Cerita Pasca Pindahan

Sebenernya udah dua minggu yang lalu gw pindahan sih ya, tapi bener-bener baru bisa nafas sekarang.

Kesannya mendadak, tapi pindahan ini emang direncanakan selama beberapa bulan — dan gw masih berdomisili di Kuala Lumpur kok, hahaha. Cuma pindah gedung apartemen aja.

Penyebab utamanya itu ini:

Proyek bangunan apartemen juga, dan menurut rencana, bakal setinggi 30 lantai.

Selain berisik, debunya juga ga karuan. Gw masih gapapa, anak-anak yang kenapa-kenapa. Waktu kita mulai rencana pindahan, Rey itu udah batuk pilek dan sinusitis Wira ga berhenti-berhenti.

Ada beberapa faktor juga, yang sebenernya ganggu — ga ganggu sih. Jadi gedung apartemen kita yang sebelum sekarang ini gedung tua banget. Ngobrol sama uncle taksi, katanya usia gedungnya udah lebih 20 taun.

Now, I love old buildings. I think they are charming — buuuuut, exterior and historical wise.

Di unit gw, pipa airnya udah banyak — koreksi, SEMUA — berkarat. Jadi kebayang lah tiap pagi nyalain air di wastafel buat cuci muka bentuk airnya kaya apa yak. Itu baru pagi; bayangin ketika kita balik dari mudik selama seminggu di Indonesia.

Waktu kita mau pindah, pemilik apartemen sempet nanya kira-kira kita bisa rekomendasiin unit itu ke temen/kenalan kita atau ga. Berita baiknya, Ari dan gw berhasil meyakinkan si pemilik kalo sebaiknya dia melakukan perbaikan besar-besaran/major overhaul buat unit dia. Dari pipa, cat tembok, sampe lantai. Mumpung lah ada proyek bangunan di sebelah — yang gw ga yakin kalo bakal ada penyewa dengan kondisi proyek bangunan persis di sebelah gedung. Jadi ya “mumpung kosong”, sekalian aja diperbaiki.

Kami pindah mendekati pusat kota, dan Alhamdulillah akses jauh lebih mudah. Dekat dengan sekolahnya Wira, dekat stasiun LRT, dan dekat dengan supermarket. Plus, beberapa hari dalam seminggu, ada yang jualan duren pake mobil pick-up di depan apartemen *penting*

Aren’t you missing The Twins view, Kap?

Ya dan nggak.

Ya, karena, halo, Twin Towers getoh. Landmark Kuala Lumpur dan Malaysia yang luar biasa beken (sampe masuk film ‘The Entrapment’ walopun entah gimana dibilangnya Twin Towers itu lokasi Bank of Malaysia. Nggg… Nggak. Twin Towers itu kantornya Petronas sak hohah-hohah gitu.)

Nggak, karena salah satu menara udah ketutupan proyek Four Seasons Residences yang tingginya juga mentereng. Selain itu, jendela yang menatap Twin Towers itu langsung ke arah barat yang artinya kalo sore hari itu ketika musim panas, jadinya PANAS BANGET. DAN INI PANASNYA MALAYSIA. YANG PANAS BANGET.

Oke. Soal pindahan.

Jadi kami pake jasa movers — dari pengepakan sampe pindahan. Untuk unpacking and repositioning, itu gw sama Ari yang ngerjain. Sempet ada dramak sama pihak sekuriti apartemen; karena pindahnya hari Sabtu, dibatasi waktu sampe jam 1 siang. Nah, jam 1 siang pas di apartemen lama itu tinggal nurunin tiga kotak lagi, tapi sekuriti udah bilang ga boleh. Negosiasi sama manajemen dan memastikan kalo emang tinggal nurunin barang, akhirnya dibolehin.

Sampe apartemen baru, SAMA JUGA. Batas waktu jam 1 siang; kita sampe apartemen baru? Jam 2. Hyuk.

Alhamdulillah sama pihak apartemen dikasih batas waktu sampe jam 4 sore.

Pas akhir pekan Sabtu-Minggu itu lah, kerja bakti beberes dan merapikan barang di apartemen. Banyak yang nanya ke gw, apakah pindah ke apartemen yang lebih besar; jawaban gw: nggak. Kami malah pindah ke apartemen yang sedikit lebih kecil. Kenapa? Supaya lebih mudah diurus dan dibersihkan. Mengurangi kebiasaan hoarding juga, heuhe. Anak-anak bisa beraktivitas di luar ruangan — di taman ataupun tempat bermain apartemen — jadi ga terlalu masalah untuk ruang gerak.

