Vaccinate. Yo. Kids.

Kemarin di autobase Tubirfess, sempet ada diskusi mengenai vaksinasi dan imunisasi.

Gw mungkin harus jelasin dulu apa itu autobase; jadi autobase di Twitter itu… Dibilang akun keroyokan juga bukan, walaupun memang dipegang oleh seorang atau beberapa admin, tergantung besarnya komunitas.

Jadi autobase itu seperti message board; orang-orang boleh dan bisa bertanya atau melontarkan opini atau ngajak ribut (heuhe) secara anonim dengan cara mengirimkan DM/direct message ke akun autobase tersebut dengan hashtag khusus. DM dengan hashtag tersebut secara otomatis dipublikasikan di timeline si akun autobase itu, dan orang lain bisa menjawab/merespon dengan akun pribadi mereka. Autobase ini awalnya dari fanbase K-Pop, tempat para fans K-Pop bertukar informasi, gosip, bertanya, beropini, sampe, errrr, berantem. Makin lama, topik yang diangkat makin luas; isu-isu 18+, kecantikan, dan kehidupan sehari-hari.

person using laptop computer during daytime
Photo by picjumbo.com on Pexels.com

Nah, di autobase Tubirfess ini, yang dibahas lebih beragam. Adminnya sendiri secara eksplisit menyatakan supaya jangan ada topik fanwar K-Pop, karena biasanya ya itu urusan rauwisuwis. Mayoritas pengikut, dan biasanya mereka aktif, di Tubirfess ini rata-rata masih sekolah atau baru bekerja. Sepertinya jarang, ada tapi nggak terlalu banyak, yang sudah menikah dan mempunyai keluarga inti sendiri. Tubirfess ini autobase kesukaan, hahaha. Banyak pembahasan dan diskusi yang bikin gw belajar banyak. Yang, “oh iya ya…” atau malah baru tau tentang banyak konsep. Seru lho, hahaha.

Nah, balik ke soal diskusi imunisasi di Tubirfess.

Gw kalo urusan imunisasi/vaksinasi dan para antivaxx, gampang dan langsung kesundut. Kalo Flat Earther, yaudah lah, kadang — err, banyak — yang ga ketolongan “logika”nya, dan secara umum mereka ga terlalu merugikan untuk khalayak ramai (ini nggak juga sebenernya. Dengan pola pikir instan mereka, ini sebenernya bahaya untuk anak-anak karena bikin anak-anak males mikir.) Malah kalo ga salah ada yang bilang Flat Earther ini sebenernya AWALNYA gerakan lucu-lucuan, macem Flying Spaghetti Monster (?) Tapi ditanggep serius, jadi ya gitu lah. Ya tetep sih kalo anak-anak gw bawa pacar dan ternyata si pacar itu Flat Earther ya gw tendang sebelum mereka sempet ngomong, “selamat malem, tante.”

img_1373
HIYAAAAAAAAAAAAAA!!

Sementara antivaxx itu ya… Nyata-nyata teroris kesehatan publik kok buat gw. Secara sukarela memaparkan anak-anak mereka ke penyakit-penyakit berbahaya YANG SEHARUSNYA sudah tidak ada di muka Bumi ini, dengan alasan “nabi dulu ga gitu” dan “anak gw ga diimunisasi tetep sehat kok LOL”, dan juga memaparkan ANAK-ANAK ORANG LAIN BESERTA LINGKUNGAN MEREKA ke penyakit tersebut. Kaya… Tolol ada bentuknya gitu lho.

Di Tubirfess, ditanya soal isu halal dan haram imunisasi dan vaksinasi.

Ini sebenernya salah satu topik favorit para antivaxx, dan ini sebenernya memang strategi orang-orang macam begini (macam apa sih Kaaap? Macam itu laaaaah.)

“HARAM! MASUK NERAKA!”

”BUATAN YAHUDI! HARAM! MASUK NERAKA!”

img_1376

Nah, percaya ga kalo gw bilang, di Amerika sono nooooooh, imunisasi/vaksinasi dibilang BIKINAN MUSLIM. Hayo? Percaya? Ahmasasih ahmasadong dorongdongdong naik odong odong?

4F41FD9D-B6FA-4573-A2F0-809ADCF70DBA

KESEL GA LU?

DI SINIIIIIH DIBILANG VAKSIN BIKINAN YAHUDI. HARAM.

DI SONOOOOOH DIBILANG VAKSIN BIKINAN ISLAM. HALAL. EH HARAM. EH HALAL. EH GATAULAH GW JUGA BINGUNG.

Dan TOLONG YA, sentimen “bikinan Yahudi/bikinan muslim/bikinan nganu” itu sangat diskriminatif dan ga penting. UDAH BIAR BERES NIH YA, TUHAN YANG BIKIN ALAM SEMESTA, SISANYA MADE IN CHINA.

