Vaccinate. Yo. Kids.

Kemarin di autobase Tubirfess, sempet ada diskusi mengenai vaksinasi dan imunisasi.

Gw mungkin harus jelasin dulu apa itu autobase; jadi autobase di Twitter itu… Dibilang akun keroyokan juga bukan, walaupun memang dipegang oleh seorang atau beberapa admin, tergantung besarnya komunitas.

Jadi autobase itu seperti message board; orang-orang boleh dan bisa bertanya atau melontarkan opini atau ngajak ribut (heuhe) secara anonim dengan cara mengirimkan DM/direct message ke akun autobase tersebut dengan hashtag khusus. DM dengan hashtag tersebut secara otomatis dipublikasikan di timeline si akun autobase itu, dan orang lain bisa menjawab/merespon dengan akun pribadi mereka. Autobase ini awalnya dari fanbase K-Pop, tempat para fans K-Pop bertukar informasi, gosip, bertanya, beropini, sampe, errrr, berantem. Makin lama, topik yang diangkat makin luas; isu-isu 18+, kecantikan, dan kehidupan sehari-hari.

person using laptop computer during daytime
Photo by picjumbo.com on Pexels.com

Nah, di autobase Tubirfess ini, yang dibahas lebih beragam. Adminnya sendiri secara eksplisit menyatakan supaya jangan ada topik fanwar K-Pop, karena biasanya ya itu urusan rauwisuwis. Mayoritas pengikut, dan biasanya mereka aktif, di Tubirfess ini rata-rata masih sekolah atau baru bekerja. Sepertinya jarang, ada tapi nggak terlalu banyak, yang sudah menikah dan mempunyai keluarga inti sendiri. Tubirfess ini autobase kesukaan, hahaha. Banyak pembahasan dan diskusi yang bikin gw belajar banyak. Yang, “oh iya ya…” atau malah baru tau tentang banyak konsep. Seru lho, hahaha.

Nah, balik ke soal diskusi imunisasi di Tubirfess.

Gw kalo urusan imunisasi/vaksinasi dan para antivaxx, gampang dan langsung kesundut. Kalo Flat Earther, yaudah lah, kadang — err, banyak — yang ga ketolongan “logika”nya, dan secara umum mereka ga terlalu merugikan untuk khalayak ramai (ini nggak juga sebenernya. Dengan pola pikir instan mereka, ini sebenernya bahaya untuk anak-anak karena bikin anak-anak males mikir.) Malah kalo ga salah ada yang bilang Flat Earther ini sebenernya AWALNYA gerakan lucu-lucuan, macem Flying Spaghetti Monster (?) Tapi ditanggep serius, jadi ya gitu lah. Ya tetep sih kalo anak-anak gw bawa pacar dan ternyata si pacar itu Flat Earther ya gw tendang sebelum mereka sempet ngomong, “selamat malem, tante.”

img_1373
HIYAAAAAAAAAAAAAA!!

Sementara antivaxx itu ya… Nyata-nyata teroris kesehatan publik kok buat gw. Secara sukarela memaparkan anak-anak mereka ke penyakit-penyakit berbahaya YANG SEHARUSNYA sudah tidak ada di muka Bumi ini, dengan alasan “nabi dulu ga gitu” dan “anak gw ga diimunisasi tetep sehat kok LOL”, dan juga memaparkan ANAK-ANAK ORANG LAIN BESERTA LINGKUNGAN MEREKA ke penyakit tersebut. Kaya… Tolol ada bentuknya gitu lho.

Di Tubirfess, ditanya soal isu halal dan haram imunisasi dan vaksinasi.

Ini sebenernya salah satu topik favorit para antivaxx, dan ini sebenernya memang strategi orang-orang macam begini (macam apa sih Kaaap? Macam itu laaaaah.)

“HARAM! MASUK NERAKA!”

”BUATAN YAHUDI! HARAM! MASUK NERAKA!”

img_1376

Nah, percaya ga kalo gw bilang, di Amerika sono nooooooh, imunisasi/vaksinasi dibilang BIKINAN MUSLIM. Hayo? Percaya? Ahmasasih ahmasadong dorongdongdong naik odong odong?

4F41FD9D-B6FA-4573-A2F0-809ADCF70DBA

KESEL GA LU?

DI SINIIIIIH DIBILANG VAKSIN BIKINAN YAHUDI. HARAM.

DI SONOOOOOH DIBILANG VAKSIN BIKINAN ISLAM. HALAL. EH HARAM. EH HALAL. EH GATAULAH GW JUGA BINGUNG.

