RM ‘Selera Nusantara’: Kangen Lontong Sayur di Tanah Seberang

Sewaktu kami sekeluarga bersiap pindah ke Malaysia, saya sempet ngobrol dengan teman saya. Jujur, saya gugup sekali karena pindahan ini adalah pertama kalinya saya tinggal di luar negeri. Ari, yang sebelumnya pernah tinggal di Singapura selama 2 tahun, menenangkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi ya… *hahaha*

Teman saya ini berkata satu hal yang saya ingat terus. “Kewarganegaraan itu cukup di dompet atau di tas aja, Kap. Untuk lidah, ikutin apa yang ada.

Temen saya itu ngomong begitu bukannya tanpa alasan. Dia pernah tinggal di Swedia selama beberapa tahun dan dia bercerita bagaimana dia belajar mengenali rasa dan masakan khas Swedia yang, tentu saja, JAUH BANGET dari kuliner berbumbu khas negara tropis seperti Indonesia.

Kalo gw ngikutin maunya gw sebagai orang Indo, gw keburu modar…

Jadi ya maksudnya dia, cukuplah kebanggaan sebagai orang Indonesia itu tertera di paspor atau KTP di dompet atau tas. Jangan langsung ya sok gengsi nggak mau nyobain makanan negara lain — apalagi kalo kita emang berniat berdiam di negara itu untuk waktu yang lama. Rugi hidup.

Itu lah yang saya pegang sampai sekarang. Apakah rasa masakan Malaysia berbeda? Oh ya tentu saja. Masakan Malaysia bergantung pada rasa bumbu dan nggak terlalu banyak menggunakan gula dan garam. Untuk sambal pun berbeda.

Apakah saya menikmatinya? TENTU SAJAAAA, hahahaha. Favorit saya dalam kuliner Malaysia adalah makanan ala kopitiam. Terutamanya roti bakar/panggang dengan selai kaya dan butter, disambung teh tarik panas atau Milo ais. Sedaaaaap! Untuk seafood, aduh musti lah itu mampir ke kota-kota kecil di sepanjang garis pantai seperti Port Dickson, Kuantan, ataupun Kerteh. Jangan lupa obat anti alergi atau kolesterol, hahaha.

Nah, tapi ya tentu saja lidah Indonesia punya rasa kangen dengan kuliner Indonesia, bukan? Menariknya, makanan ayam penyet khas Indonesia lagi menjamur di KL lho saat ini. Banyaaak restoran ayam penyet di sini. Dari ‘Ayam Penyet Best’ sampai ‘Ayam Penyet Nyet Nyet’. Jangan salah, restoran yang cukup beken di Bandung, ‘Cibiuk’, juga punya empat cabang di Malaysia.

Salah satu masakan Indonesia yang Ari dan saya sama-sama kangen itu… Lontong sayur.

Jadi ketika satu hari Ari melihat foto lontong sayur di grup WhatsApp dia yang beranggotakan orang Indonesia di KL, dia tertarik.

“Di mana itu, oom?”

“Di Selera Nusantara. Area Kampung Bahru.”

Kampung Bahru ini lokasinya deket banget dengan Chow Kit yang notabene disebut sebagai ‘Kampung Indonesia’ karena, iya, banyak orang Indonesia di situ.

Jadi minggu lalu dan barusan ini nih — iya, dua kali, hahaha — kami makan lontong sayur di ‘Selera Nusantara’.


Tempat makannya lebih mirip warung kaki lima dengan menu sederhana: lontong sayur, mie bakso, soto mie, dan gorengan. Rata-rata tempat makan di deretan Kampung Bahru memang bentuknya seperti itu. Jadi ketika ingin berkunjug ke sini, harus sedikit lebih awas matanya untuk mencari tempat makan ini. Lokasinya persis berseberangan dengan Nuri’s Seafood.


Ibu yang berjualan juga orang Indonesia. Beberapa kali saya dengar dia mengobrol dalam bahasa jawa. Tapi kalo ngobrol sama saya, entah kenapa logatnya berubah sedikit melayu, hahaha. Mungkin ibu ini memang sudah lama berdiam di Malaysia sehingga logatnya pun tercampur.