Gw tau kalo gw ngomong di sini, ibaratnya menggarami air laut; cuma kalo memang ada yang masih ragu, sebelum gw “pait pait pait pait”-in kalian (karena gw dan Ari berprinsip, “jauh-jauh dari anak gw kalo anak lu ga diimunisasi”,) ada beberapa poin soal pentingnya imunisasi dan vaksinasi.

Gini. Pertama-tama.

Pernah denger nama penyakit polio? Cacar? Influenza?

Pernah doooong, ya kan? Malah mungkin ada yang pernah kena cacar? Pernah liat kasusnya? Jarang?

Berterima kasihlah kepada vaksin.

Kenapa? Karena kita masih hidup sampe sekarang ya karena vaksin dan imunisasi.

Penyakit yang kesannya “sepele” seperti cacar itu, dulu sebelum ada vaksin cacar, merenggut banyak korban anak-anak. Di catatan sejarah banyak tertulis, pelaut atau penjelajah, atau malah orang-orang biasa yang sehari-harinya hidup di darat, meninggal karena penyakit cacar. Cacar, jaman itu, menjadi epidemik, alias penyakit yang menular dengan cepat dan, dalam banyak kasus, merenggut banyak korban jiwa.

Ada yang namanya rotavirus; rotavirus ini nyerang perut dan paling sering menjangkiti bayi. Jadi ya yang namanya angka kematian bayi jaman dulu itu tinggi banget gara-gara rotavirus. Rotavirus ini bikin si adek bayi diare, muntah, dan akhirnya meninggal. Gila lu. Kebayang ga tuh? BAYI, MEN. BAYI. BAPER GILA GW BAYANGIN ANAK BAYI SAKIT.

Ada yang namanya tetanus. Ih, ini gw inget bangeeeet, gw pernah baca cerpen di perpustakaan SD gw, kisah seorang anak yang ayahnya meninggal karena kakinya kena paku berkarat. Si ayah terjangkit tetanus lalu meninggal. GW BACA ITU NANGIS MULU DUA HARI YA. MAKASIH.

Nah, itu sedikit contoh dari banyaknya penyakit di sekitar kita yang bisa ditanggulangi dengan vaksinasi dan imunisasi. Jadi kalo kita liat sekeliling dan diri kita sendiri, “ih kok gw masih idup aja ya sampe sekarang,” berterima kasih lah kepada vaksinasi dan imunisasi. Badan lu cukup kuat untuk melawan dan menggempur penyakit-penyakit yang siap menyerang lu setiap harinya itu.

Ada keraguan soal imunisasi dan vaksinasi yang buat gw masih, yaaaaa, oke lah, cukup dipahami, yaitu: “Imunisasi dan vaksinasi itu kan menyuntikkan kuman ke tubuh kita? Itu bukannya semacem misi bunuh diri?” Karena ya itu juga reaksi yang sama ketika gw SD dan guru Kesehatan gw ngomong kalo imunisasi itu, “nyuntikin kuman ke dalam tubuh kita.”

Gini. Kuman yang disuntikkan ke tubuh kita itu kuman yang sudah lemah, sehingga kemungkinan untuk mempengaruhi kesehatan kita secara besar itu ga terlalu tinggi. Ketika itu kuman disuntik ke badan kita — jussss — gitu, badan langsung reaksi bikin antibodi untuk melawan kuman yang masuk. Ketika badan bertempur melawan kuman, biasanya kita jadi ngerasa agak demam (makanya biasanya adek-adek yang habis imunisasi itu kadang ada yang demam selama tiga hari karena ya badannya melawan kuman.) Saat akan imunisasi, biasanya dokter juga udah wanti-wanti, “jangan imunisasi atau vaksinasi kalo badan lagi ga sehat yaaa.” Soalnya ya badan musti dalam kondisi prima betul untuk melawan kuman yang masuk.

Ketika kuman sudah berhasil dikalahkan, badan kita udah punya tentara baru dan keahlian baru untuk mengenali dan mengalahkan virus dan kuman yang menyerang badan.

AADA27BF-8B00-4D0B-9E8C-EB34048EAD25
Kira-kira gini lah bentukan sel pelindung badan kita //nggak — sumber: はたらく細胞 (Hataraku Saibō)

Ada argumen yang bilang, “anak gw abis diimunisasi malah sakit parah!” Nah, itu musti dilihat kondisi kesehatan anak itu bagaimana sebelum dan saat diberikan imunisasi, atau apakah dia ada catatan kesehatan sebelumnya yang musti diperhatikan. Sedihnya gini soalnya, dibilang kalo imunisasi itu penyebab penyakit A, B, dan C. Padahal belum tentu. Bisa jadi ada faktor lain.

Gw angkat deh; apakah vaksinasi menyebabkan autisme?

Tidak.

Kalo lu pernah denger teori itu, itu asalnya dari seorang mantan dokter (iya, mantan, karena dia udah dicopot secara tidak hormat dari posisinya dan dilarang berpraktek lagi) bernama Andrew Wakefield.

Jadi dia ini bikin jurnal penelitian yang menyatakan kalo vaksinasi MMR (Mumps, Measles, dan Rubella) menyebabkan autisme dan penyakit perut pada tahun 1998.