Selesai beberes, ya masih ada pekerjaan lain. Masang Internet, TV kabel, ganti alamat di tagihan, dan koordinasi sama pihak manajemen apartemen baru.

Paling sedap?

Hari Senin, Ari dinas luar kota.

Horeee.

Ngurusin dua bocah piyik, yang bayi lagi rewel berat maunya nemplok karena separation anxiety.

Hari Selasanya, mati lampu.

Asleeee, itu jam 4 pagi gw kebangun karena mati lampu. Cek kotak sekering, ga ada yang turun. Tanya sekuriti, mereka juga bilang ga ada masalah di listrik gedung. Jadi lah merem sebisa mungkin nunggu matahari terbit.

Sebisa gw untuk tidur ketika si anak bayi malah buka mata, kucek-kucek mata, lalu cengengesan jam setengah 5 pagi.

Muka gw ditabokin Rey.

“Nak, ibu masih ngantuk. Ibu bobo dulu yaaa.”

“Ta! Ta ta ta ta!” *PLAK* nampar muka ibunya.

Gw merem, sementara Rey masih duduk ngeliat ke luar jendela. Pas itu sedang ujan badai, jadi banyak geledek dan kilat. Samar-samar, gw denger dan ngeliat Rey terkagum-kagum menatap kilat pertama kalinya (“woooooooh! Wuuuuuhhhh!”)

Pagi, jam 9, gw ke kantor manajemen. Minta teknisi dateng ke unit gw untuk ngecek kotak sekering. Ga berapa lama, teknisi dateng. Ternyata masalahnya ada di sekering yang longgar dan korslet. Waktu dicek kabelnya, sampe ada bunga api memercik.

“Nasib baik, puan; ini mati tenaga je. Takde kebakaran pun.”

(Beruntung. “Cuma” mati listrik, ga kebakaran.)

Hmmm. Yikes.

Ganti sekering lah ya, Alhamdulillah teknisinya ada stok sekering. Lapor ke agen soal sekering jadi pemilik unit tau kalo ada perubahan di kotak sekering.

Sekarang, kami udah di apartemen baru ini selama 2 minggu. Alhamdulillah nyaman dan Insya Allah anak-anak juga betah.

Advertisements

Tokyo Idols (2017)

Image

Nonton dokumenter ‘Tokyo Idols’ di Netflix.

Gimana ya… Mirip lah sama dokumenter-dokumenter/jurnalisme investigasi soal tren idol dari Jepang ini. Kritik sosial akan para fans idol yang rata-rata oom-oom dengan para idol yang usianya masih belasan tahun, perjuangan para idol untuk tetap relevan di mata fans, dan sebagainya.

Gw lebih penasaran dengan perspektif fans wanita. Kalo fans laki-laki ya mereka emang terobsesi dan sudah komitmen menghabiskan sejumlah besar uang untuk CD, merchandise, handshake event, sampe tiket live shows. Gw penasaran apakah fans wanita sama komitmennya. Sayangnya kaya gini ini jarang/ga pernah dibahas.

Baby Blues (dalam rangka World Mental Health Day 2017)

Terakhir ngeblog tanggal 29 September, ini udah mau November ajeeee, hahaha.

Sebenernya pengen ngeblog beberapa minggu lalu tapi terlalu malas, soalnya udah diwakilkan di Twitter (???) — topiknya soal baby blues dalam rangka World Mental Health Day. Kenapa ngomongin baby blues? Soalnya itu hal yang lumayan deket di gw, dan gw yakin ibu-ibu di luar sana juga pasti ngalamin. Sisterhood in motherhood, ceunah.

Oke. Baby blues. Itu apaan sih?

Kondisi psikologis yang tidak karuan di ibu yang baru melahirkan. Kenapa gw bilang “tidak karuan”, karena baby blues itu BUKAN HANYA membenci anak lho. Jadi super protektif/terobsesi ke anak juga jadi salah satu tanda baby blues. Protektif kaya gimana? Kaya… Ga mau ninggalin sisi anak barang sedetik pun karena terobsesi pikiran-pikiran buruk “aduh nanti anak gw mendadak stop napas gimana aduh nanti anak gw tidur terus dan ga bangun-bangun lagi gimana.” Pokoknya pikiran-pikiran kalut/anxiety itu menggila dan berkali-kali lipat. Bahkan orang lain mau gendong si bayi pun ga diijinkan sama sekali — dan ada kecurigaan bahwa orang lain/orang asing akan menyakiti si bayi. Kaya Smeagol. Versi ibu abis lahiran.

