Bagaimana Cara Membaca Kandungan Produk?

Kemarin saya kan nulis panjang lebar ya soal produk perawatan kulit beserta kandungan yang patut dihindari oleh bumil dan busui.

Nah, saya keinget nih, satu hal yang biasanya sering bikin jiper kita sebagai konsumen dan seringnya *uhuk* dijadiin klaim oleh pihak perusahaan untuk menjual barang ke kita: Daftar kandungan produk.

Saya pake contoh produk yang kemarin saya foto deh ya.

img_1098

Waduh, kandungannya kok nama-namanya ajaib-ajaib gitu ya? Ini pelajaran Kimia jaman SMU gimana nih, lupa semua. Anak IPS bingung ini bahasa planet mana ini *hehehe*

Oke, pertama-tama, kita liat dulu susunan bahan-bahannya.

Dalam daftar kandungan, zat atau bahan yang disebut pertama adalah bahan yang kandungannya paling banyak di produk tersebut. Teruuuuus sampe yang paling terakhir. Yang disebut terakhir? Ya yang kadar kandungannya paling sedikit. Setelah itu pun masih ada lagi, biasanya kandungannya sudah kurang dari 0.25% (? eh, atau 0.025% ya? Saya lupa…) dan dianggap nggak signifikan atau nggak berpengaruh di badan.

Inget nggak, kisaran tahun 2006-2007 sempet ada kasus heboh kandungan formalin di pasta gigi yang mereknya luar biasa beken di Indonesia?

Apakah iya, ada formalinnya? Iya.

Tunggu, jangan kaget dulu. Formalin, walopun kesannya “ngeri banget deh itu kan buat ngawetin mayat” itu ya memang… Pengawet. Formalin di produk-produk perawatan tubuh/toiletries itu biasanya ya emang untuk mengawetkan produk supaya ga cepet rusak atau jamuran, apalagi di iklim tropis seperti Indonesia.

Tapi, karena kadarnya yang sangat sedikit dan insignifikan di produk tersebut, jadi tidak ditulis oleh pihak produsen — dan memang sebenernya nggak perlu ditulis. Nah, kebetulan aja publik tahu dan isu itu diangkat, makanya akhirnya ditulis lah oleh pihak produsen.

Jadi liat di foto di atas, bahan yang disebut pertama — aqua — alias air adalah kandungan dengan kadar paling banyak di produk sheetmask itu. Baru lah diikuti propylene glycol, sodium hyaluronate, dan lain sebagainya.

Nah, kenapa ini penting? Jadi kita sebagai konsumen tau zat aktif apa saja yang signifikan di badan kita. Kasarnya, kalau tertera di daftar kandungan, berarti sedikit banyak berpengaruh di kulit kita. Ini penting untuk mengetahui zat yang sebaiknya kita hindari — seperti kandungan AHA/BHA, Retinol, dan lain sebagainya yang sebaiknya dihindari bumil dan busui.

Ini juga penting untuk mengecek ulang klaim produsen. Sering denger kan, “sabun wangi/parfum/lotion dengan esens bunga mawar atau mutiara blablabla”?

Nah coba deh cek daftar kandungannya, kalo iya mengandung ‘esens alami mawar’, itu zat nongolnya di deretan paling depan atau paling bontot, hehehe. Kalo paling depan atau deretan awal, ya minimal klaimnya bahwa “PASTI MENGANDUNG ESENS MAWAR ALAMI!” ya Insya Allah bener. Kalo paling bontot… Yaaa, kasarnya lebih banyak beli aer dikasih gliserin sama esens mawar barang setitik, hehe.

Untuk foto di atas itu sebenernya saya agak lega, hahaha. Klaim sheetmask di yang saya tunjukkan di atas adalah “mengandung zat alami aloe vera” (alias lidah buaya). Setelah air dan beberapa zat pengental, muncul aloe barbadensis leaf juice — alias sari lidah buaya. Jadi ya jujur lah yaa, hahaha.