Dan TOLONG YA, sentimen “bikinan Yahudi/bikinan muslim/bikinan nganu” itu sangat diskriminatif dan ga penting. UDAH BIAR BERES NIH YA, TUHAN YANG BIKIN ALAM SEMESTA, SISANYA MADE IN CHINA.

Gw tau kalo gw ngomong di sini, ibaratnya menggarami air laut; cuma kalo memang ada yang masih ragu, sebelum gw “pait pait pait pait”-in kalian (karena gw dan Ari berprinsip, “jauh-jauh dari anak gw kalo anak lu ga diimunisasi”,) ada beberapa poin soal pentingnya imunisasi dan vaksinasi.

Gini. Pertama-tama.

Pernah denger nama penyakit polio? Cacar? Influenza?

Pernah doooong, ya kan? Malah mungkin ada yang pernah kena cacar? Pernah liat kasusnya? Jarang?

Berterima kasihlah kepada vaksin.

Kenapa? Karena kita masih hidup sampe sekarang ya karena vaksin dan imunisasi.

Penyakit yang kesannya “sepele” seperti cacar itu, dulu sebelum ada vaksin cacar, merenggut banyak korban anak-anak. Di catatan sejarah banyak tertulis, pelaut atau penjelajah, atau malah orang-orang biasa yang sehari-harinya hidup di darat, meninggal karena penyakit cacar. Cacar, jaman itu, menjadi epidemik, alias penyakit yang menular dengan cepat dan, dalam banyak kasus, merenggut banyak korban jiwa.

Ada yang namanya rotavirus; rotavirus ini nyerang perut dan paling sering menjangkiti bayi. Jadi ya yang namanya angka kematian bayi jaman dulu itu tinggi banget gara-gara rotavirus. Rotavirus ini bikin si adek bayi diare, muntah, dan akhirnya meninggal. Gila lu. Kebayang ga tuh? BAYI, MEN. BAYI. BAPER GILA GW BAYANGIN ANAK BAYI SAKIT.

Ada yang namanya tetanus. Ih, ini gw inget bangeeeet, gw pernah baca cerpen di perpustakaan SD gw, kisah seorang anak yang ayahnya meninggal karena kakinya kena paku berkarat. Si ayah terjangkit tetanus lalu meninggal. GW BACA ITU NANGIS MULU DUA HARI YA. MAKASIH.

Nah, itu sedikit contoh dari banyaknya penyakit di sekitar kita yang bisa ditanggulangi dengan vaksinasi dan imunisasi. Jadi kalo kita liat sekeliling dan diri kita sendiri, “ih kok gw masih idup aja ya sampe sekarang,” berterima kasih lah kepada vaksinasi dan imunisasi. Badan lu cukup kuat untuk melawan dan menggempur penyakit-penyakit yang siap menyerang lu setiap harinya itu.

Ada keraguan soal imunisasi dan vaksinasi yang buat gw masih, yaaaaa, oke lah, cukup dipahami, yaitu: “Imunisasi dan vaksinasi itu kan menyuntikkan kuman ke tubuh kita? Itu bukannya semacem misi bunuh diri?” Karena ya itu juga reaksi yang sama ketika gw SD dan guru Kesehatan gw ngomong kalo imunisasi itu, “nyuntikin kuman ke dalam tubuh kita.”

Gini. Kuman yang disuntikkan ke tubuh kita itu kuman yang sudah lemah, sehingga kemungkinan untuk mempengaruhi kesehatan kita secara besar itu ga terlalu tinggi. Ketika itu kuman disuntik ke badan kita — jussss — gitu, badan langsung reaksi bikin antibodi untuk melawan kuman yang masuk. Ketika badan bertempur melawan kuman, biasanya kita jadi ngerasa agak demam (makanya biasanya adek-adek yang habis imunisasi itu kadang ada yang demam selama tiga hari karena ya badannya melawan kuman.) Saat akan imunisasi, biasanya dokter juga udah wanti-wanti, “jangan imunisasi atau vaksinasi kalo badan lagi ga sehat yaaa.” Soalnya ya badan musti dalam kondisi prima betul untuk melawan kuman yang masuk.

Ketika kuman sudah berhasil dikalahkan, badan kita udah punya tentara baru dan keahlian baru untuk mengenali dan mengalahkan virus dan kuman yang menyerang badan.

