Why Should You Read Edgar Allan Poe?

“And yet, if he could’ve known how much pleasure and inspiration his writing would bring to generations of readers and writers alike, perhaps it may have brought a smile to that famously brooding visage.”

Advertisements

‘Tales of Mystery & Imagination’ by Edgar Allan Poe

Sekarang mau, hmmm, review (?) Gimana ya, dibilang review juga bukan kata yang tepat soalnya karya-karyanya Edgar Allan Poe ini kan karya klasik, dan gw juga ini aslinya nggak ngebahas karya-karyanya beliau. Cuma heboh sendiri soal buku ini sih, heuhe.

Jadi aslinya itu kemarin gw kan jalan-jalan ya ke area Bukit Bintang naik MRT. Area Bukit Bintang itu area mall dan pertokoan yang sebenernya semacam kebagi jadi dua; area mevvah, dan area, errrrrr, tidak mevvah.

Nah, di area mewah ini ada lah mall-mall macem Starhill Gallery (secara harafiah artinya ‘Bukit Bintang’. Star = bintang, dan hill = bukit) yang sak mall-mallnya dikarpetin dan harga parkirnya sejam sampe RM 20 (sementara mall biasa paling pol parkir sejam RM 4-5. Malah ada yang RM 1,) Pavilion Bukit Bintang yang selalu megah hiasannya setiap hari besar atau perayaan (sampe ada temen yang bilang, “hari libur lu di KL belum komplit kalo belum liat hiasan perayaan di Pavilion,” Lot 10 yang gw udah 5 tahun di sini masih belum mampir ke sana, dan di seberangnya Pavilion Bukit Bintang ini ada mall namanya Fahrenheit 88. Fahrenheit 88 ini konsepnya anak muda. Dulu, di lantai tiga, satu lantai itu isinya barang-barang berbau Jepang, dari anime, manga, sampe pakaian. Seperti teriakan terakhir J-wave di Kuala Lumpur, akhirnya sekarang jadi area perlengkapan travelling.

Nah, di Fahrenheit 88 ini ada toko buku namanya BookXcess. Familiar dengan pameran buku Big Bad Wolf? Nah, BookXcess ini semacem head group yang punya hajatan BBW. Jadi kalo misalnya lu ga sempet ke BBW atau males kepikiran rame pengunjung dan kebetulan lu di Malaysia, mampir aja ke toko buku BookXcess. Harga buku-bukunya murah banget gila. Diskonnya bisa ampun dije.

Kemarin, gw liat lah itu buku ‘Tales of Mystery & Imagination’ di etalase kan. Ya tentu aja gw tertarik lah. Rada-rada obsesi sama The Masque of the Red Death dan The Cask of Amontillado ya begini lah jadinya.

Nah. Lu liat deh tuh harganya.

Dari RM 112.99, dipangkas jadi RM 29.90. Itu bukan pertama kalinya lho diskon bikin megap-megap gitu.

Buku ini berisikan cerita-cerita pendek dan novella karya Edgar Allan Poe yang dibarengi dengan ilustrasi oleh Harry Clarke. Harry Clarke ini awalnya seniman lukis kaca (stained glass; lukisan kaca warna-warni yang biasa ada di gereja) dan menjadi salah satu perintis gerakan gaya seni melukis art nouveau; dan malah dibilang salah satu seniman yang menggabungkan gaya art nouveau, art deco, dan simbolik. Pokoknya yang mevvah, dramatis, dan lebay begitu tante sukaaaaa, hahaha.

Pertama, soal bukunya dulu ya. Bukunya ini hard cover dengan sampul kain. Macem buku-buku klasik yang di perpustakaan isinya lemari dari kayu mahogani warna gelap terus ada perapiannya gitu. Untuk tulisan judulnya baik di sampul utama dan sampul samping, dicetak emboss dengan tinta perak. Gw suka banget; kontras hitam, merah, dan putih/perak.

Ini bukunya ketika dikeluarkan dari kotak. Nggak sedramatis kotaknya, tapi ya wajar lah ya. Nyetaknya repot kali ya *sotoy*

Dibuka, udah ada satu ilustrasi yang muncul. Ini ilustrasi dari cerita ‘The Tell-Tale Heart’; menceritakan delusi dan paranoia yang dialami seseorang setelah membunuh seorang tua di rumahnya.