Kadang ya dari daftar kandungan kita juga jadi ngeh zat aktif atau zat alami apa aja yang ditambahkan (contoh di atas, ada grapefruit dan ginkgo biloba). Dari situ kita bisa cek kalau-kalau kita ada alergi dengan zat tertentu, sehingga kita bisa menghindari suatu produk daripada kenapa-kenapa.

Kedua, kenali sifat dari bahan-bahannya. Ini sedikit belajar kimia ya. Saya sendiri bukan ahli kimia dan bukan peneliti di industri make-up. Nyuwun untuk teman-teman yang lebih paham kimia untuk menambahkan, mengurangi, ataupun mengoreksi saya di sini.

Secara dasar, apapun yang pake “-ol” itu biasanya masih sodaraan dengan alkohol. Ethanol, phenoxyethanol, dan lain-lainnya. Tapi jangan samakan “alkohol” di produk kecantikan dengan alkohol minuman atau alkohol 70% yang biasa dipake di RS. Alkohol di produk kecantikan biasanya berfungsi sebagai pelarut/solvent dan/atau antiseptik supaya produk kecantikan kita ga jamuran.

Berikutnya, acid alias asam. Nah ini nih yang kemarin disebut-sebut: AHA dan BHA. Dan ini juga yang sering jadi kekhawatiran pengguna produk kecantikan. Apakah asam bagus untuk kulit? Terlalu keras nggak ya? Asam sulfat gimana? *woy*

Secara umum, asam dianggap zat aktif — makanya untuk produk make-up yang eksfoliasi/exfoliating, AHA dan BHA sering banget dipake. Fungsinya adalah untuk merontokkan sel kulit mati di wajah supaya sel kulit baru bisa regenerasi. Nah, karena ini lah, sebaiknya kandungan asam/acid AHA dan BHA itu sebaiknya dihindari oleh bumil dan busui karena ditakutkan mempengaruhi si janin.

Tapi ada juga kandungan sintetis/buatan yang juga banyak terdapat di alam, citric acid misalnya. Dari namanya aja udah ketauan — citric alias citrus — yaitu keluarga sitrus atau yang awamnya dikenal sebagai… Jeruk. Nah, citric acid ini dianggap nggak terlalu signifikan untuk sistem tubuh secara keseluruhan dalam konteks produk perawatan kulit, sehingga bisa dianggap aman.

Selanjutnya, turunan dari amonia yaitu amine. Di contoh di atas itu disebut satu: triethanolamine.

Waduh, turunan amonia bau dong? Wah saya kurang tau ya, hahaha. Tapi ya seharusnya nggak. Fungsi triethanolamine di produk kecantikan sendiri biasanya berfungsi sebagai pH-balancing.

Nah, ada nih beberapa zat yang bunyinya kok “kimia banget” alias “bunyinya kaya laboratorium banget” (hahaha) padahal sebenernya sumbernya alami. Misalnya, glyceryl glucose. Padahal aslinya itu ya reaksi alami antara gliserol dengan glukosa dan awam terjadi di ganggang laut.

Sekali lagi, nyuwun untuk teman-teman yang lebih paham kimia untuk menambahkan, mengurangi, ataupun mengoreksi saya di sini.

Saya ngerti jipernya dan pusingnya baca kandungan zat produk. Lha kemarin saya sampe jereng mantengin kandungan produk perawatan kulit saya sampe tengah malem kok. Banyak istilah-istilah asing dan “aneh” buat kita, dan itu bikin kita takut atau panik. Wajar banget untuk khawatir, tapi Insya Allah, produk-produk yang dijual di supermarket, drugstore, dan toko kosmetik lainnya, selama sudah melewati kualifikasi FDA ataupun BPOM, Insya Allah aman untuk digunakan dan dikonsumsi.

Kalau ragu, jangan malu bertanya atau konfirmasi ke pihak produsen dan tenaga medis atau ahli di sekitar kita.

