Siap-siap ‘Aggretsuko’ Season 2~

Ada yang udah nonton ‘Aggretsuko’?

Aggretsuko itu serial anime di Netflix produksi Sanrio yang menceritakan kehidupan sehari-hari seekor (? Seorang?) panda merah bernama Retsuko. Retsuko ini cewek Jepang yang bekerja sebagai staf akuntan di sebuah perusahan besar dan mempunyai atasan yang super nyebelin, hahaha.

836E8A4D-5A6C-49CC-9340-F7B76BCF917B

Anime Aggretsuko ini rame dibicarain karena, pake bahasa masa kini, relatable. Kegiatan dan masalah yang dialami Retsuko itu ya kegiatan dan masalah yang, buat banyak pekerja di kantoran, “gue banget!” Apalagi Aggretsuko juga menyentil beberapa isu sosial yang ada di Jepang seperti seksisme dan diskriminasi. Kita ngeliat gimana cara “bertahan hidup” di perkantoran. Ada yang kepaksa manut weh seperti Retsuko, ada yang menentang, ada yang menjilat bos — dan seperti banyak bahan cerita dari Jepang, ga pernah ada yang bener-bener hitam putih jahat baik. Bahkan staf yang gayanya sok imut atau menjilat di depan bos itu termasuk salah satu cara dia bertahan hidup di lingkungan pekerjaan yang manusia-manusianya itu ‘replaceable’ (mudah tergantikan/digantikan.)

Gw rasa itu bagian dari lingkungan kerja saat ini ya? Waktu gw masih ngantor di kampus, gw punya pertanyaan yang sama dan itu bikin gw jadi parno sendiri.

Am I replaceable? Apakah kemampuan gw ini mudah digantikan/mudah ditiru? Apa kemampuan gw yang bisa bikin gw unik dan ga mudah tergantikan?

Tentu saja dasarnya manusia itu mudah tergantikan. Kemampuan yang dipunya, seunik apapun, minimal ada lah 1-2 orang di luar sana yang juga bisa. Tinggal masalah berapa lama dan seberapa langka. Tahun 1990-2000an, industri IT belum mempunyai banyak praktisi, sehingga lulusan jurusan IT itu sangat dihargai dan sangat dicari. Sekarang, udah mulai banyak yang ahli dan jago di dunia IT, baik melalui jalur pendidikan formal maupun nggak. Ya industri juga berkembang (misalnya, waktu gw masih SD ya mana tau gw soal pekerjaan sebagai digital content creator atau social media admin,) jadi emang pinter-pinternya kita di adaptasi.

Balik ke Retsuko.

Sanrio ini kan biasanya dikenal dengan karakter yang lucu-lucu macem Hello Kitty, Badtz Maru, dan Keroppi. Nah, sepertinya mereka masuk ke arena rage kawaii melalui Retsuko atau negative mascot seperti Gudetama. Menarik melihatnya, karena para maskot ini jadi lebih manusiawi, lebih “gue banget”, dan di beberapa bagian — seperti Aggretsuko — lebih menyentuh isu sosial.

Gw agak kaget liat anime Aggretsuko dibikin season 2, karena seinget gw, jarang (atau ga ada?) anime yang lanjut sampe banyak season (?) begitu kecuali yang memang disadur dari manga/komik yang panjangnya naujubilah (yes, Naruto and One Piece. I’m looking at you.) Tapi mungkin gw salah, mengingat gw udah lama banget ga ngikutin dunia anime manga, hahaha.

Omong-omong penggambaran rage kawaii, bisa diliat di TVC Van Houten Cocoa dari Jepang ini.

Tautan luar:

Advertisements

Sally. Bebek atau Ayam.

Awalnya sederhana.

Wira ijin nggak masuk sekolah karena infeksi bakteri yang mengakibatkan demam tinggi sejak Sabtu lalu.

Hari ini Alhamdulillah dia udah agak mendingan. Pagi-pagi, selepas gw antar Rey ke preschool dan beliin Wira sarapan beserta titipan jus buah, Wira nonton serial ‘LINE Toon’ di Disney XD. Kalo familiar dengan app LINE Chat dan app-app game bikinan LINE Corp. pasti familiar dengan para karakter di ‘LINE Toon’.

46DFA9DB-3FF0-47F5-926B-09965C3EDD8D

Lalu anaknya bertanya, “ibu, itu yang kuning itu… Siapa namanya?”