Gonjang-ganjing dong itu dunia medis; nah, di dunia akademis dan medis, ada yang namanya “replikasi jurnal”. Jadi lu ambil penelitian atau jurnal orang nih, lalu lu coba lakukan penelitian yang sama — biasanya untuk menguji validitas atau relevansi penelitian itu. Banyak mahasiswa gw yang pas skripsi juga replikasi jurnal karena selain untuk mencari topik skripsi lebih mudah, mereka juga pengen tau apakah teori yang diberikan di jurnal itu masih nyambung atau nggak dengan kondisi sekarang.

Jadi itu jurnalnya Andrew direplikasi kan, dicek ulang. Hasilnya? Lhooo, kok ga ada hubungannya ya autisme dengan vaksinasi? Gimana ini? Apakah ada yang error? Apakah ada yang salah? Apakah salah gw? Salah temen-temen gw?

//oke cukup

Tahun 2004, diselidiki lah itu kan klaimnya Andrew. Ketauan dong, kalo dia menerima sejumlah besar uang sebagai pembayaran untuk melakukan “penelitian” dengan tujuan mendiskreditkan vaksinasi, belum lagi bukti kalau dia menyakiti anak-anak yang menjadi sampel penelitian dia itu.

Nah, ini ada artikel dari website History of Vaccines (website ini dibentuk oleh The College of Physicians of Philadelphia) yang membahas dengan bahasa simpel mengenai vaksinasi dan autisme: Do Vaccines Cause Autism?

Gw nggak divaksin, tapi gw sehat-sehat aja. Itu gimana tuh?

Perkenalkan: HERD IMMUNITY.

Apa itu “herd”? Dalam bahasa Indonesia, “herd” artinya kawanan. Sekelompok. Kita nih, manusia, hidup bersama dalam satu lingkungan, itu bisa dibilang sebagai kawanan. Kawanan tapi mesra.

//BUKAN

Immunity. Imunitas. Kekebalan terhadap sebuah pengaruh dari luar. Bukan, bukan soal osang aseng oseng yang lagi rame dibicarain netijen Indonesia. Ini kekebalan terhadap penyakit.

Jadi simpelnya, herd immunity adalah kekebalan sebuah kawanan terhadap penyakit.

Kenapa anak yang nggak divaksin masih bisa hidup?

Karena dia dilindungi oleh teman-temannya yang divaksin.

Ini ada gambar dari Wikipedia untuk menjelaskan ya.

D90E04D0-7F2D-4649-A2CB-F2060CD446FC

Kalo nggak ada yang diimunisasi, kaya contoh paling atas, begitu ada yang sakit, blaaaar, sakit lah langsung itu sak kampung sak kota sak negara. Ngeri yes? Ngeri.

Tapi kalo semua, atau 95%, diimunisasi, kalo ada yang sakit, nggak terlalu menyebar — seperti di gambar ketiga. Kenapa? Karena yang diimunisasi itu badannya udah kebal, jadi dia nggak menjadi carrier alias tukang tular.

Yang sekarang ada di banyak negara — ga cuma Indonesia, men. Di Malaysia, Amerika, dan banyak lagi yang rame antivaxx — itu yang kedua. Itu yang ngeri dan menyedihkan. Makin banyak yang nggak divaksin, jadi ketika ada yang sakit, menular, resiko kena ke orang lain juga gede. Yang divaksin biasanya sembuh dan kemungkinan bertahan hidup lebih besar. Yang nggak divaksin? Ya… Sakit.

Ini kaya di Twitter, ada yang ngomong, “vaksinasi anak kita, guys. Biarin aja yang antivaxx yang anak-anaknya sakit. Anak kita jangan.”

Gw paham dengan ajakan seperti itu, tapi itu ga sepenuhnya benar dan kurang simpatik. VAKSINASI SEMUA ANAK-ANAK. Jangan cuma anak kita aja. Kenapa? Walaupun anak kita divaksinasi, tetep ada resiko kena penyakit lho. Hanya saja, kesempatan sembuh dan hidup anak kita lebih besar. Tapi orang tua mana sih yang suka liat anaknya sakit? Nggak ada kan? Dan se… Apa ya, sekejam-kejamnya gw untuk ngebatin, “rasakno!” kalo liat ortu antivaxx panik ketika anaknya sakit, TIDAK ADA anak di muka bumi ini yang berhak menderita seperti itu. TIDAK ADA orang tua di muka bumi ini yang pantas melihat anaknya meninggal dalam kondisi mengenaskan akibat penyakit yang seharusnya bisa dihindari dan dihilangkan dengan vaksinasi dan imunisasi.

Vaksinasi anak kita. Semuanya. Karena itu hal yang benar untuk dilakukan. Sama seperti buang sampah di tempatnya dan mengucapkan, “terima kasih,” “tolong,” dan “maaf.”

Vaksin katanya mengandung babi? Haram dong?