Gw mengalami baby blues dua kali; walopun skalanya jauh berbeda (ketika dengan Rey, gw udah lebih bisa mengatur emosi dan pikiran, jadi ga menjalar ke mana-mana.) Salah satu penyebab baby blues adalah hormon yang ga karuan. Hormon ini mempengaruhi kerja otak, dan ini yang bikin para ibu ngerasa dirinya, “kok gw korslet ya?”

Apakah ada ibu yang nggak mengalami baby blues? Ada kok. Ada ibu yang melahirkan dengan tenang, merawat si bayi baru lahir dengan senang, dan menyayangi si anak seolah ga ada masalah apapun.

Tapi ya kalo sampe bilang, “saya ga baby blues, jadi baby blues itu ga ada di dunia ini!”

Nah, sekarang: apakah baby blues bisa “disembuhkan”? (Gw kasih tanda kutip karena itu bukan penyakit (?) Lebih ke kondisi psikologis)

Bisa. Salah satu cara, dan yang paling utama, untuk mengatasi baby blues adalah mengakui kalo kita mengalami baby blues. Singkatnya, jangan denial. Dengerin badan, dan terutamanya, dengerin pikiran. “Gw ga hepi, gw nangis terus, gw marah ke bayi gw padahal dia ga salah apa-apa, gw ngerasa diri gw jelek banget, gw ga pede, gw ga ceria… Kayanya gw baby blues ya?” Iya. Itu baby blues. Dan TIDAK APA-APA. Kita bisa hadepin bareng-bareng. Lanjut.

Udah ga denial nih, udah mengakui “ya saya mengalami baby blues” terus apa nih?

Cari bantuan orang terdekat.

Nah, ini orang sekitar kita seharusnya cukup sadar diri untuk edukasi diri mereka sendiri. Banyak lho suami-suami yang ga peduli baby blues itu apa. Modelan macam gini nih bikin emosi jiwa.

“Pah, kayanya aku baby blues ini.”

“Ah, apaan sih. Ga ada itu baby blues. Kamu aja yang cemen ga bisa ngurus anak.”

Temen-temen gw yang cowok aja suka kesel ya liat cowok modelan gitu yang ga peduli pasangannya; YA GIMANA PERASAAN KAMI YA PARA ISTRI KALO ADA SUAMI LAMBENYA AMIS GITU.

Kenapa peran suami/ayah penting? Karena kadang ipar/mertua/orang tua/sepupu/anggota keluarga lain ga/belum paham. Ketika semua tangan menuding si ibu, ya si ayah juga patut berdiri bersama ibu dong. Itu anak lahir karena peran si ayah juga kan? Dikata netes dari Kinderjoy?

Ada ibu-ibu yang saaaangat beruntung. Suaminya ngeh, keluarga besarnya pun paham dan membantu. Kalo seperti itu, Alhamdulillah sekali bukan? Bayangin kalo semua ibu-ibu dapet bantuan dan dukungan dari keluarga sekitar. Bantuan dan dukungan orang sekitar ini sangat membantu si ibu melawan baby blues.

Masih dalam ranah dukungan orang sekitar, si ibu bisa mencari support group. Misalnya, teman-teman atau tetangga yang kebetulan para ibu juga. Itu gw rasain sendiri, sangat menolong. Support group nolong gw banget pasca lahiran Rey; padahal ‘hanya’ group WhatsApp.

Masih ga ketolong? Cari bantuan medis/terlatih seperti psikolog atau psikiater. JANGAN MALU DAN JANGAN TAKUT. Mereka ada untuk membantu kita. Ada lho, argumennya, “nanti juga disembuhin Tuhan! Ngapain ke dokter?”

Coba deh kita berpikir sebentar yes.

Iya, Tuhan menyembuhkan kita.

