Peter Rabbit v. Hollywood

Sejak beli buku The Further Tale of Peter Rabbit karya Emma Thompson (iya, Emma Thompson aktris), kami jadi tertarik dan menyukai Peter Rabbit karya Beatrix Potter. Kelinci bandel yang ga pernah dengerin ucapan ibunya, suka nyelonong masuk ke kebun petani dan makanin sayuran, dan — seperti kisah kanak-kanak Inggris — petualangan.

Waktu ke toko buku kemarin, sempet beli beberapa buku Peter Rabbit yang versi board book (kertasnya karton tebal) supaya bisa dibaca Rey juga dan buku The Spectacular Tale of Peter Rabbit karya Emma Thompson. Ada yang seri koleksi, harganya lumayan, huhu. Nabung dulu, hahaha.

Waktu denger soal film Peter Rabbit dalam bentuk animasi 3D, Ari dan gw semangat. Berpikir mau nonton sama anak-anak nanti bulan Februari.

Lalu nonton trailernya:

*insert hantu air Jepang RAAAAAAGGGEEEEEEEE here*

BIKIN MARAH.

Apa-apaan sih kok jadi komedi slapstick Ameriki banget macem Alvin and The Chipmunks hhhhhhhhhhhh THANKS BUT NO THANKS FOR BUTCHERING YET ANOTHER CHARMING KID STORIES, HOLLYWOOD.

Advertisements

Motherhood in a Nutshell

“And everyone going to tell you it’s cute, and you’re going to know it’s not cute.

And that’s fine.”

Anak Perempuan

Dulu gw suka nonton DAAI TV — stasiun TV milik Tzu Chi, organisasi kemanusiaan dengan latar belakang Buddhisme (tapi mereka ini ya aslinya organisasi kemanusiaan, jadi mau agama apapun dan latar belakang apapun ya monggo) — dan suka ada serial TV yang kisah-kisahnya diangkat dari kisah nyata para relawan Tzu Chi.

Sering ada dialog, “tidak apa-apa kalau hanya punya anak perempuan. Anak perempuan juga sangat berbakti dan berkarya,” atau, “sangat terbantu dengan anak perempuan. Mereka sangat cergas dan cerdas dalam mengurus urusan sehari-hari.”

Sedikit langkah kecil untuk edukasi masyarakat bahwa anak perempuan juga tidak berbeda dari anak laki-laki.