Lontong sayur yang disajikan… Bagaimana ya, ini campur aduk antara perasaan kangen tanah air, nostalgia, dan “OMG LONTONG SAYUUUURRR! OMG TEH BOTOL DALEM BOTOL BENERAAAAN!” Hahaha. Jadi kalo ditanya enak atau tidak, jawaban anak rantau ini ya “ENAK SEKALI!” Hahaha. Favorit saya? Dan memang selalu menjadi favorit saya, adalah kerupuk yang sedikit terendam dalam kuah lontong sayur. Agak lembek namun masih ada bagian renyah yang terkena gurihnya kuah.

Nah, namanya juga berdagang makanan di Malaysia ya, ada satu menu khusus yang memang nggak bisa ilang walaupun di tempat makan yang menyajikan makanan Indonesia sekalipun: Nasi lemak.


Wira malah selalu memilih makan nasi lemak di sini, hahaha. Dia sangat suka dengan teri gorengnya. Kadang dia menyicipi lontong sayur dari piring saya, tapi dia lebih memilih nasi lemak — walaupun minumnya ya tetap: Teh Botol Sosro, hahaha.

Selain lontong sayur, favorit kami adalah gorengannya. Ari memilih bala-bala/bakwan, saya memilih cempedak goreng.

Bala-bala favorit Ari

Cempedak goreng. Sedap!

Bala-bala dimakan bersama dengan kuah lontong sayur, uiih, sedapnya! Lalu ditutup dengan Teh Botol Sosro dingin dan cempedak goreng masih hangat baru digoreng. Kenyaaaang, hahaha. Nggak kalah deh dengan sarapan gaya barat di deretan kafe di Bangsar.


Jadi buat yang kangen makanan Indonesia, ‘Selera Nusantara’ ini patut lah dicoba.

Selera Nusantara
16-32, Jalan Raja Uda, Kampung Baru, 50300 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur
017-233 3438

Jam buka: Setiap hari 07:00 – 19:00

Advertisements

Restoran Hasilath Food Corner, KL: Warung Mamak Akhir Pekan

IMG_0535

Di Malaysia, ada istilah “warung mamak” untuk menyebut tempat makan yang biasanya buka 24 jam dan menyajikan variasi makanan berupa nasi lemak, roti canai, cendol, rojak, dan lain sebagainya. Dari kuliner khas melayu berupa nasi lemak, kuliner khas india dengan roti canai dan murtabak (martabak) komplit dengan kari, hingga kuliner cina berupa mee goreng dan bihun goreng. Kalau di Indonesia, mungkin mirip dengan warung bubur kacang ijo (warung burjo) atau warung Indomie yang buka 24 jam juga.

Kenapa disebut “mamak”? Diambil dari arti kata “mamak” yang berarti “emak”/”ibu”, warung mamak (atau biasa disebut “mamak” saja oleh orang Malaysia) ini dianggap tempat membeli makanan bernuansa bikinan rumah. Seperti dimasak ibu di rumah. Warung mamak ini dianggap seperti gudangnya comfort food kuliner Malaysia, dan memang isinya comfort food semua, hahaha.

Restoran Hasilath ini tempat yang rutin kami datangi setiap akhir pekan. Kalau nggak Sabtu ya Minggu. Kalau pagi, selalu penuh dengan keluarga dan pesepeda. Kalau hari biasa, biasanya pagi hari dipenuhi dengan karyawan kantor atau toko yang mampir untuk sarapan nasi lemak dengan teh ais. Menjelang siang, ramai pula dengan karyawan dari perkantoran sekitar. Masuk sore hari (tea time), penuh dengan karyawan yang nongkrong selepas pulang kantor untuk menikmati segelas teh tarik dan mengobrol. Masuk malam hari, cukup bervariasi: Ada anak-anak muda ikut nongkrong beserta keluarga yang anak-anaknya mungkin masih ingin menikmati makan larut malam (supper).

