Serial TV: ‘Elementary’

CBS_ELEMENTARY_514_CLEAN_IMAGE_thumb_Master

Source: CBS

‘Elementary’ is not a series that I want. It’s a series that I need.

Kapan ya gw pertama kali denger kabar soal serial TV ini… Bertahun-tahun lalu, kalo ga salah. Pas gw kuliah (?) — ada rumor soal serial TV yang berdasarkan Sherlock Holmes dengan “sedikit variasi” dan setting jaman modern. ‘Variasi’nya adalah: John Watson menjadi Joan Watson.

Iya, dokter Watson adalah seorang perempuan di serial ‘Elementary’.

Diperankan oleh Lucy Liu.

Pas itu, gw ngamuk. I was — OK, still is, actually. But I was obnoxious– OK, still obnoxious — an obnoxious purist. Kok John Watson jadi cewek? Apa-apaan? Terus jadi love interest-nya Holmes? APA-APAAN?

I mean, I’m not even a fan of BBC’s ‘Sherlock’. The huge part of my disdain comes from the majority of the fans who goes, “kyaaaa~ Holmes pacaran sama Watson kyaaaa~” //fight me

Jadi gw lebih mirip kakek-kakek tukang marah-marah yang suka nongkrong di teras depan rumah sambil mengokang senapan angin buat nembakin siapapun yang niat nerobos halaman rumah, sampe gw ngeliat serial ini nongol di daftar ‘Recommended’ di IFLIX gw.

Jadi gw nonton satu episode. No harm in that. Lets try. If it’s that bad we can always close the window and rant on the Internet so lets give it a try.

Dari satu episode, menjalar sampe lima season.

And one of the best feelings in the world is to see Netflix (yes, Netflix Asia got ‘Elementary’ too)  notification: “Season 5 ‘Elementary’ is here!” while you’re at the airport, waiting for your flight to take you home. Kaya… “asik, bisa istirahat abis mudik sambil nonton” gitu.

I. LOVE. IT.

Gw sangat suka dengan dinamika antara Sherlock Holmes (Jonny Lee Miller) dan Joan Watson (Lucy Liu). Tentu aja ada sedikit variasi di sana sini (di serial TV, Watson awalnya adalah sober companion Holmes dalam proses melepaskan diri dari ketergantungan narkotika) dan banyak hal yang diganti untuk mengikuti jaman modern; tapi, hubungan Watson dan Holmes tetap menarik dan kocak. Holmes yang eksentrik dan Watson yang awalnya bingung tapi lama-lama bodo amat ngebuat Holmes dan Watson di ‘Elementary’ ini emang partner yang sangat cocok. You can see that they are there for each other but they can stand on their own to support one another.

Dan yang juga gw suka: Watson TIDAK digambarkan lebih bodoh atau lebih dungu daripada Holmes. Watson-nya Lucy Liu itu cerdas dan tangguh; dan sering Holmes mengakui itu.

Salah satu sisi komedi dari serial TV ini hubungan Holmes dengan Everyone, sebuah grup hacker dan ahli IT. Hubungan Holmes dengan Everyone ini benci tapi rindu. Holmes sering minta tolong bantuan mereka (mirip seperti Baker Street Irregulars) dan Everyone sering minta hadiah sebagai imbalannya. ‘Hadiah’nya itu ya macem-macem; dari Holmes musti nyariin figurine langka yang harganya mahal banget sampe Holmes harus nari pake tutu dan leotard sambil nyanyi ‘Let It Go’ dan direkam oleh ‘Everyone’.

Buat yang suka serial TV detektif ringan, serial ‘Elementary’ ini bisa coba ditonton.

Advertisements

‘Sour Grapes’ (2016)

Abis nonton ‘Sour Grapes’ di Netflix sambil ngelipet baju (penting yeee diceritain) terus abisannya bengong.

Gw orangnya baperan, jadi ya kalo abis baca buku atau nonton film ya pasti… bengong. Kaya butuh waktu beberapa menit kembali ke dunia nyata, heuhe.

Gw pernah baca sekilas banget soal kasus penipuan anggur ini. Kenapa sekilas, karena artikelnya, ummm, panjang. Ya, saya udah masuk ke generasi malas-baca-panjang-panjang dan short attention span; thanks but no thanks to the Internet (lha iki piye malah nyalahin Internet.)