Oke. Ini mulai masuk ke ranah fiqh. Gw bukan ahli agama, apalagi ustadzah. Mungkin lu akan langsung nutup blog ini dan mendengus sebal karena gw ga ada kapasitas untuk menjelaskan dari sisi agama, tapi gw akan mencoba menjelaskan sebagai sesama muslim dan muslimah.

MUI sudah menyatakan bahwa vaksin MR adalah mubah. Artinya boleh.

Lho, kenapa? Kok mubah?

Pertama, karena manfaatnya jauh lebih besar dari mudharat/kerugiannya. Ini urusan nyawa. Ya sama seperti banyak anjuran ustadz; misalnya nih, lu kelaparan di tengah hutan nggak ada makanan kecuali daging babi. Kalo lu nggak makan, lu mati. Jadi ya lu nggak apa-apa lho makan itu daging babi. Islam memang mengajarkan manusianya untuk ikhlas dan berjihad, tapi jangan bunuh diri. Ini memang ekstrim, tapi misalnya kalo lu makan itu daging babi yang cuma ada satu-satunya, dan lu bisa tetap hidup lalu berjihad (CATATAN PENTING: Jihad bukan berarti perang doang. Menuntut ilmu itu berjihad, hamil dan melahirkan itu berjihad, mencari nafkah halal untuk keluarga itu berjihad,) itu ya gapapa banget.

Kedua, memang mengandung enzim babi, TAPI hanya saat proses pembuatannya. Enzim babi ini digunakan sebagai katalis dalam proses. Apa itu katalis? Katalis itu semacam pencepat reaksi. Jadi supaya sebuah senyawa bereaksi, kadang perlu dibantu oleh enzim atau protein. Kaya lu dipanas-panasin temen buat bolos gitu laaah. Lu itu senyawanya, temen lu yang panas-panasin itu katalisnya. Nah, enzim babi di sini ketika itu reaksi udah selesai, akan hilang ga bersisa. Jadi di vaksinnya sendiri ya ga ada kandungan enzim babi.

Ini rame didebat di kalangan muslim karena referensi ke halal. Halal, menurut Islam, itu ga cuma di hasil akhir, tapi juga proses. Nasi halal kan? Tapi kalo lu beli nasinya pake uang korupsi, itungannya haram. Nah, ini pake enzim babi. Ga ada sisanya nih di hasil akhir, tapi di prosesnya pake enzim babi. Halal atau nggak nih? Itu yang masih didebat.

Tapi karena ya manfaat jauh lebih besar dari mudharat, makanya masuk ke kategori “boleh”/mubah oleh MUI. Karena udah boleh dan bermanfaat, oke dooong? Ga ada alasan lagi dooonng?

Nah, ini sebenernya bukan cerita baru. Tahun 2000-2001, sempet rame sekali itu berita mengenai sebuah produsen MSG yang saat prosesnya menggunakan enzim babi sebagai katalis. Persis kasus vaksin ini. Guru Kimia gw di sekolah — dan SMU gw itu SMU basis Islam. Al-Irsyad Al-Islamiyyah lho — ngejelasin lewat reaksi Kimia, seperti apa sih peran katalis dan bagaimana hasilnya. Pak Sigit, guru gw itu, ngomong, “ya sebenernya udah ga ada jejaknya lagi itu babi di produknya. Cuma memang masih didebat karena prosesnya itu.”

Vaksin dan imunisasi mahal nggak?

Untuk imunisasi wajib (anak-anak di bawah usia 2 tahun,) itu GRATIS di Puskesmas dan Posyandu. Kalo imunisasinya di rumah sakit, apalagi rumah sakit swasta yo ya musti mbayar. Ya kesel kan kalo ada yang ngomong, “ih, imunisasi kan bayar! Mahal pula! Saya di [rumah sakit swasta beken dengan spesialis lulusan luar negeri semua] itu bayar tuh!”

AFC6C62C-2BE0-41EC-AF39-2B429BDDE2C6

Kalo vaksinasi, terutama yang nggak wajib, itu memang musti bayar. Tapi banyak juga yang generik, jadi nggak mahal (iya, vaksinasi datang dengan berbagai merek juga kok. Coba tanya ke dokter atau tenaga medis untuk merek generik saja.) Malah beberapa vaksinasi yang akhirnya diwajibkan karena ada penyebaran penyakit bisa digratisin.

Vaksin dan imunisasi bakal sama aja terus kaya gitu atau gimana?

Oh, ndak.

Vaksin dan imunisasi juga berkembang ngikutin jaman kok. Penyakit itu, kuman dan virus itu, bermutasi. Saat ini nggak ada, mungkin tahun depan ada. Yang absurd kaya flu burung, yang harusnya ngendong di ayam doang, eh kok ya ndilalah masuk kena manusia juga.

Orang dewasa juga musti imunisasi dan vaksinasi; tergantung kebutuhannya.

Untuk perempuan, jangan lupa vaksin HPV sebagai pencegahan kanker serviks/kanker leher rahim.

Ada vaksin influenza; kalo ga salah, temen gw, Hafiz, musti vaksin influenza sebelum dia pergi ke Amerika. Kalo yang mau naik haji atau umroh, musti vaksin meningitis/penyakit otak.