Gw CINTA MATI dengan ekspresi yang dilukiskan oleh Harry Clarke ini. Gambar hitam putih, sedikit “halus”, tapi rasa teror dan kesakitan baik si korban maupun si pelaku tergambar jelas. Liat deh mukanya si korban abis dibunuh dengan mata melotot, dan mata si pelaku yang macam kegilaan sekaligus teror dan ketakutan. Harry Clarke ini bisa banget mengambil esensi horor dan kegilaan Edgar Allan Poe lalu digambarkan dengan baik di lukisan-lukisannya. Ini hal yang bikin gw terobsesi dalam menggambar, sebenernya. Gw pengen banget bisa menyampaikan ekspresi dan perasaan si karakter ke publik yang melihat dengan tarikan garis seminim mungkin.

Ini jenis tulisan/typeface yang digunakan. Nggak terlalu besar, tapi nyaman untuk dibaca.

Terus liat deh itu penanda halamannya tengkorak mini gitu, heuhehe.

Nah, ini daftar isi cerita yang ada di buku ini. Jadi Tales of Mystery & Imagination ini kumpulan cerita yang bertema thriller atau horor yang dikumpulkan setelah meninggalnya Edgar Allan Poe.

Edgar Allan Poe sendiri meninggalnya dalam kondisi yang misterius. Biasanya dia tampil dengan pakaian hitam yang rapi, namun di musim gugur, bulan Oktober 1849, Edgar Allan Poe yang saat itu berusia 41 tahun ditemukan dalam kondisi tidak sadar di sebuah bar di Baltimore, Amerika. Dia ditemukan dalam pakaian acak-acakan, yang ternyata merupakan pakaian orang lain, dan nampak memar di sekujur badannya. Dia dibawa ke rumah sakit terdekat, dan selama empat hari dia berada di limbo ketidaksadaran dan igauan sebelum akhirnya meninggal.

Nah, buat para fans Sherlock Holmes — fans beneran yang udah baca novel karya Sir Arthur Conan Doyle ya — mungkin familiar dengan nama seorang detektif Perancis yang dicela Holmes di serial pertama Sherlock Holmes, ‘A Study in Scarlet’.

Sherlock rose and lit his pipe. ‘No doubt you think you are complimenting me in comparing me to Dupin, he observed ‘Now in my opinion, Dupin was a very inferior fellow.  That trick of his of breaking in on his friends’ thoughts with an apropos remark after a quarter of an hour’s silence is really very showy and superficial.  He had some analytical genius, no doubt; but he was by no means such a phenomenon as Poe appeared to imagine.

Tapi apakah Sir Arthur Conan Doyle menghina Poe di sini? Justru nggak. Conan Doyle sangat menghormati Poe, dan menyatakan, “Where was the detective story until Poe breathed the breath of life into it?” Dengan caranya sendiri, Conan Doyle menghormati Poe sekaligus memberikan batasan yang jelas antara karakter Sherlock Holmes dengan Auguste Dupin. Dupin ya punya Poe, Holmes ya punya Conan Doyle.

Kalo pengen tau kasusnya Auguste Dupin, bisa dicari di cerita The Murders in the Rue Morgue.


Sedikit cerita menarik soal The Murders in the Rue Morgue: Nobody talk about the orangutan.

have i told this story yet? idk but it’s good. The Orangutan Story:

my american lit professor went to this poe conference. like to be clear this is a man who has a doctorate in being a book nerd. he reads moby dick to his four-year-old son. and poe is one of the cornerstones of american literature, right, so this should be right up his alley?

wrong. apparently poe scholars are like,advanced. there is a branch of edgar allen poe scholarship that specifically looks for coded messages based on the number of words per line and letters per word poe uses. my professor, who has a phd in american literature, realizes he is totally out of his depth. but he already committed his day to this so he thinks fuck it! and goes to a panel on racism in poe’s works, because that’s relevant to his interests.

background info: edgar allen poe was a broke white alcoholic from virginia who wrote horror in the first half of the 19th century. rule 1 of Horror Academia is that horror reflects the cultural anxieties of its time (see: my other professor’s sermon abt how zombie stories are popular when people are scared of immigrants, or that purge movie that was literally abt the election). since poe’s shit is a product of 1800s white southern culture, you can safely assume it’s at least a little about race. but the racial subtext is very open to interpretation, and scholars believe all kinds of different things about what poe says about race (if he says anything), and the poe stans get extremely tense about it.

