Review Star Wars VII: The Force Awakens

Oke. Review Star Wars VII.

DAN GW JANJI GA ADA SPOILER SAMA SEKALI.

Intense-o-meter JEBOL, men. JEBOL. Dari awal opening credits dengan floating text yang lehendaris itu, udah bikin terkyaa-kyaaa.

Dan satu topik yang dibahas rame di film ini: Bechdel test.

Bechdel test itu tes untuk film yang karakter perempuannya dialog dengan perempuan lain dan NGGAK ngomongi cowok. Gampang kan? Ngomongin pupup anjing juga bisa dianggep lolos. Masalahnya, banyak film yang ga lolos.

Star Wars VII lolos Bechdel test; dan ini penting men. Star Wars secara awam dianggep “lahannya cowok” dan emang iya. Karakter utama cewek? Cuma Leia. Sama Amidala. Bahkan pilot cewek aja ga ada. Sekarang, gw yakin anak-anak perempuan bakal mengangkat tombak mereka tinggi-tinggi sambil berteriak, “AKU MAU KAYA REY!”

Hell. I want to be her when I grow up.

Di Star Wars VII, karakter cewek sama kuatnya dengan karakter cowok. Ga lebih lemah DAN ga lebih kuat. Menyenangkan sekali. Drama dan humornya sama kuat dan ketika lu berpikir “wah menye-menye nih”, JJ Abrams lewat sambil ngetawain lu dan nebar-nebar pecahan seratus dollar dari keuntungan box office Star Wars VII.

Sedikit minusnya ya, namanya juga ini Star Wars dengan The Force yang jadi sentral cerita, ada beberapa bagian yang berkesan “kebetulan” atau “takdirnya begitu”/”t3h force said so lulz”. Gw berharap semoga akan ada film-film lain dengan karakter yang kuat dan dia berusaha sendiri dengan kemampuan dia sendiri. Gw bener-bener berharap karena Disney udah pasang standar keren kaya gini bisa diikutin film-film lainnya (atau udah? Plis rekomendasiin ke gw ya 😄)

Lalu ada juga yang macem, “dafuq? Gini doang?” TAPI GW YAKIN BAKAL ADA LANJUTANNYA AAAAAAAAAKHASDFASDFASDF. Seperti Death Star yang njeblug pertama kali, akan ada Death Star berikutnya! MERDEKA!

Rating pribadi: 150/100. Iya. Segitu.

PS. Ini gw susah payah ga cerita bagian-bagian OMG-nya. ASLIK. SEGITU KERENNYA.

PPS. JJ Abrams makan apa sih?

PPPS. KELOJOTAN LIAT CAPTAIN PHASMA OMG OMG OMG

PPPPS. I’m a grown-ass 31 year-old woman and I want to be Rey when I grow up.

PPPPPS. Oh iya, nyesel juga kenapa ga nontonnya samaan sama anak-anak fans Star Wars yang nonton setelah kita 😅 Kebayang pas lagi nonton sambil teriak-teriak heboh ngayun-ngayunin lightsaber 😆

Sedikit Cerita soal Kerteh, Trengganu

Halo halo~

Akhir pekan kemarin saya sekeluarga berlibur ke Kerteh, Trengganu. Sebenernya nggak yang berlibur juga sih. Ari harus dinas, sedangkan saya dan Wira ngikut aja, hahaha. Ari ada rapat di Kerteh hari Minggu, jadi kita berangkat dari KL hari Minggu pagi dan menginap di Kerteh sampai hari Selasa pagi.

Salah satu faktor menarik dari Malaysia adalah setiap negara bagian mempunyai hukum masing-masing sesuai dengan hukum yang dipegang oleh kerajaan di negara itu. Malaysia mempunyai 13 negara bagian dan 3 teritori federal (federal territory). Nah, tiap negara bagian ini mempunyai kerajaan masing-masing, dan setiap sultan dari setiap negara bagian mendapatkan giliran untuk menjadi Sultan Yang Dipertuan Agung untuk seluruh Malaysia setiap periodenya. Malaysia tetap mengakui pemerintahan pusat di bawah perdana menteri sebagai pemerintahan yang sah DAN mengakui pemerintahan sultan untuk tiap-tiap negara bagian.