Siapa tau, Tuhan menyembuhkan kita lewat tangan-tanganNya yang berupa dokter dan tenaga medis kan? Jadi jangan malu, jangan takut, dan kalo ada yang ngata-ngatain… Percayalah, celotehan kopekan kerak karat seng gelombang itu ga ada gunanya. Those who mind don’t matter, those who matter don’t mind.

Dan ibu, istirahatlah.

Nggak apa-apa merasa capek. Nggak apa-apa merasa sedih. Nggak apa-apa merasa marah. Kenali rasa capek itu, kenali rasa sedih itu, kenali rasa marah itu.

Setelahnya, kita semangat lagi. Kita hepi lagi.

Gapapa lho, kalo mau beristirahat. Bayi menangis pas kita mandi? Bener, gapapa. Wajar, namanya juga bayi. Iya, dia nangis. Nyariin mamanya di mana kok ga ada baunya mama di deketku (tips: coba tinggalin pakaian kotor kita deket si bayi, yang banjir keringet dan/atau ASI makin bagus, biar bayi bisa nyium bau kita) tapi… Gini deh. Bayi newborn teh udah bisa apa sih? Buat gw, mereka macem kubis. Digeletakin diem aja di tempat tidur, ga gelindingan. Gapapa lho, ditinggal sebentar sementara si ibu mandi, makan, atau ke toilet sebentar.

Lalu membiarkan orang lain memegang si bayi (ini kalo ada orang sekitar yang membantu ya) sementara ibu istirahat. Ini penting.

Waktu Wira lahir, RS tempat Wira lahir itu punya kebijakan bayi WAJIB room-in dengan si ibu. Jadi sejak bayi owek lahir, langsung satu ruangan sama si ibu. Katanya sih biar ikatannya lebih erat gitu.

Oke, mungkin bisa ya lebih erat.

Di gw?

GW STRES MEN. GW STRES.

Baru lahiran, bekas jaitan masih sakit, ini lagi gw panik liat mini-Hobbit yang baru bisa ehek huwe kentut pipis pupup nyusu doang 24 jam langsung hhhhh.

Waktu Rey lahir, nah, RS ngasih opsi: mau room-in atau bayi di nursery? Bidan ngasih saran, “nursery saja. Ibu bisa istirahat.”

Gw ragu, tapi gw mengiyakan.

Apparently that was the best decision ever.

Rey dibawa ke kamar gw hanya untuk menyusui (setiap 2-3 jam sekali). Sisanya, gw bisa istirahat/tidur, mengutuki wasir gw yang kumat, mainan hape, makan, dan beberes. Gw ga stres dan ga kepikiran. Bahkan ketika dokter bilang kalo bilirubin Rey tinggi dan musti disinar, gw lebih tenang (bandingkan saat Wira musti disinar; gw panik dan nangis, berujung ASI langsung seret.) Gw malah sempet diomelin suster karena gw nyusuin Rey kelamaan soalnya disambi meluk-meluk dan main-main, hahaha.

Ada dua ucapan dari laki-laki dalam hidup gw yang gw inget betul pasca lahiran Rey.

Pertama, bokap gw.

“Anak nangis mah biasa, non. Apalagi bayi baru lahir. Kamu santai aja. Nggak usah merasa bersalah atau stres. Kalo kamunya tenang, anak juga tenang.”

Kedua, suami gw. Ari.

“Piring kotor ga bakal ke mana. Ga usah maksain diri rumah harus bersih kinclong kalo kamu lagi sibuk pegang adek. Prioritas kamu adalah anak-anak dan kesehatanmu dulu. Urusan rumah, bisa dipikir nanti.”

Dan dua ucapan itu gw inget betul untuk ngebantu gw lebih tenang dan lebih sabar.

Jadi untuk para ibu-ibu yang sedang ngerasa cape, ngerasa sedih, ngerasa sendirian… Kalian ga sendirian. Istirahat dulu. Nggak apa-apa. Ketika badan sudah kembali segar, pikiran sudah tenang, ayo beraktifitas kembali. Anak-anak membutuhkan ibu yang bahagia.

Persetan dengan orang-orang yang bilang kalo ibu ga berhak istirahat.

Oh. Dan jangan keseringan liat social media lalu membanding-bandingkan anak dan diri sendiri dengan anak seleb anu atau anak mbak inu. Ga ada faedahnya. Yang berjuang di idup kita ya kita kok, ga usah banding-bandingin dengan orang lain yes?