Sedikit cerita, waktu saya masih hamil Wira, saya parno (ya kapan sih saya nggak parno…) mengenai kandungan lotion yang saya pake. Kebetulan lotion yang saya pake itu merek SkinFood, sebuah perusahaan kecantikan Korea.

Di websitenya, udah diklaim bahwa SkinFood menggunakan bahan baku alami dan organik, sehingga seharusnya aman. Tetapi ya… Tahu lah saya gimana kalo panik yaa.

Jadi saya nelpon ke pihak SkinFood Indonesia. Saya lupa, itu ke kantor HQ atau ke cabang terbesar. Yang jelas, yang mengangkat telepon itu mbak-mbak staf SkinFood.

Saya nanya dong, “mbak, saya mau nanya nih. Saya kan lagi hamil, terus saya pake produk SkinFood yang lini ini nih. Ini kan mengandung vitamin C karena sumbernya jeruk ya mbak; nah ini aman buat ibu hamil nggak ya mbak?”

Mbak-mbak SkinFood — God bless her heart and the entire team of SkinFood Indonesia — mungkin belum pernah kali ya ditelepon mendadak sama mamak hamil recet kaya saya, jadi agak bingung juga jawabnya.

“… Errr, yaaaa, Insya Allah sih aman ya bu ya.

Soalnya SkinFood itu rata-rata bahan alami dan nggak pake pengawet berlebihan, apalagi kandungan yang berbahaya.

Anu, nama produk kita itu emang SkinFood, bu.

Tapi ya produknya jangan ibu makan.

Itu maksudnya “makanan buat kulit”, bu.”

#ngeeeeng

YAKALI MBAK, SAYA NENGGAK LOTION KAYA MINUM COCA-COLA.

Setelah itu sih jadi sedikit tenang ya, hahaha. Saya samperin tokonya lagi untuk rekonfirmasi kandungan (ya mengingat yang dicetak itu pake bahasa hangul kabeh jeh…) dan dibantuin Google Translate, akhirnya ya damai lah hati. Selese drama mamak parno babak sekian~

Jadi konsumen yang cerdas, supaya kita semua juga Insya Allah selalu sehat ya.

Advertisements

Perawatan Kulit Untuk Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

Sebenernya saya udah lama pengen nulis ini, tapi saya terlalu malas *errrr* dan karena semalem sempet kultweet soal sheetmask, saya ngerasa enakan nulis di blog juga karena ga ada batasan huruf, hahaha. Semoga cukup membantu sih ya.

Jadi saya ini tergabung ke grup WhatsApp #buibuksocmed. Singkatnya, isinya ini ya para ibu/emak yang rata-rata lumayan aktif di jaringan sosial seperti Twitter atau Instagram. Sebenernya sih isi grupnya juga bukan hal yang serius-serius amat ya. Obrolan khas emak-emak macem, “wadoh, anak gw mau mulai makan nih abis ASI eksklusif! Menunya apa ya?” sampe bagi-bagi bokep support group karena ya… Tahu lah, rasanya jadi seorang ibu dengan anak.

Nah, kalo ga salah sih 2-3 hari lalu, ada yang nanya-nanya soal perawatan kulit di grup. Kebetulan di grup #buibuksocmed itu juga ada beberapa praktisi medis dan dermatologis *hormat ke teh Uci* Jadi lah ya sekalian nanya-nanya. Salah satu topik perawatan kulit yang heboooh banget diobrolin adalah 10-Step Korean Skincare yang tersohor itu. Pertimbangan utama dalam perawatan kulit yang (berkesan) seabrek itu adalah masalah waktu. Ya namanya juga emak-emak ya. Istri sekaligus ibu. Ngurus rumah ya iya, kerja kantoran ya iya, ngurus suami ya iya, ngurus anak ya iya. Sempet banget sis buat ngurus kulit?