IMG_0538

Malaysia sebagai negara bekas kolonial Inggris mengenal LIMA waktu makan berbeda lho, hihihi. Sarapan, makan siang/makan tengah hari, waktu minum teh (tea time), makan malam, dan makan larut malam (supper).

Tadi pagi kami menikmati sarapan-makan siang (brunch) di Hasilath. Awalnya sih pengennya sarapan saja, tapi kami rupanya agak kesiangan tiba di sana sehingga parkiran sudah penuh. Terpaksa lah memutar dan muternya itu jauh banget, hahaha. Sampai di Hasilath kira-kira pukul setengah 11 pagi, jadi lah dianggap sebagai brunch saja.

Hasilath yang terletak di jalan Gurney ini konon tersohor oleh rojaknya. Rojak Malaysia ini berbeda sekali dengan rujak khas Indonesia. Rujak khas Indonesia biasanya berupa rujak buah; sementara rojak Malaysia ada dua tipe: rojak biasa atau rojak buah. Nah, rojak biasa ini biasanya isinya adalah… Gorengan. Gorengan yang disiram saus kacang. Kadang bisa ditambahkan mi (mee rojak) atau potongan cumi/sotong (rojak sotong). Nah, rojak sotong ini awam ditemui di Penang.

Selain rojak, Hasilath juga terkenal dengan cendolnya. Cendol di Malaysia ada berbagai variasi: Ada yang menggunakan pulut/ketan manis gurih, ada yang menggunakan tapai/tape, ada yang menggunakan durian, dan malah ada kombinasi tiga-tiganya.

Nah, kami memesan… Bukan cendol dan bukan rojak, hahaha. Untuk cendol, baru tersedia di Hasilath di atas jam 9 pagi. Tapi walopun kami datang jam setengah 11, kebetulan lagi kurang berselera untuk membeli cendol (nah lalu sekarang saya malah jadi pengen cendol pulut, hahahaha.)

Seperti biasa, pesanan kami dibuka dengan dua set telur tiga suku masa. Tiga suku masa itu artinya tiga perempat matang. Kenapa tiga suku masa? Karena kalau separuh matang/setengah matang, masih terlalu encer untuk Wira dan Ari. Telur yang disajikan biasanya dicampur dengan kecap asin dan taburan lada supaya gurih.

IMG_0539

IMG_0540

Nah, telur separuh masa ini beken luar biasa di Malaysia. Budaya memakan telur separuh masa ini mungkin seperti kita makan tempe tahu ya di Indonesia. Karena tuntutan pasar, makanya rata-rata telur di Malaysia ini sudah ada tambahan Omega-3 dan/atau kolesterol rendah.

Selepasnya, Ari memesan Maggi mee goreng. Nah, ini lagi juga menarik. Walaupun Indomie dan Mie Sedaap juga cukup terkenal di Malaysia, Maggi berusaha memantapkan posisi mereka sebagai penguasa industri mie instan di sini. Menariknya, cukup jarang lho (atau mungkin malah ga ada?) produk mie goreng dari Maggi. Jadi yang digunakan ya Maggi kuah lalu digoreng bersama bumbu dan sayuran. Nah, Hasilath ini baru beberapa bulan ini punya sajian Indomie Goreng juga, hahaha. Lumayan ya untuk menghilangkan rasa kangen ke tanah air.

Maggi mee goreng (dan Indomie Goreng juga) yang disajikan biasanya ditemani dengan jeruk nipis/jeruk limo (jeruk kasturi). Tujuannya untuk menambah rasa (menyerlahkan rasa) mi goreng dan memberikan rasa segar dan sedap di mulut. Cobain deh, memang enak rasanya.

IMG_0545

Saya sendiri memesan bihun goreng Singapura. Sebenernya pengen pesen Indomie Goreng, tapi takutnya si adek di perut protes, hahaha.

IMG_0543

Wira, selesai menyantap telur rebusnya dan ditemani teh aisnya…

IMG_0547

… Memesan roti Milo.

