Kap’s Brain Fart 01:42 PM

Masih cerita soal pengalaman melamar kerja sebagai Happiness Engineer ya. Bukan prosesnya sih kali ini, tapi lebih ke… Nulis blog biar gw ga terlalu panik dan bisa menenangkan diri?

Entah ini menolong atau ga sih. Hm.

Jadi seperti biasa gw kan keliaran di WordPress Reader ya. WordPress Reader itu semacem RSS reader lah; jadi blog-blog (berbasis WordPress maupun non-WordPress) yang lu ikutin/follow itu ya akan nongol di tab Reader baik di website WordPress (wordpress.com) ataupun di app WordPress lu (kalo lu install.)

Selain blog yang lu ikutin, ada juga opsi untuk mengikuti tag. Tag itu semacam hashtag untuk memberikan info lebih detil mengenai sebuah tulisan atau artikel di blog atau website. Sedikit beda dengan Categories, tag itu lebih detil dan bisa bikin tulisan blog lu  dicari orang secara publik (kecuali kalo lu set Private atau Hidden di blog WordPress lu.) Jadi misalnya nih, lu nulis sebuah blogpost tentang wisata kuliner. Terus lu tulis lah di bagian tag macem “food”, “culinary”, atau “foodblog.” Nah, kalo blog lu di-set Public, tag itu lah yang memunculkan post lu di Reader ketika ada pengguna yang mencari blog dengan tag yang disebut di atas itu. Jadi, misalnya, lu nulis soal makeup lalu lu pake tag “beauty”, dan ujug-ujug ada pengguna WordPress yang lu ga kenal ow ow siapa dia kok nge-like tulisan lu, itu belum tentu stalker lho. Bisa jadi si pengguna itu emang lagi nyari tulisan berkaitan dengan “beauty” dan nemu tulisan lu.

Nah, selain blog teman-teman yang gw ikutin, gw juga ikutin tag “A8Cday”, alias “Automattic(ian) Day”. Tulisan para Automattician (staf Automattic) mengenai kehidupan sehari-hari mereka bekerja secara remote working di Automattic dan kadang-kadang ada juga yang berbagi pengalaman saat mereka melamar kerja di Automattic — ya kaya gw alamin sekarang ini.

Nah, gw nemu kan satu blog. Dia masuk ke Automattic bulan Maret 2018 lalu. “Wah, pas banget nih,” pikir gw pas itu. “Ga jauh jaraknya dari gw. Berarti prosesnya mirip-mirip nih.” Soalnya terakhir gw baca cerita penerimaan kerja oleh seorang Automattician, dia udah mulai bekerja di Automattic sejak tahun 2015, dan menurut dia, proses penerimaannya udah banyak berubah (kecuali bagian trial period yang kabarnya lu bakal dikasih dokumen sambutan dengan tulisan ‘Welcome to Chaos’ *langsung kebat-kebit*)

Ya udah lah ya, gw baca.

Terus, gw… Stres.

Bukan gimana, Automattician ini (sebut saja namanya P), pengalaman di dunia web development-nya gila-gilaan! Canggih banget! Dia cuma komentar, “looking back, I wished I could learn more on WooCommerce, CSS, and knowing more about WordPress.com.”

LAH GW?

HALO?

Terus gw baca teruuus sampe bagian komentar kan. Ada yang komentar, “oh, gw juga ngelamar kerja di Automattic nih! Gw udah belajar Python, Ruby on Rails, sama JavaScript. Gw juga kepikiran mau ambil courses lain untuk memperkaya kemampuan gw, soalnya gw dulu kuliahnya bukan IT.”

LAH.

GW.

GIMANA.

DONG.

Satu hal yang bikin gw sedikiiiiiiiiit anteng (???) itu ternyata yang pertama nge-review semua resume yang masuk ke Automattic itu Matt Mullenweg sendiri. Jadi ketika tim mulai gerak mengontak para pelamar pekerjaan, itu artinya Matt sudah memberikan rekomendasinya dia.

(Lalu makin stres. Kalo sampe gagal artinya mengecewakan Matt.)

Tapi jujur ya, dan mungkin kalian juga udah bosen baca ini, gw belum pernah se’lapar’ ini — dan itu semua dimulai dari sebuah tulisan di blog-nya Matt yang isinya foto pulpen dengan username dia terukir di situ. Tulisannya: “Has your WP.com username on it too. Automattic is hiring!” Lalu gw dengan serakahnya berpikir, “GW JUGA MAU.” Pernah, satu hari, gw sampe menghentakkan kaki dengan kekesalan khas anak-anak, lalu berseru, “AKU MAU DITERIMA DI AUTOMATTIC! AKU MAU JADI HAPPINESS ENGINEER!” di depan Ari (yang dibales dengan, “iyaaaa, semoga diterima yaaaa.”)

Ini adalah proses lamaran kerja yang, buat gw, meletihkan dan menguras pikiran — in a good way. Letih karena otak dipaksa bekerja, belajar, dan terbuka dengan banyak hal. Gw belajar untuk menyampaikan jawaban dengan lebih jelas, dengan bahasa lebih sopan, dan lucunya — walaupun 100% komunikasi dilakukan melalui gadget — gw belajar bersosialisasi dengan manusia lain. Banyak orang bilang kalo gadget mengurangi kemampuan manusia bersosialisasi, tapi gw rasa itu lebih ke cara menggunakannya sih. Malah mengobrol melalui gadget juga jadi lebih mudah (nebar hoax juga jadi lebih gampang— eeeeh, hehehe.)

Segini dulu lah curhatnya ya, hahaha. Demi menenangkan pikiran aja.

Published by

Retno Nindya

A black thumb trying to be a green thumb. Occasionally drawing.

3 thoughts on “Kap’s Brain Fart 01:42 PM”

    1. Aku baru baca blog-nya P itu juga tadi sore, makanya langsung stres 😂 Soalnya malemnya aku interview kedua. Langsung rusuh, “WA NYIAPIN APA INI WAAA WAAA WAAA.”

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s