Nah, itu yang ditekankan: HARUS SEMPET. Nggak harus 10-Step Korean Skincare juga. Yang penting kulit itu bersih dan lembab. Abis ya kalo bukan kita sendiri yang ngerawat, siapa lagi? Kunjungan ke dermatologis juga memakan biaya yang nggak sedikit.

Saya sendiri udah pernah menjalankan 10-Step Korean Skincare ini sebelum saya hamil. Pagi dan malam. Nah, saya musti bilang karena kondisi saya sebagai SAHM (Stay At Home Mom) dan 100% ibu rumah tangga, waktu saya terbilang SANGAT lowong. Jadi untuk temen-temen yang pengen ikutan 10-Step Korean Skincare ini, mohon untuk waktu bisa disesuaikan ya.

Hasilnya? Saya suka. Suka sekali. Kulit saya jadi lembab dan nyaman saat menggunakan make-up; bahkan saya nggak perlu heboh pake CC cream, primer, foundation, concealer nganu segala macem tebel-tebel karena kulit saya sudah mendingan dan produk make-up yang saya pake juga tahan lama menempel di kulit.

Lalu… Saya hamil, hahaha.

Nah, ini nih yang jadi pertimbangan saya. Apakah 10-Step Korean Skincare masih musti saya jalani?

Nggak juga. Buat saya.

Tapi saya masih berpegang teguh dengan prinsip bahwa kulit HARUS bersih dan lembab.

Jadi kalo ada pertanyaan, “saya membersihkan muka dengan milk cleanser dan toner lalu pake moisturizer aja, itu boleh ga?” Lho ya boleh banget. Yang penting proses bersihin mukanya itu telaten, ga asal gebyur air. Pastiin sisa-sisa make-up di muka udah ilang.

Ketika saya sudah positif hamil, saya langsung razia produk skincare saya. Dan berikut adalah kriterianya:

  1. Tidak berbau menyengat/mengganggu. Karena hidung ibu hamil itu macam mutant. Ga asik kalo ngoles pelembab kulit musti pake acara muntah.
  2. Tidak mengandung bahan-bahan yang masuk kategori X menurut FDA (Food and Drugs Association — lembaga BPOM-nya Amerika), yaitu: Salicylic (BHA), Retinol dan turunan vitamin A, Benzoil Peroksida, dan Hidroquinon. Kandungan aktif seperti Arbutin dan Kojic Acid juga sebaiknya dihindari.

Wah, itu ada di apa aja, Kap?

Salicylic dan benzoil peroksida (benzoyl peroxide) itu biasanya ada di produk anti jerawat. Retinol, BHA, dan Arbutin biasanya ada di produk anti keriput.

Jadi intinya, ada dua tipe produk yang sebaiknya dihindari untuk digunakan saat hamil dan menyusui: Anti-jerawat dan anti-keriput.

Wah, tapi ini gw lagi hamil terus jerawatan karena hormon. Gimana nih?

Nah, jerawat karena hormon saat hamil itu BIASA BANGET. Dan biasanya berhenti di trimester 2. Kalaupun jerawat masih membandel selama kehamilan, cara pencegahannya adalah dengan, iya, menjaga kelembaban kulit.

Tapi katanya produk perawatan kulit gitu rata-rata aman…

Itu dia. Karena produk perawatan kulit ini kan jenisnya topikal ya. Jadi hanya di satu area tertentu, yaitu wajah — dan harusnya sih nggak mempengaruhi area tubuh lain. Beda cerita kalo sistemik seperti makanan dan/atau obat yang musti kita telan dan minum. Itu masuk ke pembuluh darah dan berpengaruh banget ke janin.

Tapi, apabila sebuah zat sudah masuk ke kategori X menurut FDA, berarti kandungan itu sudah dites ke ibu hamil dan memang menunjukkan reaksi yang nyata di janin. Jadi bagusnya ya kita jaga-jaga.

