Rey dan Tantrum

Jadi orang tua itu ya, kadang mau dibilang “ilmu”nya udah banyak juga tetep aja kelewat satu-dua hal. “Orang tua musti lembut,” “hukuman itu nggak efektif. Gunakan positive reinforcement dan negative reinforcement.” Semacam itu lah.

Rey ini mulai memasuki usia dua tahun, dan seperti banyak tulisan mengenai perkembangan anak, ada yang namanya “Terrible Two” — yang sering diperhalus menjadi “Terrific Two”, karena anggapan “terrible” itu negatif dan nggak membuat keadaan menjadi lebih baik.

Gw memang berkesan membanding-bandingkan anak-anak lagi dan lagi dan lagi, tapi gw rasa ini perlu. Terutamanya untuk yang merasa kalo, “ah, kakak dan adik nggak akan berbeda jauh kok.” Wira ketika memasuki usia dua tahun adalah anak laki-laki paling manis yang pernah lu liat — dan jujur, itu karena gw amat sangat keras ke dia. Mungkin gw masuk ke klub Tiger Mom, dan itu sebab kenapa gw tau alasan Wira menjadi anak yang super manis, super penurut, dan nggak banyak tingkah.

Rey sangat berbeda dibanding abangnya. Gw mungkin bisa dibilang agak mendingan, nggak segalak dulu lagi, walaupun gw tetep galak. Tapi Rey ini memang ya… Rey.

Rey ini bocah yang ketika ditegur akan cemberut dan tetap melakukan kegiatan yang bikin dia ditegur. Nggak seperti Wira, Rey ini macam badak segala macam diterjang dan dikunyah. Kemarin gw hampir gelut sama dia karena gw musti menarik secara paksa kulit buah semangka dari tangannya Rey sebelum dia kunyah habis itu kulit semangka. Barusan pagi ini Ari bingung kenapa di mulut Rey ada lapisan putih mengelupas, dan baru ketahuan gw ketika gw pulang selepas mengantar Wira sekolah kalau Rey ternyata menggunakan lem batangan sebagai lipbalm.

Gw bisa sedikit membayangkan anak-anak ini gedenya nanti kaya gimana. “ADEK YANG MULAI! POKOKNYA ADEK YANG MULAI DULUAN! AKU UDAH BILANGIN LHO!”

Kemarin, Rey rewel hebat. Anak ini emang suka pake ancaman menangis kalo keinginannya dia ga diturutin (“keinginannya Rey” itu maksudnya “minta makanan untuk kesejuta kali”) tapi baru kali ini dia bener-bener… Serius. Serius nangisnya.

Gw sama Ari udah puyeng. Dari dimanis-manisin sampe ditegur keras (kalo ga mau dibilang “dibentak”). Gw bahkan sampe semi-menghukum Rey untuk duduk di kasur lipat di pojokan kamar. Gw tau, itu bukan tindakan efektif. Anak ini juga masih sangat muda; gw yakin dia bahkan nggak tau apa kesalahan dia. Yang dia tau adalah, dia frustrasi karena sebuah hal dan entah kenapa orang tuanya malah marah karena dia frustrasi.

Kami berdua, gw dan Ari, baru tersadar ketika sore hari.

Anak ini bosan. Kemarin kami libur Deepavali (Malaysia merayakan Deepavali tahun ini pada tanggal 6 November kemarin) dan kami memutuskan untuk seharian di rumah. Rey, dari senang-senang saja bermain Lego, menonton Wira bermain PlayStation, menonton acara TV di Disney Junior, ngemil makanan, sampe akhirnya bosan luar biasa di rumah. Gelisah dan frustrasi karena bosan, akhirnya dia memutuskan untuk merengek dan mencari perhatian kedua orang tuanya. 

Itu hal yang gw rasa menjadi tantangan ketika anak memasuki usia dua tahun. Banyak yang bilang kalau usia dua tahun itu entah kenapa anak sering sekali marah/tantrum

Anak kedua, tapi untuk pengalaman, semuanya serba berbeda dan serba pertama kali, hahaha.

Advertisements

Kap’s Brain Fart 10:42 PM

Waktu gw lahiran anak-anak, nyokap bilang ke gw kalo, “Ari harus ada mendampingi kamu.” Banyak dokter obgyn yang juga berprinsip sama, bahwa ayah harus ada saat ibu melahirkan supaya “lebih menghargai si ibu” (walopun otak riwil gw berkata, “so basically most men will respect women when the women went through heavy labor between life and death rather than respecting them as human being on the first placeMMmmmmMMMMmmmOKay...”)

Dan selama lahiran bocah dua kali, ya gw taunya kontraksi, ngomelin Ari, dan ngeden.

Nah, gw barusan liat video lahiran normal di Twitter. Tanpa sensor dan tanpa warna hitam putih. Detik-detik ketika si bayi keluar dari vagina.

Jadi, ngeliat yang benernya terjadi di bawah sana kan.

