Decoding (Most of) an 18th-Century ‘Riddle Menu’ | Atlas Obscura

Our readers offer up their answers and theories.

— Read on Decoding (Most of) an 18th-Century ‘Riddle Menu’ | Atlas Obscura

Advertisements

Food is a great source of pleasure. Forget that, and we’re doomed to eat badly | Bee Wilson | Opinion | The Guardian

Yet another report reveals the error of our dietary habits. But hectoring won’t work; from childhood, we should learn the joy of varied tastes

— Read on Food is a great source of pleasure. Forget that, and we’re doomed to eat badly

Shin Ramyun + Keju + Telur

Ini “makan malam” gw kemarin; ketika Rey hari pertama preschool, Wira masih demam dengan suhu di atas 38.7°C setelah tiga hari, dan emosi gw kacau balau.

Makan malam jam 12 malam; ketika para kurcaci itu udah pada tidur.

Dan entah lah efek umur atau apa, akhir-akhir ini kalo makan mie instan pasti ujungnya perut gw kembung dan begah.

RM ‘Selera Nusantara’: Kangen Lontong Sayur di Tanah Seberang

Sewaktu kami sekeluarga bersiap pindah ke Malaysia, saya sempet ngobrol dengan teman saya. Jujur, saya gugup sekali karena pindahan ini adalah pertama kalinya saya tinggal di luar negeri. Ari, yang sebelumnya pernah tinggal di Singapura selama 2 tahun, menenangkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi ya… *hahaha*

Teman saya ini berkata satu hal yang saya ingat terus. “Kewarganegaraan itu cukup di dompet atau di tas aja, Kap. Untuk lidah, ikutin apa yang ada.

Temen saya itu ngomong begitu bukannya tanpa alasan. Dia pernah tinggal di Swedia selama beberapa tahun dan dia bercerita bagaimana dia belajar mengenali rasa dan masakan khas Swedia yang, tentu saja, JAUH BANGET dari kuliner berbumbu khas negara tropis seperti Indonesia.

Kalo gw ngikutin maunya gw sebagai orang Indo, gw keburu modar…

Jadi ya maksudnya dia, cukuplah kebanggaan sebagai orang Indonesia itu tertera di paspor atau KTP di dompet atau tas. Jangan langsung ya sok gengsi nggak mau nyobain makanan negara lain — apalagi kalo kita emang berniat berdiam di negara itu untuk waktu yang lama. Rugi hidup.

Itu lah yang saya pegang sampai sekarang. Apakah rasa masakan Malaysia berbeda? Oh ya tentu saja. Masakan Malaysia bergantung pada rasa bumbu dan nggak terlalu banyak menggunakan gula dan garam. Untuk sambal pun berbeda.

Apakah saya menikmatinya? TENTU SAJAAAA, hahahaha. Favorit saya dalam kuliner Malaysia adalah makanan ala kopitiam. Terutamanya roti bakar/panggang dengan selai kaya dan butter, disambung teh tarik panas atau Milo ais. Sedaaaaap! Untuk seafood, aduh musti lah itu mampir ke kota-kota kecil di sepanjang garis pantai seperti Port Dickson, Kuantan, ataupun Kerteh. Jangan lupa obat anti alergi atau kolesterol, hahaha.

Nah, tapi ya tentu saja lidah Indonesia punya rasa kangen dengan kuliner Indonesia, bukan? Menariknya, makanan ayam penyet khas Indonesia lagi menjamur di KL lho saat ini. Banyaaak restoran ayam penyet di sini. Dari ‘Ayam Penyet Best’ sampai ‘Ayam Penyet Nyet Nyet’. Jangan salah, restoran yang cukup beken di Bandung, ‘Cibiuk’, juga punya empat cabang di Malaysia.

Salah satu masakan Indonesia yang Ari dan saya sama-sama kangen itu… Lontong sayur.

Jadi ketika satu hari Ari melihat foto lontong sayur di grup WhatsApp dia yang beranggotakan orang Indonesia di KL, dia tertarik.

“Di mana itu, oom?”

“Di Selera Nusantara. Area Kampung Bahru.”

Kampung Bahru ini lokasinya deket banget dengan Chow Kit yang notabene disebut sebagai ‘Kampung Indonesia’ karena, iya, banyak orang Indonesia di situ.

Jadi minggu lalu dan barusan ini nih — iya, dua kali, hahaha — kami makan lontong sayur di ‘Selera Nusantara’.


Tempat makannya lebih mirip warung kaki lima dengan menu sederhana: lontong sayur, mie bakso, soto mie, dan gorengan. Rata-rata tempat makan di deretan Kampung Bahru memang bentuknya seperti itu. Jadi ketika ingin berkunjug ke sini, harus sedikit lebih awas matanya untuk mencari tempat makan ini. Lokasinya persis berseberangan dengan Nuri’s Seafood.