Nah, ini saya pengen berbagi sedikit mengenai produk yang saya pake selama saya hamil ini. Tolong diingat ini bukan tulisan berbayar ya, ini memang saya ingin berbagi ilmu saja, semoga berguna.

Untuk pembersih wajah, saya menggunakan Cetaphil.

img_1094

Sebenernya untuk double cleansing (bersihin wajah dua kali), saya menggunakan produk Biore Oil Cleanser, tapi saya nggak tunjukin di sini karena ya saya ini double cleansing hanya ketika saya pake make-up yang mana itu jarang, hahaha.

Untuk oil cleansing, biasanya banyak keluhan, “gw pake oil cleanser malah jerawatan tuh!” Karena: a. Bersihinnya nggak telaten, dan b. Nggak dilanjutin dengan facial wash.

Lho, emang ngaruh ya?

Bangeeet!

Buat apa sih oil cleanser? Banyak produk make-up kita yang sifatnya waterproof/tahan air. Dari BB cream, sunblock, maskara, sampe eyelinerOil cleanser ini bisa mengangkat make-up tahan air itu dengan lebih efektif, lebih bersih, dan lebih lembut dibandingin ngusrek mata pake tisu dibanjur air sampe iritasi.

Setelah mengusap muka dengan oil cleanser sampe make-up keangkat semua, saya biasanya ambil tisu bayi (karena nggak terlalu tajam kandungannya buat saya) lalu saya lap muka saya pake tisu bayi itu. Nah, setelahnya, saya ambil sedikit sabun cuci muka — Cetaphil — lalu saya usapkan ke wajah sampe berbusa sedikit (sebenernya bukan busa sih ya, tapi ya keliatan lah mirip-mirip busa gitu, hahaha) untuk mengangkat sisa oil cleanser. Lalu saya ambil spons kecil khusus muka, dan saya bersihkan muka saya sambil dibasuh air. Spons itu juga berfungsi sebagai scrub/exfoliate kulit saya.

Jadi inget yaa, jangan setelah pake oil cleanser langsung ditinggal tidur. Itu minyaknya masih numpuk di muka itu. Ya kalo dibiarin semaleman ya pasti jerawatan.

Duh, Cetaphil itu mahal jeh Kap…

Iya, hahaha. Saya juga ga yakin bakal beli lagi kecuali dikasih, huhuhuhu. Tapi ya gapapa, sabun cuci muka yang murah, bagus, dan cocok untuk bumil dan busui di luar sana banyak kok. Sedikit tips, coba cari yang untuk kulit sensitif. Biasanya cocok. Sekali lagi, hindari produk anti-jerawat yaa.

Berikutnya, pelembab.

Saya menggunakan Nivea Pure & Natural.

img_1096

Kenapa Nivea? Soalnya Kapkap bocahe drugstore. Alias saya mah nyarinya yang murmer aja deh, hahaha.

Nah, kulit saya ini kan kombinasi-berminyak ya. Pas hamil, alamakjang, mbladus nggak karuan *kraying* Kebetulan Nivea Pure & Natural ini emang udah saya pake dari jaman saya belum hamil dan cocok di saya. Buat yang kulitnya kombinasi-berminyak dan berminyak, saya sarankan untuk mencari produk pelembab yang water-based.

Lho, apa bedanya? Moisturizer bukannya sama ya di mana-mana?

Nggak.

Ada jenis krim dan ada jenis lotion.

Ada oil-based, ada water-based.

Bedainnya gimana?

Dari jenis kulit.

Kulit kering dan normal biasanya direkomendasikan untuk menggunakan pelembab yang oil-based dan krim. Kenapa krim? Karena krim lebih kaya kandungannya.

Kulit kombinasi-berminyak dan berminyak biasanya direkomendasikan untuk menggunakan pelembab yang water-based dan lotion. Karena kandungannya lebih ringan dan nggak ‘berat’ buat kulit apalagi menutup pori-pori dan menambah sebum/zat minyak di muka.