IMG_0549

Roti Milo ini… Ah, sudahlah. Mungkin butuh satu entri blog untuk menyanyikan puja dan puji terhadap roti Milo ini. Adonan roti canai ditaburi Milo banyak-banyak lalu dilipat dan dipanggang, menghasilkan Milo yang meleleh dan berkaramel di pinggirannya.

IMG_0552

Biasanya sih disajikan dengan kari, walaupun mungkin agak aneh untuk kita ya, hahaha. Tapi dimakan dengan kari pun tetap enak. Dimakan begitu saja? Sedap sekali!

IMG_0546

Suasana di restoran Hasilath ini cukup nyaman. Pengunjung bisa memilih untuk duduk di luar ataupun di dalam. Bagian dalam pun sebenarnya nggak tertutup juga, jadi sirkulasi udara lumayan bagus. Rata-rata staf pelayan dan tukang masak berasal dari India dan/atau Bangladesh dan komunikasi mereka sangat bagus dalam bahasa Melayu dan Inggris sehingga nggak ada masalah berarti apabila pengunjung ingin memesan hidangan.

Restoran Hasilath Food Corner beralamat di:
No. 2A Jalan Gurney, Kuala Lumpur 54100, Malaysia

Jam beroperasi:

SETIAP HARI 24 jam

TAPAK Urban Street Dining: Jom Makan!

IMG_0515

Di area KLCC, tepatnya di sebelah hotel Corus, ada lahan parkir terbuka yang dulunya hanya berfungsi sebagai, yaaaa, lahan parkir. Nah, akhir-akhir ini, terpampang tulisan besar ‘TAPAK: Urban Street Dining‘ (TAPAK, A Spot Where Food Trucks With Great Food Are Gathered In One Place), dan malamnya area lahan parkir itu tampak rame sekali dengan berbagai macam food truck dan pengunjung yang duduk sambil menikmati makanan yang tersedia.

Food truck itu apa sih? Mulai beken di banyak kota di dunia, food truck itu sebenernya sama seperti penjual kaki lima; atau yang di Indonesia kita kenal dengan gerobak kaki lima. Bedanya ya di transportasinya yang menggunakan truk. Di truk tersebut tersedia dapur yang sesuai dengan kebutuhan si penjual dan ukurannya jelas lebih luas dan lebih lebar daripada gerobak kaki lima. Nah, food truck ini beken di kota-kota di barat dan sekarang mulai memasuki pasar asia. Makanan yang disajikan juga sama beragamnya; dari makanan cepat saji seperti macaroni and cheese sampai ayam panggang dan minuman kopi. Warung berjalan lah, istilahnya, hahaha.

Barusan sore ini Ari mengajak kami untuk makan malam di TAPAK. Iya, saya hari ini sudah melahap dua potong kanafah, dan iya, saya sempet berjanji untuk makan malam dengan makaroni dan salad saja. Tapi…

Ah, tak apa lah, hanya hari Sabtu ini saja, hahaha.

TAPAK ini dibuka dari pukul 6 sore sampai pukul 12 malam (untuk yang khawatir dengan waktu Maghrib, waktu adzan Maghrib di KL sekitar pukul setengah 8 malam. Jadi kalo datang jam 6, Insya Allah masih bisa nyusul waktu Maghrib di masjid Asy-Syakirin KLCC) dan sebaiknya sih, datangnya dari jam 6 sore saja. Karena begitu jam 7-7.30, itu sudah RAMAI SEKALIIIIII. Rupa-rupanya respon dari pengunjung dan warga KL sangat positif dan antusias terhadap area publik dan terbuka seperti TAPAK ini, sehingga nggak heran kalo jam 7 malam itu pengunjung udah membludak.

IMG_0513

Saat kami tiba di lokasi, sudah ada cukup banyak food truck berdatangan dan siap-siap buka melayani pengunjung. Seperti biasa, kami… G A L A U.