Untuk Trengganu, hukum yang dipegang mirip dengan syariat Islam — malah Trengganu adalah salah satu negara bagian Malaysia yang pertama kali menerima Islam tahun 1300-an — dan ini berlaku di hari kerja. Hari libur di Trengganu adalah Jumat dan Sabtu (dan semua pusat bisnis dan usaha akan tutup saat shalat Jumat), dan hari Minggu adalah hari kerja; makanya Ari ada rapat hari Minggu sore, hahaha.

Untitled//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Kerteh adalah salah satu kota di Trengganu. Kota yang sangat kecil (“Kerteh ini mungkin Cilacap tahun 1970-an ya,” komentar saya) tapi kaya sumber daya alam (minyak bumi dan gas) dan merupakan salah satu pusat kegiatan offshore Petronas. Kerteh ini kombinasi yang menarik antara laut dan perbukitan. Kalau biasanya kota laut itu ya lapang dan rata seperti Cirebon, jalan utama Kerteh itu bener-bener satu sisi menghadap laut, satu sisi menghadap bukit. Bahkan ada dua komplek perumahan Petronas yang diberikan nama Rantau Laut (menghadap laut) dan Rantau Bukit (menghadap bukit) dan dua komplek itu saling berhadap-hadapan.

Kerteh mempunyai satu mall di kotanya: Mesra Mall. Mall ini di bawah manajemen Suria Mall KLCC, sehingga saya merasa agak sedikit familiar dengan desainnya, hahaha.

Untitled//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Salah satu hal favorit saya dari Malaysia adalah banyaknya pantai yang bersih, sepi, dan terawat. Kuantan, Port Dickson, dan sekarang ini, Kerteh, mempunyai pantai-pantai yang sangat bersih dan terawat. Untuk Kerteh, ombak di laut mereka cukup banyak dan tinggi dikarenakan posisi mereka yang menghadap langsung ke laut Cina Selatan. Jauh selepas pantai, banyak ditemukan rig offshore banyak perusahaan minyak. Di Kerteh, sangat lazim terlihat para karyawan perusahan minyak berjalan-jalan sambil mengenakan pakaian coverall.

Untitled//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Untitled//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Sebelumnya saya nulis kalo Kerteh ini sangat kecil — paling tidak untuk pusat kotanya. Suasana alam Kerteh masih terasa sekali, dan Ari bilang kalau jalan dari kota menuju bandara masih berupa hutan di kanan-kirinya dan banyak monyet liar hidup di hutan itu. Nah, karena udaranya masih sangat segar dan bersih, saat di Kerteh saya merasa lapar terus-terusan, hahaha. Habis makan langsung jalan-jalan di pantai, habis jalan-jalan ya makan lagi, hahaha.

Untitled//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Nah, untuk makanan khas, Trengganu mempunyai makanan ringan khas mereka yang bernama keropok lekor.

Untitled//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Namanya memang “keropok” (kerupuk), tapi teksturnya kenyal — mirip sekali dengan pempek lho! — bahan utamanya adalah ikan yang digiling halus dan dicampur tepung. Dihidangkan bisa setelah direbus atau digoreng dan dicocol sambal kecap. Sedap!

Sebelum kami pulang, Ari mengajak kami berjalan-jalan ke area kilang Petronas. Di sinilah saya melihat bagaimana Kerteh berdenyut dan hidup, sebagai salah satu pusat industri kilang minyak dan gas.

Untitled//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Selain pusat industri kilang, saya merasa bahwa industri pariwisata lautnya juga bisa menjadi potensi untuk kota ini. Apalagi setiap malam kabarnya ada pasar malam di Pantai Kemasik (yang sayangnya saya nggak bisa datang dan lihat, huhuhuhu).

Terima kasih, Kerteh! Kota kecil yang cantik dan menyenangkan!

Untitled//embedr.flickr.com/assets/client-code.js

Bullet Journal

Enaknya BuJo (bullet journal) buat saya itu karena adaptif.

Kalo pake buku agenda yang spesifik dikasih taun, bulan, minggu gitu saya suka stres. Biasanya karena:

  1. Kotak ga cukup (apa? Nulis aja sampe ke kotak sebelah? Kalian kira saya ini apa? Manusia tidak berbudaya?)
  2. Lupa, atau nggak ada kegiatan tertentu di hari itu berujung banyak kotak kosong. Dan itu bikin saya stres dan ga termotivasi.