Lho, Kap, kamu katanya kulitnya kombinasi-berminyak, tapi itu kok pake krim di foto?

Nah, krim Nivea Pure & Natural ini memang water-based, dan jujur aja, krimnya ini… Apa ya, maghtegh (eh apa sih bahasa Indonesianya itu…) itu lah, pekat, jadi emang sebaiknya jangan dipake terlalu banyak, hahaha. Saya makenya tipis-tipis aja udah cukup banget.

Nah, untuk pelembab nih yaa… Kan BUANYAK banget tuh produk pemutih/whitening di Indonesia ya. Buat bumil dan busui, harap jangan tergoda ya; apalagi yang kulitnya kombinasi-berminyak (dan ga cuma buat bumil dan busui aja) karena produk whitening itu fungsinya meningkatkan kelenjar minyak supaya kulit ga kusam dan bersisik. Ketemu sama kulit berminyak? Tambang minyak kitah, huhuhu.

Untuk sheetmask, nah ini dia…

Ini berhubungan dengan kultweet saya panjang lebar semalem.

Jadi sheetmask itu apaan sih? Sheetmask adalah masker berbentuk lapisan tipis dari kain yang dibanjiri dengan essence perawatan kulit muka. Kasarnya, kalo pengen melembabkan muka ga mau repot pake pelembab ina inu ina inu, pake sheetmask aja udah cukup. Buat saya pribadi, sheetmask itu seperti P3K untuk kulit.

Sepulang mudik kemarin, kulit muka saya itu stres berat. Udah lah ya hamil, capek, kurang maksimal pula ngerawat kulit karena bawaan terbatas. Jadi lah itu jerawat nongol tuing tuing tiga biji, huh.

Begitu saya pulang, besoknya saya langsung merawat muka dengan menggunakan pelembab dan sheetmask teh hijau/green tea. Alhamdulillah, jerawat langsung kempes.

Masker itu ada dua tipe: Sheetmask dan clay maskClay mask ini tergolong umum ditemukan di supermarket Indonesia. Masker wajah seperti Mustika Ratu Bengkoang itu masuk ke kategori clay mask. Bisa digunakan seminggu sekali.

Sedangkan sheetmask ini tren yang baru tahun-tahun ini masuk ke Indonesia. Harganya cukup mahal, tapi ya karena memang kandungannya sangat terkonsentrat dan melembabkan secara instan. Nah, sheetmask ini bisa digunakan secara harian — bahkan ya penggiat kecantikan di Korea itu ya pake sheetmask setiap hari makanya kulitnya kinclong semua gitu.

BTW, Wira paling sebel kalo saya udah pake clay mask soalnya saya jadi nggak bisa ngomong begitu masker mengering. Sering banget saya diomelin dia, “IBU NGAPAIN SIH PAKE MASKER YANG GITU! AKU MAU NGOBROL SAMA IBU KAN JADI SUSAAAH, ABISNYA IBU NGGAK BISA NGOMOOOONG!” #ngeeeng

img_1097

Saat ini, saya sedang menggunakan sheetmask Sophie Monk dan My Beauty Diary. Aslinya saya ini hanya mengincar MBD, tapi merek ini sempet menghilang beberapa bulan di Kuala Lumpur. Akhirnya saya kepaksa deh beli Sophie Monk. Nggak lama, eh MBD nongol, hohoho~ Saya sendiri juga penasaran sama Innisfree. Insya Allah nanti lah ya, ketika stok MBD saya udah abis.

Berapa lama sih menggunakan sheetmask ini dalam sekali pakai? Sebenernya 15-20 menit itu cukup banget. Tapi saya suka ketiduran. Jadi iya, kadang semaleman juga pernah, wahahaha. Ya sebenernya gapapa juga, karena kandungan essence-nya menyerap lebih baik. Tapi ya memang jangan ditiru deh.