Ibu yang berjualan juga orang Indonesia. Beberapa kali saya dengar dia mengobrol dalam bahasa jawa. Tapi kalo ngobrol sama saya, entah kenapa logatnya berubah sedikit melayu, hahaha. Mungkin ibu ini memang sudah lama berdiam di Malaysia sehingga logatnya pun tercampur.


Lontong sayur yang disajikan… Bagaimana ya, ini campur aduk antara perasaan kangen tanah air, nostalgia, dan “OMG LONTONG SAYUUUURRR! OMG TEH BOTOL DALEM BOTOL BENERAAAAN!” Hahaha. Jadi kalo ditanya enak atau tidak, jawaban anak rantau ini ya “ENAK SEKALI!” Hahaha. Favorit saya? Dan memang selalu menjadi favorit saya, adalah kerupuk yang sedikit terendam dalam kuah lontong sayur. Agak lembek namun masih ada bagian renyah yang terkena gurihnya kuah.

Nah, namanya juga berdagang makanan di Malaysia ya, ada satu menu khusus yang memang nggak bisa ilang walaupun di tempat makan yang menyajikan makanan Indonesia sekalipun: Nasi lemak.


Wira malah selalu memilih makan nasi lemak di sini, hahaha. Dia sangat suka dengan teri gorengnya. Kadang dia menyicipi lontong sayur dari piring saya, tapi dia lebih memilih nasi lemak — walaupun minumnya ya tetap: Teh Botol Sosro, hahaha.

Selain lontong sayur, favorit kami adalah gorengannya. Ari memilih bala-bala/bakwan, saya memilih cempedak goreng.

Bala-bala favorit Ari
Cempedak goreng. Sedap!

Bala-bala dimakan bersama dengan kuah lontong sayur, uiih, sedapnya! Lalu ditutup dengan Teh Botol Sosro dingin dan cempedak goreng masih hangat baru digoreng. Kenyaaaang, hahaha. Nggak kalah deh dengan sarapan gaya barat di deretan kafe di Bangsar.


Jadi buat yang kangen makanan Indonesia, ‘Selera Nusantara’ ini patut lah dicoba.

Selera Nusantara
16-32, Jalan Raja Uda, Kampung Baru, 50300 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur
017-233 3438

Jam buka: Setiap hari 07:00 – 19:00

Restoran Hasilath Food Corner, KL: Warung Mamak Akhir Pekan

IMG_0535

Di Malaysia, ada istilah “warung mamak” untuk menyebut tempat makan yang biasanya buka 24 jam dan menyajikan variasi makanan berupa nasi lemak, roti canai, cendol, rojak, dan lain sebagainya. Dari kuliner khas melayu berupa nasi lemak, kuliner khas india dengan roti canai dan murtabak (martabak) komplit dengan kari, hingga kuliner cina berupa mee goreng dan bihun goreng. Kalau di Indonesia, mungkin mirip dengan warung bubur kacang ijo (warung burjo) atau warung Indomie yang buka 24 jam juga.

Kenapa disebut “mamak”? Diambil dari arti kata “mamak” yang berarti “emak”/”ibu”, warung mamak (atau biasa disebut “mamak” saja oleh orang Malaysia) ini dianggap tempat membeli makanan bernuansa bikinan rumah. Seperti dimasak ibu di rumah. Warung mamak ini dianggap seperti gudangnya comfort food kuliner Malaysia, dan memang isinya comfort food semua, hahaha.

Restoran Hasilath ini tempat yang rutin kami datangi setiap akhir pekan. Kalau nggak Sabtu ya Minggu. Kalau pagi, selalu penuh dengan keluarga dan pesepeda. Kalau hari biasa, biasanya pagi hari dipenuhi dengan karyawan kantor atau toko yang mampir untuk sarapan nasi lemak dengan teh ais. Menjelang siang, ramai pula dengan karyawan dari perkantoran sekitar. Masuk sore hari (tea time), penuh dengan karyawan yang nongkrong selepas pulang kantor untuk menikmati segelas teh tarik dan mengobrol. Masuk malam hari, cukup bervariasi: Ada anak-anak muda ikut nongkrong beserta keluarga yang anak-anaknya mungkin masih ingin menikmati makan larut malam (supper).

IMG_0538

Malaysia sebagai negara bekas kolonial Inggris mengenal LIMA waktu makan berbeda lho, hihihi. Sarapan, makan siang/makan tengah hari, waktu minum teh (tea time), makan malam, dan makan larut malam (supper).

Tadi pagi kami menikmati sarapan-makan siang (brunch) di Hasilath. Awalnya sih pengennya sarapan saja, tapi kami rupanya agak kesiangan tiba di sana sehingga parkiran sudah penuh. Terpaksa lah memutar dan muternya itu jauh banget, hahaha. Sampai di Hasilath kira-kira pukul setengah 11 pagi, jadi lah dianggap sebagai brunch saja.