Holy macaroni.

Gw sampe jerit, “HANJIR,” pas liat si bayi akhirnya keluar sebadan-badan.

Sekarang PAHAM BANGET arti, “kaya ngeluarin bola dunia dari dalem perut.”

Vaccinate. Yo. Kids.

Kemarin di autobase Tubirfess, sempet ada diskusi mengenai vaksinasi dan imunisasi.

Gw mungkin harus jelasin dulu apa itu autobase; jadi autobase di Twitter itu… Dibilang akun keroyokan juga bukan, walaupun memang dipegang oleh seorang atau beberapa admin, tergantung besarnya komunitas.

Jadi autobase itu seperti message board; orang-orang boleh dan bisa bertanya atau melontarkan opini atau ngajak ribut (heuhe) secara anonim dengan cara mengirimkan DM/direct message ke akun autobase tersebut dengan hashtag khusus. DM dengan hashtag tersebut secara otomatis dipublikasikan di timeline si akun autobase itu, dan orang lain bisa menjawab/merespon dengan akun pribadi mereka. Autobase ini awalnya dari fanbase K-Pop, tempat para fans K-Pop bertukar informasi, gosip, bertanya, beropini, sampe, errrr, berantem. Makin lama, topik yang diangkat makin luas; isu-isu 18+, kecantikan, dan kehidupan sehari-hari.

person using laptop computer during daytime
Photo by picjumbo.com on Pexels.com

Nah, di autobase Tubirfess ini, yang dibahas lebih beragam. Adminnya sendiri secara eksplisit menyatakan supaya jangan ada topik fanwar K-Pop, karena biasanya ya itu urusan rauwisuwis. Mayoritas pengikut, dan biasanya mereka aktif, di Tubirfess ini rata-rata masih sekolah atau baru bekerja. Sepertinya jarang, ada tapi nggak terlalu banyak, yang sudah menikah dan mempunyai keluarga inti sendiri. Tubirfess ini autobase kesukaan, hahaha. Banyak pembahasan dan diskusi yang bikin gw belajar banyak. Yang, “oh iya ya…” atau malah baru tau tentang banyak konsep. Seru lho, hahaha.

Nah, balik ke soal diskusi imunisasi di Tubirfess.

Gw kalo urusan imunisasi/vaksinasi dan para antivaxx, gampang dan langsung kesundut. Kalo Flat Earther, yaudah lah, kadang — err, banyak — yang ga ketolongan “logika”nya, dan secara umum mereka ga terlalu merugikan untuk khalayak ramai (ini nggak juga sebenernya. Dengan pola pikir instan mereka, ini sebenernya bahaya untuk anak-anak karena bikin anak-anak males mikir.) Malah kalo ga salah ada yang bilang Flat Earther ini sebenernya AWALNYA gerakan lucu-lucuan, macem Flying Spaghetti Monster (?) Tapi ditanggep serius, jadi ya gitu lah. Ya tetep sih kalo anak-anak gw bawa pacar dan ternyata si pacar itu Flat Earther ya gw tendang sebelum mereka sempet ngomong, “selamat malem, tante.”

img_1373
HIYAAAAAAAAAAAAAA!!

Sementara antivaxx itu ya… Nyata-nyata teroris kesehatan publik kok buat gw. Secara sukarela memaparkan anak-anak mereka ke penyakit-penyakit berbahaya YANG SEHARUSNYA sudah tidak ada di muka Bumi ini, dengan alasan “nabi dulu ga gitu” dan “anak gw ga diimunisasi tetep sehat kok LOL”, dan juga memaparkan ANAK-ANAK ORANG LAIN BESERTA LINGKUNGAN MEREKA ke penyakit tersebut. Kaya… Tolol ada bentuknya gitu lho.

Di Tubirfess, ditanya soal isu halal dan haram imunisasi dan vaksinasi.

Ini sebenernya salah satu topik favorit para antivaxx, dan ini sebenernya memang strategi orang-orang macam begini (macam apa sih Kaaap? Macam itu laaaaah.)

“HARAM! MASUK NERAKA!”

”BUATAN YAHUDI! HARAM! MASUK NERAKA!”

img_1376

Nah, percaya ga kalo gw bilang, di Amerika sono nooooooh, imunisasi/vaksinasi dibilang BIKINAN MUSLIM. Hayo? Percaya? Ahmasasih ahmasadong dorongdongdong naik odong odong?

4F41FD9D-B6FA-4573-A2F0-809ADCF70DBA

KESEL GA LU?

DI SINIIIIIH DIBILANG VAKSIN BIKINAN YAHUDI. HARAM.

DI SONOOOOOH DIBILANG VAKSIN BIKINAN ISLAM. HALAL. EH HARAM. EH HALAL. EH GATAULAH GW JUGA BINGUNG.