Gw bawel, bawel banget, soal vaksinasi ini karena buat gw, bukan soal “nanti lu kan punya anak!” Nggak. Nggak semua dari kalian bakal mau/ingin/berpikir/berniat/berkehendak punya anak kan?

Tapi, gw yakin, SEMUA dari kalian ini bakal menjadi penerus Indonesia, duduk di pemerintahan, menjadi penentu keputusan/decision maker, menjadi aktivis/agent of change, menjadi tenaga pendidik, menjadi konselor.

Kalian-kalian ini lah makanya musti tau pentingnya imunisasi dan vaksinasi. Pentingnya kesehatan pribadi dan kesehatan publik. Pentingnya komunitas guyub.

Kebayang ga lu, orang-orang hebat dan penting begitu pada antivaxx?

Sampe itu kejadian… Hhhhhhh. Naudzubillah.

2E2B2BC4-2C1B-48D3-81F9-E6F5074A062B

Siap tempur gw. Bodo amat udah jadi bude begini, udah jadi nenek ntar, umur lu ga menentukan apa yang lu perjuangkan. MERDEKA.

TAPI PAS JAMAN NABI GA ADA VAKSIIIINNNN!!!!!111!!!SATUSATUSATU!!!!111

347DA7FD-03FA-4345-8AFD-F5F80BBABE7AE99593EB-1A43-493A-ADC0-8933210468DB

NAIK ONTA ATAU KAMBING AJA SONOH. KAGA USAH NAIK MOTOR. JAMAN NABI KAGA ADA TUH MOTOR.

Heran gw, Nabi lah ini dijadiin alesan.

Advertisements

Giliran Sakit (… sakit kok giliran…)

Hiyaaaaaa!

Sekarang giliran gw yang sakit, huhuhuhu.

Sejak malem Rabu, tepatnya. Jadi malem sebelum mau tidur itu, kepala mendadak kaya dihantam sampe pusing lalu gw menggigil karena demam. Gw langsung kepikiran kan, “LAH KOK SAMA KAYA WIRA NIH?” Jadi lah gw langsung ngerasa ini kayanya dehidrasi juga.

Awalnya gw agak ga percaya kalo gw dehidrasi karena gw ga beraktivitas di bawah matahari, tapi sebenernya bisa banget sih dehidrasi walopun lu ga beraktivitas di luar ruangan. Akhir-akhir ini atas nama hemat biaya tagihan listrik, gw di rumah itu ga nyalain kipas angin walopun sumuk. Keringetan ya kipas-kipas aja gitu. Karena ga beraktivitas banyak juga, gw ga merasa butuh minum air.

DI LUAR KAYA GINI NOH BENTUKANNYA

Yha.

Ga heran dehidrasi yha.

//semua gara-gara demi tagihan listrik rendah

//nggak

Nah.

Bedanya gw sama Wira, di gw rada dramak karena gw yang suka ga ngeh sendiri.

Oke, udah tau kan ini dehidrasi. Mari kita konsumsi Panadol buat sakit kepala dan banyak minum. Oke.

Minum Panadol udah, tapi sakit kepala bolak-balik dateng. Macem cinta lama bersemi kembal– *sinyal ilang*

Akhirnya mutusin naikin dosis Panadol. Dari ngambil satu tablet (paracetamol 500 mg), gw ngambil dua tablet sekali minum (jadi ya total 1000 mg) dengan rentang waktu 6 jam.

Sukses? Lumayan.

Tapi demam masih di kisaran menyebalkan, yaitu 37.8-38.1 derajat Celcius. Kenapa menyebalkan? Karena itu suhu jelas demam, mengganggu, tapi ga yang mengganggu banget apalagi mengancam jiwa sampe lu musti ke RS gitu. Jadi kaya yang, “SAYA BUTUH DOKTER, TAPI INI KALO DOKTER NEMUIN SAYA PASTI SAYA DISETRAP KARENA BIKIN RUSUH DOANG BISANYA.”

Terus baru ngeh…

Kalo gw cuma minum air putih doang, dan sebenernya diperparah dengan teh.

Lho kenapa dengan teh?

Jadi ternyataaaaaa, teh itu minuman yang sebaiknya dihindari saat dehidrasi lho. Sifatnya diuretik, alias membuat badan mengeluarkan air lebih banyak. Ya minum banyak-banyak, kalo minumnya teh segentong ya sebenernya ga nolong yaaaaa.

Terus kenapa sama air putih? Ternyataaaaa, seharusnya itu minum air isotonik. Kok ya baru nyadar, ya begitulah.