Hasilath yang terletak di jalan Gurney ini konon tersohor oleh rojaknya. Rojak Malaysia ini berbeda sekali dengan rujak khas Indonesia. Rujak khas Indonesia biasanya berupa rujak buah; sementara rojak Malaysia ada dua tipe: rojak biasa atau rojak buah. Nah, rojak biasa ini biasanya isinya adalah… Gorengan. Gorengan yang disiram saus kacang. Kadang bisa ditambahkan mi (mee rojak) atau potongan cumi/sotong (rojak sotong). Nah, rojak sotong ini awam ditemui di Penang.

Selain rojak, Hasilath juga terkenal dengan cendolnya. Cendol di Malaysia ada berbagai variasi: Ada yang menggunakan pulut/ketan manis gurih, ada yang menggunakan tapai/tape, ada yang menggunakan durian, dan malah ada kombinasi tiga-tiganya.

Nah, kami memesan… Bukan cendol dan bukan rojak, hahaha. Untuk cendol, baru tersedia di Hasilath di atas jam 9 pagi. Tapi walopun kami datang jam setengah 11, kebetulan lagi kurang berselera untuk membeli cendol (nah lalu sekarang saya malah jadi pengen cendol pulut, hahahaha.)

Seperti biasa, pesanan kami dibuka dengan dua set telur tiga suku masa. Tiga suku masa itu artinya tiga perempat matang. Kenapa tiga suku masa? Karena kalau separuh matang/setengah matang, masih terlalu encer untuk Wira dan Ari. Telur yang disajikan biasanya dicampur dengan kecap asin dan taburan lada supaya gurih.

IMG_0539

IMG_0540

Nah, telur separuh masa ini beken luar biasa di Malaysia. Budaya memakan telur separuh masa ini mungkin seperti kita makan tempe tahu ya di Indonesia. Karena tuntutan pasar, makanya rata-rata telur di Malaysia ini sudah ada tambahan Omega-3 dan/atau kolesterol rendah.

Selepasnya, Ari memesan Maggi mee goreng. Nah, ini lagi juga menarik. Walaupun Indomie dan Mie Sedaap juga cukup terkenal di Malaysia, Maggi berusaha memantapkan posisi mereka sebagai penguasa industri mie instan di sini. Menariknya, cukup jarang lho (atau mungkin malah ga ada?) produk mie goreng dari Maggi. Jadi yang digunakan ya Maggi kuah lalu digoreng bersama bumbu dan sayuran. Nah, Hasilath ini baru beberapa bulan ini punya sajian Indomie Goreng juga, hahaha. Lumayan ya untuk menghilangkan rasa kangen ke tanah air.

Maggi mee goreng (dan Indomie Goreng juga) yang disajikan biasanya ditemani dengan jeruk nipis/jeruk limo (jeruk kasturi). Tujuannya untuk menambah rasa (menyerlahkan rasa) mi goreng dan memberikan rasa segar dan sedap di mulut. Cobain deh, memang enak rasanya.

IMG_0545

Saya sendiri memesan bihun goreng Singapura. Sebenernya pengen pesen Indomie Goreng, tapi takutnya si adek di perut protes, hahaha.

IMG_0543

Wira, selesai menyantap telur rebusnya dan ditemani teh aisnya…

IMG_0547

… Memesan roti Milo.

IMG_0549

Roti Milo ini… Ah, sudahlah. Mungkin butuh satu entri blog untuk menyanyikan puja dan puji terhadap roti Milo ini. Adonan roti canai ditaburi Milo banyak-banyak lalu dilipat dan dipanggang, menghasilkan Milo yang meleleh dan berkaramel di pinggirannya.

IMG_0552

Biasanya sih disajikan dengan kari, walaupun mungkin agak aneh untuk kita ya, hahaha. Tapi dimakan dengan kari pun tetap enak. Dimakan begitu saja? Sedap sekali!

IMG_0546

Suasana di restoran Hasilath ini cukup nyaman. Pengunjung bisa memilih untuk duduk di luar ataupun di dalam. Bagian dalam pun sebenarnya nggak tertutup juga, jadi sirkulasi udara lumayan bagus. Rata-rata staf pelayan dan tukang masak berasal dari India dan/atau Bangladesh dan komunikasi mereka sangat bagus dalam bahasa Melayu dan Inggris sehingga nggak ada masalah berarti apabila pengunjung ingin memesan hidangan.

Restoran Hasilath Food Corner beralamat di:
No. 2A Jalan Gurney, Kuala Lumpur 54100, Malaysia

Jam beroperasi:

SETIAP HARI 24 jam