Dan TOLONG YA, sentimen “bikinan Yahudi/bikinan muslim/bikinan nganu” itu sangat diskriminatif dan ga penting. UDAH BIAR BERES NIH YA, TUHAN YANG BIKIN ALAM SEMESTA, SISANYA MADE IN CHINA.

Gw tau kalo gw ngomong di sini, ibaratnya menggarami air laut; cuma kalo memang ada yang masih ragu, sebelum gw “pait pait pait pait”-in kalian (karena gw dan Ari berprinsip, “jauh-jauh dari anak gw kalo anak lu ga diimunisasi”,) ada beberapa poin soal pentingnya imunisasi dan vaksinasi.

Gini. Pertama-tama.

Pernah denger nama penyakit polio? Cacar? Influenza?

Pernah doooong, ya kan? Malah mungkin ada yang pernah kena cacar? Pernah liat kasusnya? Jarang?

Berterima kasihlah kepada vaksin.

Kenapa? Karena kita masih hidup sampe sekarang ya karena vaksin dan imunisasi.

Penyakit yang kesannya “sepele” seperti cacar itu, dulu sebelum ada vaksin cacar, merenggut banyak korban anak-anak. Di catatan sejarah banyak tertulis, pelaut atau penjelajah, atau malah orang-orang biasa yang sehari-harinya hidup di darat, meninggal karena penyakit cacar. Cacar, jaman itu, menjadi epidemik, alias penyakit yang menular dengan cepat dan, dalam banyak kasus, merenggut banyak korban jiwa.

Ada yang namanya rotavirus; rotavirus ini nyerang perut dan paling sering menjangkiti bayi. Jadi ya yang namanya angka kematian bayi jaman dulu itu tinggi banget gara-gara rotavirus. Rotavirus ini bikin si adek bayi diare, muntah, dan akhirnya meninggal. Gila lu. Kebayang ga tuh? BAYI, MEN. BAYI. BAPER GILA GW BAYANGIN ANAK BAYI SAKIT.

Ada yang namanya tetanus. Ih, ini gw inget bangeeeet, gw pernah baca cerpen di perpustakaan SD gw, kisah seorang anak yang ayahnya meninggal karena kakinya kena paku berkarat. Si ayah terjangkit tetanus lalu meninggal. GW BACA ITU NANGIS MULU DUA HARI YA. MAKASIH.

Nah, itu sedikit contoh dari banyaknya penyakit di sekitar kita yang bisa ditanggulangi dengan vaksinasi dan imunisasi. Jadi kalo kita liat sekeliling dan diri kita sendiri, “ih kok gw masih idup aja ya sampe sekarang,” berterima kasih lah kepada vaksinasi dan imunisasi. Badan lu cukup kuat untuk melawan dan menggempur penyakit-penyakit yang siap menyerang lu setiap harinya itu.

Ada keraguan soal imunisasi dan vaksinasi yang buat gw masih, yaaaaa, oke lah, cukup dipahami, yaitu: “Imunisasi dan vaksinasi itu kan menyuntikkan kuman ke tubuh kita? Itu bukannya semacem misi bunuh diri?” Karena ya itu juga reaksi yang sama ketika gw SD dan guru Kesehatan gw ngomong kalo imunisasi itu, “nyuntikin kuman ke dalam tubuh kita.”

Gini. Kuman yang disuntikkan ke tubuh kita itu kuman yang sudah lemah, sehingga kemungkinan untuk mempengaruhi kesehatan kita secara besar itu ga terlalu tinggi. Ketika itu kuman disuntik ke badan kita — jussss — gitu, badan langsung reaksi bikin antibodi untuk melawan kuman yang masuk. Ketika badan bertempur melawan kuman, biasanya kita jadi ngerasa agak demam (makanya biasanya adek-adek yang habis imunisasi itu kadang ada yang demam selama tiga hari karena ya badannya melawan kuman.) Saat akan imunisasi, biasanya dokter juga udah wanti-wanti, “jangan imunisasi atau vaksinasi kalo badan lagi ga sehat yaaa.” Soalnya ya badan musti dalam kondisi prima betul untuk melawan kuman yang masuk.

Ketika kuman sudah berhasil dikalahkan, badan kita udah punya tentara baru dan keahlian baru untuk mengenali dan mengalahkan virus dan kuman yang menyerang badan.

AADA27BF-8B00-4D0B-9E8C-EB34048EAD25
Kira-kira gini lah bentukan sel pelindung badan kita //nggak — sumber: はたらく細胞 (Hataraku Saibō)

Ada argumen yang bilang, “anak gw abis diimunisasi malah sakit parah!” Nah, itu musti dilihat kondisi kesehatan anak itu bagaimana sebelum dan saat diberikan imunisasi, atau apakah dia ada catatan kesehatan sebelumnya yang musti diperhatikan. Sedihnya gini soalnya, dibilang kalo imunisasi itu penyebab penyakit A, B, dan C. Padahal belum tentu. Bisa jadi ada faktor lain.