Ini artikel yang dimaksud:

A Vintage Crime

Collecting vintage Burgundies, Rudy Kurniawan drove the rare-wine market to new heights, then began selling his treasures. Or so it seemed. Michael Steinberger uncorks what may be the largest case of fine-wine fraud in history.

Yaaa awalnya baca juga karena, “WAH! ORANG INDONESIA!” (we tend to feel closer to our fellow countrymen, yes) terus bengong juga. Eanjir itu bisa nipu anggur mihils bingits sampe jutaan dolar itu manusia beneran dan duit beneran? Bukan modal nyabut bulu ketek? TERUS ORANG INDONESIA?

Gw pribadi suka sekali dengan kisah/cerita, film, dan/atau serial TV yang berhubungan dengan penipuan (scam/hustle). Gimana ya… Ada sebabnya kenapa para pelaku ini disebut con-artist. Penipuan sendiri ada short con, ada long con. Penipuan jarak pendek itu ya biasanya tipu-tipu yang sering didenger di media kaya orang pura-pura ga punya duit buat mudik lalu minta duit ke orang lain mengandalkan belas kasihan, dan lain sebagainya. Penipuan jarak panjang itu lebih detil, lebih punya “cerita” — kasarnya, lebih serius nipunya. Penipuan investasi bodong itu termasuk long con buat gw sih ya.

Untuk gw yang paranoid, tentu aja kisah-kisah penipuan gini bisa dibilang bikin gw makin parno. Ya ga juga sih yaaa… Apa ya, lebih skeptis mungkin? That “are you fucking kidding me”-attitude. Tapi ya kemungkinan besar gw toh tetap bisa jadi target penipuan juga ya.

Kembali ke dokumenter ‘Sour Grapes’ ini. Awalnya adalah seorang anak muda, Rudy, yang mendadak muncul di acara lelang anggur mahal/vintage dan membeli anggur lelangan dengan harga tinggi. Rudy ini menarik perhatian banyak orang, bahkan termasuk media, karena kenekatannya membeli anggur mahal — rata-rata burgundy — dan pengetahuannya yang sangat luas mengenai anggur di kalangan wine connoisseurs. Konsumsi anggur saat itu tergolong cukup tinggi dikarenakan kondisi ekonomi sedang sangat baik — dan anggur menjadi salah satu sarana untuk menunjukkan gengsi/prestige

Banyak hal abstrak di dunia ini yang untuk menentukan sebuah kualitas kadang ga pake standar/kualifikasi secara saklek; dan kalopun ada, ga semua orang bisa. Misalnya, kopi. Gw ini orang yang ga bisa bedain kopi blas. Jadi jangan kasih gw kopi mahal, sayang soalnya. Kemungkinan besar gw ga bisa menghargai kopi mahal karena gw ga tau bedanya dengan kopi-kopian (ya tiap pagi gw juga minumnya kopi instan jeh.)

Anggur, salah satunya. Wine connoisseur, kolektor, dan pemilik kebun anggur tau betul jenis anggur yang bagus dan emang otentik. Tapi sebagian besar dari konsumen anggur banyak yang awam atau ya sekedar penikmat anggur kasual.

Paling parah; ga tau apa-apa tapi demi gengsi berusaha gembar-gembor (keeping up with the Joneses)

Nah, ini yang sering diincar oleh penipu.

Rudy sering berbicara bahwa dia punya koleksi anggur klasik yang berharga tinggi yang dia jual melalui lelang; dan itu ga masalah kalo bener.

Seringnya: “The consignment included one bottle of 1929 Ponsot Clos de la Roche, a grand cru (Burgundy’s highest designation) that the domaine did not produce under its own label until 1934.”

Ngakunya punya Ponsot Clos de la Roche keluaran tahun 1929. Padahal kebun anggur Ponsot di Burgundy sendiri BARU PUNYA label sendiri (Ponsot) tahun… 1934.

Laurent Ponsot, pemilik kebun anggur Ponsot (usaha turun temurun keluarganya), memutuskan menyelidiki asal muasal anggur-anggur palsu ini. Ketika dia tiba di New York, dia menghentikan pelelangan 97 botol Ponsot karena dia percaya bahwa semuanya itu anggur palsu.

Ponsot sempet bertemu Rudy beberapa kali, dengan niat baik untuk ngasih tau Rudy bahwa anggurnya palsu dan Ponsot ingin tau dari mana Rudy dapet anggurnya itu.