Aduh, mau yang mana… Ada sate, ada burger, ada sandwich, ada mac n’ cheese, ada churros, ada nasi ayam, ada tiramisu, ada coconut shake, ada– ada…

IMG_0514

Untungnya kami termasuk awal datang, sehingga masih bisa mendapatkan tempat duduk. Kami duduk sambil melihat sekeliling, lalu saya memutuskan untuk membeli Mac n’ Cheese Ball, hahaha (salad? Apa itu? HAHAHAHAHAHAHA– hiks *menatap timbangan*)

Untuk tempat duduk, jangan khawatir. Pihak pengelola TAPAK menyediakan meja kursi plus tempat sampah di banyak titik sehingga kebersihan dan kenyamanan tetap terjaga. Bahkan ada lampu-lampu terpasang cantik sekali lho, hahaha.

Ari memutuskan untuk membeli ayam goreng kunyit campur sotong (cumi-cumi) dari tempat favoritnya, Mat Rock. Mat Rock ini memang food truck yang secara rutin mangkal di depan Suria KLCC (di sebelah gedung Lembaga Getah) dan mereka ini spesialisasi ayam goreng PUEDESH bener. Versi default ayam goreng mereka itu memang bumbunya pedes; nah kalo mau minta tambahan sambal bisa banget sih. Sambel cabe rawit. Gila kebayang ga tuh pedesnya… Tapi rasanya? Sedap!

IMG_0520

Wira agak galau, hahaha. Dia antara pengen nasi ayam (ada butter chicken rice) atau sate ayam, dan akhirnya dia memutuskan untuk makan sate ayam dengan nasi impit. Nah, sate ala Malaysia ini sedikit berbeda dengan sate khas Indonesia. Sate Malaysia biasanya sudah direndam bumbu kunyit dan diungkep sehingga rasa bumbunya mencolok sekali (berbeda dengan sate khas Indonesia yang biasanya berupa daging mentah dibakar setelah dicelupkan sekilas ke saus kecap). Dimakan dengan saus kacang dan nasi impit serta beberapa potong ketimun.

IMG_0519

Saya sudah kadung pengen banget Mac n’ Cheese Ball. Biasanya kan mac n’ cheese itu disajikannya ya… Begitulah. Pasta disiram keju. Nah, ini pasta yang sudah diberi saus keju dimampatkan dan dibentuk menjadi bola lalu digoreng. Disajikan dengan saus keju dan saus sambal bila suka. Ada pilihan daging ayam atau daging sapi sebagai tambahan. Saya memesan tambahan daging ayam dan rasanya itu menarik lho. Saya yakin daging ayamnya itu diberi bumbu, tapi saya nggak tau bumbunya apa. Rasanya wangi dan ada sedikiiiiit rasa kopi. Rasa mac n’ cheese yang biasanya “keju doang” jadi lebih sedikit berwarna dengan variasi bumbu khas yang gurih dan wangi.

IMG_0523

IMG_0525

Untuk menghilangkan rasa haus dan sumuk, saya memesan Green Tea Latte. Rasa teh hijau yang biasanya agak pahit kali ini diberikan rasa manis legit dan wangi khas teh hijau. Susu yang ditambahkan ternyata nggak bikin eneg sama sekali (dan yang ngomong ini ibu hamil lho, hahaha) dan rasanya seger sekali diminum dingin-dingin saat udara KL sedang panas-panasnya.

IMG_0517

Saya harus bilang ya, Malaysia ini porsi makanannya besar-besar dan banyak-banyak lho, hahaha. Masalah terbesar? MURAH. Untuk di TAPAK ini, mac n’ cheese harganya RM 9. Untuk green tea latte, RM 6. Untuk nasi dengan ayam goreng kunyit punya Ari, harganya RM 9 (sudah dengan sotong dan telur). Untuk sate ayam dengan nasi impit, harganya RM 10. Untuk dibandingkan dengan tempat lain mungkin memang sedikit lebih mahal, tapi dengan suasana dan porsi? Bisa diadu laaah, hahaha. Bahkan setelah 2 tahun tinggal di KL pun, saya masih belum terbiasa dengan porsi makan di sini yang sangat-sangat royal (generous, malah) Apalagi ya tadi sore saya sudah makan kanafah, jadi walopun saya ngincer creme brulee, saya terpaksa menahan keinginan makan lagi karena sudah kenyang, hahaha.