Gw angkat deh; apakah vaksinasi menyebabkan autisme?

Tidak.

Kalo lu pernah denger teori itu, itu asalnya dari seorang mantan dokter (iya, mantan, karena dia udah dicopot secara tidak hormat dari posisinya dan dilarang berpraktek lagi) bernama Andrew Wakefield.

Jadi dia ini bikin jurnal penelitian yang menyatakan kalo vaksinasi MMR (Mumps, Measles, dan Rubella) menyebabkan autisme dan penyakit perut pada tahun 1998.

Gonjang-ganjing dong itu dunia medis; nah, di dunia akademis dan medis, ada yang namanya “replikasi jurnal”. Jadi lu ambil penelitian atau jurnal orang nih, lalu lu coba lakukan penelitian yang sama — biasanya untuk menguji validitas atau relevansi penelitian itu. Banyak mahasiswa gw yang pas skripsi juga replikasi jurnal karena selain untuk mencari topik skripsi lebih mudah, mereka juga pengen tau apakah teori yang diberikan di jurnal itu masih nyambung atau nggak dengan kondisi sekarang.

Jadi itu jurnalnya Andrew direplikasi kan, dicek ulang. Hasilnya? Lhooo, kok ga ada hubungannya ya autisme dengan vaksinasi? Gimana ini? Apakah ada yang error? Apakah ada yang salah? Apakah salah gw? Salah temen-temen gw?

//oke cukup

Tahun 2004, diselidiki lah itu kan klaimnya Andrew. Ketauan dong, kalo dia menerima sejumlah besar uang sebagai pembayaran untuk melakukan “penelitian” dengan tujuan mendiskreditkan vaksinasi, belum lagi bukti kalau dia menyakiti anak-anak yang menjadi sampel penelitian dia itu.

Nah, ini ada artikel dari website History of Vaccines (website ini dibentuk oleh The College of Physicians of Philadelphia) yang membahas dengan bahasa simpel mengenai vaksinasi dan autisme: Do Vaccines Cause Autism?

Gw nggak divaksin, tapi gw sehat-sehat aja. Itu gimana tuh?

Perkenalkan: HERD IMMUNITY.

Apa itu “herd”? Dalam bahasa Indonesia, “herd” artinya kawanan. Sekelompok. Kita nih, manusia, hidup bersama dalam satu lingkungan, itu bisa dibilang sebagai kawanan. Kawanan tapi mesra.

//BUKAN

Immunity. Imunitas. Kekebalan terhadap sebuah pengaruh dari luar. Bukan, bukan soal osang aseng oseng yang lagi rame dibicarain netijen Indonesia. Ini kekebalan terhadap penyakit.

Jadi simpelnya, herd immunity adalah kekebalan sebuah kawanan terhadap penyakit.

Kenapa anak yang nggak divaksin masih bisa hidup?

Karena dia dilindungi oleh teman-temannya yang divaksin.

Ini ada gambar dari Wikipedia untuk menjelaskan ya.

D90E04D0-7F2D-4649-A2CB-F2060CD446FC

Kalo nggak ada yang diimunisasi, kaya contoh paling atas, begitu ada yang sakit, blaaaar, sakit lah langsung itu sak kampung sak kota sak negara. Ngeri yes? Ngeri.

Tapi kalo semua, atau 95%, diimunisasi, kalo ada yang sakit, nggak terlalu menyebar — seperti di gambar ketiga. Kenapa? Karena yang diimunisasi itu badannya udah kebal, jadi dia nggak menjadi carrier alias tukang tular.

Yang sekarang ada di banyak negara — ga cuma Indonesia, men. Di Malaysia, Amerika, dan banyak lagi yang rame antivaxx — itu yang kedua. Itu yang ngeri dan menyedihkan. Makin banyak yang nggak divaksin, jadi ketika ada yang sakit, menular, resiko kena ke orang lain juga gede. Yang divaksin biasanya sembuh dan kemungkinan bertahan hidup lebih besar. Yang nggak divaksin? Ya… Sakit.

Ini kaya di Twitter, ada yang ngomong, “vaksinasi anak kita, guys. Biarin aja yang antivaxx yang anak-anaknya sakit. Anak kita jangan.”

Gw paham dengan ajakan seperti itu, tapi itu ga sepenuhnya benar dan kurang simpatik. VAKSINASI SEMUA ANAK-ANAK. Jangan cuma anak kita aja. Kenapa? Walaupun anak kita divaksinasi, tetep ada resiko kena penyakit lho. Hanya saja, kesempatan sembuh dan hidup anak kita lebih besar. Tapi orang tua mana sih yang suka liat anaknya sakit? Nggak ada kan? Dan se… Apa ya, sekejam-kejamnya gw untuk ngebatin, “rasakno!” kalo liat ortu antivaxx panik ketika anaknya sakit, TIDAK ADA anak di muka bumi ini yang berhak menderita seperti itu. TIDAK ADA orang tua di muka bumi ini yang pantas melihat anaknya meninggal dalam kondisi mengenaskan akibat penyakit yang seharusnya bisa dihindari dan dihilangkan dengan vaksinasi dan imunisasi.

