Peter Rabbit v. Hollywood

Sejak beli buku The Further Tale of Peter Rabbit karya Emma Thompson (iya, Emma Thompson aktris), kami jadi tertarik dan menyukai Peter Rabbit karya Beatrix Potter. Kelinci bandel yang ga pernah dengerin ucapan ibunya, suka nyelonong masuk ke kebun petani dan makanin sayuran, dan — seperti kisah kanak-kanak Inggris — petualangan.

Waktu ke toko buku kemarin, sempet beli beberapa buku Peter Rabbit yang versi board book (kertasnya karton tebal) supaya bisa dibaca Rey juga dan buku The Spectacular Tale of Peter Rabbit karya Emma Thompson. Ada yang seri koleksi, harganya lumayan, huhu. Nabung dulu, hahaha.

Waktu denger soal film Peter Rabbit dalam bentuk animasi 3D, Ari dan gw semangat. Berpikir mau nonton sama anak-anak nanti bulan Februari.

Lalu nonton trailernya:

*insert hantu air Jepang RAAAAAAGGGEEEEEEEE here*

BIKIN MARAH.

Apa-apaan sih kok jadi komedi slapstick Ameriki banget macem Alvin and The Chipmunks hhhhhhhhhhhh THANKS BUT NO THANKS FOR BUTCHERING YET ANOTHER CHARMING KID STORIES, HOLLYWOOD.

Advertisements

‘The Scottish Play’

One of my favorite plays.

While many today would say that any misfortune surrounding a production is mere coincidence, actors and other theatre people often consider it bad luck to mention Macbeth by name while inside a theatre, and sometimes refer to it indirectly, for example as “the Scottish play”, or “MacBee”, or when referring to the character and not the play, “Mr. and Mrs. M”, or “The Scottish King”.

This is because Shakespeare (or the play’s revisers) are said to have used the spells of real witches in his text, purportedly angering the witches and causing them to curse the play. Thus, to say the name of the play inside a theatre is believed to doom the production to failure, and perhaps cause physical injury or death to cast members. There are stories of accidents, misfortunes and even deaths taking place during runs of Macbeth. (Wikipedia)

Misogyny in TBBT

This video explains clearly about what’s wrong in TBBT.

Ada satu episode yang gw keinget, and it actually cemented my disdain to the serial, ketika Penny menegur Howard dengan keras karena Howard sering banget nyeletuk celetukan melecehkan secara seksual dan membayang-bayangi Penny (unsolicited advances). Ujungnya? Howard marah. MARAH, men. MARAH. Dia marah lalu ngambek, dan Penny yang akhirnya meminta maaf ke Howard.

Bingung ga sih? Di sini siapa yang borderline sexual offender dan siapa yang korban, dan kenapa si korban — yaitu Penny — yang harus minta maaf ke Howard? Lalu orang pada bingung kenapa korban pelecehan seksual ga mau lapor? Lalu orang pada heran kenapa banyak banget pelaku pelecehan seksual ngerasa “gw ga salah kok LOL”?

Watch this video, and another one on “geek masculinity” (still by Pop Culture Detective).

Tokyo Idols (2017)

Nonton dokumenter ‘Tokyo Idols’ di Netflix.

Gimana ya… Mirip lah sama dokumenter-dokumenter/jurnalisme investigasi soal tren idol dari Jepang ini. Kritik sosial akan para fans idol yang rata-rata oom-oom dengan para idol yang usianya masih belasan tahun, perjuangan para idol untuk tetap relevan di mata fans, dan sebagainya.

Gw lebih penasaran dengan perspektif fans wanita. Kalo fans laki-laki ya mereka emang terobsesi dan sudah komitmen menghabiskan sejumlah besar uang untuk CD, merchandise, handshake event, sampe tiket live shows. Gw penasaran apakah fans wanita sama komitmennya. Sayangnya kaya gini ini jarang/ga pernah dibahas.

Gaya Hidup Minimalis?

Ini salah satu kanal Youtube favorit gw, hahaha. Gw sangat suka dengan acara/tontonan yang semacam home renovation atau ya efisiensi dalam penggunaan ruang di sebuah rumah.

Gw dulu sempet ngikutin acara ‘bedah rumah’ Jepang yang judulnya ‘Before & After’ di LiTV (kalo di Indonesia, temen gw cerita adanya di Waku-Waku Japan) — sampe entah kenapa berhenti dan ga lanjut lagi, hhhhh.

Jadi bertanya-tanya, Netflix atau iFlix gitu-gitu adain konten kaya gini dong, jangan dokumenter dan kuliner aja, hahaha.