Masalahnya, gw sebel sama minuman isotonik yang ada di pasaran/dijual bebas. Suka dikasih soda/air karbonasi itu lhooo. Gw benci banget sama soda, soalnya bikin rongga mulut dan idung rasa kebas gitu. Makanya kalo orang pada sebel kenapa sodanya dikasih es banyak banget, gw malah seneng soda yang udah ga ada sodanya (air gula dong hadeh.) Sebenernya ada merek nih, Plus 100, yang punya varian non-soda, tapi entah kenapa susaaah banget nyarinya. Yang banyak tersedia itu yang varian soda. Gw udah coba ke farmasi Guardian, siapa tau mereka ada minuman isotonik yang macem bubuk dan tinggal kasih air, eh ternyata ga ada juga *kray*

Jadi gw ya improvisasi sendiri dengan minum air segelas dikasih garam sedikit. Macem oralit kan. Nah, itu nolong banget. Bahkan pas minum air + garam itu, gw ngerasa tenggorokan dan idung gw kaya rada ketusuk-tusuk gitu. Ketebak, ini radang yang hampir nongol. Ketemu air + garam, virusnya dilawan, ngoahahahaha~

Nah, udah selesai?

BELUM.

Ini hari kejadian.

Gw masih pusing.

Gw menggigil, tapi nggak demam.

Mendadak perut gw kram; rasanya kaya PMS. Tapi isinya angin. Kembung gitu deh.

Gw keluar rumah, ga pake jaket, itu langsung badan menggigil dan lemes banget.

Gw langsung keinget kalo kondisi gw itu kok ya persis kaya waktu gw sebelum dan awal pacaran sama Ari.

Ternyataaaaa…

Gw kurang zat besi.

COY.

Dari dehidrasi pindah ke kurang zat besi. COOOOOYYYYY.

Iya banget sih. Waktu gw dehidrasi itu, boro-boro masak, makan aja gw males banget kan. Jadi kalo gw di rumah sendirian, gw nyari makanan yang gampang diambil. Ya macem roti setangkup sama keju wis itu thok. Atau Indomie pake telor. Sisanya ya minum, minum, minum, minum.

Sayuran hijau? Daging? Boro-boro.

Jadi ketika gw dehidrasi itu, badan gw mengerahkan semua asupan mineral dan vitamin di bodi untuk ngejaga jangan sampe gw ambruk lebih parah; dan gw malah ga menolong situasi dengan menjaga makanan apalagi ambil suplemen. Ya udah deh, kumat lah badan kekurangan zat besi. Lemes, “dingin”, dan gampang kembung.

Ari langsung nyuruh gw makan daging buat makan malam barusan; soalnya kandungan zat besinya tinggi banget kan dan langsung bisa diserap badan. Nah, sekarang gw lagi ngetik ini, kok ya Alhamdulillah kepala udah ga pusing lagi. Badan menggigil dan perut kram juga udah ga (lebih karena gw ga nyalain AC sih. Tadi itu di mall bener-bener dingin banget rasanya sampe gw jalan aja susah.)

Lega kalo udah tau kenapa ini kok badan mendadak reaksinya nggilani gini, hahaha. Teman-teman di sini juga semoga sehat-sehat selalu ya.

PS. Kenapa sih default caption kalo pake Free Library di app WordPress for iOS itu ga ada? Pasang dong default caption-nya. Plis plis plis.

Heatwave

Mood: ‘In A Sentimental Mood’ – Duke Ellington

Hari Jumat kemarin, Wira mendadak demam 38 derajat Celcius. Gw sempet kepikiran, apa jangan-jangan infeksi bakteri lagi; tapi kalo infeksi bakteri, biasanya demamnya itu langsung melejit antara 39-40 derajat Celcius dan macam ga mempan selepas konsumsi paracetamol. Sementara Wira itu demam, pas dikasih paracetamol suhu badannya turun ke kisaran 36-37 derajat Celcius, dan ngeluh sakit kepala. Bahkan di hari Sabtu, demam turun, anaknya masih ngeluh sakit kepala.

Sempet bingung, ini kenapa. Mungkin gejala selesma/batuk pilek, tapi baru kali ini liat sakit kepala kok sampe dua hari.

Terus ketauan kenapa, karena dari label botol air mineral, hahaha. Jadi di botol air mineral itu, ada satu merek yang labelnya itu macem… apa ya, iklan layanan masyarakat (?) Ngasih tau fungsi dan kelebihan konsumsi air untuk ibu hamil dan menyusui, menjaga kesehatan, dan… dehidrasi.

Iya. Wira dehidrasi.

Demam, sakit kepala berkepanjangan, dan bibir pecah-pecah.

Udah beberapa hari ini emang Kuala Lumpur panasnya luar biasa. Iya sih, sempet hujan, tapi suhu udara tetap panas dan lembab luar biasa. Mungkin banget terjadi heatwave.

sunset sunshine travel wings
Photo by Julian Jagtenberg on Pexels.com — and no, I’m not THAT enthusiastic with the sun

Besoknya, Rey demam. Hadeh.

Sama. Dehidrasi ringan. Mirip kaya dulu waktu kami liburan ke Ipoh. Cuaca panas luar biasa plus udara lembab bukan main. Rey cilik sempet nangis menjerit tengah malem karena sakit kepala dan demam selama dua hari waktu di Ipoh. Selepas itu, setiap liburan kami ini udah macem khilafah nyeberang gurun. Botol minum berbotol-botol. Tiap tiga menit udah macem kaset rusak; “Wira, minum! Rey, mana botol airnya? Jangan lupa minum! Udah minum belum?”