so my professor sits down to watch this panel and within like five minutes a bunch of crusty academics get super heated about poe’s theoretical racism. because it’s academia, though, this is limited to poorly concealed passive aggression and forceful tones of inside voice. one professor is like “this isn’t even about race!” and another professor is like “this proves he’s a racist!” people are interrupting each other. tensions are rising. a panelist starts saying that poe is like writing a critique of how racist society was, and the racist stuff is there to prove that racism is stupid, and that on a metaphorical level the racist philosophy always loses—

then my professor, perhaps in a bid to prove that he too is a smart literature person, loudly calls: “BUT WHAT ABOUT THE ORANGUTAN?”

some more background: in poe’s well-known short story “the murder in the rue morgue,” two single ladies—a lovely old woman and her lovely daughter who takes care of her, aka super vulnerable and respectable people—are violently killed. the murderer turns out to be not a person, but an orangutan brought back by a sailor who went to like burma or something. and it’s pretty goddamn racially coded, like they reeeeally focus on all this stuff about coarse hairs and big hands and superhuman strength and chattering that sounds like people talking but isn’t actually. if that’s intentional, then he’s literally written an analogy about how black people are a threat to vulnerable white women, which is classic white supremacist shit. BUT if he really only meant for it to be an orangutan, then it’s a whole other metaphor about how colonialism pillages other countries and brings their wealth back to europe and that’s REALLY gonna bite them in the ass one day. klansman or komrade? it all hangs on this.

much later, when my professor told this story to a poe nerd friend, the guy said the orangutan thing was a one of the biggest landmines in their field. he said it was a reliable discussion ruiner that had started so many shouting matches that some conferences had an actual ban on bringing it up.

so the place goes dead fucking silent as every giant ass poe stan in the room is immediately thrust into a series of war flashbacks: the orangutan argument, violently carried out over seminar tables, in literary journals, at graduate student house parties, the spittle flying, the wine and coffee spilled, the friendships torn—the red faces and bulging veins—curses thrown and teaching posts abandoned—panels just like this one fallen into chaos—distant sirens, skies falling, the dog-eared norton critical editions slicing through the air like sabres—the textual support! o, the quotes! they gaze at this madman in numb disbelief, but he could not have known. nay, he was a literary theorist, a 17th-century man, only a visitor to their haunted land. he had never heard the whistle of the mortars overhead. he had never felt the cold earth under his cheek as he prayed for god’s deliverance. and yet he would have broken their fragile peace and brought them all back into the trenches.

my professor sits there for a second, still totally clueless. the panel moderator suddenly stands up in his tweed jacket and yells, with the raw panic of a once-broken man:

WE! DO NOT! TALK ABOUT! THE ORANGUTAN!

Lanjut~ Berikut adalah beberapa ilustrasi dari cerita favorit gw. Monggo~

Gw juga perhatiin ya, ada lukisan karya Harry Clarke ini yang mengingatkan gw dengan karyanya Etsuko Ikeda di Pengantin Demos (Deimosu no Hanayome).

Perhatiin deh detail dari ilustrasi-ilustrasinya ini. Keren abis.

Buku ini bakal jadi referensi gw banget untuk ilustrasi, dan gw belajar banyak dari sini.

A Monk’s Guide to a Clean House and Mind

Waktu di Singapura, gw dipinjemin buku sama Budi beserta ucapan, “nih Kap, kamu kan bocahnya Konmari.” (tautan: “Plus dan Minus Konmari” dan “Membuang “Beban”“)

IMG_4401.jpg

Kalo Konmari itu seperti ilmu turunan dari Zen (karena Marie Kondo dulunya pendeta Zen), A Monk’s Guide ini bener-bener ditulis oleh pendeta Zen Buddhist yang masih aktif. Shoukei Matsumoto, menurut biografi sekilas di bukunya, adalah biksu Buddha di kuil Komyoji, Tokyo.

Gw pecinta konsep Konmari — there, I said it.

Tapi gw harus jujur juga, kalo lu dateng atau ngelihat rumah gw, kesan yang ada itu jauh dari kesan Konmari yang, apa ya… Minimalis (?) Sepertinya kalo abis baca buku Konmari itu, rumah bakal minimalis banget kan ya? Atau minimal barang-barang kebutuhan dasar dan memento yang memang kita sayang dan bikin hepi.

Mungkin bisa dibilang, gw ini contoh kasus Konmari yang sudah berkeluarga, hahaha. Ada lah sisi plus minusnya untuk mengaplikasikan sistem Konmari di dalam rumah tangga gw, terutama soal barang-barang, ehem, mainan yang menumpuk; tapi gw pribadi sangat suka dengan konsep Konmari: “Does this sparks joy?