Vaksinasi anak kita. Semuanya. Karena itu hal yang benar untuk dilakukan. Sama seperti buang sampah di tempatnya dan mengucapkan, “terima kasih,” “tolong,” dan “maaf.”

Vaksin katanya mengandung babi? Haram dong?

Oke. Ini mulai masuk ke ranah fiqh. Gw bukan ahli agama, apalagi ustadzah. Mungkin lu akan langsung nutup blog ini dan mendengus sebal karena gw ga ada kapasitas untuk menjelaskan dari sisi agama, tapi gw akan mencoba menjelaskan sebagai sesama muslim dan muslimah.

MUI sudah menyatakan bahwa vaksin MR adalah mubah. Artinya boleh.

Lho, kenapa? Kok mubah?

Pertama, karena manfaatnya jauh lebih besar dari mudharat/kerugiannya. Ini urusan nyawa. Ya sama seperti banyak anjuran ustadz; misalnya nih, lu kelaparan di tengah hutan nggak ada makanan kecuali daging babi. Kalo lu nggak makan, lu mati. Jadi ya lu nggak apa-apa lho makan itu daging babi. Islam memang mengajarkan manusianya untuk ikhlas dan berjihad, tapi jangan bunuh diri. Ini memang ekstrim, tapi misalnya kalo lu makan itu daging babi yang cuma ada satu-satunya, dan lu bisa tetap hidup lalu berjihad (CATATAN PENTING: Jihad bukan berarti perang doang. Menuntut ilmu itu berjihad, hamil dan melahirkan itu berjihad, mencari nafkah halal untuk keluarga itu berjihad,) itu ya gapapa banget.

Kedua, memang mengandung enzim babi, TAPI hanya saat proses pembuatannya. Enzim babi ini digunakan sebagai katalis dalam proses. Apa itu katalis? Katalis itu semacam pencepat reaksi. Jadi supaya sebuah senyawa bereaksi, kadang perlu dibantu oleh enzim atau protein. Kaya lu dipanas-panasin temen buat bolos gitu laaah. Lu itu senyawanya, temen lu yang panas-panasin itu katalisnya. Nah, enzim babi di sini ketika itu reaksi udah selesai, akan hilang ga bersisa. Jadi di vaksinnya sendiri ya ga ada kandungan enzim babi.

Ini rame didebat di kalangan muslim karena referensi ke halal. Halal, menurut Islam, itu ga cuma di hasil akhir, tapi juga proses. Nasi halal kan? Tapi kalo lu beli nasinya pake uang korupsi, itungannya haram. Nah, ini pake enzim babi. Ga ada sisanya nih di hasil akhir, tapi di prosesnya pake enzim babi. Halal atau nggak nih? Itu yang masih didebat.

Tapi karena ya manfaat jauh lebih besar dari mudharat, makanya masuk ke kategori “boleh”/mubah oleh MUI. Karena udah boleh dan bermanfaat, oke dooong? Ga ada alasan lagi dooonng?

Nah, ini sebenernya bukan cerita baru. Tahun 2000-2001, sempet rame sekali itu berita mengenai sebuah produsen MSG yang saat prosesnya menggunakan enzim babi sebagai katalis. Persis kasus vaksin ini. Guru Kimia gw di sekolah — dan SMU gw itu SMU basis Islam. Al-Irsyad Al-Islamiyyah lho — ngejelasin lewat reaksi Kimia, seperti apa sih peran katalis dan bagaimana hasilnya. Pak Sigit, guru gw itu, ngomong, “ya sebenernya udah ga ada jejaknya lagi itu babi di produknya. Cuma memang masih didebat karena prosesnya itu.”

Vaksin dan imunisasi mahal nggak?

Untuk imunisasi wajib (anak-anak di bawah usia 2 tahun,) itu GRATIS di Puskesmas dan Posyandu. Kalo imunisasinya di rumah sakit, apalagi rumah sakit swasta yo ya musti mbayar. Ya kesel kan kalo ada yang ngomong, “ih, imunisasi kan bayar! Mahal pula! Saya di [rumah sakit swasta beken dengan spesialis lulusan luar negeri semua] itu bayar tuh!”

AFC6C62C-2BE0-41EC-AF39-2B429BDDE2C6

Kalo vaksinasi, terutama yang nggak wajib, itu memang musti bayar. Tapi banyak juga yang generik, jadi nggak mahal (iya, vaksinasi datang dengan berbagai merek juga kok. Coba tanya ke dokter atau tenaga medis untuk merek generik saja.) Malah beberapa vaksinasi yang akhirnya diwajibkan karena ada penyebaran penyakit bisa digratisin.

Vaksin dan imunisasi bakal sama aja terus kaya gitu atau gimana?