Lalu, sheetmask yang seperti apa yang cocok? Nah ya sama seperti memilih prduk kulit lainnya. Kenali kulit sendiri dulu. Karena kulit saya ini kombinasi-berminyak dan saya sedang hamil, jadi saya memilih produk yang ‘normal’ seperti green tea dan aloe vera yang sifatnya moisturizing dan hydrating. Yang whiteninganti-wrinkle segala macem jauh-jauh dulu deh, huhuhu.

Nah, untuk bagian ini, saya mau menjelaskan panjang lebar ya.

Kandungan sheetmask, walaupun intinya ini isinya sama saja dengan essence, secara umum JAUH LEBIH AMAN dibandingkan dengan essence, serum, dan lain-lainnya karena kandungan aktif di essence dan serum itu jauh lebih banyak dibanding sheetmask. Ini saya nggak bisa tekankan lebih keras lagi: Jadilah konsumen yang cerdas. Selalu, selalu, selalu baca kandungan bahan baku. Apabila ada yang dirasakan kurang nyaman, tanyakan ke pihak produsen atau staf CS. Rajin Google. Tanyakan ke teman yang lebih tahu. Kalau masih dirasa nggak yakin atau nggak sreg, nggak apa-apa untuk menghentikan pemakaian.

img_1098

Nah, sebagai referensi, bisa melihat artikel blog ini: NEW MOMMY BEAUTY: WHAT SKIN CARE INGREDIENTS TO AVOID WHILE PREGNANT (OR BREASTFEEDING)

Dan ingat, penulisnya sendiri menyatakan:

Personally, I am going the conservative route and avoiding ingredients that have not been proven to be safe in pregnancy. You can decide for yourself (in conjunction with your OB or dermatologist) how conservative you want to be regarding ingredients.

Jadi memang ada beberapa bahan yang dianggap “meragukan” atau masuk kategori C menurut FDA (alias belum pernah diuji secara klinis ke ibu hamil dan belum pernah ada laporan apapun mengenai gangguan kesehatan pada janin) tapi selalu ada di produk kulit. Misalnya:

Hyaluronic Acid…

Hyaluronic acid is basically the same thing as Sodium Hyaluronate. I can’t figure out how this became an ingredient that is sometimes on no-no lists, because not only does your body already make a ton of it, but is a big molecule. Huge. It is so large that it just hangs out in the spot where it is made, much to large to get into cells, to pass through membranes or travel to other locations.

Dan, Citric Acid.

You likely expose yourself to more Citric Acid in one glass of OJ than you would in a year of using such a product. I avoided it in my first 2 trimesters, but lightened up in my third trimester when I realized I was being a bit silly.

Citric acid itu mudah banget didapatkan di… Jus jeruk.

Jadi kalau memang nggak yakin, nggak apa-apa untuk konsultasi dengan dokter kandungan atau dokter kulit.

Nah, masih soal kandungan ya. Selain kandungan kategori X yang saya sebut di atas yang sebaiknya dihindari, ada juga beberapa kandungan yang juga sebaiknya dihindari dan industri kecantikan pun mulai menghindarinya, yaitu paraben, mineral oils, dan pewangi buatan.

Paraben itu apa sih? Paraben adalah salah satu zat aditif/tambahan untuk mengawetkan produk yang kita gunakan. Nah, masalahnya, paraben ini meninggalkan residu di badan yang cukup sulit atau cukup lama dikeluarkan tubuh. Takutnya, residu ini mengakibatkan efek samping yang kita nggak inginkan. Saya perhatikan, makin banyak produk kecantikan yang mulai meninggalkan paraben sebagai salah satu bahan bakunya. Sayangnya, untuk produk lokal Indonesia masih belum banyak yang seperti itu — apalagi dari para pemain besar. Semoga saja makin banyak produk kecantikan yang bebas paraben ya.

Karena topik soal paraben, nah, ini masker tidur (sleeping mask) saya.

img_1095

HWADUH KAAAP, SLEEPING MASK ITU APA LAGIIIIIII?