AADA27BF-8B00-4D0B-9E8C-EB34048EAD25
Kira-kira gini lah bentukan sel pelindung badan kita //nggak — sumber: はたらく細胞 (Hataraku Saibō)

Ada argumen yang bilang, “anak gw abis diimunisasi malah sakit parah!” Nah, itu musti dilihat kondisi kesehatan anak itu bagaimana sebelum dan saat diberikan imunisasi, atau apakah dia ada catatan kesehatan sebelumnya yang musti diperhatikan. Sedihnya gini soalnya, dibilang kalo imunisasi itu penyebab penyakit A, B, dan C. Padahal belum tentu. Bisa jadi ada faktor lain.

Gw angkat deh; apakah vaksinasi menyebabkan autisme?

Tidak.

Kalo lu pernah denger teori itu, itu asalnya dari seorang mantan dokter (iya, mantan, karena dia udah dicopot secara tidak hormat dari posisinya dan dilarang berpraktek lagi) bernama Andrew Wakefield.

Jadi dia ini bikin jurnal penelitian yang menyatakan kalo vaksinasi MMR (Mumps, Measles, dan Rubella) menyebabkan autisme dan penyakit perut pada tahun 1998.

Gonjang-ganjing dong itu dunia medis; nah, di dunia akademis dan medis, ada yang namanya “replikasi jurnal”. Jadi lu ambil penelitian atau jurnal orang nih, lalu lu coba lakukan penelitian yang sama — biasanya untuk menguji validitas atau relevansi penelitian itu. Banyak mahasiswa gw yang pas skripsi juga replikasi jurnal karena selain untuk mencari topik skripsi lebih mudah, mereka juga pengen tau apakah teori yang diberikan di jurnal itu masih nyambung atau nggak dengan kondisi sekarang.

Jadi itu jurnalnya Andrew direplikasi kan, dicek ulang. Hasilnya? Lhooo, kok ga ada hubungannya ya autisme dengan vaksinasi? Gimana ini? Apakah ada yang error? Apakah ada yang salah? Apakah salah gw? Salah temen-temen gw?

//oke cukup

Tahun 2004, diselidiki lah itu kan klaimnya Andrew. Ketauan dong, kalo dia menerima sejumlah besar uang sebagai pembayaran untuk melakukan “penelitian” dengan tujuan mendiskreditkan vaksinasi, belum lagi bukti kalau dia menyakiti anak-anak yang menjadi sampel penelitian dia itu.

Nah, ini ada artikel dari website History of Vaccines (website ini dibentuk oleh The College of Physicians of Philadelphia) yang membahas dengan bahasa simpel mengenai vaksinasi dan autisme: Do Vaccines Cause Autism?

Gw nggak divaksin, tapi gw sehat-sehat aja. Itu gimana tuh?

Perkenalkan: HERD IMMUNITY.

Apa itu “herd”? Dalam bahasa Indonesia, “herd” artinya kawanan. Sekelompok. Kita nih, manusia, hidup bersama dalam satu lingkungan, itu bisa dibilang sebagai kawanan. Kawanan tapi mesra.

//BUKAN

Immunity. Imunitas. Kekebalan terhadap sebuah pengaruh dari luar. Bukan, bukan soal osang aseng oseng yang lagi rame dibicarain netijen Indonesia. Ini kekebalan terhadap penyakit.

Jadi simpelnya, herd immunity adalah kekebalan sebuah kawanan terhadap penyakit.

Kenapa anak yang nggak divaksin masih bisa hidup?

Karena dia dilindungi oleh teman-temannya yang divaksin.

Ini ada gambar dari Wikipedia untuk menjelaskan ya.

D90E04D0-7F2D-4649-A2CB-F2060CD446FC

Kalo nggak ada yang diimunisasi, kaya contoh paling atas, begitu ada yang sakit, blaaaar, sakit lah langsung itu sak kampung sak kota sak negara. Ngeri yes? Ngeri.

Tapi kalo semua, atau 95%, diimunisasi, kalo ada yang sakit, nggak terlalu menyebar — seperti di gambar ketiga. Kenapa? Karena yang diimunisasi itu badannya udah kebal, jadi dia nggak menjadi carrier alias tukang tular.

Yang sekarang ada di banyak negara — ga cuma Indonesia, men. Di Malaysia, Amerika, dan banyak lagi yang rame antivaxx — itu yang kedua. Itu yang ngeri dan menyedihkan. Makin banyak yang nggak divaksin, jadi ketika ada yang sakit, menular, resiko kena ke orang lain juga gede. Yang divaksin biasanya sembuh dan kemungkinan bertahan hidup lebih besar. Yang nggak divaksin? Ya… Sakit.