Alhamdulillah, Rey ini tergolong yang kalo makan dan minum itu ga susah. Jadi demam hanya sehari. Terus kami kasih asupan minum dan buah-buahan yang tinggi kadar airnya (semangka) dan kami pasang kompres dingin tempel macem Bye Bye Fever di dahinya, supaya suhu badannya nggak naik. Wira ya tentu aja kami omeli terus supaya mau minum. Asli deh; ada apa sih dengan bocah dan malasnya minum air putih? Hhhhhh. Wira juga ya setelah kami tau anak itu kena dehidrasi ya langsung kami paksa minum air banyak-banyak dan makan semangka.

person holding key smartphone and plastic bottle
Photo by i love simple beyond on Pexels.com

Awalnya gw kira cuma kami aja yang kena dehidrasi kaya gini; tapi ternyata temen-temen yang di Jakarta juga kena. “Anak-anak gw, bahkan sampe anjing-anjing peliharaan, pada lesu gitu juga. Anak-anak sampe demam dan muntah.”

Fix ini heatwave; dan ternyata tahun ini emang lagi buruk banget heatwave-nya. Di Jepang sampe ada anak-anak meninggal dan masuk kategori bencana alam, masa. Eropa juga terkena dampaknya, bahkan sampe suhunya di kisaran 48 derajat Celcius. Maaaak, gw suhu 40 derajat Celcius di Kuala Lumpur aja jerit-jerit, apa lah ini 48 derajaaaaat.

Satu hal yang gw syukuri: Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya selama tiga tahun ini, tidak ada kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan. Luar biasa tim BPBN dan pemadam kebakaran beserta tentara memang nih. Ya Allah. Semoga selalu diberi sehat, diberi berkah, dimudahkan segala urusan ya bapak, ibu, abang, kakak, mas, dan mbak sekalian.

Buat temans di mari, jaga-jaga ya kondisi badan. Gw sempet liat kalo di area Jawa Timur itu suhu udara malah rendah ya? Dieng sampe berapa minus derajat Celcius gitu.

Kalo udara mulai kerasa panas banget dan badan reaksi aneh-aneh macem demam, sakit kepala berkepanjangan, mual-mual sampe muntah, sekujur badan/persendian sakit, bisa jadi efek heatstroke. Jangan karena kita berpikir, “ah, kan tinggal di negara tropis. Udah kebiasa kok sama matahari,” terus jadi cuek sama badan. Cuaca dan iklim makin nggilani.

food healthy red summer
Photo by Pixabay on Pexels.com

Jangan lupa minum yang banyak, asupan mineral terus dijaga (minum minuman isotonik), makan buah dan sayuran yang mengandung kadar air tinggi, dan sebisa mungkin kurangi kegiatan luar ruangan yang nggak diperlukan. Kalo musti beraktifitas di luar ruangan, sebisa mungkin pake topi. Tetep: Jangan lupa minum.

Kekayaan Itu Berbisik

Kapan hari di Twitter kan sempet rame sebuah utas/thread soal old money, alias orang kaya yang… Kaya dari sononya. Beda dengan OKB, Orang Kaya Baru, biasanya “uang lama” ini usahanya udah dimulai puluhan atau ratusan tahun yang lalu, seringnya bermula dari perdagangan atau perbankan, perusahaannya sudah dipegang entah berapa generasi, dan mayoritas anggota keluarga mereka jarang diliput media/privasinya tinggi. Ada yang diliput media, tapi ga semua/sak keluarga.

OKB? Yah, gitu lah, hehehe.

Hehehe.

BTW, gw lagi keliaran di Reddit kan, di thread “what is the most outrageous money you have witnessed in your own eyes?

Gw ketik ulang salah satu komentar, siapa tau yang di Indonesia ada yang ga pake VPN dan Reddit masih diblok.

”In Las Vegas in 2000 at the Bellagio I watched a guy walk up to a high roller blackjack table. He was being followed by a security guard and some guy in a suit carrying what we guesstimated at about $300k in chips. He sat and played blackjack by himself. We watched for about 45 minutes and he had already lost over $150k…never once showed any emotion.

No clue who the guy was, he was dressed like a stereotypical white grandpa in jean shorts, a polo shirt, and white new balance tennis shoes.”

Nah, di bawah komen ini, ada yang komentar, “money talks, but wealth whispers.”

Gw jadi keinget topik uang lama dan uang baru itu, hahaha.

man holding u s dollar banknotes and black leather bi fold wallet
Photo by Artem Bali on Pexels.com

Kalo baru punya uang saja, ya biasanya ada keinginan untuk menunjukkan/pamer kan? Ada… Apa ya, semacam keinginan (normal dan manusiawi) untuk meminta pengakuan dari orang sekitar. Menunjukkan, “nih, saya mampu, saya bisa.”