A Monk’s Guide ini satu level di atas Konmari. Bener-bener ngomongin soal basic necessities (kebutuhan dasar) yang memang menurut paham Buddhisme, untuk meninggalkan atau melepaskan diri dari ikatan material duniawi. Barang-barang duniawi yang ada di sekitar lu itu digunakan hanya untuk membantu lu mendapatkan pencerahan dan ketenangan jiwa.

Tapi bukan berarti gaya para biksu Buddha itu macam gaya spartan yang kaku dan saklek-fungsi-doang. Estetika Buddhisme itu muncul lah dalam bentuk Zen; semua indah menuruti apa kata alam. Nggak maksa gitu lho. Kalo dulu suka ngetawain ketika Biksu Tong ngomong “kosong adalah isi, isi adalah kosong,” pas nonton Kera Sakti di Indosiar, pas udah tua gini ya baru paham oh itu maksudnyaaaa, hahaha. Sesuatu yang kayanya “kosong” hah-apaan-ini-gini-doang-tampilannya bisa jadi penuh arti dan bikin jiwa tenang ketimbang huru hara heboh ga ada juntrungnya tapi jiwa kosong.

//ahzeg

//edisi kapkap bijak

Jadi A Monk’s Guide ini bisa dibilang, buat gw, melengkapi metode Konmari. Kalo Konmari itu soal merapikan dan menghilangkan barang-barang yang ga perlu/ga dibutuhkan/malah bikin sedih dari hidup kita (singkatnya, bikin lu ga masuk episode ‘Hoarders’ di channel TLC), A Monk’s Guide ini mengajarkan cara membersihkan dan menjaganya. Jadi ketika rumah udah rapi nih, karena metode Konmari, nah, lihat lah itu rumah rapi sebagai status quo. “Seharusnya rapi terus seperti ini. Ayo, dijaga.” Masuk lah A Monk’s Guide.

A Monk’s Guide ini obsesinya ke membersihkan/cleaning process itu… keterlaluan obsesifnya. Sebenernya nggak heran — seperti kata Budi, “harus diinget kalo penulisnya ini biksu. Mereka punya gaya hidup dan alur hidup yang berbeda dari kita, orang-orang biasa” — karena ya mereka memang memahami bahwa lingkungan yang bersih dan rapi membuat hati bersih dan rapi juga. Hati yang bersih dan rapi terpancar dari lingkungan yang bersih dan rapi.

Sampe Shoukei Matsumoto berkomentar di bukunya, “ketika memasak, jangan lupa untuk menutup laci atau lemari dapur. Membiarkan laci atau lemari dapur terbuka, menggambarkan hati yang kacau dan nggak tenang.” Itu kaya… Eh lah buset lemari doaaaang gitu kan. Ya bukunya emang begitu isinya. Filosofis.

Seperti Konmari, gw tergila-gila dengan konsep A Monk’s Guide ini.

Proses bersih-bersih/cleaning itu meditasi. Cleaning process is a purgatory process; it’s not mere cleaning to have your place looked nice. Cleaning process is a process to create a place to called home for you to have a good rest and have a calm and happy soul.

I have mild anxiety, so naturally I am crazy about this… calm-yo-ass methods.

Gw udah bilang kan kalo A Monk’s Guide ini rada obsesif?

Di bukunya juga ditulis kalo lebih baik menggunakan peralatan tradisional yang mungkin akan sedikit memakan waktu ketimbang barang-barang modern instan. Argumennya adalah, supaya kita bisa menikmati dan menjalani proses ketimbang buru-buru berharap semua cepet selesai.

Satu sisi gw yang “hell yea!“, satu sisi gw yang “ain’t nobody got time for that.” Jadi memang buku ini musti dibaca dengan… apa ya, memahami kondisi lu sebagai pembaca. Lu harus paham kondisi lu sendiri, gimana situasi lingkungan lu, gimana gaya hidup lu, gimana kondisi emosional dan kejiwaan lu, dan gimana kondisi keuangan lu. Dari situ, coba cari hal-hal yang bisa lu lakukan dan yang lu ga bisa lakukan. Mau totalitas ya monggo, mau nggak ya gapapa. Ini toh bukan kompetisi siapa punya rumah paling bersih sak dunia toh.

Buku ini gw baca langsung kelar sewaktu di Singapura, dan gw pengen beli bukunya, hahaha. Insya Allah cari di Kinokuniya ah. Semoga ada di Kinokuniya Malaysia sini.