Ini kaya di Twitter, ada yang ngomong, “vaksinasi anak kita, guys. Biarin aja yang antivaxx yang anak-anaknya sakit. Anak kita jangan.”

Gw paham dengan ajakan seperti itu, tapi itu ga sepenuhnya benar dan kurang simpatik. VAKSINASI SEMUA ANAK-ANAK. Jangan cuma anak kita aja. Kenapa? Walaupun anak kita divaksinasi, tetep ada resiko kena penyakit lho. Hanya saja, kesempatan sembuh dan hidup anak kita lebih besar. Tapi orang tua mana sih yang suka liat anaknya sakit? Nggak ada kan? Dan se… Apa ya, sekejam-kejamnya gw untuk ngebatin, “rasakno!” kalo liat ortu antivaxx panik ketika anaknya sakit, TIDAK ADA anak di muka bumi ini yang berhak menderita seperti itu. TIDAK ADA orang tua di muka bumi ini yang pantas melihat anaknya meninggal dalam kondisi mengenaskan akibat penyakit yang seharusnya bisa dihindari dan dihilangkan dengan vaksinasi dan imunisasi.

Vaksinasi anak kita. Semuanya. Karena itu hal yang benar untuk dilakukan. Sama seperti buang sampah di tempatnya dan mengucapkan, “terima kasih,” “tolong,” dan “maaf.”

Vaksin katanya mengandung babi? Haram dong?

Oke. Ini mulai masuk ke ranah fiqh. Gw bukan ahli agama, apalagi ustadzah. Mungkin lu akan langsung nutup blog ini dan mendengus sebal karena gw ga ada kapasitas untuk menjelaskan dari sisi agama, tapi gw akan mencoba menjelaskan sebagai sesama muslim dan muslimah.

MUI sudah menyatakan bahwa vaksin MR adalah mubah. Artinya boleh.

Lho, kenapa? Kok mubah?

Pertama, karena manfaatnya jauh lebih besar dari mudharat/kerugiannya. Ini urusan nyawa. Ya sama seperti banyak anjuran ustadz; misalnya nih, lu kelaparan di tengah hutan nggak ada makanan kecuali daging babi. Kalo lu nggak makan, lu mati. Jadi ya lu nggak apa-apa lho makan itu daging babi. Islam memang mengajarkan manusianya untuk ikhlas dan berjihad, tapi jangan bunuh diri. Ini memang ekstrim, tapi misalnya kalo lu makan itu daging babi yang cuma ada satu-satunya, dan lu bisa tetap hidup lalu berjihad (CATATAN PENTING: Jihad bukan berarti perang doang. Menuntut ilmu itu berjihad, hamil dan melahirkan itu berjihad, mencari nafkah halal untuk keluarga itu berjihad,) itu ya gapapa banget.

Kedua, memang mengandung enzim babi, TAPI hanya saat proses pembuatannya. Enzim babi ini digunakan sebagai katalis dalam proses. Apa itu katalis? Katalis itu semacam pencepat reaksi. Jadi supaya sebuah senyawa bereaksi, kadang perlu dibantu oleh enzim atau protein. Kaya lu dipanas-panasin temen buat bolos gitu laaah. Lu itu senyawanya, temen lu yang panas-panasin itu katalisnya. Nah, enzim babi di sini ketika itu reaksi udah selesai, akan hilang ga bersisa. Jadi di vaksinnya sendiri ya ga ada kandungan enzim babi.

Ini rame didebat di kalangan muslim karena referensi ke halal. Halal, menurut Islam, itu ga cuma di hasil akhir, tapi juga proses. Nasi halal kan? Tapi kalo lu beli nasinya pake uang korupsi, itungannya haram. Nah, ini pake enzim babi. Ga ada sisanya nih di hasil akhir, tapi di prosesnya pake enzim babi. Halal atau nggak nih? Itu yang masih didebat.

Tapi karena ya manfaat jauh lebih besar dari mudharat, makanya masuk ke kategori “boleh”/mubah oleh MUI. Karena udah boleh dan bermanfaat, oke dooong? Ga ada alasan lagi dooonng?

Nah, ini sebenernya bukan cerita baru. Tahun 2000-2001, sempet rame sekali itu berita mengenai sebuah produsen MSG yang saat prosesnya menggunakan enzim babi sebagai katalis. Persis kasus vaksin ini. Guru Kimia gw di sekolah — dan SMU gw itu SMU basis Islam. Al-Irsyad Al-Islamiyyah lho — ngejelasin lewat reaksi Kimia, seperti apa sih peran katalis dan bagaimana hasilnya. Pak Sigit, guru gw itu, ngomong, “ya sebenernya udah ga ada jejaknya lagi itu babi di produknya. Cuma memang masih didebat karena prosesnya itu.”