IMG_0531

Nggak hanya anak muda (jie, anak muda…) yang nongkrong di TAPAK, tapi juga keluarga beserta anak-anak bayi. Ini juga yang saya suka: TAPAK ini tempat publik terbuka, namun saya melihat tidak banyak yang merokok. Kalaupun ada pengunjung yang merokok, mereka sangat perhatian dan peduli dengan pengunjung lain dengan tidak merokok dekat-dekat pengunjung yang membawa keluarga terutama anak-anak. Toleransi dan perhatian yang tak terucap seperti itu membuat suasana terasa lebih nyaman dan menyenangkan.

IMG_0532

Bila ingin berkunjung ke TAPAK, tidak perlu takut harus mengalokasikan hari tertentu. TAPAK buka SETIAP HARI, dari pukul 6 sore hingga 12 malam. Untuk hari Jumat dan akhir pekan, dari pukul 6 sore hingga 3 pagi. Setiap harinya food truck yang datang berbeda-beda (karena dibatasi 10 truk per hari) jadi coba lah datang di hari-hari yang berbeda untuk mencicipi variasi kuliner yang berbeda-beda.

TAPAK: Urban Street Dining beralamat di:
2A, 2A, Persiaran Hampshire, Hampshire Park, 50450 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia

Pertama Kali Mencoba Kanafah (Kunafa)

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Dua minggu lalu saat saya sedang berkeliaran di Facebook, saya menemukan video di atas dari FB Page INSIDER, dan saya langsung tertarik, hahaha. Saya penggemar keju, dan konsep keju sebagai makanan manis (dessert) sebenernya sih bukan hal baru banget ya (cheesecake, misalnya) tapi kayanya kanafah ini kok lejaaaat sekali, hahaha.

Sewaktu saya share di FB saya, nah ada tiga teman saya yang pernah tinggal di Kuwait nih langsung nyamber. “KUNAFAAAA! YA AMPUN ITU ENAK BANGET KAAAAP!” Nah lho, gimana nggak makin penasaran saya?

Saya teringat bahwa komunitas Arab di Kuala Lumpur itu lumayan besar. Selain Little India dan Chinatown yang tersohor, ada pula semacam Little Arab dan Little Korea tersebar di KL. Iseng saya coba cari di Google, apakah ada restoran Timur Tengah yang menyajikan kanafah ini. Beberapa hasil pencarian menyatakan ada, dan tersedia di beberapa restoran yang namanya cukup beken di KL. Nah, ada nih satu yang terletak di area Ampang Point, Selangor! Wah, deket rumah! Dan toko ini memang spesialisasi menyediakan manisan khas Timur Tengah seperti kanafah, baklava, dan sebagainya. Nama toko ini adalah Damas Sweets, berlokasi di 11, Jalan Mamanda 5, Taman Dato Ahmad Razali, 68000 Ampang, Selangor, Malaysia. Jam operasi mereka dimulai dari pukul 11 siang hingga 11 malam (menurut Google).

Jujur ya, awalnya saya agak gentar mencoba manisan khas Timur Tengah. Saya takutnya kalau manisan itu terlalu, errr, manis. Makanya banyak manisan Timur Tengah disajikan dengan kopi Arabika yang tersohor itu. Tapi kadung penasaran, plus mas Ari sudah mengantarkan (dan disertai protes dari Wira, “ibu beli apa lagi sih? Hah? Makanan? TADI KAN BARUSAN MAKAN SIANG INI KOK BELI MAKANAN LAGIIIIII!”) jadi hayuk lah kita kemon!

Masuk ke toko Damas Sweets, ada bau wangi manisan namun tidak terlalu menyengat. Baunya menyenangkan, malah. Saya sempet ngebatin, “wah jangan-jangan gini nih bau surga,” hahaha. Suasana dalam toko sangat tenang dan sejuk, seperti oase dari matahari KL yang menyengat.

