Yang satu pemberontak ngelawan First Order, yang satu beneran dewinya ilmu pengetahuan yang intinya nguprek segala macem atas nama penasaran. Okesip.

Udah jadi semacem pengetahuan umum di antara orang tua, kalo rumah lu mendadak anteng padahal ada balita di rumah, pasti ada apa-apanya tuh. Balita itu NGGAK anteng. Mereka ini bola bekel dikasih nyawa dan batere Energizer asupan seumur idup yang selalu, “IBU IBU IBU IBU AYAH AYAH AYAH AYAH APATUH APATUH APATUH MAU MAU MAU MAMAM MAMAM MAMAM PUPUP PUPUP PUPUP.” Kalo di rumah lu masih bisa denger mereka ngoceh, masih aman.

Kalo mereka mendadak anteng, nah…

Gw lagi di kamar, beresin seprei, ketika rumah mendadak tenang sekali.

Panik.

Langsung gw lari ke luar kamar, dan mendapati si neng cilik sudah di atas meja makan (yang terbuat dari kaca) dan sedang sibuk menggambari meja dengan krayon milik abangnya.

Gw tegur dong.

Dibales desisan melengking ala velociraptor sama dia.

Sambil cemberut, anaknya turun dari meja (ALLAHU JANTUNG EMAK APA KABAR) lalu dia ngeloyor, dengan krayon di tangan, menuju ruang TV, dan mencoret-coret layar TV dengan krayon yang dipegangnya.

Gusti Allah nu agung.

Itu baru dia sendirian.

Begitu ada abangnya; BERANTEM. Mana lah Wira baik banget ke adeknya pula. Gw yang emaknya aja bingung ini napa si abang kelewat manjain adeknya. Pernah Wira ngambil remote TV dari sofa yang ternyata mau diambil Rey. Si neng cilik ngamuk, lalu rambut abangnya dijambak.

NAPA ANAK GW PREMAN BANGET. RASAAN WIRA GA GINI DULU DEH. INI JATAH RUSUH DIAMBIL SEMUA SAMA ADEKNYA APA GIMANA SIH.

Jadi dengan pertimbangan betapa rusuhnya anak gadis kami, akhirnya Ari ngomong, “coba sekolahin dulu. Sepertinya dia emang juga udah butuh tempat untuk berkembang lebih tinggi lagi.”

288685E7-67BE-4BA3-9C72-3AEC85DE7001

Tentu saja, jiwa mamak langsung bergelora. Langsung, “HUHUHUHU GW NANTI PASTI NANGIS NIH PASTI NANGIS NIH GA RELA ANAKNYA SEKOLAH NIH, HUHUHUHU.”

Tapi abis itu liat bocahnya nyoret-nyoret sofa pake lipstik gw. “SEKOLAHIN AJA ANAKNYA. SEKOLAHIN.”

Jadi di usia 18 bulan, Rey mulai bersekolah preschool.

Gw sempet ngira kalo dia bakal noangis ga ketolongan seharian di hari pertama sekolah. Soalnya Wira dulu gitu. Baru diem ga nangis ketika tidur dan makan. Abis itu nangis lagi nyariin gw.

Lah, gurunya Rey cerita, “dia cuma nangis, itupun hanya merengek, ketika ga ada gurunya di deket dia. Kami cukup dekati dia, gandeng tangan dia, dan dia langsung diam. Selepas itu ya dia main lagi.”

OH. OKEHFAIN. GA NANGIS WALOPUN GA ADA IBUK. OKEH.

//gimana…

Satu hal yang gw juga khawatirin ketika Rey di preschool itu nafsu makan dia. Bukan apa-apa, waktu Wira itu lumayan ribet. Anaknya langsung nolak makan dan maunya minum susu doang selama tiga hari karena dia stres adaptasi di lingkungan baru.

Rey?

”Sarapan bubur labu, habis. Makan buah, apel, habis tiga buah—“

”… Tiga… apa? Tiga iris apel?”

”Bukan. Tiga buah apel.”

”Oh. Oke.”

”Lalu makan siang nasi dan sup, habis. Makan sore, biskuit, juga habis. Ini tea time, pancake dan madu dan buah. Habis.”

Sampe rumah? Setelah makan pancake nganu nganu itu?

Masih minta sereal dua mangkuk dan makan sup pake pasta.

… Yha. Ga perlu terlalu khawatir kali yha.

Alhamdulillah, anaknya sepertinya hepi dan ga masalah di preschool-nya. Kesempatan buat dia pun untuk eksplorasi, berkarya, ngeberantakin barang, tanpa gw musti ngomong, “ADEK. NO. ADEK. NGGAK. ADEK. JANGAN,” setiap saat.

Plus, sejak dia di preschool, begitu anaknya di rumah ya jadi lebih anteng/ga pecicilan. Soalnya energinya udah diabisin di sekolah. Emak bisa bernafas sedikit lebih lega, hahaha.

Selamat bersekolah, Rey.

EE2373C5-3748-4D02-BB48-3348E17FB56B