Serial TV: ‘Elementary’

CBS_ELEMENTARY_514_CLEAN_IMAGE_thumb_Master

Source: CBS

‘Elementary’ is not a series that I want. It’s a series that I need.

Kapan ya gw pertama kali denger kabar soal serial TV ini… Bertahun-tahun lalu, kalo ga salah. Pas gw kuliah (?) — ada rumor soal serial TV yang berdasarkan Sherlock Holmes dengan “sedikit variasi” dan setting jaman modern. ‘Variasi’nya adalah: John Watson menjadi Joan Watson.

Iya, dokter Watson adalah seorang perempuan di serial ‘Elementary’.

Diperankan oleh Lucy Liu.

Pas itu, gw ngamuk. I was — OK, still is, actually. But I was obnoxious– OK, still obnoxious — an obnoxious purist. Kok John Watson jadi cewek? Apa-apaan? Terus jadi love interest-nya Holmes? APA-APAAN?

I mean, I’m not even a fan of BBC’s ‘Sherlock’. The huge part of my disdain comes from the majority of the fans who goes, “kyaaaa~ Holmes pacaran sama Watson kyaaaa~” //fight me

Jadi gw lebih mirip kakek-kakek tukang marah-marah yang suka nongkrong di teras depan rumah sambil mengokang senapan angin buat nembakin siapapun yang niat nerobos halaman rumah, sampe gw ngeliat serial ini nongol di daftar ‘Recommended’ di IFLIX gw.

Jadi gw nonton satu episode. No harm in that. Lets try. If it’s that bad we can always close the window and rant on the Internet so lets give it a try.

Dari satu episode, menjalar sampe lima season.

And one of the best feelings in the world is to see Netflix (yes, Netflix Asia got ‘Elementary’ too)  notification: “Season 5 ‘Elementary’ is here!” while you’re at the airport, waiting for your flight to take you home. Kaya… “asik, bisa istirahat abis mudik sambil nonton” gitu.

I. LOVE. IT.

Gw sangat suka dengan dinamika antara Sherlock Holmes (Jonny Lee Miller) dan Joan Watson (Lucy Liu). Tentu aja ada sedikit variasi di sana sini (di serial TV, Watson awalnya adalah sober companion Holmes dalam proses melepaskan diri dari ketergantungan narkotika) dan banyak hal yang diganti untuk mengikuti jaman modern; tapi, hubungan Watson dan Holmes tetap menarik dan kocak. Holmes yang eksentrik dan Watson yang awalnya bingung tapi lama-lama bodo amat ngebuat Holmes dan Watson di ‘Elementary’ ini emang partner yang sangat cocok. You can see that they are there for each other but they can stand on their own to support one another.

Dan yang juga gw suka: Watson TIDAK digambarkan lebih bodoh atau lebih dungu daripada Holmes. Watson-nya Lucy Liu itu cerdas dan tangguh; dan sering Holmes mengakui itu.

Salah satu sisi komedi dari serial TV ini hubungan Holmes dengan Everyone, sebuah grup hacker dan ahli IT. Hubungan Holmes dengan Everyone ini benci tapi rindu. Holmes sering minta tolong bantuan mereka (mirip seperti Baker Street Irregulars) dan Everyone sering minta hadiah sebagai imbalannya. ‘Hadiah’nya itu ya macem-macem; dari Holmes musti nyariin figurine langka yang harganya mahal banget sampe Holmes harus nari pake tutu dan leotard sambil nyanyi ‘Let It Go’ dan direkam oleh ‘Everyone’.

Buat yang suka serial TV detektif ringan, serial ‘Elementary’ ini bisa coba ditonton.

Dongeng Sebelum Tidur?

Beberapa hari lalu, gw bacain buku cerita ke Wira sebagai salah satu bagian ‘ritual’ sebelum tidur.

Yang biasanya standar lah ya macem Thomas the Tank Engine, kali ini dia minta dibacain cerita dari buku kumpulan kisah ajaib Enid Blyton (bahasa Inggris). Mulai lah dengan, “once there was a little girl who doesn’t believe in fairies…

“Ibu. What is fairy[ies]?”

Oke.

Gw… melotot.

ANAK GW GA TAU APA ITU PERI?

SEMENTARA EMAKNYA DIE-HARD FAN MONSTER LOCH NESS?

Tapi ya gimana ya.