Buku ini gw rekomendasikan untuk sesama pecinta metode Konmari dan orang-orang yang mungkin pengen tau metode bersih-bersih yang masuk ke ranah filosofis. Ini macem, hmmmmm, “bersih-bersih secara khusyu” gitu lah, hahaha.

Dongeng Sebelum Tidur?

Beberapa hari lalu, gw bacain buku cerita ke Wira sebagai salah satu bagian ‘ritual’ sebelum tidur.

Yang biasanya standar lah ya macem Thomas the Tank Engine, kali ini dia minta dibacain cerita dari buku kumpulan kisah ajaib Enid Blyton (bahasa Inggris). Mulai lah dengan, “once there was a little girl who doesn’t believe in fairies…

“Ibu. What is fairy[ies]?”

Oke.

Gw… melotot.

ANAK GW GA TAU APA ITU PERI?

SEMENTARA EMAKNYA DIE-HARD FAN MONSTER LOCH NESS?

Tapi ya gimana ya.

Dengan akses informasi yang begitu cepat dan hebat saat ini, anak-anak itu ya melihat dunia mereka it is as it is. Ciri khas Enid Blyton dalam membuat cerita adalah bagaimana dia menggabungkan dunia manusia dengan dunia peri dan fantasi. Kaya… Ada hal-hal yang dilakukan oleh manusia yang ternyata berpengaruh ke peri, dan itu ga disengaja. Seperti sepatu tua yang dibuang deket sungai, eh ternyata jadi tempat tinggal kurcaci. Hal kaya gitu-gitu itu lho yang udah mulai ga ada di literatur dan bahan tontonan anak. Yang gw liat, lebih kaya pemisah jelas “oh ini dunia nyata” dan “oh ini fantasi.”

“Ngenalin peri gitu bisa lewat serial Sofia the First kan?”

Ya dan nggak.

Ya, karena dunia Sofia itu dunia sihir. Ada pegasus, penyihir, dan segala macem.

Tapi nggak, karena anak ngeliatnya ya “itu ga nyata. Itu hanya di TV” (anak jaman sekarang yeeee cepet bener dewasanya.)

What I want to do is for my children to believe there are some magical mischievousness around them.

Ngajarin takhayul? Bikin percaya yang ga logis?

Mungkin.

Mungkin.

I’m treading on a really thin line here. Tapi gw pengen anak-anak gw punya imajinasi dan pemahaman bahwa dunia ini ga terbatas hal-hal material yang mereka bisa pegang. Think Ghibli’s ‘Sen to Chihiro’/’Spirited Away’. THAT kind of moment where dream and reality collides.

Lalu gw mulai berpikir untuk mengenalkan anak-anak gw ke dongeng-dongeng klasik; dan dongeng klasik itu pasti ya nyebut salah satu nama: Grimm.

Dan jujur, gw ragu-ragu, men.

Mungkin sebab kenapa gw belum kenalin dongeng ke anak-anak karena… I know how fucked up those fairy tales are (?)

Bahkan yang udah versi Grimm, itu tetep sengklek. Misalnya, kisah The Frog King. SIAPA YANG BILANG ITU KODOK JADI PANGERAN BEGITU DICIUM HAH? HAH? Aslinya itu kodok dilempar ke dinding sama si putri saking muntabnya barulah *jreng* berubah jadi pangeran; and to be fair, that frog is definitely a fuccboi. Selain minta jadi “playfellow and companion,” juga minta:

  1. Duduk di meja dan kursi yang sama.
  2. Makan dari piring yang sama.
  3. Minum dari cangkir yang sama.
  4. TIDUR DI TEMPAT TIDUR YANG SAMA.

ALL THAT ONLY TO GET A FREAKING GOLDEN BALL FROM A POND.

Ga heran banyak cowok brengsek yang self-entitled jerks. “Gw kan udah nolong lu! Lu harus jadi pacar gw dong!” Esianjing minta ditempeleng. Udah bagus itu putrinya cuma lempar ke dinding; ga sekalian dijiret lalu dipotong jadi delapan jadiin swikee.

Makin gw baca dongeng-dongeng Grimm, makin gw jengkel. Ada pula ini raja tua yang sampe ngelarang penasehatnya nunjukin lukisan cewek ke anaknya karena si raja tau kalo sampe anak ini liat itu lukisan, langsung kepincut dan lupa ngurusin negara.

And when the prince actually saw the painting, he fainted.

PENGSAN BELIAU.