”James? Yang cowok itu? James.”

”Bukan. Yang kecil itu.”

”Oh? Sally. Namanya Sally.”

”Iya. Sally.

Sally itu anak ayam atau anak bebek ya bu?”

Buka Google dong gw.

Gw selalu ngira Sally itu anak bebek. Secara anatomi SEHARUSNYA dia anak bebek, terutama paruhnya.

Jawabannya?

Anak ayam, sodara-sodara.

Sally (サリー Sarī) is a female chick who is the fifth main member of LINE friends.

http://line.wikia.com/wiki/Sally

Masih penasaran kan; gw cek lah apa iya Sally itu anak ayam. Gw ga pengen sumbernya dari Wikia doang karena selain itu bukan jalur media resmi, bisa banget kontennya diedit kan.

img_0938

Liat di kotak teks paling bawah: “Brighten up your LINE experience with everyone’s favorite cute little chick Sally.”

Nah, ternyata ada penjelasan “logis” dari Tyas soal status Sally sebagai anak ayam, bukannya anak bebek.

Jawabannya ada di ban renang.

//BUKAN

Mbak Dita ternyata udah lama tau Sally itu ayam, tapi dia memilih denial.

Di beberapa obrolan, jadinya agak… mmm, kurang terkontrol.

Sampe sini gw bertanya hal apa lagi yang ngebuat persepsi dan memori masa kecil gw rada dikhianati (yes, I’m looking at you RCTI’s Saint Seiya. WTF did you do to Shun Andromeda hhhhhhh) setelah pihak Sanrio ngomong kalo Hello Kitty bukan kucing.

Kelas v. Dunia Luar

//ngoceh kapkap pagi-pagi
//skip aja weh, ndak penting kok

Dulu waktu masih kuliah, dan ketika masih ngajar, materi kuliah untuk Marketing Management itu ya basa basi seperti biasa lah ya. Teori Kotler nganu nganu segala macem visi 5 taun visi 10 taun product price promotion place nganu nganu.

Gw penasaran sekarang kaya gimana materi yang diajarin karena jelas dunia bisnis udah berubah banget, para perusahaan besar yang sering disebut-sebut di buku teks itu antara sedang kesandung-sandung kasus atau ya udah bangkrut. Kalo udah kaya gitu, biasanya balik ke dosen dan mahasiswanya sih. Yang rajin baca/nonton berita dan ngikut berita biasanya langsung, “oke, ini textbook dan kita cuma ambil teori dasar di sini biar ngerti logikanya gimana di awal. Ini kondisi sekarang dan liat teori dari buku yang ngebikin kondisi perusahaan dari kondisi bagus ke nyaris bangkrut,” atau minimal pertanyaan, “teori di buku ini masih relevan ga sih? Starbucks digadang-gadang baristanya sangat perhatian dengan pembeli sampe hapal nama dan pesanan. Apakah itu cukup? Gimana dengan kasus dua laki-laki kulit hitam yang diberangus polisi di Philadelphia? Perlu pelatihan lebih lanjut untuk para barista? Amerika saja atau internasional? Menurut lu, gen Millennial bener mengganggu dunia bisnis atau dunia bisnis yang ga bisa ngikutin?”

Sering diskusi di ruang kelas seperti itu yang sangat berpengaruh untuk pembawaan seseorang di publik. Gw berharap diskusi-diskusi seperti itu selalu ada dan makin rame sih.

Damn, I miss being in the classroom, hahaha.

Anak Perempuan

Dulu gw suka nonton DAAI TV — stasiun TV milik Tzu Chi, organisasi kemanusiaan dengan latar belakang Buddhisme (tapi mereka ini ya aslinya organisasi kemanusiaan, jadi mau agama apapun dan latar belakang apapun ya monggo) — dan suka ada serial TV yang kisah-kisahnya diangkat dari kisah nyata para relawan Tzu Chi.

Sering ada dialog, “tidak apa-apa kalau hanya punya anak perempuan. Anak perempuan juga sangat berbakti dan berkarya,” atau, “sangat terbantu dengan anak perempuan. Mereka sangat cergas dan cerdas dalam mengurus urusan sehari-hari.”

Sedikit langkah kecil untuk edukasi masyarakat bahwa anak perempuan juga tidak berbeda dari anak laki-laki.