Oh, ndak.

Vaksin dan imunisasi juga berkembang ngikutin jaman kok. Penyakit itu, kuman dan virus itu, bermutasi. Saat ini nggak ada, mungkin tahun depan ada. Yang absurd kaya flu burung, yang harusnya ngendong di ayam doang, eh kok ya ndilalah masuk kena manusia juga.

Orang dewasa juga musti imunisasi dan vaksinasi; tergantung kebutuhannya.

Untuk perempuan, jangan lupa vaksin HPV sebagai pencegahan kanker serviks/kanker leher rahim.

Ada vaksin influenza; kalo ga salah, temen gw, Hafiz, musti vaksin influenza sebelum dia pergi ke Amerika. Kalo yang mau naik haji atau umroh, musti vaksin meningitis/penyakit otak.

Gw bawel, bawel banget, soal vaksinasi ini karena buat gw, bukan soal “nanti lu kan punya anak!” Nggak. Nggak semua dari kalian bakal mau/ingin/berpikir/berniat/berkehendak punya anak kan?

Tapi, gw yakin, SEMUA dari kalian ini bakal menjadi penerus Indonesia, duduk di pemerintahan, menjadi penentu keputusan/decision maker, menjadi aktivis/agent of change, menjadi tenaga pendidik, menjadi konselor.

Kalian-kalian ini lah makanya musti tau pentingnya imunisasi dan vaksinasi. Pentingnya kesehatan pribadi dan kesehatan publik. Pentingnya komunitas guyub.

Kebayang ga lu, orang-orang hebat dan penting begitu pada antivaxx?

Sampe itu kejadian… Hhhhhhh. Naudzubillah.

2E2B2BC4-2C1B-48D3-81F9-E6F5074A062B

Siap tempur gw. Bodo amat udah jadi bude begini, udah jadi nenek ntar, umur lu ga menentukan apa yang lu perjuangkan. MERDEKA.

TAPI PAS JAMAN NABI GA ADA VAKSIIIINNNN!!!!!111!!!SATUSATUSATU!!!!111

347DA7FD-03FA-4345-8AFD-F5F80BBABE7AE99593EB-1A43-493A-ADC0-8933210468DB

NAIK ONTA ATAU KAMBING AJA SONOH. KAGA USAH NAIK MOTOR. JAMAN NABI KAGA ADA TUH MOTOR.

Heran gw, Nabi lah ini dijadiin alesan.

Rey dan Preschool

Eh.

Gw udah cerita belum sih kalo Rey udah masuk preschool? Belum ya? HAHAHAHA.

Iya, jadi bocahnya udah masuk sekolah gitu, hahaha.

C98750EE-A1FC-40D4-AB60-B06634BF5015

Jadi keputusan untuk menyekolahkan Rey ini sempet maju mundur iya nggak gimana dong gimana ya dorongdongdong. Soalnya situasinya ini kan beda kaya waktu Wira masuk daycare dulu. Wira masuk daycare di usia yang masih muda banget, 7 bulan, karena gw juga ada tuntutan pekerjaan dan sulitnya nyari mbak saat itu. Jadi ketika pindah ke KL dan usia Wira udah 2 tahun, ya anggep lah otomatis lah ya anaknya emang butuh sekolah.

LAH REY EMANG GA BUTUH SEKOLAH?

Gini. Gw selama di Malaysia ini ya kan visanya yang dependant visa; dan pemegang visa ngintil kaya gitu itu ga boleh kerja, karena emang beda dengan visa kerja. Kalo gw mau kerja, perusahaan gw atau gw musti rela ribet ngurus visa kerja gw, yang artinya butuh sponsor dan tanggungan segala macem. Ya iya lah, ngais uang di negeri orang, musti jelas kan statusnya. Emangnya pas lagi sayang-sayangnya lalu ditinggal.

//GIMANA

Karena gw ga bisa kerja, jadi otomatis gw jadi ibu rumah tangga dong. Itu bikin gw punya waktu yang emang gw dedikasikan untuk mengurus anak dan rumah — dan ya jelas Rey termasuk. Jadi lah buat gw dan suami, Rey itu nggak wajib banget untuk masuk preschool. Malah sempet direncanain masuk preschool usia 2 taun aja.

Tapi itu wacananya kan.

0D78DF83-89D4-459F-A9FB-A78436C526F2

Rey ini badung.

BADUNG BANGET.

BADUNG.

ALLAHUAKBAR BADUNG.

YANG BILANG KE GW, “AH ANAK PEREMPUAN ITU ANTENG KOK KAP. CINCAY LAH. SANS AJA,” MAJU SINI.

Nama dia ada Rey, yang diambil dari karakter Rey di Star Wars; dan ada Sarasvati, Dewi Ilmu Pengetahuan.

Yang satu pemberontak ngelawan First Order, yang satu beneran dewinya ilmu pengetahuan yang intinya nguprek segala macem atas nama penasaran. Okesip.