BARU LIAT LUKISAN. PENGSAN.

Terus ngabisin harta negara lima ton emas buat hadiah ke putri yang bahkan si putri ini ga kenal dia dan ga tau dia siapa SITU SEHAAAAAAATTTTT? HHHHHHHHH.

TERUS PUTRINYA DICULIK DONG.

DICULIK.

ALESANNYA?

“WA SUKA SAMA LU LOL”

TEMPELENG NIH TEMPELENG.

(maramara baca buku dongeng Grimm)

Temen gw sih ngasih saran, untuk ngenalin dongeng ke anak itu mungkin berdasarkan area geografis dulu. Jadi, misalnya, legenda rakyat Rusia, lalu mitos dan legenda Afrika, lalu kisah rakyat Indonesia. Jadi dari situ, ketika udah cukup umur, baru lah masuk ke yang spesifik macem Grimm dan Hans Christian Andersen.

‘Edgar Allan Poe’s Tales of Death and Dementia’ – illustrated by Gris Grimly

Buat yang suka ngebaca karya klasik — terutama horor klasik — biasanya “kenal” dengan Edgar Allan Poe. Beliau ini adalah pengarang beberapa cerita horor klasik seperti ‘The Masque of Red Death’, ‘The Cask of Amontillado’, dan puisi ‘The Raven’.

Dibilang horor supranatural ya nggak juga. Bukan horor macem ketemu vampir, jaelangkung, atau pocong. Lebih ke… Apa ya, horor yang disebabkan oleh pikiran kita sendiri.

Banyak kritikus yang berspekulasi bahwa Poe sendiri mengalami gangguan mental seperti schizophrenia atau depresi, makanya karya-karyanya dia ya seperti itu; tema utamanya adalah kegilaan.

And it’s pretty horrific, really.


Saya menyukai karya-karya Edgar Allan Poe karena alasan itu: Horor yang kita alami sumbernya dari pikiran kita sendiri. The monster lies within us. Jadi ketika saya melihat novel grafis ini — eh, ini novel grafis bukan ya? Lebih ke novel dengan ilustrasi yang banyak sih. Err, buku bergambar? — saya langsung tertarik.

Dan dari buku ini juga saya tertarik dengan ilustratornya: Gris Grimly.

Mungkin, mungkin ya, kalau Poe masih hidup dan bertemu Gris, dia akan senang sekali, hahaha. Lukisan Gris Grimly itu… Ekspresif. Sangat ekspresif. Malah di beberapa karya, tampak sangat cute. Dia ini ilustrator yang SANGAT cocok untuk cerita-cerita dongeng klasik versi belum disensor Grimm Brothers, hahaha. 


Saya sebenernya pengen foto bagian dalam buku ini lebih banyak, tapi saya nggak nyaman dengan kemungkinan menyebarluaskan hak cipta tanpa ijin. Jadi seadanya ya.

Di buku ini, karya-karya Poe yang diangkat adalah:

  1. The Tell-Tale Heart
  2. The System of Doctor Tart and Professor Fether
  3. The Oblong Box
  4. The Facts in the Case of M. Valdemar

Saya sebenernya agak kecewa karena nggak ada cerita ‘The Cask of Amontillado’ dan ‘The Masque of Red Death’ — ‘The Cask of Amontillado’ sendiri saya baca pertama kali di majalah BOBO (kalo dipikir-pikir, morbid juga ya majalah anak-anak nerbitin cerpen orang ngebunuh dengan cara dikubur idup-idup…)

Nah, tapi bukannya buku ini terus jadi buku yang saya nggak suka ya. Justru cerita yang saya suka banget itu ada dua: ‘The Oblong Box’ dan ‘The System of Dr. Tarr and Professor Fether’. Sedikit bocoran, cerira ‘The System of Dr. Tarr and Professor Fether’ ini saya rasa menginspirasikan film ‘Shutter Island’ yang dibintangi Leonardo DiCaprio.


Ilustrasi Gris yang ekspresif dan tegas ini yang membuat saya menikmati karya Poe lima kali lipat. Apabila selama ini saya hanya bisa membayangkan seperti apa kejadian yang ditulis, ilustrasi Gris membantu saya membentuk visual horor yang saya selama ini nggak bisa bayangkan. Sangat direkomendasikan untuk pecinta karya-karya Edgar Allan Poe maupun pecinta buku bergambar dan novel grafis.


The lunatics have most undoubtedly broken loose” — The System of Dr. Tarr and Professor Fether.