Apalagi saya ibu rumah tangga. Saya ga butuh yang perincian agenda sampe 6 bulan ke depan. Kegiatan saya lebih banyak di hari per hari (daily basis). Besok panggil tukang AC, lusa ada tukang listrik dari gedung apartemen mau cek, dua hari lagi bayar tagihan, dll. Kalopun ada yang sampe event di bulan depan, ya paling jedanya 1-2 bulan aja. Kaya acara sekolahnya Wira.

Ibu rumah tangga butuh jurnal gitu po Kap?

Buat orang yang kacau balau kaya saya… Butuh 😅 Bahkan hal yang sesimpel “LIPET PAKAIAN”. Saya malasnya malas nista kalo udah urusan lipet pakaian; dan sistem BuJo yang berupa “Forward Task” (kalo ga bisa kerjain hari ini, TULIS ULANG di hari berikutnya) itu semacem pengingat buat saya.

“Senin lipet pakaian? Aaah, males aah. Syit, ini Selasa, kemarin lupa lipet pakaian ya? YAAMPUN IYA INI RABU GW KERJAIN HIH”

Pokoknya apapun yang nongol di kepala saya, langsung saya catet. Makanya di BuJo itu jangan sok kepedean nulis agenda harian (daily log) langsung digabruk seminggu atau sebulan sekali tulis. Disarankan nulis daily log itu pagi hari atau malam sebelumnya pas mau tidur. Kalo di hari itu ada yang perlu dicatet, tinggal tulis aja.

Tapi kalo agenda gw emang padet selama seminggu atau sebulan gimana Kap?

Ya ada kok yang namanya monthly log, bahkan future log. Kebetulan aja saya fokusnya di daily log karena saya butuhnya itu.

Kuncinya itu di Index. Pas mulai bullet journal, jangan lupa bikin indeks di halaman pertama. Jadi kalo mau crosscheck ke beberapa hari sebelumnya, gampang nyarinya. Di saya, misalnya. “Oh, hasil rapat sama gurunya Wira mengenai perkembangan anak ini selama setahun ini ada di halaman 4. Oh, daftar buku yang pengen gw beli ada di halaman 7.” Dan iya, kita boleh nulis APA AJA di bullet journal, ga peduli seberapa geje (saya barusan abisin satu halaman di jurnal saya buat… Latian nulis cursive. Isinya curhat ga penting sama sekali.)

Gw abis nulis Daily Log buat hari ini nih Kap. Tapi gw juga pengen nulis daftar belanjaan buat hadiah Natalan nanti. Bisa langsung tulis di bawahnya?

Bisa. Ada yang rapi banget jadi dipisah halamannya, tapi kalo kaya saya yang ga masalah dengan itu, ya tulis aja hayu. Daily log hari berikutnya? Ya tinggal tulis. Makanya indeks penting — buat nyari referensi — dan nulis daily log itu ya di pagi hari atau malam sebelumnya.

Ada task atau event yang gw tulis, tapi belum gw kerjain. Gw forward udah sampe berhari-hari sampe gw males sendiri dan ga relevan. Itu gimana?

Kalo udah ga relevan, coret. Sesimpel itu. Saya pernah nulis salah satu task saya: “Lanjutin baca ‘Baudolino’.” Ternyata selama 2-3 hari berturut-turut, saya nggak sempet membaca. Jadi lah saya coret. Baru saya tulis lagi di jurnal saya ketika kegiatan saya agak longgar/santai.

Dan seperti yang saya tulis di atas, sistem ini nggak membutuhkan buku agenda khusus. Buku apa saja bisa digunakan.

Saya tiba-tiba nulis ini karena apa yang terjadi seminggu ini. Kami baru pulang dari Jakarta, dan Ari langsung dinas luar kota selama seminggu. Selama seminggu pula saya antar jemput Wira jalan kaki dan mempersiapkan biskuit untuk pesta Natal dan akhir tahun di sekolahnya Wira. Plus, mengurus rumah. Energi saya setiap malam selama seminggu ini sampai minus.

Dan Alhamdulillah semuanya bisa kepegang dan selesai dengan baik; karena saya mencoba rutin mencatat di jurnal saya dengan sistem bullet journal ini.

Kalo ada temen-temen yang ingin tahu lebih jauh soal bullet journal, bisa cek di laman: bulletjournal.com