Vaksin dan imunisasi mahal nggak?

Untuk imunisasi wajib (anak-anak di bawah usia 2 tahun,) itu GRATIS di Puskesmas dan Posyandu. Kalo imunisasinya di rumah sakit, apalagi rumah sakit swasta yo ya musti mbayar. Ya kesel kan kalo ada yang ngomong, “ih, imunisasi kan bayar! Mahal pula! Saya di [rumah sakit swasta beken dengan spesialis lulusan luar negeri semua] itu bayar tuh!”

AFC6C62C-2BE0-41EC-AF39-2B429BDDE2C6

Kalo vaksinasi, terutama yang nggak wajib, itu memang musti bayar. Tapi banyak juga yang generik, jadi nggak mahal (iya, vaksinasi datang dengan berbagai merek juga kok. Coba tanya ke dokter atau tenaga medis untuk merek generik saja.) Malah beberapa vaksinasi yang akhirnya diwajibkan karena ada penyebaran penyakit bisa digratisin.

Vaksin dan imunisasi bakal sama aja terus kaya gitu atau gimana?

Oh, ndak.

Vaksin dan imunisasi juga berkembang ngikutin jaman kok. Penyakit itu, kuman dan virus itu, bermutasi. Saat ini nggak ada, mungkin tahun depan ada. Yang absurd kaya flu burung, yang harusnya ngendong di ayam doang, eh kok ya ndilalah masuk kena manusia juga.

Orang dewasa juga musti imunisasi dan vaksinasi; tergantung kebutuhannya.

Untuk perempuan, jangan lupa vaksin HPV sebagai pencegahan kanker serviks/kanker leher rahim.

Ada vaksin influenza; kalo ga salah, temen gw, Hafiz, musti vaksin influenza sebelum dia pergi ke Amerika. Kalo yang mau naik haji atau umroh, musti vaksin meningitis/penyakit otak.

Gw bawel, bawel banget, soal vaksinasi ini karena buat gw, bukan soal “nanti lu kan punya anak!” Nggak. Nggak semua dari kalian bakal mau/ingin/berpikir/berniat/berkehendak punya anak kan?

Tapi, gw yakin, SEMUA dari kalian ini bakal menjadi penerus Indonesia, duduk di pemerintahan, menjadi penentu keputusan/decision maker, menjadi aktivis/agent of change, menjadi tenaga pendidik, menjadi konselor.

Kalian-kalian ini lah makanya musti tau pentingnya imunisasi dan vaksinasi. Pentingnya kesehatan pribadi dan kesehatan publik. Pentingnya komunitas guyub.

Kebayang ga lu, orang-orang hebat dan penting begitu pada antivaxx?

Sampe itu kejadian… Hhhhhhh. Naudzubillah.

2E2B2BC4-2C1B-48D3-81F9-E6F5074A062B

Siap tempur gw. Bodo amat udah jadi bude begini, udah jadi nenek ntar, umur lu ga menentukan apa yang lu perjuangkan. MERDEKA.

TAPI PAS JAMAN NABI GA ADA VAKSIIIINNNN!!!!!111!!!SATUSATUSATU!!!!111

347DA7FD-03FA-4345-8AFD-F5F80BBABE7AE99593EB-1A43-493A-ADC0-8933210468DB

NAIK ONTA ATAU KAMBING AJA SONOH. KAGA USAH NAIK MOTOR. JAMAN NABI KAGA ADA TUH MOTOR.

Heran gw, Nabi lah ini dijadiin alesan.

Advertisements

Author: Nindya

An Indonesian in Malaysia. Nicknamed “Kapkap”. A mother of two. A black thumb learning how to be a green thumb. Love to draw, love to read, love to write, love to cook — terrible at baking (seriously terrible). Having tendencies of sending and using excessive memes on blog posts and daily chats.

3 thoughts on “Vaccinate. Yo. Kids.”

  1. …aku tuh suka nggak paham dan kagum sendiri sama mbak Nindya yang bisa bikin postingan sepanjang gambreng gini dan beneran ada “isi”-nya huhu.

    Sebanyak ini dibikinnya berapa lama.. dilema antara mau khusnuzon mikir mbak Nindya kalau nulis cepet banget dan jago, apa pilih suuzon aja nganggep mbak Nindya kebanyakan waktu luang (TT____TT)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s