Setelah diputer-puterin sama Rudy, dan setelah pihak FBI ikut menyelidiki, akhirnya ketauan lah kalo Rudy sendiri yang memalsukan anggur-anggur itu. 

Menariknya, masih ada beberapa orang yang meyakini kalo Rudy ga bersalah; bahwa apa yang Rudy lakukan itu ‘cuma’ “reliving the experience.” Entah denial atau apa ya, hmmm.

Gw merekomendasikan film dokumenter ini untuk siapapun yang tertarik dengan kisah penipuan. Untuk generasi X ke atas — terutama yang tau kejadian 1998 — gongnya itu ketika dijelasin Rudy itu keponakannya siapa. Four out of five stars.

[Review Ala-Ala] Rogue One: A Star Wars Story a.k.a DONNIE YEEEEEEEN ASDFASDFASDF

Kalo saya sedang menghadap ke layar kosong untuk menulis entri blog, saya suka ngerasa bingung mau nulis apa. Seringnya, saya berpikir, “yaelah, nulis soal hamil lagi? Anak lagi?

Dan saya suka ngerasa agak sedih setiap hal itu terjadi. Karena iya, soal hamil lagi. Soal anak lagi.

Label saya saat ini, dan saya sadar betul, adalah sebagai seorang ibu.

Ya emang udah otomatis juga sih; saya ini ya seorang ibu. Mau digimanain juga nggak bisa diganti.

Tapi kangen juga rasanya ya menulis hal-hal “nggak penting” atau selewat kegiatan saya sehari-hari yang sebenernya sampah banget, hahaha. Seperti waktu saya masih kuliah. Curhat nggak jelas soal tugas kuliah, temen-temen sekampus, anime yang ditonton, dan segala macemnya. Tapi ya itu kan udah lewat. Saat ini kondisi saya ya seperti ini.

Saat ini saya menulis ini sambil mendengarkan lagu ‘All Time Low’-nya Human Condition. Ceritanya menghidupkan ‘kenangan’ jaman kuliah, hahaha. Ngeblog sambil dengerin lagu.

Omong-omong tontonan, film terakhir yang saya tonton itu ‘Rogue One: A Star Wars Story‘ alias ketika keluarga Skywalker nggak bikin masalah sak galaksi — eh, oke, masih sih. Tapi ya… Gitu lah.

Saya selalu ngerasa, dan saya yakin saya bener, kalo Disney ini sebenernya ya masalah ngeruk uang dari para fans. Setelah meledaknya Star Wars VII: The Force Awakens tahun 2015 lalu, Disney mengumumkan akan ada Star Wars VIII DAN Star Wars IX untuk dua tahun ke depan. Gila dong?

Nah, lalu awal tahun mereka mengumumkan, “oh sori, Star Wars VIII nggak jadi tahun 2016. Kita lagi ngejar jadwal syuting dan produksi nih. LOL.

Tapi kita punya kisah prekuel Star Wars IV lho. Namanya ‘Rogue One’. LOL.

Star Wars VIII? 2017 dunk. LOL.”

CETAAAAAAAAAAAAANNNNNNNNN.

Kebayang tiap taun dipastikan akan ada antrian para fans dengan lightsaber masing-masing yang pendapatan per filmnya udah nutup biaya produksi dan balik modal?

Bahkan film yang sukses seperti ‘Moana’ itu saya yakin “cuma sempalan”. Ibaratnya, basah-basahin dompet dikit lah. Ngasih tau kalo Disney masih punya lini bisnis utama berupa animasi.

BTW, soal Rogue One, banyak yang ngasih opini macem-macem. Antara “ya emang harusnya gitu” dan “OMG KOK GITU SIH?” Nah, saya masuk ke kategori “ya emang harusnya gitu,” plus di bagian akhir film itu saya jerit-jerit liat karakter kesayangan kita semuaaaaah tampil, ahahaha (requiescat in pace, Carrie Fisher. You will always be missed.)

Jadi gimana Rogue One menurut saya?