Hahaha, ruwet ya? Iya, saya juga awalnya bingung.

Tapi sleeping mask ini saya jadikan alternatif krim malam saya sebelum tidur.

Jadi sleeping mask ini lebih mirip krim/lotion yang bertindak seperti masker tapi bisa kita bawa tidur dan nggak perlu langsung dicuci dengan air. Baru basuh muka di pagi harinya.

Lho itu kok buat dry skin, Kap?

Nah ini dia enaknya perawatan kulit yang udah paham kulit butuhnya apa dan mengakalinya, ehe ehe *sombong deh Kapkaaap*

Karena saya tidur di ruangan ber-AC, kelembaban kulit saya juga mudah hilang. Padahal kulit saya kombinasi. Nggak enak lho, kulit kombinasi-berminyak tapi kering. Bersisik nganu gimanaa gitu. Nah, sleeping mask yang ini, karena kandungannya super kaya dan ditujukan untuk kulit kering, jadi saya jadikan aja alternatif krim malam saya yang sebelumnya itu L’Oreal yang mengandung Retinol yang terpaksa saya cuti pake, hahaha.

Jadi untuk saya, saya pakenya sedikiiit aja. Itu udah cukup banget. Plus baunya enak, bau melon, hahaha.

Nah, yang saya suka dari produk ini adalah bebas paraben.

img_1099

Tujuan saya perawatan kulit selama hamil itu ya seperti yang saya bilang di atas: Kulit bersih DAN lembab. 10-Step Korean Skincare dari 10 langkah itu saya pangkas jadi… Hmmm, 3? 4? Ini kalo pagi:

  1. Face cleansing
  2. Serum
  3. Sheetmask
  4. Moisturizer

Ini kalo malem:

  1. Face cleansing
  2. Serum (kalo inget dan kalo rajin, ehuehehe)
  3. Sleeping mask/sheetmask (tergantung pengen yang mana)

Alhamdulillah sejauh ini kulit saya makin membaik, nggak stres, dan saya juga menikmati setiap step perawatan yang saya lakukan.

Apakah saya jadi boros, terus penasaran gonta-ganti produk perawatan kulit?

Lucunya, malah nggak lho.

Sejak saya belajar soal perawatan kulit, saya jadi paham betul jenis kulit saya itu gimana dan butuhnya apa. Saya malah jadi lebih riwil kalo udah ada godaan beli produk perawatan kulit baru. “Itu bener cocok buat gw? Itu kandungannya apa? Fungsinya apa?” Saya jadi lebih kritis untuk masalah produk perawatan kulit, dan itu menolong saya (dan dompet saya) banget, hahaha.

Buat yang baru mulai belajar merawat kulit, saya mohon jangan kalap. Kayanya woelah semuaaaa mau dibeli. Kalo bisa sak toko The Body Shop atau Innisfree diborong semua. Inget kuncinya: Kenali kulit dan kebutuhan kulit. Dari situ, pelan-pelan dilihat produk yang ada di pasaran itu apa aja dan seperti apa klaimnya. Produk mahal memang biasanya bagus, tapi produk dengan harga terjangkau seperti produk drugstore dan lokal pun nggak kalah bagusnya. Nggak usah malu. Malah beberapa toko dan online shop menawarkan produk sampel yang bisa kita coba. Kalo ternyata cocok, bisa beli produknya. Kalo nggak, ya nggak apa-apa. Yang penting kan cantik bareng-bareng toh?

Jadi, nggak usah takut ya para ibu-ibu hamil dan ibu-ibu menyusui cantik dalam urusan merawat muka. Selama kita selalu bijak memilih produk, tau jenis kulit kita, dan paham kandungan (jangan takut dan jangan jiper membaca kandungan zat yaa! Berguna sekali lho!), Insya Allah kita aman dan malah bisa berbagi informasi berguna buat sesama teman dan bahkan anak-anak kita.

Dan jangan lupa, rutin minum air supaya nggak dehidrasi ya.