Penjaga toko menyambut saya dalam bahasa Inggris dan bertanya pesanan saya. Saya hanya menyebut, “kanafah,” dan penjaga toko menyebutkan harga per kilo (RM 53). Buset, rupanya mereka juga jualan per kilo. Ini menggambarkan betapa cintanya warga Timur Tengah dengan kuliner manisan mereka. Karena ini pertama kali saya mencoba, jadi saya memutuskan untuk membeli setengah kilogram saja.

IMG_0505

Kanafah yang disajikan rupanya kanafah yang plain, dan memang itu pilihan saya. Saya belum berani yang sudah modifikasi atau diberikan tambahan macam-macam, hahaha. Ada beberapa biji kacang pistachio sebagai hiasan, sisanya ya sama: keju dan pastry.

IMG_0504

Saya sempat mengira bahwa kanafah yang saya pesan akan dipotong panas-panas seperti yang di video, tapi ya nggak mungkin juga ya, hahaha. Namanya juga take away, sebaiknya disajikan dingin supaya bisa dihangatkan sendiri di rumah.

Selama di perjalanan pulang, saya nggak bisa berhenti cengar-cengir, hahaha. Akhirnya kesampaian juga!

IMG_0506

IMG_0509

Sesampainya di rumah, saya ambil sepotong kanafah lalu saya masukkan ke microwave dengan durasi 30 detik. Ketika weker berbunyi, oh ya ampuuuuun, kejunya meleleh. M E L E L E H.

IMG_0507

Rasa kejunya tidak terlalu kuat. Seperti makan keju mozarella atau ricotta yang memang lembut, sehingga nggak perlu khawatir dengan bau menusuk khas keju. Rasanya manis, tapi nggak yang terlalu manis bikin pusing kepala. Manis dan wangi (dari air mawar). Makan kanafah ini bisa makan satu porsi/satu potong dengan santai, namun setelahnya kesadar bahwa, “oke. Satu dulu aja deh,” hahaha. Tapi nggak eneg juga. Sangat nikmat bila dimakan hangat-hangat dan pelan-pelan sebagai teman minum teh atau kopi (yang sayangnya saya sedang nggak pengen minum dua-duanya, huhuhu) sambil ngobrol.

IMG_0512

Damas Sweets beralamat di:
11, Jalan Mamanda 5, Taman Dato Ahmad Razali, 68000 Ampang, Selangor, Malaysia

Jam kerja:
Setiap hari: 11 pagi – 11 malam

Es krim Brasil

Foto diambil di depan toko eskrim Brasil, Purwokerto

Apakah eskrim ini enak?

Ga tau.

Tapi buat gw, uenak sekali.

Namanya es krim Brasil. Rasanya nostalgia. Biasanya dibeli ketika para cucu ngumpul di rumah almarhum/almarhumah kakek nenek gw di Cilacap. Sejak gw… Baru lahir? TK? Wallahu’alam.

Dan entah gimana terjadi kasta.

Buat para oom tante dan orang dewasa, mereka makan eskrim Brasil yang pake cone. Warna-warni. Pink (strawberry), coklat, oranye (jeruk), dan hijau (mint). Ditaburin meisjes warna-warni.

Buat para kurcaci ingusan baru lahir kemarin sore alias para cucu yaitu gw dan saudara-saudara gw?

Es mambo. Masih punya eskrim Brasil juga (ada banyak varian: dari cup sampe cake ice cream). Es yang di dalam plastik. Rasa standar — kalo ga coklat ya kacang ijo. Buat gw, sial banget kalo dapet rasa kacang ijo atau kopyor (gw ga suka dua-duanya).

Itu juga masih dibagi jadi dua. Setengah-setengah. KURANG TERTINDAS APALAGI COBA.

Dan ketika lu udah cukup besar untuk makan eskrim pake cone dengan jaminan eskrim ga tumpah atau belepotan… Men, itu artinya lu naik kasta dan jadi manusia paling keren sedunia — minimal di mata sodara-sodara lu.

Dari ambisi konyol jaman kecil itu bikin gw keukeuh untuk beli eskrim Brasil dengan cone SETIAP mudik ke Purwokerto. 

Karena gw orang paling keren sedunia.