Udah jadi semacem pengetahuan umum di antara orang tua, kalo rumah lu mendadak anteng padahal ada balita di rumah, pasti ada apa-apanya tuh. Balita itu NGGAK anteng. Mereka ini bola bekel dikasih nyawa dan batere Energizer asupan seumur idup yang selalu, “IBU IBU IBU IBU AYAH AYAH AYAH AYAH APATUH APATUH APATUH MAU MAU MAU MAMAM MAMAM MAMAM PUPUP PUPUP PUPUP.” Kalo di rumah lu masih bisa denger mereka ngoceh, masih aman.

Kalo mereka mendadak anteng, nah…

Gw lagi di kamar, beresin seprei, ketika rumah mendadak tenang sekali.

Panik.

Langsung gw lari ke luar kamar, dan mendapati si neng cilik sudah di atas meja makan (yang terbuat dari kaca) dan sedang sibuk menggambari meja dengan krayon milik abangnya.

Gw tegur dong.

Dibales desisan melengking ala velociraptor sama dia.

Sambil cemberut, anaknya turun dari meja (ALLAHU JANTUNG EMAK APA KABAR) lalu dia ngeloyor, dengan krayon di tangan, menuju ruang TV, dan mencoret-coret layar TV dengan krayon yang dipegangnya.

Gusti Allah nu agung.

Itu baru dia sendirian.

Begitu ada abangnya; BERANTEM. Mana lah Wira baik banget ke adeknya pula. Gw yang emaknya aja bingung ini napa si abang kelewat manjain adeknya. Pernah Wira ngambil remote TV dari sofa yang ternyata mau diambil Rey. Si neng cilik ngamuk, lalu rambut abangnya dijambak.

NAPA ANAK GW PREMAN BANGET. RASAAN WIRA GA GINI DULU DEH. INI JATAH RUSUH DIAMBIL SEMUA SAMA ADEKNYA APA GIMANA SIH.

Jadi dengan pertimbangan betapa rusuhnya anak gadis kami, akhirnya Ari ngomong, “coba sekolahin dulu. Sepertinya dia emang juga udah butuh tempat untuk berkembang lebih tinggi lagi.”

288685E7-67BE-4BA3-9C72-3AEC85DE7001

Tentu saja, jiwa mamak langsung bergelora. Langsung, “HUHUHUHU GW NANTI PASTI NANGIS NIH PASTI NANGIS NIH GA RELA ANAKNYA SEKOLAH NIH, HUHUHUHU.”

Tapi abis itu liat bocahnya nyoret-nyoret sofa pake lipstik gw. “SEKOLAHIN AJA ANAKNYA. SEKOLAHIN.”

Jadi di usia 18 bulan, Rey mulai bersekolah preschool.

Gw sempet ngira kalo dia bakal noangis ga ketolongan seharian di hari pertama sekolah. Soalnya Wira dulu gitu. Baru diem ga nangis ketika tidur dan makan. Abis itu nangis lagi nyariin gw.

Lah, gurunya Rey cerita, “dia cuma nangis, itupun hanya merengek, ketika ga ada gurunya di deket dia. Kami cukup dekati dia, gandeng tangan dia, dan dia langsung diam. Selepas itu ya dia main lagi.”

OH. OKEHFAIN. GA NANGIS WALOPUN GA ADA IBUK. OKEH.

//gimana…

Satu hal yang gw juga khawatirin ketika Rey di preschool itu nafsu makan dia. Bukan apa-apa, waktu Wira itu lumayan ribet. Anaknya langsung nolak makan dan maunya minum susu doang selama tiga hari karena dia stres adaptasi di lingkungan baru.

Rey?

”Sarapan bubur labu, habis. Makan buah, apel, habis tiga buah—“

”… Tiga… apa? Tiga iris apel?”

”Bukan. Tiga buah apel.”

”Oh. Oke.”

”Lalu makan siang nasi dan sup, habis. Makan sore, biskuit, juga habis. Ini tea time, pancake dan madu dan buah. Habis.”

Sampe rumah? Setelah makan pancake nganu nganu itu?

Masih minta sereal dua mangkuk dan makan sup pake pasta.

… Yha. Ga perlu terlalu khawatir kali yha.

Alhamdulillah, anaknya sepertinya hepi dan ga masalah di preschool-nya. Kesempatan buat dia pun untuk eksplorasi, berkarya, ngeberantakin barang, tanpa gw musti ngomong, “ADEK. NO. ADEK. NGGAK. ADEK. JANGAN,” setiap saat.

Plus, sejak dia di preschool, begitu anaknya di rumah ya jadi lebih anteng/ga pecicilan. Soalnya energinya udah diabisin di sekolah. Emak bisa bernafas sedikit lebih lega, hahaha.

Selamat bersekolah, Rey.

EE2373C5-3748-4D02-BB48-3348E17FB56B

Koala Rey

Beberapa hari ini, gw ngeliat ada yang berubah dari pembawaanya Rey (17 bulan.)