Bagus, walaupun dibandingkan dengan hebohnya The Force Awakens itu masih jauh lebih heboh The Force Awakens. Di awal film, malah rada keteteran buat saya. Ngantuk banget bray. Keteteran tapi berusaha “ngebut” dengan lompat-lompat setting planet dan itu bikin saya bingung (“eh ini di penjara? Lho terus kok udah di markas Rebels? LHO INI DI MANA SIK?”) Pengenalan karakter yang lumayan banyak dengan lompat-lompat lokasi itu bikin otak ibu hamil ini macet sekejap. Bandingkan dengan The Force Awakens ketika Captain Phasma muncul dan bikin saya kejet-kejet di kursi CAPTAIN PHASMA AKU PADAMUUUUUHHH (eh tapi di The Force Awakens, beliau ini birokrasi banget ga sih? Padahal kapten gitu, tapi lebih banyak ke “EH KOK LOE KAGA PAKE HELM HAH?”)

Yang saya agak sayangkan itu humornya agak “tersendat”. Kaya… Apa ya, restrained humor? Aduh, gimana sih ngomongnya. Iya, karakter K-2SO itu emang nyeletuk celetukan yang lucu-lucu dan sinis, tapi ya gitu. Bandingkan dengan The Force Awakens yang lawak banget.

Finn: Okay. Stay calm. Stay calm.
Poe Dameron: I am calm.
Finn: I’m talking to myself.

You just knew that with the same franchise, somehow the effort is not as maximum as the previous one(s).

Lalu… Musiknya.

Michael Giacchino adalah musisi hebat, itu saya akui. Hasil karya dia dia banyak film Disney/Pixar udah banyak banget dan selalu ngubek-ngubek perasaan.

Nah. Masalahnya. Ini. Star. Wars.

Saya akan terdengar seperti fan elitis sombong, tapi ada pakemnya dalam mengisi musik Star Wars; dan kebetulan Michael Giacchino agak keteteran megang tugas segede ini dengan fanbase serewel ini, hahaha.

Ada beberapa bagian ‘Imperial March’ yang dipotong dan itu bisa dibilang ngerusak mood film ini. Yang juga saya sayangkan adalah kenapa tiap lokasi nggak pake lagu tema khusus. Soalnya, itu cirinya Star Wars, makanya ada lagu ‘Cantina Band’. Padahal saya suka banget lagu ketika adegan awal di planet Jedha — rada-rada mirip lagu biksu Tibet.

Kelebihan Rogue One adalah, eng ing eng, makin memantapkan betapa pentingnya adegan pembukaan di Star Wars IV. Saya pernah nyeletuk ke Ari waktu adegan awal Star Wars IV, ketika pesawat Princess Leia ditembakin Star Destroyer. “Kaya Karimun lagi di-bully Humvee…”

*Kapkap dimaki-maki sak fanbase in 3, 2, 1…*

Di Rogue One juga ditunjukin kejinya Darth Vader; dan itu sangat saya hargai. Karena gini deh, di Star Wars IV-VI itu Darth Vader “jahat”nya kaya gimana sih? “Imma force choke everywhere, LOL.” Di Star Wars I-III… Pemuda alay lari-lari di padang rumput. Ada bagian yang memang kejam, ketika Anakin Skywalker membantai murid di sekolah Jedi, tapi ya sudah. “Itu saja”.

Di bagian akhir film, woah, bener-bener Darth Vader yang asli nebas lightsaber kanan kiri depan belakang. Force choke dan lightsaber ngayun kanan kiri. Bengisnya bengis banget. Saya yakin tim produser Disney udah yang, “udalah, kita kurang keji apa lagi di The Force Awakens dengan First Order yang eksekusi penduduk desa? Darth Vader dibikin kejem dikit juga ga masalah. Lha wong dia yang mulai kok.”

Lalu makin banyak karakter yang bervariasi. FAVORIT SAYA TENTU SAJAH CHIRRUT IMWE OLEH DONNIE YEN, AHAHAHA. Saya suka karakter Chirrut Imwe karena dia ini bukan Jedi sama sekali, tapi dia yang paling ngotot percaya The Force sampe bikin dzikir The Force-nya. Yang saya suka, ucapan “I’m one with The Force and The Force is with me,” yang awalnya seperti lawakan justru berperan jadi ucapan paling penting — dan paling menguras air mata — di bagian akhir. In many context, for me, he’s the truest Jedi ever. Dinamika hubungan dia dengan Baze Malbus juga kocak.

Chirrut Imwe: “The Force protected me”
Baze Malbus: “I PROTECTED YOU!”

Buat saya, Rogue One: A Star Wars Story ini nilainya 8/10. Sebaiknya ditonton setelah menonton Star Wars IV untuk lebih memahami konteks Star Wars secara keseluruhan.

May The Force be with you on 2017.