Dengan akses informasi yang begitu cepat dan hebat saat ini, anak-anak itu ya melihat dunia mereka it is as it is. Ciri khas Enid Blyton dalam membuat cerita adalah bagaimana dia menggabungkan dunia manusia dengan dunia peri dan fantasi. Kaya… Ada hal-hal yang dilakukan oleh manusia yang ternyata berpengaruh ke peri, dan itu ga disengaja. Seperti sepatu tua yang dibuang deket sungai, eh ternyata jadi tempat tinggal kurcaci. Hal kaya gitu-gitu itu lho yang udah mulai ga ada di literatur dan bahan tontonan anak. Yang gw liat, lebih kaya pemisah jelas “oh ini dunia nyata” dan “oh ini fantasi.”

“Ngenalin peri gitu bisa lewat serial Sofia the First kan?”

Ya dan nggak.

Ya, karena dunia Sofia itu dunia sihir. Ada pegasus, penyihir, dan segala macem.

Tapi nggak, karena anak ngeliatnya ya “itu ga nyata. Itu hanya di TV” (anak jaman sekarang yeeee cepet bener dewasanya.)

What I want to do is for my children to believe there are some magical mischievousness around them.

Ngajarin takhayul? Bikin percaya yang ga logis?

Mungkin.

Mungkin.

I’m treading on a really thin line here. Tapi gw pengen anak-anak gw punya imajinasi dan pemahaman bahwa dunia ini ga terbatas hal-hal material yang mereka bisa pegang. Think Ghibli’s ‘Sen to Chihiro’/’Spirited Away’. THAT kind of moment where dream and reality collides.

Lalu gw mulai berpikir untuk mengenalkan anak-anak gw ke dongeng-dongeng klasik; dan dongeng klasik itu pasti ya nyebut salah satu nama: Grimm.

Dan jujur, gw ragu-ragu, men.

Mungkin sebab kenapa gw belum kenalin dongeng ke anak-anak karena… I know how fucked up those fairy tales are (?)

Bahkan yang udah versi Grimm, itu tetep sengklek. Misalnya, kisah The Frog King. SIAPA YANG BILANG ITU KODOK JADI PANGERAN BEGITU DICIUM HAH? HAH? Aslinya itu kodok dilempar ke dinding sama si putri saking muntabnya barulah *jreng* berubah jadi pangeran; and to be fair, that frog is definitely a fuccboi. Selain minta jadi “playfellow and companion,” juga minta:

  1. Duduk di meja dan kursi yang sama.
  2. Makan dari piring yang sama.
  3. Minum dari cangkir yang sama.
  4. TIDUR DI TEMPAT TIDUR YANG SAMA.

ALL THAT ONLY TO GET A FREAKING GOLDEN BALL FROM A POND.

Ga heran banyak cowok brengsek yang self-entitled jerks. “Gw kan udah nolong lu! Lu harus jadi pacar gw dong!” Esianjing minta ditempeleng. Udah bagus itu putrinya cuma lempar ke dinding; ga sekalian dijiret lalu dipotong jadi delapan jadiin swikee.

Makin gw baca dongeng-dongeng Grimm, makin gw jengkel. Ada pula ini raja tua yang sampe ngelarang penasehatnya nunjukin lukisan cewek ke anaknya karena si raja tau kalo sampe anak ini liat itu lukisan, langsung kepincut dan lupa ngurusin negara.

And when the prince actually saw the painting, he fainted.

PENGSAN BELIAU.

BARU LIAT LUKISAN. PENGSAN.

Terus ngabisin harta negara lima ton emas buat hadiah ke putri yang bahkan si putri ini ga kenal dia dan ga tau dia siapa SITU SEHAAAAAAATTTTT? HHHHHHHHH.

TERUS PUTRINYA DICULIK DONG.

DICULIK.

ALESANNYA?

“WA SUKA SAMA LU LOL”

TEMPELENG NIH TEMPELENG.

(maramara baca buku dongeng Grimm)

Temen gw sih ngasih saran, untuk ngenalin dongeng ke anak itu mungkin berdasarkan area geografis dulu. Jadi, misalnya, legenda rakyat Rusia, lalu mitos dan legenda Afrika, lalu kisah rakyat Indonesia. Jadi dari situ, ketika udah cukup umur, baru lah masuk ke yang spesifik macem Grimm dan Hans Christian Andersen.