Biasanya anak ini rada cuek; ya seminta-mintanya perhatian selayaknya anak-anak, apalagi bayi dan batita, anak ini udah bisa main sendiri. Tentu saja hal itu sangat membantu gw yang emang sehari-harinya musti mengurus rumah. Gw cukup bilang ke anaknya, “Rey, ibu cuci baju/lipet baju/nyetrika/masak/beresin kamar dulu ya!” Sementara anaknya anteng nonton Sesame Street di Disney Junior atau main di ruang TV.

Nah, udah beberapa hari ini, anak ini sangat… Nempel. Clingy.

Masih soal “udah bisa ditinggal sendiri”, jadi ya gw itu udah bisa ke toilet dan menutup pintu. Anaknya udah tau kalo ibunya di toilet walaupun pintu tertutup.

Sekarang? RIP privacy part 2.

Di toilet, lagi mandi, itu yang namanya pintu kamar mandi musti ngejeblak kebuka. Kalo ketutup, anak itu bisa noangis macem ditinggal lagi sayang-sayangnya *eh* Dia harus liat gw, “oh ini ibu bener ada di toilet/kamar mandi.” Like, whyyyyyyyyyyyyyyy.

Ketika gw lagi ngelipet baju, misalnya juga nih. Biasanya ya gw lipet baju ya lipet baju aja. Anaknya main di sebelah gw. Entah ngegambar lah, main Lego lah, apa lah. Malah seringnya dia ngeloyor ke ruang TV, nonton.

Udah 2-3 hari ini, setiap dia liat gw lagi lipet baju, dia langsung manjat gw. Pertama nemplok di punggung, lalu entah gimana dia mau naikin kaki ke pundak. Kadang ngoceh kesel minta dia dipangku, dan kalo gw lanjut lipet baju dianya sebel liat kain di depan muka dia.

Gw sempet kepikir apa jangan-jangan karena efek balik kampung kemarin? Kan rame banget ketemu keluarga, dan kami juga menginap di rumah sodara sehari sebelum kembali ke KL. Waktu di Purwokerto juga menginap di rumah orang tua. Mungkin pas itu dia udah ngeh kalo di rumah pun bisa ada orang yang dia ga gitu kenal baik walaupun orang tuanya familiar. Jadi dia mencari yang emang sumber nyaman dia; orang tuanya. Di kasus ini, gw sebagai ibunya karena emang gw yang sama dia 24/7.

Kalo udah kaya gini, rasanya pengen gw sekolahin aja ini bocah. Kasarnya, biar dia belajar bersosialisasi, banyak mainan, dan bisa main sesuka dan seberantakan mungkin tanpa gw harus ngomel tiap detik.

YA GIMANA, MENDADAK RUMAH ANTENG, GW PANIK KAN. PAS GW LIAT, ANAKNYA UDAH MANJAT KE ATAS MEJA MAKAN SAMBIL BAWA KRAYON BUAT NGEGAMBARIN MEJA MAKAN.

INI APARTEMEN MASIH NYEWA SAK FURNITURE-FURNITURE-NYA NAK.

//eh

Bisa jadi juga karena dia mau usia 2 taun.

Pengalaman gw ke Wira, usia 2 taun itu usia yang… lucu.

Anak itu bandel tengil cuwawakan pecicilan usia 2 taun macam lagi puncak-puncaknya. Anak-anak mulai paham bahwa mereka punya otonomi atas diri mereka (makanya yaaa pakbapak boeboook, sex education itu penting sekali diajarkan di usia sedini mungkiiiiin!), mulai paham bahwa mereka bisa menolak kalo mereka mau (ini yang bikin sebel,) mulai paham dan belajar melakukan sesuatu sendiri, dan mulai ngotot/sok iye (SEMUA hewan disebut “fish!”, SEMUA kendaraan disebut “BIS!”)

Tapi di saat yang sama, mereka juga mulai lebih ekspresif dan belajar komunikasi verbal. Udah dimulai di beberapa bulan sebelumnya, dari kata-kata sederhana seperti manggil orang tuanya, manggil saudaranya, kadang ngucapin “bye bye”. Untuk ekspresif, nah ini yang bikin susah marah; anak-anak biasanya udah bisa nunjukin afeksi.

Jadi Rey itu suka manjatin muka gw, lalu naro mukanya pas didepan muka gw sambil ngoceh dan nyium-nyium muka gw. Her way to say, “I love you.”

Yha. Orang tua mana yang ga seneng digituin yha.

Jadi… Apa ya, anak-anak itu otaknya akselerasi lagi luar biasa cepet di usia-usia 18 bulan – 24 bulan, dan itu mungkin bikin mereka kaget (?) Untuk menghadapi rasa kaget mereka akan hal-hal baru di sekeliling mereka, mereka nyari rasa nyaman yang konstan di deket mereka.