Tapi setingkat di atas itu, ada kekayaan yang melebihi uang; sumbernya si uang itu. Wealth. Gw ga tau gimana ngomongnya, hahaha. Intinya, kalo uang itu ya cepet abis blas ilangnya. Sementara kekayaan itu… Ada banyak bentuknya. Kalo dari segi material ya bisa dalam bentuk investasi, simpanan, koleksi, aset, dan segala macemnya.

Nah, kekayaan ini lah yang, kalo emang orangnya udah tau, “oh gw emang mampu kok, ga usah lah ditunjukin,” ya ga akan ditunjukin.

Kok gw jadi bingung sendiri gw ngomong apaan sih hadeh.

Gini.

Temen gw pernah komentar, waktu lagi rame uang lama – uang baru itu.

”Coba lah liat akun Instagram penerus grup Salim itu, hahaha. Ga keliatan kalo dia dari old money.”

Dan emang iya.

Gw follow beliau ini di Instagram kan karena komentar temen gw itu; dan emang minim (atau malah ga pernah?) nunjukin barang-barang pribadi dia dengan tempelan merek luar negeri. Tapi kalo ngeliat sehari-hari dia di Instagram dan Instagram Stories, macem ikut konferensi nganu, jadi pembicara di seminar nginu, ketemu sama komunitas itu, keliatan kalo beliau ini jaringannya GEDE BANGET. Mungkin yang ditunjukin itu juga macem 0.005% dari skala bisnisnya dia.

Wealth whispers.

Bukan berarti kita (“kita”???) kaum missqueen ini hanya bisa meratapi ke-missqueen-an kita ya, hahaha. Malah ada ucapan orang tua toh, “jangan ngomong ga punya uang. Ga punya uang beneran, baru tau kamu.” Berucap dan berharap itu ya yang baik-baik. Bisa bilang, “iya lah, gw miskin soalnya belum mampu nyekolahin anak-anak kurang mampu sampe kuliah; tapi Insya Allah gw kaya karena mampu urunan untuk kurban Idul Adha/ikut bakti sosial di gereja/gabung komunitas kemanusiaan.”

two monks walking between trees
Photo by Wouter de Jong on Pexels.com

Gw rasa, itu arti kekayaan sebenernya. Syukur-syukur Alhamdulillah kita semua bisa mempunyai kekayaan materi sehingga bisa membantu orang lain gapake mikir, ya nggak?

//jie kapkap bijak

Tweet Up JTUG. St. Ali, Setiabudi One Jakarta. 17 Juni 2018.

Setiap gw ngomong ke orang kalo gw ketemu suami lewat Twitter, biasanya direspon dengan, “HAH YANG BENER AJA LU?”

“Iya, tahun 2008…” gitu jawab gw.

Twitter baru masuk ke Indonesia saat itu; belum seramai — dan se… hore — sekarang, hahaha. Ga hanya (calon) suami saat itu, tapi gw menemukan banyak teman-teman baik di Twitter. Malah karena saking sedikitnya pengguna Twitter dari Indonesia tahun itu (2007-2009), kami sampe bisa bikin semacem grup/usergroup yang diberi tajuk JTUG (Jakarta Twitter User Group). Nama doang “Jakarta”, tapi isinya itu ya orang-orang Indonesia di Twitter yang ada berdomisili di Jakarta, Jogja, Kuwait, Singapura (suami saya saat itu), sampe Inggris.

“Anak-anak JTUG,” kami biasanya menyebut diri kami seperti itu.

Kalo ada yang baru gabung Twitter dan bingung nyari temen, biasanya diceletukin, “ke JTUG aja.” Selepas itu, halo begadang malem-malem (biasa disebut JTUG Ronda; isinya yang pada belum bisa tidur, begadang nonton bola, ngerjain proyek, atau emang dasarnya kalong) dan sebulan sekali biasanya ketemuan (“tweet-up”/TU). Orang-orangnya macem-macem; dari programer, orang iklan, insinyur, mahasiswa, ibu rumah tangga, sampe jurnalis. Tapi kalo ngobrol, yang keluar recehan semua.

Makin ke sini, yang aktif di JTUG makin sedikit. Twitter pun makin ramai dengan pengguna, sehingga kebutuhan untuk membuat grup seperti itu juga tidak terlalu dibutuhkan.

Namun pertemanannya selalu ada.

Bahkan setelah beberapa dari kami menikah dan mempunyai anak.

Ada yang bilang, persahabatan yang berjalan lebih dari lima tahun biasanya awet.

Insya Allah persahabatan kami berjalan hampir sepuluh tahun.

Gw pernah ngomong ke suami gw, “JTUG itu anak-anaknya bisa kirim emoji cium atau peluk ke satu sama lain, dan nggak ada yang cemburu.”

Apakah pernah berantem? Oh ya tentu saja; dan selalu dikonfrontasi secara langsung. We learned to be upfront, to be honest, to stop taking assumptions about each other, to talk directly when needed, and those 10 years (and counting) taught us that.

Tetap receh, tetap menggila.